
Seminggu kemudian, Anna dan Leon telah sampai di Noord, Ibukota Nordhalbinsel.
Anna baru pertama kalinya merasakan udara beku Nordhalbinsel yang dikenal memiliki musim dingin abadi. Seluruh tanah yang ada di Kota Noord tertutup salju putih yang tebal, tapi orang-orang masih tetap beraktivitas seperti biasa. Jika salju setebal ini terlihat di Schiereiland, biasanya Raja akan mengumumkan 'Hari Istirahat' kepada seluruh rakyat. Karena cuaca dingin yang ekstrem tidak akan bagus untuk kesehatan para penduduk dan dapat mengganggu aktivitas serta pekerjaan mereka, jadi Raja mengizinkan seluruh aktivitas dilakukan di dalam rumah dan menunggu salju reda untuk kembali beraktivitas di luar. Tapi di sini, di Nordhalbinsel, tepatnya di Noord, salju tebal seperti ini seolah bukan apa-apa.
Setelah berpamitan dengan para penduduk desa di Kleinesdorf, para penduduk desa itu memberikan banyak sekali bekal untuk perjalanan mereka. Makanan, air minum, baju hangat, bahkan kereta kuda dari Tuan Blanc, ayahnya Louis. Louis memutuskan untuk ikut bersama mereka sebagai kusir kereta kuda. Anak itu terlihat sangat senang dan bersemangat ketika tahu ayahnya mengizinkannya untuk pergi bersama seorang Putri dan seorang Jenderal yang terhormat dari negerinya. Dia merasa menjadi orang penting yang berjasa untuk kerajaannya.
Selama perjalanan, Anna disibukkan dengan pelatihannya bersama Leon. Ketika siang hari, mereka akan melanjutkan perjalanan dengan kereta kuda, dan Leon akan mendiktekan segala hal yang ia ketahui tentang Nordhalbinsel sementara Anna mencatatnya di otaknya.
Leon mengajarinya segalanya tentang Negeri Musim Dingin Abadi itu. Mulai dari aksen bicara mereka, sejarah, wilayah geografis, hingga hal-hal kecil seperti kebiasaan para penduduknya. Setiap kali mereka singgah di sebuah pasar, mereka akan membeli buku-buku yang memuat informasi tentang Nordhalbinsel. Lalu saat malam, mereka akan menjauhi pemukiman dan masuk ke wilayah hutan untuk mendirikan tenda dan berlatih pedang. Anna terus melakukan semua itu—belajar di siang hari dan berlatih pedang di malam hari—hingga tak terasa, mereka sudah sampai di Nordhalbinsel.
Sebenarnya, perjalanan ke Nordhalbinsel harusnya tidak memakan waktu sepanjang itu. Tapi mereka terus berhenti di berbagai tempat untuk beristirahat atau pun berlatih pedang. Sehingga waktu yang digunakan untuk menempuh perjalanan itu menjadi dua kali lipat lebih lama dari seharusnya.
Anna sedang mengunyah makan siangnya di sebuah kedai di Ibukota Noord saat Leon tiba-tiba saja melontarkan pertanyaan dengan aksen Nordhalbinsel yang sempurna. Anna sampai harus mendongak ke arahnya untuk memastikan bahwa yang bicara benar-benar Leon dan bukan orang Noord.
"Sebutkan nama empat Jenderal dan masing-masing daerah mereka."
Anna tersedak makan siangnya. "Tidak bisakah aku makan dengan tenang? Otakku rasanya hampir meledak, aku sangat lelah dan kurang tidur. Badanku sakit semua karena berlatih pedang siang dan malam. Apa aku masih harus diberi pertanyaan ketika sedang makan?"
"Kalau kau hanya bisa mengeluh dan tidak dapat menjawab pertanyaan semudah itu, bagaimana kau bisa yakin kau akan terpilih menjadi pengawal pribadi Putra Mahkota? Kau pikir tesnya semudah itu?"
Anna menghela napas. Dia menaruh sendoknya di atas meja. "Jenderal Orthion Richterswill menjaga wilayah Selatan. Jenderal Wolfgang atau Grand Duke Winterthur menjaga wilayah Utara. Jenderal Arianne Montreux menjaga wilayah Barat. Dan Jenderal Muda Tyros Engelberg menjaga wilayah Timur."
Leon tersenyum bangga padanya. "Bagus. Silahkan lanjutkan makanmu."
