The Rose That Blooms In North

The Rose That Blooms In North
Chapter 28 : Destin



Cuaca malam itu di Nordhalbinsel sangat dingin seperti biasa. Tidak ada salju yang turun, tapi udaranya memang selalu dingin. Namun entah bagaimana, langitnya terlihat lebih gelap, tidak seperti malam-malam lainnya. Tidak terlihat bintang sama sekali, seolah pertanda akan turun hujan. Dan di kegelapan malam itu, bulan purnama bersinar terang.


Anna mungkin akan menganggap situasi ini cukup romantis jika saja dia sedang berjalan-jalan di taman mawar di Istana Schiereiland dengan udara yang hangat dan dipenuhi aroma mawar. Jika saja dirinya masih Putri Anastasia dengan kehidupan bahagia. Dan jika saja pria yang ada di sampingnya ini bukan lah anak dari Raja yang telah membunuh ayahnya, merebut negaranya serta menghancurkan hidupnya. Jika saja Xavier hanya pria baik hati yang baru saja dia kenal di sebuah pesta. Sayangnya, itu semua hanya perandaian belaka.


"Tanganmu dingin sekali." Xavier melepas mantel bulunya dan memakaikannya pada Anna. "Aku sudah hidup di tempat dingin ini selama dua puluh tiga tahun. Aku sudah kebal terhadap cuaca dingin ini."


"Terima kasih." Ucap Anna yang langsung terkejut sendiri karena dia tidak seharusnya mengatakan apa pun.


Sama terkejutnya dengan Anna, Xavier justru tersenyum puas saat berhasil membuat gadis itu bicara. "Akhirnya kau mengucapkan sesuatu. Seharusnya dari tadi aku melakukan ini. Sayangnya, Eleanor sangat pintar, jadi dia juga berhasil merubah suaramu menjadi sangat mirip dengan suaranya. Aku jadi tidak dapat menebak siapa dirimu sebenarnya."


"Kau tidak perlu berusaha. Aku tidak berniat mengungkapkan siapa diriku sebenarnya." ucap Anna, meniru cara bicara Eleanor dengan aksen bicara khas orang utara dan tidak menggunakan bahasa formal yang biasa dia gunakan jika sedang berbicara dengan Xavier.


"Wah, bahkan kau bisa meniru cara bicaranya dengan baik. Aku mengakui itu." Xavier kemudian menunduk melihat kaki Anna dan menyadari sesuatu. Alisnya bertaut. "Kenapa kau menahannya dari tadi? Itu pasti sakit sekali."


Anna menoleh padanya dengan ekspresi bingung di wajah, "Maaf?"


Tanpa menjelaskan apa yang dia maksud, Xavier segera menggendong Anna dan memintanya melepas sepatu hak tinggi yang dia kenakan. "Maaf, aku hampir lupa. Eleanor sangat menyukai sepatu hak tinggi. Sepatu yang keji ini membuat kakimu terluka sampai pergelangan kakimu berdarah, Nona. Meskipun kau sedang menjadi Eleanor saat ini, nanti saat kau kembali menjadi dirimu sendiri pun luka itu tidak akan hilang dan akan tetap terasa sakit."


"Aku tidak apa-apa. Turunkan aku." Kata Anna. Lebih seperti sebuah perintah.


"Aku janji tidak akan menjatuhkanmu, tenang lah. Di tengah taman ini ada kursi, aku akan menurunkanmu di sana." Kata Xavier sambil terus berjalan menggendong Anna.


"Aku berat." Kata Anna, mencari-cari alasan agar dia segera diturunkan. Wajahnya memerah, dia tahu itu.


"Kata siapa? Kau seringan bulu angsa."


"Bagaimana kalau ada yang melihat?"


Xavier tertawa, "Memangnya kenapa? Orang-orang hanya melihat Putra Mahkota yang sedang menggendong tunangannya di taman. Bukan hal yang tidak lazim. Mereka akan memakluminya. Mereka bahkan akan menikmati tontonan ini."


Anna kehabisan kata-kata untuk membuat Xavier menurunkannya, jadi dia hanya diam dan pasrah. Lagi pula kakinya memang terasa sangat sakit. Sebagian dari dirinya berterima kasih karena Xavier mengetahui hal itu. Tapi sebagian besar dari dirinya merasa malu dan canggung. Dalam hati dia memarahi jantungnya yang tidak mau berhenti berdebar.


