The Rose That Blooms In North

The Rose That Blooms In North
Chapter 11 : Stylo à Plume



Pagi itu Anna tampak sangat gelisah. Dia bahkan tidak dapat mengunyah roti kerasnya dan hanya meminum sup tulang saat sarapan. Satu-satunya hal yang dapat membuatnya segelisah itu adalah Tahap Terakhir pemilihan pengawal pribadi Putra Mahkota. Meski sebelumnya Anna tidak terlalu memedulikan Tahap Terakhir ini karena Tes Bertahan Hidup di Tahap Kedua terdengar lebih menakutkan dari apa pun, kini dia merasa kalau dia terlalu meremehkan Tes Wawancara langsung dengan Putra Mahkota.


Leon yang memperhatikannya sejak tadi hanya bisa menenangkannya "Itu tidak akan terlalu sulit. Kau hanya harus menjawab semua pertanyaannya dengan jelas, singkat dan sejujur mungkin. Meski bagian 'jujur' dalam kamusmu harus sedikit berbeda dari arti jujur yang sebenarnya."


Anna hanya mengangguk.


Semalam Anna pulang setelah memastikan semua lukanya sudah diobati oleh para Penyihir Istana. Luka di bahu dan kakinya sudah sepenuhnya sembuh dan hanya menyisakan sedikit bekas luka. Jadi ketika Anna pulang ke penginapan pada dini hari dan bertemu dengan Leon yang masih terjaga di pintu masuk penginapan, Anna berbohong bahwa semuanya berjalan dengan lancar. Anna tidak menceritakan tentang insiden munculnya para bandit itu dan bagaimana dirinya hampir mati di Labirin Es jika tidak ada pria bertopeng yang datang. Anna masih meyakini bahwa pria itu tidak mungkin Leon, meski jauh di dalam hatinya dia benar-benar berharap Leon lah yang datang saat itu. Tapi jika Leon sampai tahu bahwa ada sesuatu yang sangat membahayakan nyawanya seperti kemunculan tiba-tiba dari anggota Black Mamba, Anna yakin Leon tidak akan membiarkan Anna untuk ikut Tahap Ketiga. Dan itu artinya semua usahanya selama ini akan sia-sia.


"Kau yakin tidak apa-apa? Kau tampak sangat pucat." Kata Leon saat Anna akan berangkat kembali ke Istana untuk ujian Tahap Terakhir.


"Aku hanya kurang tidur, Leon. Aku tidak apa-apa." Anna memaksakan senyumnya. "Sampai jumpa nanti. Aku akan membawa kabar gembira untukmu."


Dia pun pergi menuju Istana Nordhalbinsel.


***


Hanya ada lima orang kandidat yang tersisa. Mereka adalah dua orang dari Westeria, Satu orang pemanah handal dari Orient, Honey Welsh dan Anna. Mereka semua duduk di kursi yang telah disediakan di depan sebuah tenda. Di dalam tenda itulah Putra Mahkota Xavier akan mewawancarai kelima kandidat calon pengawal pribadinya.


"Aku sangat gugup." Kata Honey Welsh.


"Aku juga." Kata Anna. Kata 'gugup' terlalu sederhana untuk menggambarkan apa yang dia rasakan saat ini. Jika dia gagal di tahap wawancara ini, artinya semua rencananya gagal. Dan dia harus mencari cara lain untuk dapat masuk ke dalam Istana dan mencari Ibu serta adiknya. Padahal dia sudah mengerahkan seluruh usahanya agar berhasil menjadi pengawal pribadi Putra Mahkota.


"Dengar, siapa pun yang terpilih di antara kita, bahkan jika tak satu pun dari kita terpilih, aku ingin kita tetap bisa berteman." Kata Honey. Dia tersenyum begitu ramah pada Anna.


"Tentu saja." Kata Anna dengan sungguh-sungguh. Dia tak pernah merasakan indahnya punya teman wanita sebelum ini.


