
"Jadi kau adalah Putra Mahkota Xavier? Sudah berapa lama aku berada di atas gunung ini hingga kau yang merupakan bayi kecil seputih salju saat aku terakhir melihatmu kini sudah menjadi seorang pemuda yang gagah dan rupawan. Kau sangat mirip dengan Ayahmu. Tapi kuharap kau bukan datang untuk mengusirku seperti yang Beliau lakukan dahulu."
Xavier berlutut di hadapan Lucielle. "Aku meminta maaf dengan tulus atas apa yang telah Ayahku lakukan padamu. Aku sebelumnya tidak tahu bahwa kau sebenarnya adalah Saintess Lucia yang pernah membantu Ratu Agung Zhera untuk memanggil para Naga ratusan tahun yang lalu. Seluruh keluarga kerajaan telah memperlakukanmu dengan sangat buruk dan aku sangat menyesali itu. Apakah ada yang bisa kulakukan agar kau dapat menerima permohonan maaf kami, Saintess?"
"Berdiri lah, Yang Mulia. Aku sudah memaafkan kalian semua." Kata Lucielle sambil membantu Xavier berdiri. "Silahkan masuk, Yang Mulia."
Xavier pun mengikuti Lucielle masuk ke dalam rumahnya. Rumah itu tidak lebih luas dari kamar Xavier di Istana Utama. Tidak ada ruangan apa pun, hanya perabotan besar seperti lemari dan rak-rak kayu yang memisahkan antara tempat tidur dengan sofa ruang tamu. Hampir semua perabot yang ada di rumah itu terbuat dari kayu. Di langit-langit rumah itu tergantung bunga-bunga berwarna pastel—beberapa sudah hampir kering—yang membuat rumah kecil itu dipenuhi aroma yang menyenangkan seperti aroma musim semi. Di salah satu sisi rumah itu terdapat sebuah rak yang sangat besar dipenuhi berbagai buku. Di depan rak tersebut, terdapat sebuah meja panjang yang di atasnya terdapat banyak sekali gelas-gelas kaca dan toples-toples kaca berisi cairan beraneka warna. Di sekitar meja tersebut terdapat dua buah kursi kayu yang tinggi. Lucielle mempersilahkan Xavier untuk duduk di salah satu kursi itu.
"Bolehkah aku bertanya, Saintess?"
"Silahkan, Yang Mulia."
"Apakah cairan-cairan yang ada di dalam gelas-gelas kaca itu adalah ramuan tertentu?"
"Benar, Yang Mulia. Sepertinya Kau cukup familier dengan hal-hal seperti ini. Apakah Selena juga membuat ramuan di Istana? Oh, Maaf jika aku tidak menyebutnya dengan pantas. Apakah dia sudah menjadi Ratu sekarang?"
"Tidak. Dia sekarang adalah Permaisuri Selena. Tapi Raja tidak mengangkatnya menjadi Ratu. Dia tak diizinkan memerintah bersamanya. Ayahku memerintah sendiri dan mengosongkan posisi Ratu."
"Syukurlah kalau begitu. Wanita itu licik dan berbahaya. Kau harus berhati-hati padanya, Yang Mulia." Kata Lucielle sambil sibuk mencampurkan beberapa cairan yang ada di gelas-gelas itu ke suatu wadah. Cairan berwarna merah dicampurkan dengan cairan bening yang tiba-tiba berubah menjadi warna ungu terang. Kemudian dia memasukkan cairan kental berwarna hijau lumut yang tampak seperti jus sayuran yang menjijikkan dan cairan itu berubah warna menjadi kuning keemasan. Lalu Lucielle memasukkan sedikit cairan kuning keemasan itu ke gelas cangkir dan memberikannya kepada Xavier. "Silahkan diminum, Yang Mulia. Itu akan mengembalikan tenagamu. Perubahan tadi pasti menghabiskan sebagian besar tenagamu dan membuatmu sangat lelah."
Tanpa ragu, Xavier segera menenggak habis ramuan itu. "Terima kasih banyak, Saintess. Elle sering membuatkanku ramuan yang mirip seperti ini setiap aku—setiap setelah aku berubah. Kau tahu... Seperti tadi."
"Elle? Siapakah wanita baik hati itu, Yang Mulia?"
"Lady Eleanor Winterthur. Tunanganku."
"Oh, Seorang Winterthur? Tapi yang kudengar sebelum aku diusir dari Istana, Raja memerintahkan untuk menghukum mati semua Klan Winterthur dengan tuduhan pengkhianatan dan percobaan pembunuhan terhadap Ratu Irene. Meski aku tahu itu tidak benar. Klan Winterthur memang sangat menginginkan kekuasaan mereka kembali, tapi mereka tidak akan membunuh Ratu Irene."
"Mereka semua memang dihukum mati, kecuali Wolfgang Winterthur beserta istrinya dan anak-anaknya."
