The Rose That Blooms In North

The Rose That Blooms In North
Chapter 22 : Le Château de La Reine



Tiga hari kemudian, mereka sudah bersiap kembali ke Istana Nordhalbinsel.


Semua prajurit yang terluka sudah pulih kembali. Jenderal Arianne bahkan sudah kembali aktif memimpin pasukannya untuk menyisiri seluruh daerah Montreux dan Fiore untuk mencari 'pasien' lainnya untuk diobati oleh Lucielle dengan dibantu oleh Anna. Honey Welsh sudah kembali sadar dan masih dalam tahap pemulihan. Dalam hari-hari pemulihannya, Anna selalu berada di sampingnya untuk memberikan dukungan secara psikis karena Anna tahu Honey pasti merasa sangat sedih tidak dapat bertugas untuk sementara waktu. Honey akhirnya mulai membaik berkat dukungan dari Anna dan mulai memamerkan bekas lukanya yang berupa jahitan panjang di bagian pinggang. Melihat bekas luka itu, Anna menunjukkan bekas luka di punggungnya yang merupakan bekas tikaman dari anggota Black Mamba. Mereka pun mulai menertawakan luka masing-masing karena tahu mereka akan kesulitan mencari pasangan di masa depan apabila memiliki bekas luka.


"Di Nordhalbinsel, jika kau wanita, dan kau memiliki bekas luka, tidak akan ada pria terhormat yang mau menikahimu. Kau mungkin masih bisa menikah dengan pria yang sudah beristri atau duda tua dari pedesaan." Kata Honey sambil tertawa.


"Kau sepertinya tidak ada masalah dengan hal itu." Kata Anna melihat Honey mengatakan hal itu dengan cukup santai.


"Tentu saja. Aku tidak terlalu berminat untuk menikah. Lihatlah Jenderal kita, dia tetap hidup bahagia sebagai seorang Jenderal tanpa status pernikahan padahal dia bisa menikahi pria bangsawan mana pun karena status sosialnya yang tinggi."


"Tentu saja kita tidak sebanding dengan beliau. Tapi apakah tidak ada pria idaman yang membuatmu tertarik? Aku mungkin bisa mengenalkanmu ke seseorang di Istana nanti jika kau berkunjung ke sana." Anna menawarkan. Entah kapan terakhir kali dia bisa membicarakan soal pria dengan teman sesama wanita. Mungkin memang belum pernah. Satu-satunya teman mengobrol yang bisa diajak bercerita soal pria hanyalah ibunya. Hal ini membuat Anna menjadi semakin merindukan Ratu Isabella.


"Hanya ada dua." Honey berkata. "Bukan, sebenarnya ada tiga, tapi yang satu sangat sulit untuk diraih karena sudah bertunangan."


"Kau bilang tiga itu 'hanya'?" Anna tertawa. "Biar kutebak. Pria yang sangat sulit untuk diraih karena sudah bertunangan itu pasti Putra Mahkota. Tebakanku tidak mungkin salah."


"Astaga. Jangan mengucapkannya keras-keras. Kau membuatku malu." Kata Honey yang disambut tawa mereka bersamaan.


"Bagaimana dengan Jenderal Elias?"


"Dia sangat, sangat, sangat tampan seperti bukan berasal dari dunia ini. Tapi kudengar dia memiliki banyak kekasih. Rumornya dia memiliki minimal satu wanita di setiap kota. Aku tidak suka dengan pria yang tidak setia."


"Astaga. Aku tidak tahu. Dia tidak terlihat seperti itu. Kalau begitu, dua pria lainnya siapa?"


"Keduanya juga sulit untuk diraih. Yang satu baru saja memutuskan untuk menikahi seorang Putri dari kerajaan lain sementara aku tidak sadarkan diri."


"Pangeran Jeffrey? Astaga. Aku tak tahu kalau seleramu benar-benar tinggi. Sepertinya kau hanya menyukai pria yang sulit dicapai." Kata Anna sambil tertawa.


"Benar. Itulah masalahku. Dan yang terakhir, oh, orang ini yang paling sulit untuk diraih karena dia entah ada di mana. Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya langsung dan benar-benar berharap dapat melihatnya suatu saat nanti meski saat itu aku sudah terlalu tua. Dia adalah panutanku selain Jenderal Arianne, dan dia seperti legenda yang hidup."


Anna tidak langsung menjawabnya meski dia tahu siapa yang Honey maksud. Honey sudah pernah, bahkan sering menceritakan betapa dia sangat menyukai pria itu meski belum pernah bertemu dengannya. Anna tidak langsung mengatakannya karena pria yang dimaksud Honey adalah pria yang juga disukainya. Cinta pertamanya yang selalu ada untuknya dalam suka dan duka. Satu-satunya orang yang dapat dipercayainya saat ini. Sekaligus satu-satunya pria yang menolak untuk menikahinya.