Anna berada di urutan paling terakhir dalam tes wawancara tersebut. Dia memperhatikan orang-orang yang sudah selesai melakukan tes wawancara mereka. Kebanyakan dari mereka hanya akan tersenyum lega begitu keluar dari tenda tersebut. Saat Honey Welsh yang mendapat nomor urut ke empat pun, Anna dapat melihat Honey tampak tenang dan lega setelah keluar dari tenda itu meski awalnya Honey sama gugupnya dengan Anna. Jadi Anna pun berpendapat bahwa mungkin Putra Mahkota tak semenakutkan itu.


Tak lama kemudian, tiba giliran Anna untuk masuk ke tenda tersebut. Anna berusaha keras untuk tidak tegang dan mengatur napasnya. Leon sudah mengajarinya banyak hal termasuk mengarang latar belakangnya agar terlihat alami dan jujur. Tapi saat ini, semua yang sudah diajarkan oleh Leon seolah hilang dari pikirannya.


"Silahkan duduk di sini." Kata salah satu pengawal. Ada lima orang pengawal di sana, dan semuanya mengenakan helm tutup kepala khas prajurit Nordhalbinsel. Anna tidak dapat melihat wajah mereka tapi dia menebak-nebak salah satunya mungkin Elias Winterthur.


Anna segera duduk di tempat yang sudah di siapkan. Sambil menunggu Putra Mahkota Xavier datang dan untuk mengurangi rasa gugupnya, Anna memperhatikan sekitarnya. Di hadapannya terdapat meja yang terbuat dari logam mulia serta kursi yang nantinya akan ditempati oleh Putra Mahkota yang juga terbuat dari bahan yang sama. Anna menebak-nebak kepribadian Sang Putra Mahkota dari penempatan barang-barang yang ada di atas meja. Ada tumpukkan kertas di sebelah kanan meja yang Anna duga berisi hasil penilaian dari peserta lain. Pena tinta yang terbuat dari emas dan berhias bulu angsa putih yang pernah dilihatnya di meja kerja Raja dan Ratu Schiereiland dan juga di meja kerjanya dulu, tertata rapih di sebelah kiri meja. Anna merasa ada sesuatu yang ganjil dari pengaturan benda-benda itu, tapi dia tidak terlalu tahu persis apa itu. Anna sibuk memikirkan teorinya sendiri sehingga dia hampir tidak sadar saat Putra Mahkota Xavier memasuki tenda itu.


Anna buru-buru bangkit dari kursinya untuk memberikan salam hormat kepada Sang Putra Mahkota, tapi Putra Mahkota Xavier memintanya untuk kembali duduk.


Putra Mahkota Xavier, seperti yang didengarnya dari gosip-gosip para ksatria wanita Montreux, terlihat tidak nyata. Seperti campuran antara mimpi dan angan-angan. Dia seperti pria fiksi yang dikarang oleh seorang penulis wanita yang memiliki selera tinggi. Anna sudah cukup lama berada di Nordhalbinsel untuk menarik kesimpulan bahwa kebanyakan orang-orang di Nordhalbinsel memiliki wajah yang rupawan. Anna sudah pernah melihat Elias Winterthur dan Pangeran Jeffrey, tapi dia masih bisa lebih takjub lagi saat melihat wajah Sang Putra Mahkota untuk pertama kalinya. Seperti yang dikatakan orang-orang, Putra Mahkota Xavier memiliki mata berwarna Emerald yang sangat tidak biasa dan tidak ada satu pun yang dapat mengalihkan pandangan dari dua bola mata yang indah itu.


Seolah tersihir oleh pesona sepasang mata emerald itu, Anna hampir lupa untuk segera duduk di kursinya. Wajahnya memerah karena malu. Dia belum pernah memandangi seorang pria seperti itu.


Putra Mahkota Xavier tersenyum melihat rona merah di pipi Anna.


"Jangan gugup. Aku tidak akan mengajukan banyak pertanyaan." Kata Putra Mahkota Xavier. Entah kenapa, suaranya terdengar sangat akrab di telinga Anna. Seolah dia sudah mendengarnya setiap hari seumur hidupnya.