Dari posisi itu Anna dapat melihat dengan jelas wajah Xavier. Entah kenapa, rasanya seolah dia sudah sangat mengenal wajah itu. Wajah yang terasa sangat familier sekaligus terasa asing. Dari jarak sedekat itu, Anna menyadari betapa sempurnanya kulit wajahnya, bentuk wajahnya, mata emerald nya, hidungnya dan bibirnya yang terlihat menggoda...


“Ah, menyebalkan!” Anna memarahi dirinya sendiri yang bisa-bisanya terpesona pada wajah itu di saat seperti ini. Dia biasanya tidak semudah itu merasa terpesona pada seorang pria—selain Leon. Tapi baru saja rasanya dia seperti tersihir. Anna berpikir itu pasti pengaruh anggur yang diminumnya. Dia memang tidak seharusnya minum terlalu banyak.


“Siapa?”


“Bukan siapa-siapa... Hanya saja... Aku malu sekali. Bisa kau turunkan aku sekarang?”


“Tidak." Kata Xavier dengan tegas. "Kakimu terluka dan akan semakin parah kalau kau menggunakan sepatu itu lagi. Sebentar lagi juga kita sampai.”


Anna menghela napas panjang.


“Kau tidak perlu malu padaku. Bersikaplah seperti Eleanor, bukankah sekarang kau sedang menjadi dirinya sekarang?”


“Benar. Apa yang biasanya dilakukan Putri Mahkota jika berada dalam posisiku sekarang?”


Xavier terdiam, berpikir sambil terus berjalan. “Tidak ada.” Jawabnya kemudian.


“Dia hanya diam saja? Membiarkanmu menggendongnya seperti ini?”


“Bukan. Aku tidak pernah menggendongnya seperti ini.“


“Kalau begitu turunkan aku.”


“Elle tidak pernah terluka saat memakai sepatu hak tinggi. Kalau pun dia terluka, dia bisa menggunakan sihirnya. Dia tidak memerlukan bantuanku sama sekali.” Xavier tersenyum saat melihat Anna merengut kesal. "Sabarlah, sebentar lagi sampai."


Kata-katanya terbukti benar. Tak lama kemudian, mereka sampai di tengah taman bunga itu. Terdapat dua buah kursi taman dan sebuah meja kecil yang biasa digunakan untuk minum teh di sana. Xavier menurunkan Anna perlahan dan memastikan Anna duduk dengan nyaman sebelum dirinya sendiri duduk di kursi lainnya di sampingnya.


"Jangan memakai sepatu ini lagi." Kata Xavier, kemudian melempar sepatu itu jauh sampai Anna tidak dapat melihat ke mana jatuhnya.


"Apa yang kau lakukan! Itu sepatu milik tunanganmu."


"Elle memiliki banyak sekali sepatu. Dia tidak akan mempermasalahkannya. Lagi pula aku yang membelikan sepatu itu untuknya. Dia biasanya tak suka pemberianku. Jadi biarkan saja." Xavier melihat Anna yang masih menatap ke kejauhan, ke arah Xavier melempar sepasang sepatu hak tinggi yang sudah menyakitinya itu. "Jangan khawatir. Aku akan bertanggung jawab penuh untuk itu kalau Elle menanyaimu."


"Baiklah kalau menurutmu begitu." Kata Anna sambil mendengus kesal.


"Sebagai gantinya, aku punya sesuatu untukmu. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasih dariku karena kau, Nona, siapa pun dirimu, sudah menemaniku malam ini."


Xavier mengeluarkan sebuah kotak perhiasan yang terbuat dari kristal es dan bertabur berlian. Dia membuka kotak perhiasan itu dan memperlihatkan isinya pada Anna. Di dalamnya ada sebuah kalung. Tapi itu bukan kalung biasa.


Kalung itu adalah kalung emas dengan liontin berbentuk bunga mawar merah berhias batu permata berwarna merah yang sangat Anna kenal. Itu adalah kalung milik Anna yang dijualnya di sebuah pasar di Schiereiland. Kalung yang merupakan harta negara sekaligus warisan turun temurun dari Ibu kepada anak perempuannya. Anna sangat terkejut saat melihat kalung yang tidak seharusnya ada di tangan Xavier itu. Anna berpikir keras bagaimana bisa kalung yang dia jual di pasar di desa kecil di Schiereiland kini berada di tangan Putra Mahkota Nordhalbinsel.


"Aku tidak bisa menerimanya." Kata Anna akhirnya setelah lama menatap kalung itu penuh kerinduan.