Anna kembali memakan sup hangat yang terbuat dari kaldu daging, potongan tulang dan tanpa sayuran yang dimakan bersama dengan sepotong roti keras. Dengan sisa uang yang mereka miliki, mereka hanya dapat membeli semangkuk sup tersebut dan sebuah roti untuk masing-masing orang. Bukan makanan yang mengenyangkan, tapi paling tidak cukup untuk mengganjal perut mereka agar tidak mati kelaparan terlebih di cuaca dingin Noord.
"Jujurlah Leon, kau tidak melewati tes apa pun untuk menjadi pengawal pribadiku kan?" Tanya Anna sambil berusaha memotong roti kerasnya. Saat dia berhasil memotongnya menjadi dua, remahnya berjatuhan di pangkuannya dan mengotori lantai. Dulu, di Istana, dia takkan pernah membuat lantai kotor dengan remah-remah makanannya. Dia juga tidak akan pernah memakan roti keras seperti itu jika dia masih berada di Istana.
"Tentu saja tidak. Begitu aku bisa berjalan, aku sudah ditetapkan untuk menjadi pengawal pribadimu. Tidak. Akulah yang menetapkan diri menjadi pengawalmu karena aku tidak bisa memercayakan dirimu pada siapa pun."
"Sudah kuduga. Jadi kau tidak benar-benar tahu seperti apa sebenarnya pemilihan pengawal pribadi Putra Mahkota kan?"
"Tidak. Tapi dari yang kutahu, sainganmu akan sangat berat."
Anna mengernyit, "Kenapa?"
"Pengumuman itu mengatakan pria atau wanita, dari berbagai usia dan dari seluruh dunia. Itu artinya para ahli pedang dari Westeria, pemanah handal dari Kekaisaran Orient, bahkan para ksatria dari Nordhalbinsel akan turut ikut dalam pemilihan ini." Jawab Leon dengan serius. "Kau hampir tak punya harapan untuk mengalahkan kemampuan mereka semua."
"Tapi aku belajar langsung dari Jendral Leon, Sang Singa dari Selatan. Dan kau merupakan murid terbaik dari guru ahli pedang terbaik di Westeria. Apa menurutmu ada yang perlu kuwaspadai?" Tantang Anna.
Leon baru hendak menjawab argumennya, tapi kata-katanya segera terhenti saat melihat Louis mendatangi mereka dengan terburu-buru.
"Nona, seseorang menitipkan sesuatu untuk Anda." Kata Louis yang tiba-tiba datang membawa nampannya yang berisi sup dan roti. Dia mengambil sesuatu dari sakunya dan mengeluarkan secarik kertas yang dilipat menjadi kecil.
"Apa isinya?" Tanya Anna pada Louis sebelum menerima kertas itu.
"Saya tidak membacanya. Orang itu mengatakan harus Anda sendiri yang membacanya."
"Orang seperti apa yang memberikan ini? Kau melihat wajahnya?" Tanya Leon, dengan nada penuh kecurigaan seperti sedang menginterogasi penjahat.
"Saya tidak dapat melihatnya. Dia mengenakan jubah dan tudung kepala sehingga wajahnya sulit dilihat."
Anna pun menerima kertas itu dari Louis dan membuka lipatan kertas itu. Dia membentangkannya di atas meja untuk dilihat bersama.
Tapi tidak ada tulisan apa pun di sana. Itu hanya selembar kertas kosong dengan salah satu ujung kertas yang sedikit terbakar.
"Pasti hanya orang iseng." Kata Leon.
Anna baru akan melempar kertas itu ke tempat sampah saat Louis tiba-tiba mencegahnya. "Nona, tunggu sebentar." Louis mengambil kertas itu dari tangan Anna, kemudian meneliti kembali kertas kosong tersebut seolah dengan begitu tulisan akan muncul dengan tiba-tiba.
Beberapa detik berlalu dan kertas itu masih kosong. Tapi tatapan Louis terpaku pada ujung kertas yang terbakar.
"Ada apa?" Tanya Anna, penasaran dengan makna dari tatapan Louis.
Remaja laki-laki itu kini menatap Leon. Dan Leon pun mengambil kertas kosong itu dari tangan Louis. Leon melakukan hal yang sama. Dia meneliti ujung kertas yang terbakar seolah hal itu menyimpan sebuah jawaban. Dahinya berkerut serius membuatnya tampak lebih tua dari usianya.