"Baik, Yang Mulia." Kata Anna setenang mungkin.


"Dari aksen bicaramu, kau terdengar seperti orang Schiereiland. Apa aku benar?"


Karena terlalu gugup, Anna lupa untuk berbicara dalam aksen Nordhalbinsel yang sudah dilatihnya selama ini. Mau tak mau, Anna tidak dapat berbohong soal asalnya.


“Benar, Yang Mulia.” Jawab Anna, singkat.


“Aku sudah menerima data-datamu dari formulir pendaftaran. Tapi aku ingin memastikan kembali, siapa nama lengkapmu, Nona?”


“Anna, Yang Mulia.”


“Hanya Anna? Kau tidak punya nama keluarga?”


“Tidak ada, Yang Mulia. Saya tidak punya keluarga.” Anna berusaha tetap tenang saat mengatakan itu. Dia harus benar-benar terdengar jujur dan meyakinkan.


“Kau tahu, empat kandidat lainnya berasal dari keluarga bangsawan atau keluarga yang memiliki pengaruh besar di Negara mereka masing-masing. Apa kau cukup yakin kau bisa diterima? Terlebih lagi, kau berasal dari Schiereiland, yang mana sebelumnya adalah kerajaan musuh bagiku.”


Anna menarik napas dalam-dalam sebelum menjawabnya. Dia harus tenang agar dapat meyakinkan Putra Mahkota. “Saya yakin bahwa yang akan melindungi Yang Mulia adalah pedang dan sumpah setia saya, bukan status keluarga maupun negara asal saya.” Jawab Anna sambil memberanikan diri menatap mata Putra Mahkota di hadapannya.


Jantungnya berdebar hebat entah karena dia sedang berbohong, atau karena Sang Putra Mahkota sedang menatapnya dalam-dalam. Atau mungkin karena keduanya.


Putra Mahkota Xavier tersenyum puas mendengar jawaban itu. Dia mengisyaratkan salah satu pengawalnya yang berada di sebelah kiri untuk mengambilkan pena tinta yang sebenarnya berada tidak jauh darinya. Pengawal tersebut segera mengambilkan pena tersebut dan memberikannya kepada Putra Mahkota.


“Baiklah, itu saja yang ingin kudengar. Kau boleh pergi.” Putra Mahkota menuliskan sesuatu di lembar kertas formulir pendaftaran Anna yang sejak tadi dia pegang. Anna memperhatikan apa yang dituliskannya tapi dia tidak dapat melihatnya dari tempatnya.


Putra Mahkota Xavier bangkit dari kursinya. Anna segera melakukan hal yang sama. Tapi dia tidak segera meninggalkan tempat itu. Anna masih berdiri di tempatnya.


“Ada lagi yang ingin kau sampaikan, Nona?” Tanya Putra Mahkota.


“Sebelum saya pergi, mohon izinkan saya menyampaikan salam hormat saya pada Yang Mulia Putra Mahkota.” Kata Anna sambil tersenyum seramah mungkin.


“Baiklah, silahkan.”


Anna berjalan menjauh dari hadapan Putra Mahkota di hadapannya, menuju pengawal yang tadi mengambilkan pena milik Putra Mahkota. Saat sudah berada di hadapan pengawal itu, Anna berlutut. “Salah hormat saya kepada Yang Mulia Putra Mahkota Xavier.” Ucap Anna.


“Apa yang kau lakukan—“ tapi Putra Mahkota itu langsung diam setelah mendapat isyarat dari pengawal yang ada di hadapan Anna.


“Kau boleh berdiri, Anna.”


Anna menuruti perkataannya.


Pengawal yang ada di hadapannya melepas helm penutup kepalanya. Memperlihatkan wajah Sang Putra Mahkota yang asli. “Bagaimana kau bisa tahu?” Tanyanya.


Tepat saat  menanyakan hal itu, wajah Putra Mahkota yang sejak tadi mewawancarai Anna sudah berubah menjadi Elias Winterthur.