"Kau harus punya alasan bagus untuk menolaknya, Nona."


"Kalungnya terlihat sangat mahal."


"Ini tidak mahal. Aku membelinya di sebuah pasar. Harganya cuma dua ratus gold. Tapi ini memang terlihat sangat mahal. Simbol bunga mawar dulu sangat dihormati karena dianggap sebagai simbol Kerajaan Schiereiland. Kalau kau tidak menerima kalung ini, maka aku harus mencari hadiah lain untukmu yang lebih bagus. Mungkin aku harus mengutus pengrajin berlian terbaik di Nordhalbinsel untuk membuatkan perhiasan."


Anna menghela napas panjang. Tidak ada gunanya dia berusaha menolak pemberian dari Xavier. Lagi pula kalung itu adalah miliknya sendiri. Meski sebelumnya dia sudah merelakannya. Tapi kini melihat kalung itu kembali, Anna merasakan kembali harapan yang hampir sirna bahwa kehidupannya sebagai Putri Schiereiland akan kembali suatu saat nanti.


“Baiklah, aku akan menerimanya.” Kata Anna akhirnya.


Xavier tersenyum puas mendengarnya. “Kalau begitu, aku akan memakaikannya." Dia kemudian memakaikan kalung bunga mawar itu pada Anna.


“Biar aku saja—“


“Kalau hanya memakaikan kalung saja, aku bisa melakukannya.”


"Terima kasih." Kata Anna saat Xavier akhirnya selesai memakaikan kalung itu padanya.


Saat Anna mengucapkan itu, Xavier melihat kumpulan kunang-kunang berwarna ungu beterbangan di sekitar Anna. Awalnya hanya ada satu, kemudian lima hingga akhirnya ada terlalu banyak kunang-kunang ungu untuk dihitung. Kunang-kunang ungu itu pun menerangi taman Tulip kristal dan langit gelap di antara mereka berdua.


“Mengejutkan sekali...” Kata Xavier setengah berbisik saat melihat kumpulan kunang-kunang ungu itu.


Anna melihat ke sekelilingnya. Kunang-kunang ungu itu persis seperti yang dilihatnya di danau tempatnya mandi di hutan Schiereiland beberapa waktu yang lalu.


“Kunang-kunang ungu...”


“Ini namanya takdir.”


“Apa?”


“Bukan apa-apa. Itu hanya kepercayaan orang-orang jaman dulu di Nordhalbinsel. Mereka mengatakan kunang-kunang dengan cahaya berwarna ungu terang yang datang secara tiba-tiba disebut sebagai Penanda Takdir.”


“Apa maksudnya?”


“Mereka akan muncul untuk memberitahu bahwa orang itu, kejadian itu atau saat itu adalah takdirmu. Bagaimana pun kau berusaha, bahkan dengan mengulang waktu pun, hal itu tidak akan berubah. Aku juga tidak terlalu mengerti maksudnya. Lagi pula itu hanya kepercayaan kuno. Ada juga yang mengatakan bahwa kunang-kunang ungu hanya muncul saat udara terasa lebih hangat dari biasanya. Dan beberapa lainnya percaya kalau kunang-kunang ungu adalah roh dari penyihir yang sedang mengawasimu. Terserah kau mau mempercayai versi yang mana.”


Anna memandangi kunang-kunang ungu itu. Sekarang setelah mendengar penjelasan Xavier, Anna melihat kunang-kunang ungu itu dengan cara yang berbeda.


Takdir.


Satu kata itu seolah terngiang-ngiang di benaknya. Apa yang menjadi takdir baginya yang membuat kunang-kunang ungu itu muncul saat ini di taman Tulip kristal? Apakah kalung mawar yang merupakan simbolnya sebagai Putri Schiereiland? Keberadaannya dengan Xavier di taman ini malam ini? Atau Xavier sendiri lah takdir itu? Anna sendiri tidak tahu.


“Apakah mereka memang biasa terlihat di Nordhalbinsel?” Tanya Anna, berusaha mengalihkan pikirannya.


“Tidak. Ini juga pertama kali aku melihatnya secara langsung. Selama ini aku hanya mendengar cerita tentang kunang-kunang ungu dari orang-orang.” Kemudian Xavier menambahkan, “Jadi... Kau bukan berasal dari sini ya? Seorang Lady yang tidak berasal dari Nordhalbinsel.”