"Orang itu mengatakan harus kau sendiri yang membacanya." Ulang Leon, masih sambil menatap ujung kertas itu.
"Lalu?"
Louis mengangguk, menatap Leon penuh harap. Dia mulai mengerti maksud dari kata-kata itu.
"Anna, Nordhalbinsel dikenal dengan sihir mereka." Kata Leon, "Negeri ini dipenuhi dengan sihir."
"Iya, aku tahu. Beberapa orang dengan bakat sihir didanai oleh kerajaan untuk belajar sihir di Menara Sihir. Bahkan Permaisuri Selena adalah seorang penyihir terhebat di Nordhalbinsel, atau mungkin terhebat di antara empat Negara. Kenapa? Kau mau mengetesku lagi?"
"Kurasa yang Louis maksud adalah kau harus benar-benar membaca kertas itu sendiri. Hanya kau sendiri." Leon menyerahkan kembali kertas itu pada Anna. "Kau tidak boleh membiarkan kami atau siapa pun melihatnya."
***
Mereka kembali ke penginapan mereka di Noord. Penginapan itu adalah yang termurah di sana. Satu kamar dapat ditempati hingga 5 orang. Jadi mereka hanya perlu memesan satu kamar saja. Di dalamnya terdapat alas tidur berupa karpet yang sudah tua dan lapuk, tanpa bantal dan tanpa selimut. Satu-satunya yang membuat ruangan tersebut tetap hangat di cuaca dingin mematikan itu hanyalah sebuah perapian kecil tak jauh dari alas tidur mereka. Alih-alih sebuah kamar penginapan, bagi Anna, tempat itu lebih terlihat seperti gudang penyimpanan sampah dapur di Istananya. Tapi Anna tidak dapat protes karena hanya ruangan itu yang sanggup mereka bayar dengan sisa uang mereka yang semakin menipis.
Anna meminta Leon dan Louis untuk menunggu di luar kamar sementara dia membuka lipatan kertas surat itu dan membacanya. Untuk beberapa saat, tidak ada apapun yang terjadi. Kertas itu masih merupakan kertas kosong tanpa ada noda tinta setitik pun.
Anna melihat salah satu ujung kertas itu sedikit terbakar. Dia mengingat betapa bekas terbakar itu sempat menarik perhatian Leon dan Louis. Anna berpikir siapa pun yang menulisi kertas ini sebelumnya pasti melakukannya di dekat api. Jadi Anna mencoba melihat kembali kertas itu dekat perapian yang ada di kamar tersebut.
Perlahan, api dari perapian menjalar di atas kertas. Tapi api itu tidak terasa panas sama sekali. Anna begitu terkejut hingga hampir saja dia melempar kertas itu tapi tidak jadi dilakukan karena risikonya dia akan membuat seisi ruangan itu terbakar. Lagi pula, setelah dia perhatikan bagian kertas yang terkena api tidak habis terbakar. Bagian kertas yang terkena api justru mulai membentuk sebuah tulisan. Semakin lama, semakin banyak kata-kata yang bermunculan di atas kertas seolah api lah yang menuliskan kata-kata tersebut. Siapa pun yang menulisnya, Anna harus memuji tulisan tangannya. Begitu rapih dan indah seolah si penulis memakan waktu berjam-jam untuk membuat surat tersebut. Anna buru-buru membaca tulisan-tulisan itu, khawatir tulisan itu akan kembali menghilang. Dia pun mengingat-ingat isi tulisan itu di kepalanya.
“Anna? Kau sudah selesai?” Leon mengetuk pintu kamar mereka setelah beberapa saat.
“Ya. Masuk lah.” Jawab Anna.
Leon dan Louis memasuki kamar itu. Mereka memperhatikan Anna yang tampak kebingungan. Tatapannya kosong seperti kertas surat di tangannya. Keningnya berkerut pertanda sedang memikirkan sesuatu.
“Tadi ada.” Kata Anna. Masih dengan wajah bingung dan kening yang berkerut, dia berbalik menghadap ke arah Leon, “Kau tahu apa arti dari Tes Bertahan Hidup?”