“Maaf sebelumnya jika Saya lancang, Yang Mulia. Tapi saya tahu bahwa Anda kidal." Kata Anna dengan yakin. Dia kini menatap Sang Putra Mahkota dengan percaya diri. "Anda biasa menulis dengan tangan kiri, itulah sebabnya pena itu diatur untuk selalu berada di sebelah kiri Anda. Tapi Tuan Elias, yang sedang menyamar menjadi Putra Mahkota tidak kidal, saya pernah melihatnya saat Tahap Pertama, dan saya memperhatikan caranya memegang pena."


Kini mata Anna melirik ke arah pena emas di atas meja. "Pena tinta milik anggota keluarga kerajaan berbeda dengan pena biasa karena terbuat dari logam mulia seperti emas dan perak sehingga beratnya berbeda. Saya juga mengamati tadi saat Anda menyerahkan pena itu pada Tuan Elias yang sedang menyamar, Anda memegang pena itu dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh para anggota keluarga kerajaan yaitu memegangnya di tengah agar beratnya seimbang. Juga karena Anda menggunakan tangan kiri tadi. Dari situlah saya mengetahui bahwa Anda adalah Putra Mahkota Xavier yang sebenarnya.”


Putra Mahkota Xavier terdiam cukup lama mendengar penjelasan dari Anna yang sangat menarik baginya.


“Kau benar.” Ucap Putra Mahkota Xavier setelah terdiam beberapa saat. “Tapi kalau kau tidak keberatan, aku ada satu pertanyaan lagi yang perlu kuajukan sebelum benar-benar menerimamu menjadi pengawal pribadiku. Kalau kau bisa menjawabnya dengan jujur, kau mungkin bisa lolos tahap ini.”


“Silahkan, Yang Mulia.”


“Bagaimana kau bisa tahu cukup banyak tentang kebiasaan anggota keluarga kerajaan? Terutama hal yang kelihatannya cukup remeh seperti cara memegang pena tinta.”


Pertanyaan itu tentu saja tidak pernah diduga oleh Anna. Tapi dia berusaha tetap tenang dan menjawab, “Saya pernah memperhatikan Putri Anastasia dari Schiereiland saat sedang menulis, saat itu beliau sedang menjadi relawan untuk membantu para warga di desa asal saya, Yang Mulia.”


Putra Mahkota Xavier mengangguk mengerti. "Baiklah." Katanya, "Kau boleh pergi. Besok pagi jam 6 datanglah kembali ke Istana. Kau akan diberitahu hasilnya besok."


Anna mengucapkan terima kasih dan memberikan salam hormat sekali lagi kepada Putra Mahkota sebelum dia pergi meninggalkan tenda itu untuk kembali ke penginapan.


Setelah Anna pergi, Elias memperhatikan raut wajah Putra Mahkota Xavier yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. Jika biasanya Putra Mahkota selalu terlihat serius atau kesal atau marah, kali ini Putra Mahkota terlihat seperti orang yang baru saja mendapatkan apa yang dia cari. Dia terlihat begitu gembira hingga membuat Elias bertanya-tanya apa yang salah pada diri Sang Putra Mahkota.


"Kerja bagus, semuanya. Kalian semua boleh pergi dan istirahat." Ucap Xavier kepada para pengawalnya.


Saat semua sudah pergi, Elias mendekat ke arah Xavier dan berbicara padanya. "Putri Kerajaan Schiereiland tidak pernah pergi meninggalkan Istana."


"Aku tahu." Jawab Xavier dengan enteng.


"Kau tahu? Kau tahu kalau tidak ada satu pun rakyat biasa yang pernah melihat wajah Sang Putri? Itulah sebabnya kita kesulitan menemukannya."


Xavier mengalihkan pandangannya dari tumpukan kertas di hadapannya dan menatap Elias. "Aku tahu. Aku sudah tahu semuanya." Dia menambahkan dengan senyum misterius, "Itulah sebabnya aku tahu siapa dia."


***


"Wawancaranya lancar. Jangan khawatir begitu." Kata Anna saat lagi-lagi mendapati Leon telah menunggunya di pintu masuk penginapan dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran. "Ayo masuk, di sini dingin sekali." Ajak Anna.