"Oh, ayolah, masa kau tidak dapat menebak yang satu ini. Ini sangat mudah. Dia berasal dari negaramu, Schiereiland. Jenderal yang memiliki julukan Singa dari Selatan."


"Leon."


"Benar. Bukankah dia sangat sulit untuk diraih. Putri dari Kerajaan Schiereiland pasti sangat beruntung karena dapat melihatnya setiap hari."


"Benar. Dia pasti sangat beruntung."


"Anna." Seseorang memanggil Anna dari pintu kamar perawatan. Itu adalah salah satu prajurit Nordhalbinsel. "Putra Mahkota Xavier memanggilmu ke ruangannya." Katanya.


"Baiklah. Aku akan segera ke sana." Kata Anna. "Honey, maaf aku harus—“


"Sudahlah tidak apa-apa, kau harus cepat pergi ke sana. Kalau kau sampai dipecat karena aku, aku akan menyesalinya seumur hidup." Kata Honey sambil tersenyum. Anna merasa lega dapat melihat senyuman temannya lagi saat itu.


***


"Kita akan berangkat siang ini. Dan karena tidak ada kendala badai salju atau apa pun, kita akan sampai di Istana paling lambat tiga hari kemudian. Sesampainya di Istana akan ada pesta meriah selama tiga malam berturut-turut yang dihadiri oleh semua bangsawan dan perwakilan dari Kerajaan Westeria. Jadi kita tidak boleh terlambat datang karena pesta itu untuk merayakan keberhasilan kita semua." Kata Xavier saat semua orang yang dimintanya untuk datang ke ruangannya telah berkumpul.


Saat itu di ruang kerjanya sudah berkumpul Jenderal Arianne dan masing-masing pemimpin grup pasukan prajurit Istana juga Anna. Pangeran Jeffrey sudah berangkat dua hari yang lalu menuju Westeria untuk melamar Putri Eugene setelah mendapat surat balasan yang berisi restu dari Raja Vlad dan Selir Juliana, Ibu dari Pangeran Jeffrey yang merupakan Istri ketiga dari Sang Raja. Pernikahan mereka akan segera diadakan hari ini di Istana Westeria dengan dihadiri oleh Raja Vlad dan Selir Juliana serta beberapa perwakilan dari Istana Nordhalbinsel. Anna sebenarnya berharap dapat menyaksikan langsung pernikahan itu, tapi tentu saja mereka tidak dapat pergi untuk menyelesaikan tugas di Montreux terlebih dahulu. Sementara itu, Jenderal Elias juga telah pergi entah sejak kapan karena tanpa disadari oleh siapa pun, Sang Jenderal muda sudah tak terlihat selama beberapa hari. Tak satu pun dari mereka menyadari kepergian Sang Jenderal muda sama halnya seperti tak satu pun dari mereka menyadari kedatangannya malam itu. Anna masih menduga hal ini sebagai salah satu sihir yang dimiliki oleh anak-anak keturunan Grimoire.


Semua orang yang ada di ruangan itu bersorak gembira saat mendengar Xavier menyebutkan tentang pesta meriah. Tapi Anna hanya dapat memikirkan tentang misi penyelamatan Ibu dan Adiknya, karena sesampainya mereka di Istana nanti Anna akan sangat sibuk mencari tahu tempat Ibu dan Adiknya dikurung dan mencari tahu cara paling aman untuk menyelamatkan mereka. Tentu saja Anna ikut senang karena tugas mereka sudah selesai di Montreux. Tapi bagi Anna, itu bukan karena pesta yang menanti mereka.


"Tidak hanya itu saja." Suara Xavier meredakan sorak-sorai gembira para prajurit. "Pesta ini juga diadakan untuk merayakan pernikahan Pangeran Jeffrey dengan Putri Eugene. Serta Pesta untuk mengumumkan pernikahanku dengan Lady Eleanor yang akan segera dilaksanakan seminggu setelah hari pengumumannya nanti."