"Duke muda Wolfgang Winterthur? Oh, maaf aku mengatakannya begitu karena dulu beliau adalah Duke termuda di Nordhalbinsel. Waktu itu usianya masih dua puluh lima tahun. Kalau begitu, Tunanganmu adalah seorang Grimoire? Seorang penyihir?"
"Benar, Saintess. Dia adalah Putri dari Lilithier Grimoire dan keponakan dari Lilacier Grimoire. Itulah sebabnya aku cukup familier dengan ramuan-ramuan ini."
"Ah, Lilithier... Aku mengingat gadis itu. Dia sangat cerdas dan cantik—meski semua gadis Grimoire memiliki paras rupawan, tapi Lilithier dan Lilacier memiliki kecantikan yang di luar nalar. Dan Lilacier, saudari kembarnya yang sudah meninggal dulu adalah gadis menawan yang sangat lugu dan berhati lembut. Kalau begitu Lady Eleanor ini pasti penyihir yang sangat hebat karena sudah bisa membuat ramuan dengan kesulitan tingkat tinggi seperti ini di usia muda. Tentu saja, Seorang Grimoire pasti memiliki bakat sihir yang luar biasa."
"Saintess lah yang memberikan sihir suci pertama kepada penyihir pertama, Griselda Grimoire ratusan tahun yang lalu."
"Benar. Griselda yang pada akhirnya menciptakan sihir hitam terlaknat dari sihir suci yang kuberikan padanya. Tidak kusangka mereka akhirnya berkembang menjadi salah satu klan penyihir terbesar hingga sekarang." Lucielle tampak merenung sesaat seolah sedang memikirkan sesuatu. "Tapi Zhera Yang Agung tidak mungkin hidup kembali sebagai seorang penyihir. Kemungkinannya adalah dia akan terlahir kembali sebagai seorang Putri atau seorang ksatria atau ahli pedang."
"Maaf?"
"Oh, tidak. Bukan apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan perkataan Naga Api Agung yang sebelumnya."
"Saintess, secara teknis akulah yang mengatakannya. Aku memang menyebutkan bahwa Zhera Yang Agung telah terlahir kembali. Tapi itu baru asumsiku saja. Entah bagaimana aku merasa bahwa itu memang dirinya. Meski aku belum seratus persen yakin."
"Yang Mulia... Ada peraturan langit tentang hal ini. Zhera Yang Agung tidak memiliki darah penyihir dalam tubuhnya. Dia adalah putri seorang Dewi dengan seorang ksatria yang menjadi kaisar. Jadi jika dia terlahir kembali dia tidak akan menjadi seorang penyihir. Tapi tadi kau mengatakan bahwa tunanganmu adalah seorang penyihir, terlebih lagi dari Klan Grimoire."
Xavier terdiam sesaat. Dia bukan memikirkan perkataan Lucielle karena dia sudah tahu jawabannya. Dia hanya ragu apakah harus menceritakan ini pada Lucielle sekarang atau menundanya. Pada akhirnya, Xavier memutuskan untuk memberitahu hal yang tidak pernah diceritakannya pada siapa pun bahkan kepada Eleanor dan Elias sekalipun.
"Saintess, yang kumaksudkan tadi bukan lah tunanganku. Gadis yang menurutku adalah Zhera Yang Agung, bukan tunanganku, melainkan seseorang yang mungkin membenciku karena perbuatan ayahku. Dia memiliki rambut berwarna merah persis seperti Zhera. Dan setiap kali aku berada di dekatnya aku merasakan ikatan itu, kau tahu, yang hanya bisa dirasakan oleh naga-naga di masa lalu terhadap kehadiran Zhera."
Lucielle mengangguk dan tersenyum memahami. "Aku mengerti maksudmu. Keempat Naga di masa lalu sangat menyayangi Zhera. Terutama kau, Naga Api Agung. Jika berada di dekatnya, kau akan merasa sangat bahagia tapi jantungmu akan berdetak sangat cepat sampai kau pikir akan segera mati. Jika kau tahu dirinya dalam bahaya kau akan merasa khawatir hingga kekhawatiran itu melemahkan tubuhmu sendiri. Jika ada yang menyakitinya kau akan sangat marah hingga kau rasanya bisa menghabisi siapa pun yang menyakitinya. Dan jika dia jauh darimu kau akan merasakan kehilangan yang sangat besar dan merasa sakit." Kata Lucielle.
Xavier terlalu malu untuk mengakuinya, tapi dia sendiri tahu itulah yang dia rasakan selama ini meski dia selalu berusaha untuk tidak menunjukkannya karena dia merasa tidak boleh memiliki perasaan seperti itu kepada gadis lain selain kepada tunangannya yang mana akan segera menjadi istrinya di kemudian hari.