***
“Jadi maksudmu, aku harus bertahan hidup selama waktu yang diberikan, dikurung di sebuah labirin bersama dengan kandidat lain yang kemungkinan besar merupakan ahli pedang dari Westeria, Pemanah handal dari Kekaisaran Orient, dan para ksatria dari Nordhalbinsel?" Nada suara Anna kian meninggi di setiap kata. Leon mengangguk mengonfirmasi, membuat Anna tertawa gugup. "Dan satu hal lagi, aku hanya bisa menggunakan pisau ini karena aku tidak boleh membawa pedangku?"
Leon mengangguk kembali.
Anna hanya mengulang apa yang sudah dijelaskan oleh Leon tentang Tes Bertahan Hidup yang merupakan Tahap Kedua dari proses pemilihan Pengawal Pribadi Putra Mahkota. Tapi rasanya seperti dia sedang mengucapkan vonis matinya. Tes Bertahan Hidup terdengar seperti cara terburuk untuk mati di saat dia harus tetap hidup demi kerajaannya.
"Benar seperti itu, Yang Mulia." Ucap Leon. "Mereka akan segera mengetahui identitasmu begitu kau membawa pedang dengan simbol mawar itu. Kau juga tidak bisa membawa pedang milikku karena mereka akan lebih mengenali pedang itu. Kita juga tidak punya uang yang cukup untuk membeli pedang baru. Dan tak ada lagi yang bisa kita jual.” Leon menghela napas berat. Memijat-mijat pelipisnya. "Sebaiknya kita sudahi saja ini semua. Ayo kita pikirkan cara lain untuk bisa masuk ke Istana tanpa perlu menjadi pengawal pribadi Sang Putra Mahkota."
"Kenapa Anda begitu pesimis, Jenderal? Yang Mulia Putri pasti dapat mengatasi ini." Komentar Louis, penuh optimis. Dia pun menoleh pada Anna, "Saya sudah sering melihat Anda berlatih, Yang Mulia. Anda cukup hebat menurut saya."
Anna tersenyum padanya, "Terima kasih, Lou."
"Bahkan kau belum tentu berhasil melewati ujian Tahap Pertama dari pemilihan itu, Anna." Ujar Leon. Kerutan di keningnya semakin dalam. Dia benar-benar tak suka membayangkan Anna memasuki sarang bahaya seorang diri tanpa pengawasannya.
Anna sudah memberitahukan isi kertas itu kepada Leon dan Louis. Kertas itu berisi bocoran mengenai tahapan-tahapan dalam pemilihan pengawal pribadi Putra Mahkota. Tahap Pertama merupakan tes tulis. Tahap Kedua merupakan Tes Bertahan Hidup. Sedangkan Tahap Ketiga adalah tes wawancara langsung oleh Putra Mahkota.
"Oh, ayolah. Tes tulis tidak mungkin terlalu sulit. Aku hanya mencemaskan Tahap Kedua."
"Tahap Kedua memang paling sulit menurutku." Leon terdiam sesaat, tampak berpikir keras. Kemudian dia berkata, "Bagaimana kalau aku memakai topeng dan berpura-pura menjadi dirimu lalu masuk ke dalam labirin itu?" Usulnya.
"Kurasa itu tidak akan berhasil. Kau jauh lebih tinggi dariku. Lagi pula, bagaimana jika ketahuan? Aku mungkin akan langsung dieliminasi." Anna menghela napas. "Kau juga tak bisa ikutan, Leon. Wajahmu dikenal oleh semua orang di Istana Nordhalbinsel."
Leon terduduk di lantai dan mengacak-acak rambutnya, tanda bahwa dia juga tak tahu harus melakukan apa. Pikirannya sudah mentok dan tak bisa menemukan jalan keluar lain.
"Kalau begitu, kita tidak punya pilihan lain, bukan?" Kata Louis. "Yang Mulia harus berhasil menghadapi semua tes itu."
"Lou benar. Aku harus menghadapi ini." Anna tersenyum menenangkan, sekedar untuk meyakinkan Leon bahwa dia pasti bisa melalui semua ujian itu. Padahal jauh dalam dirinya, dia sendiri merasa takut. "Kalian tidur lah, ini sudah malam. Besok pagi-pagi sekali aku harus berangkat ke Istana untuk mendaftar. Kurasa aku tidak akan bisa tidur malam ini. Lebih baik aku belajar."