Kali ini sorakan gembira terdengar lebih keras lagi. Kabar ini pun dengan cepat tersebar ke seisi Kastil, kemudian ke seluruh Montreux. Anna yakin kabar ini pasti sudah sampai di Istana Nordhalbinsel di hari yang sama. Karena seperti yang Anna dengar dari para prajurit lainnya, pernikahan antara Putra Mahkota Xavier dengan Putri Mahkota Eleanor sudah terlalu sering ditunda selama tiga tahun terakhir. Bagi rakyat Nordhalbinsel, pernikahan ini akan menjadi pernikahan paling dinanti-nanti. Bagi Anna, itu adalah tenggat waktu dirinya dapat segera pergi dari Istana. Anna harus berhasil menyelamatkan Ibu dan Adiknya serta pergi bersama Leon dan Louis dari Nordhalbinsel sebelum pesta pernikahan Putra Mahkota dilaksanakan. Karena saat itu pasti akan sangat ramai hingga terlalu sulit baginya untuk pergi tanpa ketahuan.


***


Perjalanan pulang terasa jauh lebih cepat dari perjalanan berangkat. Di malam pertama perjalanan, mereka sudah melewati dua kota dan berada di luar wilayah Montreux. Mereka beristirahat di daerah Trivone karena di daerah itu ada sebuah Kastil yang dulunya adalah Kastil yang hanya digunakan untuk liburan Ratu Irene. Tapi karena sudah bertahun-tahun tidak pernah ditempati, Kastil itu lebih mirip bangunan tua yang berhantu. Sepertinya Kastil itu dilupakan begitu saja dan tidak ada yang merawatnya selepas kematian Sang Ratu. Jadi sebelum beristirahat malam mereka semua harus membersihkan kastil dan membeli bahan makanan di pasar untuk dimasak.


Setelah selesai makan dan bersih-bersih para prajurit dipersilahkan untuk beristirahat dan mereka akan kembali melanjutkan perjalanan sebelum matahari benar-benar terbit. Karena Anna adalah satu-satunya wanita di antara mereka, Anna diberikan kamar yang terpisah yang Anna duga dulunya merupakan kamar Sang Ratu. Kamar itu berada di lantai dua dan berada tepat di seberang kamar Xavier. Anna memutuskan untuk melihat-lihat isi kamar itu sebelum tidur.


Kamar itu cukup sederhana untuk ukuran kamar seorang Ratu. Meski begitu, kamar tersebut tetap saja sangat luas dan memiliki banyak jendela lebar yang menghadap langsung ke taman belakang. Berbeda dengan taman di Nordhalbinsel, taman itu, karena sudah lama tidak diurus, hanya berisi ranting-ranting pepohonan, pohon-pohon tua yang kering, beberapa tanaman liar yang dapat tumbuh di daerah dingin dan di tengah taman tersebut terdapat air mancur besar yang sudah tidak berfungsi dengan kolam yang sudah membeku. Langit gelap malam hari membuat pemandangan itu tampak sangat menyeramkan. Anna menutup tirai-tirai dan mulai memperhatikan interior kamar tersebut.


Dindingnya yang berwarna putih tulang dihiasi ornamen bunga mawar merah dengan sulur emas. Di salah satu dinding, terdapat berbagai lukisan yang dibingkai dengan bingkai emas. Anna melihat satu persatu lukisan-lukisan tersebut. Semuanya tampak seperti lukisan keluarga yang bahagia. Tapi ada satu lukisan yang sangat menarik perhatiannya. Lukisan itu adalah lukisan terbesar dan berada tepat di tengah diantara lukisan-lukisan lainnya yang lebih kecil. Itu adalah lukisan pasangan yang sedang menatap satu sama lain dengan tatapan penuh kebahagiaan.


Seorang pemuda yang sangat tampan berusia sekitar pertengahan 20 tahun yang sangat mirip dengan Xavier. Anna bahkan hampir mengira pemuda yang ada di lukisan itu adalah Xavier jika tidak memperhatikan warna matanya. Bukan warna Emerald melainkan warna hitam gelap. Tapi untuk keseluruhan, wajah pemuda itu sangat mirip dengan Sang Putra Mahkota. Di sampingnya, seorang gadis muda yang sangat cantik mengenakan gaun pernikahan berwarna putih. Rambutnya yang berwarna hitam dibiarkan tergerai secara alami hingga sepinggang. Gadis muda itu tersenyum penuh cinta menatap suaminya. Warna matanya emerald, sama seperti permata di cincin, anting dan tiaranya. Tanpa melihat tulisan di ujung bawah kertas pun Anna sudah tahu bahwa pasangan itu adalah Raja Vlad dan Ratu Irene di hari pernikahan mereka saat mereka masih jauh lebih muda.