"Lalu, apakah dia seorang putri atau ksatria atau ahli pedang?" Tanya Lucielle.
"Apa? Maaf, Yang Mulia, aku tidak mengerti. Jika dia seorang Putri, maka mengapa dia menjadi pengawal pribadimu?"
"Ceritanya cukup panjang, dan aku berjanji akan menceritakan semuanya kepadamu, Saintess. Tapi saat ini kami sedang menghadapi masalah mendesak yang sangat serius di wilayah Montreux di bawah kaki gunung ini. Terjadi wabah yang menyebabkan orang-orang di Montreux kehilangan akal sehat mereka. Saraf mereka rusak dan mereka semua menggila. Aku menduga hal ini diakibatkan oleh ledakan suatu zat aktif yang merupakan bahan utama pembuat obat penguat stamina milik Westeria—“
“Tunggu dulu. Penguat stamina? Kalau begitu... Zat Alderiostonin yang hanya ada di dalam akar tanaman Aldeer yang hanya tumbuh di daerah Westeria?”
“Saintess mengenal tanaman itu?”
“Siapa yang menemukan tanaman itu? Itu tanaman langka yang terakhir kutemukan saat Ratu Zhera memerintah. Kupikir tanaman itu sudah musnah. Jika diproses dengan benar memang akan menjadi penguat stamina yang sangat baik tanpa efek samping. Tapi jika diledakkan maka akan menciptakan zat yang merusak saraf manusia.”
“Penemunya sepertinya adalah Putri Eugene dari Westeria. Dia berniat membuat obat itu untuk para prajurit Westeria dan menjualnya kepada Negara lain yang membutuhkan.”
“Syukurlah jika penemunya adalah seorang anggota keluarga kerajaan. Karena jika orang lain, mungkin saja akan menyalahgunakan tanaman itu dan memonopoli pasar demi keuntungan sendiri. Hal seperti ini pernah terjadi dulu di Negara lain dan menyebabkan hancurnya suatu Kerajaan karena politik monopoli.”
“Apakah ada cara untuk menyembuhkan orang-orang itu, Saintess?”
“Tidak ada.” Jawab Lucielle langsung tanpa ragu sehingga membuat Xavier benar-benar curiga.
“Apa? Apakah benar-benar tidak ada? Lalu bagaimana dengan tanaman yang dapat menenangkan saraf?”
“Dari mana kau mendengar tentang itu?" Nada suara Lucielle agak meninggi seolah Xavier dilarang untuk menyebut tentang tanaman itu. Tapi Lucielle menyadarinya dan segera menambahkan. "Tanaman itu sudah lama dimusnahkan oleh Raja Vlad. Aku sendiri pun kesulitan mencari tanaman itu.”
“Tapi Raja hanya memusnahkan tanaman itu di Nordhalbinsel. Raja tidak punya hak untuk memusnahkan tanaman di Kerajaan lain bukan?”
Lucielle terdiam karena tahu apa maksud Xavier. “Bloody Berry. Yang Mulia, Kau membicarakan tentang tanaman yang hanya muncul di dataran rendah Nordhalbinsel yang pohonnya berbuah hanya sepuluh tahun sekali. Tanaman itu tidak bisa tumbuh di daerah lain selain Nordhalbinsel, Yang Mulia. Bloody Berry membutuhkan lingkungan yang basah dan dingin.”
“Saintess, Kau sudah berada di atas gunung ini selama dua puluh tiga tahun. Kau tidak tahu tentang perubahan iklim yang sudah terjadi selama jangka waktu itu. Wilayah Westeria dan Schiereiland yang berbatasan langsung dengan Nordhalbinsel sekarang memiliki suhu musim dingin yang sama dengan suhu dataran rendah Nordhalbinsel. Schiereiland sudah berada di bawah kekuasaan Nordhalbinsel, dan aku berteman baik dengan Putri Eugene dari Westeria, jika aku mengutus semua prajuritku untuk mencari Bloody Berry ke dua negara itu, aku yakin kita dapat menemukannya. Tapi kami tidak memiliki ahli herba. Kalau pun kami menemukannya, tanpa bantuanmu, kami tidak bisa menyelamatkan orang-orang itu. Semua orang sekarang sedang berjuang di Montreux. Bahkan Sang Putri yang disebutkan olehku sebelumnya, dia berada di sana sedang berjuang bersama pasukanku. Kami membutuhkanmu, Saintess."