***
Keesokan paginya, Anna berangkat sendiri menuju halaman depan Istana Nordhalbinsel untuk mendaftarkan diri sebagai calon kandidat pengawal pribadi Putra Mahkota. Ada antrean panjang di depan Istana yang sepertinya terdiri dari ratusan pria dan wanita yang akan ikut dalam pemilihan tersebut. Anna tidak dapat memperhatikan mereka satu-persatu untuk memastikan tidak ada wajah yang dikenalinya atau pun orang yang mengenalinya. Tapi Anna berhasil mencuri dengar beberapa obrolan dari para calon kandidat.
"Kudengar salah satu murid Guru Ahli Pedang dari Westeria yang hebat itu ikut dalam pemilihan ini." Kata seseorang dalam aksen Nordhalbinsel.
Anna dapat membedakan dengan jelas mana yang berasal dari Schiereiland dan mana yang berasal dari Nordhalbinsel hanya dengan mendengar aksen bicara mereka. Orang Nordhalbinsel berbicara seolah mereka semua memiliki kasta yang lebih tinggi dari siapa pun, pelafalan mereka terdengar angkuh. Orang-orang utara itu menggunakan pelafalan huruf a seperti o, dan huruf o yang lebih bulat hingga menyerupai bunyi huruf u. Mereka juga sering menghilangkan bunyi huruf konsonan di akhir. Jadi kata 'Noord' sendiri jika diucapkan oleh orang Nordhalbinsel akan berbunyi seperti 'Nou'. Sementara orang Schiereiland mengucapkan semua huruf dengan jelas dan apa adanya.
"Apakah mungkin Jenderal Leon ikut dalam pemilihan ini?" Anna mendengar yang lain turut menyahut dengan aksen yang sama.
Dugaan Anna benar. Leon terlalu terkenal. Dia takkan bisa mengikuti pemilihan pengawal pribadi ini tanpa menarik perhatian semua orang.
"Tidak mungkin! Kalau memang beliau ikut dalam pemilihan ini, bukankah artinya semua ini hanya formalitas belaka baginya? Dia sudah pasti diterima langsung oleh keluarga kerajaan hanya dengan menuliskan namanya atau memperlihatkan wajahnya." Sahut yang lainnya, seorang wanita dengan pakaian ksatria wanita lengkap dengan senjata di pinggangnya.
"Kau benar. Lagi pula, aku tidak benar-benar berharap dapat terpilih. Aku datang ke sini hanya untuk melihat wajah Putra Mahkota yang sangat misterius itu." Sahut yang lainnya, seorang ksatria wanita juga.
"Gadis-gadis, sadar lah. Putra Mahkota sudah memiliki tunangan. Dan tunangannya itu bukan wanita biasa. Dia adalah Putri Mahkota Eleanor Liliana Winterthur, Putri dari Grand Duke Winterthur, murid sihir paling berbakat di seluruh kerajaan, sekaligus wanita tercantik di seluruh dunia. Kalian tidak memiliki kesempatan sama sekali." kata ksatria pria yang baru ikut bergabung dalam kelompok kecil perumpi itu.
"Kami tidak mengharapkan kesempatan apa pun. Kami hanya ingin melihat wajahnya saja, dengan begitu kami dapat tidur dengan nyenyak dan tidak penasaran lagi." Sahut ksatria wanita yang pertama bicara tadi.
"Benar. Kudengar Putra Mahkota sangat tampan. Kau kan pernah melihatnya meski dari jauh. Bagaimana rupa wajahnya?"
"Aku hanya melihatnya sekilas, jadi aku tidak terlalu mengingatnya. Tapi satu hal yang paling kuingat adalah kedua bola matanya berwarna emerald. Maksudku, bukan sekedar hijau biasa. Melainkan seperti ada permata di matanya. Benar-benar langka. Satu-satunya mata emerald yang tersisa dari garis keturunan Ratu Irene. Kalian tahu sendiri seluruh keluarga Ratu Irene sudah mati karena hukuman dari Raja setelah kematian Sang Ratu."
"Kau benar. Hanya keluarga Grand Duke Winterthur yang selamat dari hukuman mati itu. Benar-benar hukuman yang mengerikan."
Anna ingin mendengar lebih jauh lagi obrolan mereka, tapi sudah tiba saatnya Anna harus segera menyerahkan kertas pendaftarannya sebelum didahului oleh orang lain.