Tapi saat melihat wajah Ratu Irene, entah kenapa dia merasa wajahnya mengingatkannya dengan seseorang. Anna merasa sudah sering melihat wajah itu. Dari bentuk matanya, bentuk hidungnya dan bentuk bibirnya. Bahkan cara Sang Ratu tersenyum sangat familier bagi Anna. Seolah dirinya sudah lama mengenal gadis di lukisan itu.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang membuyarkan lamunannya. Anna melihat jam sudah menunjukkan waktu tengah malam. Kastil begitu sunyi sehingga Anna hampir bisa mendengar suara napas teratur para prajurit yang sudah terlelap. Seharusnya tidak ada orang yang terbangun saat itu. Anna bersiap mengenakan mantel tebalnya dan membawa pedangnya untuk berjaga-jaga.


Dengan langkah sunyi, Anna pergi menuruni tangga menuju ke luar Kastil. Anna mengikuti orang itu diam-diam dari jarak sejauh mungkin. Langkah orang itu menuntunnya menuju ke luar gerbang kastil menuju pepohonan liar di hutan yang menutupi Kastil. Semakin lama mereka berjalan, semakin jauh mereka dari Kastil. Anna mulai merasa sangat kedinginan karena dia hanya mengenakan pakaian tidur yang tipis di balik mantel tebalnya.


Setelah mereka cukup jauh dari Kastil, orang itu tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pohon tua yang sangat besar. Anna tidak dapat melihat wajah orang itu karena orang itu mengenakan tudung hitam yang menutupi kepalanya.


"Kenapa kau mengikutiku, Anna?" Tanya orang itu. Anna langsung mengenali suara itu sebagai Xavier.


Anna segera menunjukkan dirinya dan maju beberapa langkah. "Maaf, Yang Mulia. Saya pikir ada seorang penyusup di Kastil. Tapi, bagaimana Yang Mulia bisa tahu saya yang sedang mengikuti Anda?"


"Aku bisa merasakannya."


Anna tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud Xavier tapi dia menduga itu sebagai kemampuan khusus yang dimiliki seseorang yang sudah sangat terlatih. Anna berpikir seperti itu karena Leon juga dapat mengetahui apabila ada seseorang yang mengikutinya. Itu semacam insting yang tidak Anna miliki.


"Kembalilah. Di luar sini terlalu dingin." Kata Xavier.


Anna baru akan berjalan kembali menuju Kastil, tapi entah kenapa dia merasa tidak bisa meninggalkan Xavier begitu saja. Mungkin karena beberapa hari terakhir ini Anna sudah terbiasa selalu berada di sekitar Xavier sebagai pengawal pribadinya. Mungkin Anna hanya merasa simpati pada Sang Putra Mahkota. Anna tahu bahwa Xavier selalu kesulitan tidur di malam hari dan bahwa kutukan dari Pena Grimoire selalu menghantuinya. Anna merasa tidak tega saat harus meninggalkannya sendiri di tempat itu.


"Saya akan menemani Yang Mulia. Di luar sini terlalu berbahaya jika Anda sendirian." Kata Anna akhirnya setelah memutuskan untuk tidak kembali ke Kastil meski dirinya merasa kedinginan.


"Baiklah, terserah kau saja." Kata Xavier.


Xavier duduk di bawah pohon tua itu seolah udara dingin malam hari dan salju di tanah tidak mengganggunya sama sekali. Anna masih belum terbiasa dengan cuaca dingin Nordhalbinsel jadi dia hanya berdiri diam beberapa langkah jauhnya dari Sang Putra Mahkota.


"Anna, kemarilah." panggil Xavier.


Anna berjalan mendekatinya. Dan entah bagaimana, Anna tak lagi merasa kedinginan.


"Kau lihat apa yang terukir di pohon itu?" Xavier menunjuk pada batang pohon tua itu.


Anna membacanya. Itu adalah ukiran yang dibuat oleh tangan seseorang. Seseorang mengukirkan kata-kata itu di batang pohon.


"Kris, Maafkan aku..."


"Ibuku, Ratu Irene yang menulisnya bertahun-tahun yang lalu saat dia belum menikah dengan Raja Vlad." Xavier menjelaskan. Seolah Raja dan Ratu yang dia sebutkan tadi bukan orang tuanya.


Anna diam mendengarkan. Dia ingin bertanya kepada Xavier, tapi khawatir apa yang ditanyakannya bukan lah sesuatu yang sopan untuk ditanyakan karena ini menyangkut mendiang ibunya. Sang Putra Mahkota mungkin akan merasa sedih jika dia mengungkit kembali tentang mendiang Ratu.


"Apa kau tahu bahwa dulu Ratu Irene dikenal sebagai Jenderal Irene di Schiereiland?" Xavier bertanya tiba-tiba. "Dia pemimpin pasukan di setiap perang yang berhasil dimenangkan oleh Schiereiland di masa kepemimpinan Raja Eustacius. Julukannya adalah Jenderal Irene Sang Pembantai."


***