Lucielle terdiam beberapa saat. Dia memperhatikan Xavier yang tampak memohon dengan sungguh-sungguh padanya. Xavier menatap Lucielle dengan kedua mata Emeraldnya sehingga membawa Lucielle kembali ke kenangan masa lalu saat Ratu Irene menatapnya dengan tatapan yang sama persis. Lucielle menghembuskan napas kemudian berkata, "Sebelum itu, aku ingin tahu sampai sebatas mana rasa percayamu padaku. Karena aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan membantu orang yang tidak benar-benar mempercayaiku." Lucielle merujuk kepada kejadian dua puluh tiga tahun yang lalu saat Raja Vlad memintanya untuk menyelamatkan Sang Ratu. Xavier yang mengerti maksudnya, segera mengangguk menyetujui. "Aku akan memberikan pertanyaan dan kuharap kau bisa menjawabnya. Apakah kau tahu siapa yang telah mencoba membunuh ibumu bertahun-tahun yang lalu saat kau dilahirkan?"
Xavier terkejut karena tidak menyangka bahwa Lucielle akan menanyakan hal itu padanya. Bahkan Eleanor dan Elias yang merupakan orang yang paling dekat dengannya tidak pernah menanyakan tentang kematian Ratu Irene karena mereka menganggap hal itu tidak pantas--ada terlalu banyak asumsi yang beredar di masyarakat tentang penyebab kematian Ratu karena Raja tidak pernah benar-benar menyatakan secara resmi perihal penyebab kematian Sang Ratu--dan mereka takut itu akan membuat Xavier bersedih karena teringat akan ibunya. Jadi Xavier pun tidak pernah membicarakan tentang hal ini kepada siapa pun.
"Semua orang di istana menceritakan padaku bahwa ibuku sudah sakit keras saat mengandungku dan kondisinya semakin parah saat usia kandungannya sudah sembilan bulan. Beliau mati karena melahirkanku. Kau berusaha mengobatinya selama beliau sakit. Tapi pengobatanmu dianggap tidak berhasil. Dan Raja meminta bantuan Selena yang saat itu adalah pemimpin penyihir kerajaan. Kondisinya memang sempat membaik saat itu, tapi saat aku lahir, Beliau tetap tidak dapat bertahan." Xavier berhenti sebentar sebelum melanjutkan. "Tapi aku tahu bukan itu yang terjadi sebenarnya."
Lucielle tersenyum. "Teruskan, Yang Mulia."
"Ibuku belum mati." Xavier berhenti sebentar untuk melihat reaksi Lucielle. Tapi seperti yang sudah diduganya, Sang Saintess sudah mengetahui hal itu sehingga tidak tampak terkejut sedikit pun. "Aku baru mengetahuinya saat usiaku tujuh belas tahun. Ratu Irene masih hidup dan berada di bawah pengaruh sihir Selena sehingga tampak seperti sedang tertidur panjang tanpa napas dan detak jantung. Tapi karena sihir hitam yang digunakan Selena pada ibuku, Jika Selena mati, maka ibuku juga akan mati. Kemungkinan Raja juga sudah mengetahui hal ini sehingga dia tidak punya pilihan lain selain menuruti semua perkataan Selena."
Lucielle mengangguk matanya terlihat sedikit berlinang. "Terima kasih karena kau telah mengetahui kebenarannya, Yang Mulia. Selama ini aku telah difitnah, bahkan seluruh Klan Winterthur juga telah difitnah dan menghadapi kematian karena sihir Selena. Tadinya aku akan menolak membantu jika kau belum tahu kebenarannya bahkan meski Naga Api Agung sendiri lah yang memintaku. Tapi ternyata kau sudah tahu siapa musuhmu sebenarnya."
Xavier berlutut di hadapan Saintess. "Aku bersumpah atas nama Ibuku, aku akan mengembalikan semuanya seperti semula setelah berhasil menyingkirkan Selena. Aku akan mencari cara untuk membangunkan Ratu dari tidur panjangnya, dan menghukum mereka yang pantas dihukum."
"Para Dewa dan Dewi akan menyertaimu, Yang Mulia. Aku yakin kau dapat melakukannya. Kau akan menjadi seorang Raja yang hebat bersama dengan pasanganmu nanti." Saat mengatakan itu, sebuah sinar keluar dari kedua telapak tangan Lucielle. Untuk sesaat, Xavier dapat melihat sosok sesungguhnya dari Saintess Lucia yang sudah hidup selama ratusan tahun. Sinar keemasan itu diberikan langsung oleh Sang Saintess kepada Xavier yang kelak akan membantunya dalam menjalani takdirnya.
"Sekarang bangkitlah. Aku akan mengemasi beberapa tanaman milikku, setelah itu kita berangkat menuju Montreux. Dimana kudamu, Yang Mulia?" Tanya Lucielle yang kini sudah kembali menjadi sosok Ahli herba Lucielle.
"Kudaku di bawah kaki gunung. Gunung ini tidak bisa dilalui kuda jadi aku meninggalkannya disana."
"Lalu bagaimana—“ Lucielle terdiam sesaat saat mengetahui apa yang akan ditungganginya menuju Montreux.
Saat itu, Xavier sudah pergi keluar dan merubah wujudnya menjadi Naga.
***