Anna dan Leon segera masuk ke penginapan. Siang itu, meski salju tidak turun, tapi udaranya lebih dingin dari biasanya. Leon memberitahu Anna tentang badai salju Nordhalbinsel yang biasanya justru datang saat cuaca cerah dan salju tidak turun seharian. Jadi kedatangan badai salju itu sendiri seperti kejutan setelah orang-orang cukup tenang dan senang dengan matahari cerah yang mereka dapatkan sebelum kedatangannya. Leon kemudian menganalogikan badai salju itu dengan kondisi mereka saat ini. Bahwa Anna tidak boleh tenang dulu saat semuanya berjalan lancar untuknya, karena 'Badai Salju' bisa datang kapan saja dan itulah yang membuat Leon terus khawatir. Tapi dia sendiri tidak dapat melakukan apa pun.


"Apa menurutmu kau bisa langsung menemukan Ratu Isabella dan Putra Mahkota Alexis begitu kau diterima sebagai pengawalnya? Bagaimana jika Putra Mahkota Xavier memintamu untuk terus berada di sampingnya seharian penuh bahkan saat malam?" Leon mengeluarkan seluruh kekhawatirannya setelah mereka sudah sampai di kamar penginapan. Louis sedang tertidur di pojok ruangan dekat dengan perapian.


"Apa aku pernah memintamu untuk terus berada di sampingku bahkan saat malam?" tanya Anna.


"Ya, Yang Mulia. Kau selalu begitu." Jawab Leon langsung. "Dan memang seperti itulah tugasku. Seseorang bisa saja masuk ke kamarmu saat malam hari dan membunuhmu jadi aku harus selalu ada di dekatmu bahkan saat kau tidur." Tambahnya segera.


Anna langsung terdiam begitu mengingatnya. Dia menyadari bahwa Leon memang selalu ada di sampingnya dari pagi hingga malam bahkan saat dia tidur di kamarnya di Istana, Leon akan menjaganya tepat di pintu kamarnya. Kecuali saat sedang pergi berperang, Leon memang selalu bersamanya selama dua puluh empat jam setiap hari.


"Wah. Jangan bilang kau baru menyadarinya." Kata Leon.


"Kau benar." Anna terdiam sesaat sebelum melanjutkan. "Aku pasti sudah sangat merepotkanmu selama ini."


"Sudah kubilang itu bagian dari tugasku. Dan aku senang melakukannya. Aku hidup untuk melindungimu, Yang Mulia."


"Terima kasih banyak, Leon." Ucap Anna dengan tulus dan sungguh-sungguh. "Aku mungkin tidak pernah benar-benar mengucapkannya padamu, tapi aku benar-benar berterima kasih padamu."


Leon tersenyum malu saat mendengarnya. "Aku yang harus berterima kasih pada keluarga kerajaan karena sudah menganggapku bagian dari keluarga meski sampai sekarang aku tidak tahu apa pun tentang orang tuaku yang sebenarnya. Oleh karena itu, sebagai ungkapan terima kasihku kepada Raja dan keluarga kerajaan, aku ingin melindungi kalian semua." Leon terdiam sejenak mengingat keadaan saat ini, "Tapi aku telah gagal."


"Kau tidak gagal melindungiku." Anna duduk di samping Leon, di dekat perapian. "Kau selalu ada untukku bahkan tanpa perlu kuminta. Itulah sebabnya dulu aku sangat ingin menikahmu."


Leon menatap Anna dengan terkejut karena Anna masih mengingat hal itu sebaik dia masih mengingatnya. "Yang Mulia—“


"Aku pernah melamarmu, tapi kau langsung menolakku saat itu juga bahkan tanpa mencoba untuk berpura-pura memikirkannya terlebih dahulu. Kau ingat itu?"


"Yang Mulia, kau dulu baru berusia sepuluh tahun."