Usai memberikan kertas pendaftarannya, Anna tidak berlama-lama berada di tempat itu karena dia tidak ingin menyia-nyiakan sedikit pun waktu. Dia harus segera kembali ke penginapan mereka untuk belajar agar lulus ujian tulis dan berlatih pedang agar lulus Tes Bertahan Hidup.
Dalam perjalanannya pulang, barisan antrean masih panjang dan semakin lama semakin banyak orang yang bergabung. Anna mendengarkan ada bahasa lain yang tidak dikenalnya, tapi Anna juga mendengar beberapa bahasa yang dikenalnya. Beberapa dari mereka menggunakan bahasa Westernia, bahasa resmi Kerajaan Westeria. Anna sudah mempelajari bahasa itu sejak dia mulai bisa membaca. Anna memperhatikan wajah orang-orang Westeria itu. Masing-masing dengan bangga membawa pedang milik mereka. Salah satu di antara mereka, atau mungkin mereka semua, adalah saingan terberatnya karena mereka belajar langsung dari guru yang sama dengan Leon. Anna bahkan belum bisa mengalahkan Leon di pertandingan satu lawan satu dengan adil. Semakin lama dia memperhatikan saingan-saingannya, nyalinya semakin ciut. Jadi dia bergegas kembali ke penginapannya sebelum dia berubah pikiran dan mengambil kembali kertas pendaftarannya tadi.
***
Hari berikutnya, di tempat yang sama, di waktu yang sama, Anna kembali mendapat kertas surat dari pengirim misterius itu melalui Louis saat sedang memakan sup di kedai makanan yang biasa mereka datangi. Anna penasaran siapa yang mengiriminya kertas itu. Siapa orang yang tinggal di Nordhalbinsel yang mungkin mengenalnya dan berbaik hati memberikan bocoran tentang pemilihan pengawal pribadi Putra Mahkota. Dan bagaimana orang itu bisa tahu bahwa Anna akan mengikuti pemilihan itu. Serta bagaimana mungkin informasi sepenting ini bisa bocor begitu saja. Tapi dari semua rasa penasaran itu, rasa penasarannya terhadap apa yang kali ini tertulis di kertas itu mengalahkan rasa penasarannya terhadap hal lain. Jadi Anna buru-buru pergi dari kedai makanan menuju kamarnya di penginapan untuk membaca kertas itu. Kali ini Anna sudah bersiap dengan pena dan kertas lain untuk menyalin apa isi surat itu agar dapat memperlihatkannya kepada Leon dan Louis.
Begitu api mulai menjalari kertas putih itu, Anna segera menyalin kata per kata yang perlahan muncul di kertas itu. Anna harus menulis dengan sangat cepat karena tulisan ajaib itu akan kembali hilang secara permanen dalam waktu satu menit setelah tulisannya muncul.
Anna mempersilahkan Leon dan Louis untuk masuk ke kamar setelah dia selesai menyalin tulisan yang ada di kertas itu.
"Aku tidak mengerti apa ini, tapi aku menulis sangat banyak sekali dan beberapa kata-kata ini sangat rumit sehingga aku kesulitan menuliskannya." Anna menyerahkan hasil tulisannya kepada Leon yang mencapai dua lembar kertas.
"Ini adalah nama-nama orang." Kata Leon setelah melihat-lihat tulisan itu. "Kenapa tulisanmu buruk sekali, Yang Mulia?" ejek Leon.
"Aku menuliskannya dengan terburu-buru. Jika aku tidak segera menulisnya, tulisan itu akan hilang secara permanen. Aku bisa membacakannya jika bagimu itu terlalu sulit untuk dibaca." Anna merebut kertas itu dari tangan Leon sambil merengut kesal. Tapi hal itu justru membuat Leon tertawa.
"Mungkin kah itu nama-nama orang yang akan berpartisipasi dalam pemilihan pengawal?" tanya Louis pada Leon.
"Jika benar begitu, kurasa aku mengenal beberapa nama itu." kata Leon saat dia membaca kembali tulisan Anna.
"Apakah hubunganmu cukup baik dengan mereka?" Tanya Anna.
"Yah, bisa dibilang kami seperti teman masa kecil. Tidak terlalu dekat, tapi cukup baik." Leon mengalihkan pandangannya dari kertas ke wajah Anna yang tampak termenung. "Kenapa kau bertanya?"
"Aku sepertinya memiliki tugas mulia untukmu, Jenderal Leon."
***