Anna panik. Tidak seharusnya dia mengatakan hal yang dapat membongkar identitasnya. Jadi dia hanya diam dan tak menjawab Xavier.


“Aku tidak mengenal banyak wanita bangsawan dari luar Nordhalbinsel selain Putri Eugene dari Westeria dan Lady Constanza Smirnoff dari Schiereiland yang merupakan tunangan adikku, Pangeran Ludwig.”


“Apa? Constanza adalah tunangan dari Pangeran Lud—“ Anna tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia menyadari dirinya baru saja terjebak pancingan Xavier untuk membongkar identitasnya. Tapi mendengar nama Constanza Smirnoff yang merupakan rivalnya dulu membuatnya tidak bisa menahan diri.


Constanza Smirnoff adalah sepupu jauhnya. Ayahnya Constanza, Grand Duke Smirnoff adalah saudara sepupu Ratu Isabella. Dia adalah wanita paling populer di kalangan pergaulan bangsawan kelas atas, selain karena ayahnya adalah seorang Grand Duke, dia juga cerdas, berwawasan luas dan sangat cantik dengan rambut hitam dan mata biru kehijauan yang mirip dengan mata Ratu Isabella. Tapi hubungan Anna dengan Constanza tidak pernah baik dan mereka selalu berselisih.


“Oh, jadi kau mengenalnya? Kalau begitu sepertinya kau berasal dari Schiereiland.” Xavier tersenyum penuh kemenangan saat akhirnya bisa mulai mengetahui sedikit informasi tentang gadis di hadapannya itu.


“Kurasa Lady Constanza sangat terkenal bukan hanya di Schiereiland tapi juga di Westeria dan Orient.” Sanggah Anna.


“Baiklah, anggap saja seperti itu.” Kata Xavier, sambil menahan senyum.


Untuk beberapa saat tidak satu pun diantara keduanya yang bersuara. Udara malam yang dingin lama kelamaan terasa lebih hangat bagi mereka. Entah karena cuacanya memang menghangat atau efek dari anggur yang mereka minum sebelumnya. Anna dan Xavier hanya menatapi bulan purnama di hadapan mereka dalam diam. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Anna memikirkan bagaimana caranya agar dia dapat segera mengakhiri ini semua. Dia tidak ingin terlalu lama bersama Xavier di tempat yang sangat indah itu.


Dia tidak ingin terlarut dalam suasana malam itu. Jadi dia memikirkan ibunya dan adiknya yang ada di suatu tempat di Istana, entah di mana. Dia juga memikirkan Leon yang mungkin sedang mengawasinya karena Leon sudah berjanji akan berjaga di titik yang telah mereka tentukan tak jauh dari Istana jika sewaktu-waktu Anna berhasil menemukan Ibu dan Adiknya. Leon akan segera datang membantu Anna saat dia membutuhkannya.


Lalu tiba-tiba dia mulai teringat pada kata-kata Pangeran Ludwig. Anna ingin mengetahui apa maksud perkataan Pangeran Ludwig dan mencari tahu langsung dengan pergi ke taman belakang Istana Ratu sesegera mungkin. Meski Anna harus mengakui bahwa dirinya masih merasa takut pada Pangeran Ludwig.


"Kau sedang memikirkan seseorang?" tanya Xavier, memecah keheningan di antara mereka.


"Aku memikirkan ibu dan adikku." Jawab Anna, yang lagi-lagi merasa bersalah karena dia terlalu terlarut dalam lamunannya. Tidak seharusnya dia berterus terang seperti itu di hadapan Putra Mahkota dari Negara yang telah menjajah Negaranya. Atau mungkin ini efek dari anggur yang diminumnya. Anna memang tidak terlalu tahan terhadap pengaruh alkohol itulah sebabnya dia sangat jarang minum anggur saat pesta. Tapi karena rasa gugupnya tadi, Anna melupakan hal itu dan minum cukup banyak meski tidak sampai membuatnya mabuk. "Bagaimana denganmu? Kau sepertinya juga sedang memikirkan seseorang." Balas Anna.


"Aku juga memikirkan ibuku." Xavier terlihat muram untuk sesaat. "Tapi aku tidak memikirkan adikku. Aku memiliki terlalu banyak adik untuk dipikirkan sehingga aku bahkan tidak hafal sebagian besar nama-nama mereka." Kata Xavier dengan santai.


Anna tertawa. "Itu karena kau memiliki dua puluh dua adik."