"Tapi saat itu kau sudah berusia lima belas tahun. Aku melamarmu saat kau berada di usia yang cukup untuk menikah. Maksudku... Pria lain di usia itu pasti tidak akan menolakku kalau aku melamar mereka tapi kau langsung menolakku tanpa memikirkannya. Aku benar-benar sedih saat itu." Protes Anna.


Leon tertawa. Tanpa sadar dia membelai kepala Anna dengan lembut seperti yang selalu dilakukannya dulu saat Anna masih kecil.


"Maaf." ucap Leon begitu tersadar. Dia segera mengangkat tangannya. Tapi Anna menarik tangannya kembali dan menggenggamnya.


"Aku ingin tahu." Kata Anna sambil menatap Leon. "Kalau aku melamarmu sekarang, bukan sepuluh tahun yang lalu, apa kau akan tetap menolakku sama seperti waktu itu?"


Leon terdiam terkejut. Dia tampak seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dia tidak dapat mengatakannya, jadi dia hanya menatap Anna di hadapannya yang kini sedang menatapnya dengan sungguh-sungguh.


Untuk beberapa saat di ruangan itu tidak ada satu pun yang berbicara. Louis masih tertidur dengan lelap dan sepertinya pembicaraan Anna dan Leon tidak mengganggunya sama sekali. Hanya terdengar suara kayu bakar di perapian yang perlahan mulai habis.


"Yang Mulia aku—“


"Jangan. Jangan katakan apa pun." Kata Anna. Dia memalingkan wajahnya dari Leon. "Saat ini aku tidak memiliki apa pun untuk ditawarkan padamu. Aku tidak punya kerajaan, tempat tinggal maupun titel sebagai Putri Raja. Aku bukan siapa-siapa saat ini. Jadi aku mungkin akan mendapatkan penolakan lagi darimu. Tunggu sampai aku bisa menyelamatkan keluargaku dan kerajaanku, barulah saat itu aku akan siap mendengar jawaban darimu."


Anna bangkit untuk bersiap pergi membeli makanan untuk makan malam mereka, tapi Leon tidak melepaskan tangannya dari Anna.


"Kau hanya merasa takut." Kata Leon sambil menatap mata Anna yang kini dapat dilihatnya. Mata Anna mulai berkaca-kaca seperti akan menangis. "Tidak apa-apa, kau boleh mengatakannya kalau kau merasa takut. Sepuluh tahun yang lalu kau melamarku karena aku akan dikirim ke medan perang dan kau takut aku akan mati di medan perang saat itu. Jadi kau bilang akan menikahiku sehingga aku tidak perlu ikut berperang. Di usia sekecil itu kau sudah mempelajari bahwa pasangan dari Putri Raja yang belum memiliki anak tidak perlu ikut dalam perang. Itulah sebabnya kau melamarku saat itu."


Anna tidak mengatakan apa pun. Matanya mulai terasa perih karena menahan tangisan yang sejak tadi ditahannya. Dia memang merasa takut tapi dia tidak mau Leon tahu akan hal itu. Dia takut jika rencananya tidak berhasil. Dia takut jika dia gagal menyelamatkan ibu dan adiknya. Dia tidak tahu bahaya apa lagi yang akan dihadapinya. Dan berapa lama lagi dia harus hidup seperti saat ini. Tapi lebih dari segalanya, dia takut akan berpisah dengan Leon. Seumur hidupnya, dari semenjak hari kelahirannya, Leon sudah menemaninya dan selalu bersamanya. Jika Leon tidak ada, dia merasa akan kehilangan dirinya sendiri.


Leon segera memeluknya dan membiarkan Anna menangis di pelukannya. "Kau tidak perlu selalu bersikap kuat. Kau boleh menangis dan merasa takut. Aku tahu kau sedang memikirkan banyak hal saat ini. Kau juga takut rencanamu gagal dan tak bisa menyelamatkan Ratu dan Putra Mahkota Alexis. Tapi kau harus tahu bahwa kau tidak akan melakukan semua itu sendirian. Aku akan membantumu, apa pun yang terjadi dan bagaimana pun caranya."


***