"Benar." Xavier juga ikut tertawa. "Dan jumlah itu mungkin saja bertambah. Mungkin ada adik-adik kecil di luar Istana yang tidak kuketahui keberadaannya. Jumlah selir juga semakin hari semakin banyak. Hingga kadang, pernah beberapa kali ada wanita hamil yang datang ke Istana dan mengaku sebagai 'Wanitanya Sang Raja'." Cerita Xavier sambil tertawa mengingat-ingat kejadian itu.


"Astaga. Itu tidak benar bukan?"


"Aku juga tidak tahu. Aku dan Raja tidak terlalu dekat jadi aku tidak benar-benar tahu urusan kehidupan percintaannya. Tapi Raja juga tidak peduli apakah itu benar atau tidak. Dia membiarkan wanita-wanita itu tinggal di Istana Selir jika bayinya adalah bayi laki-laki."


Anna merasa senang karena dapat mengalihkan pikiran Xavier dari mendiang ibunya dan melihatnya tertawa lagi. Meski apa yang diceritakannya itu jika dilihat dari sisi lain cukup menyedihkan, tapi Xavier menanggapinya dengan santai bahkan menertawakannya seolah ironi dalam hidupnya itu adalah sesuatu yang menggelikan.


Lalu mereka menghabiskan sisa malam itu dengan membicarakan banyak hal yang terjadi di Istana. Terkadang mereka saling melontarkan candaan. Anna belum pernah merasa seakrab ini saat bersama Xavier sebelumnya karena hubungan mereka selama ini hanya sebatas hubungan profesional. Entah karena pengaruh anggur yang mereka minum, atau cuaca secara aneh menjadi lebih hangat malam itu, tapi Anna merasa nyaman berbincang-bincang dan bercanda bersama Xavier seperti ini. Dia seolah melupakan tentang segala hal yang menjadi beban pikirannya selama ini, segala kesedihan dan rasa kehilangan yang besar setelah kematian ayahnya. Semua itu terasa sangat samar di ingatannya.


"Oh, maaf jika aku terlalu banyak bicara. Kurasa ini karena anggurnya. Inilah sebabnya aku tidak begitu suka minum alkohol." Kata Xavier. Kemudian Xavier mendongak melihat langit malam dan mengerutkan dahi saat melihat awan kelabu menutupi langit dan tidak terlihat satu pun bintang di langit. "Ini aneh sekali, tapi sepertinya akan turun hujan sebentar lagi. Aku akan menggendongmu masuk ke dalam."


Xavier baru saja akan menggendong Anna kembali ke dalam aula istana, tepat saat itu, terdengar suara gemuruh petir dan gerimis kecil perlahan mulai turun.


"Sial. Kita terlalu jauh dari ruangan pesta." Xavier akhirnya berbelok ke arah rumah kaca yang letaknya tak jauh dari mereka. Dia menggendong Anna dan berlari menuju rumah kaca itu. "Pegangan yang erat, Lady."


Anna melingkarkan kedua tangannya ke leher Xavier.


Semakin lama, hujan turun semakin deras. Sesampainya di rumah kaca, baju mereka sudah basah kuyup. Xavier menurunkan Anna dan memperhatikan gadis itu tampak membeku. Kulitnya memucat dan pupil matanya bergetar seperti sedang ketakutan pada sesuatu.


"Kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali." Xavier menggenggam tangan Anna yang membeku dan berusaha menyalurkan suhu tubuhnya yang hangat kepada Anna. "Tanganmu sedingin es."


Anna tidak meresponsnya. Anna menggigil hebat dan tatapannya tampak kosong.


Suara petir yang lebih besar terdengar sekali lagi, dan hujan semakin deras di luar rumah kaca.


"Tidak!" Anna berteriak histeris dan menarik tangannya dari genggaman Xavier.


Air matanya mengalir. Dia menutup kedua telinganya. Napasnya tersengal-sengal. Oksigen seolah menghilang dari sekitarnya. Dia berusaha menghirup udara, tapi tidak bisa. Dia merasa sangat sesak. Bayangan kejadian malam itu kini terlihat jelas di depan matanya dan pandangannya mulai kabur. Anna berusaha memejamkan mata, tapi semakin dia memejamkan matanya, potongan-potongan bayangan kejadian malam itu terlihat semakin jelas seolah hal yang sama sedang terjadi lagi di hadapannya saat ini. "Jangan lakukan itu. Kumohon. Jangan bunuh kami."


***