
"Jenderal Arianne?"
Anna terperangah melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. Sang Jenderal terbaring dalam keadaan tidak sadar dengan berbagai luka di wajahnya dan anggota tubuhnya. Tidak jauh darinya, seorang remaja laki-laki—yang kemudian akhirnya Anna sadari itu adalah Louis—sedang menumbuk sesuatu seperti daun.
Louis menghentikan apa yang sedang dikerjakannya untuk melihat Anna di hadapannya. Louis segera bangkit berdiri untuk memberi salam pada Anna. “Yang Mulia—“
Anna segera memeluk Louis. “Syukurlah kau baik-baik saja. Aku merindukanmu, Lou. Leon tidak melakukan apa pun yang membahayakanmu selama aku tidak ada kan?”
“Tidak, Yang Mulia. Jenderal Leon memperlakukan saya dengan sangat baik seperti putranya sendiri.” Kata Louis. Saat Louis mengatakan itu, Anna melihat wajah Leon memerah malu. Anna menahan tawanya. “Beliau bahkan mengajari saya beberapa ilmu pedang sederhana agar Saya dapat melindungi diri sendiri.” Tambah Louis.
Anna melirik ke arah Leon.
“Aku tidak tahu sekarang kau menjadi sangat murah hati sehingga bersedia mengajari murid lainnya. Padahal dulu waktu aku ingin pertama kali belajar kau berkali-kali menolakku.”
“Situasinya saat ini berbeda Yang Mulia. Bahaya bisa datang kapan saja. Bahkan keberadaan kita di sini sebenarnya tidak aman.” Jawab Leon.
“Apa maksudmu? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada Jenderal Arianne? Bagaimana kalian bisa menemukannya?” Ada banyak sekali pertanyaan di benak Anna. Tapi semakin dia mencoba bertanya, semakin banyak lagi yang ingin dia tanyakan. Jadi dia berhenti bertanya untuk mulai mendengarkan penjelasan dari Leon.
Sesuai janjinya, Leon mulai menceritakan semuanya dari awal kepergian Anna di pagi hari saat dirinya diterima menjadi pengawal pribadi.
Leon dan Louis menjalani hari itu seperti biasa. Sarapan pagi di kedai, kemudian berjalan-jalan di pasar sambil mencari-cari informasi dari para penggosip di pasar. Saat malam tiba dan Anna masih juga belum kembali, Leon mulai merasa cemas. Louis turut menceritakan pada Anna betapa Leon tidak dapat berhenti bulak-balik antara kamar penginapan mereka dan luar penginapan karena sangat mengkhawatirkan Anna tapi juga tidak dapat menyusulnya ke Istana karena jika ketahuan, maka rencana Anna dan perjuangannya selama ini akan gagal. Jadi dia dan Louis pergi kembali ke kedai untuk makan malam sambil mencari-cari informasi.
Dari pembicaraan di kedai, akhirnya Leon dan Louis mendapatkan informasi bahwa Putra Mahkota Xavier dan pasukannya termasuk pengawal pribadinya yang baru, ditugaskan oleh Raja untuk pergi mengatasi masalah wabah di Montreux. Leon juga mendengar kabar bahwa badai salju akan segera datang. Jadi malam itu, Leon dan Louis sudah bersiap merapikan barang-barang mereka untuk pergi menuju Montreux. Karena ada informasi terkait badai salju, Leon memutuskan untuk mengambil jalur yang berbeda yaitu melalui Westeria.
Tepat saat mereka mulai pergi meninggalkan penginapan, Leon melihat beberapa prajurit Nordhalbinsel memasuki penginapan mereka. Karena kedatangan para prajurit kerajaan ke tempat penginapan yang kumuh itu sangat mencurigakan, akhirnya Leon dan Louis mengamati sebentar secara sembunyi-sembunyi sebelum benar-benar pergi meninggalkan Noord.
Benar saja, tak lama kemudian terdengar suara keributan dari dalam penginapan. Rupanya keberadaan Leon di penginapan diketahui oleh pihak kerajaan Nordhalbinsel. Jadi pihak prajurit menghancurkan seisi penginapan dengan panah api yang kemudian mengakibatkan kebakaran di beberapa ruangan yang ada di penginapan. Melihat hal itu, Leon tidak bisa diam saja. Jadi Leon segera memakai topeng yang baru saja dibelinya di pasar tadi siang, kemudian keluar dari tempat persembunyiannya dan melawan para prajurit. Dalam waktu singkat, para prajurit itu tumbang, beberapa ada yang kabur kembali ke istana untuk melaporkan kejadian itu. Leon membantu memadamkan api yang sudah membakar sebagian ruangan yang ada di penginapan. Leon juga meyakinkan pemilik penginapan untuk ikut bersamanya agar bisa menyelamatkan diri dengan berjanji akan mengganti rugi terkait kebakaran di penginapannya. Setelah itu, Leon, Louis dan pemilik penginapan pergi menuju Westeria menggunakan kereta kuda milik si pemilik penginapan.
Meski sempat kesulitan untuk melewati wilayah perbatasan yang dijaga ketat oleh militer Westeria dan Nordhalbinsel, Tapi akhirnya mereka berhasil masuk ke Westeria karena Si Pemilik Penginapan ternyata berasal dari Westeria. Di Westeria, Leon tanpa sengaja bertemu dengan salah satu kenalannya yang merupakan pengawal pribadi Putri Eugene, Theana. Leon pun meminta Theana untuk mempertemukannya dengan Putri Eugene. Meski awalnya Theana agak ragu, tapi karena Leon merupakan orang yang pernah menyelamatkan nyawa Putri Eugene dulu saat Sang Putri masih kecil, Theana pun akhirnya menuruti permintaan itu.
Mereka pergi ke tempat persembunyian Putri Eugene di sebuah desa terpencil tak jauh dari Fiore. Karena hubungannya yang cukup dekat dengan Putri Eugene di masa lalu, dan karena Putri Eugene merasa pernah berhutang nyawa pada Leon, Putri Eugene menjamu mereka dengan hidangan yang baik dan tempat istirahat yang nyaman. Putri Eugene pun menceritakan kenapa dirinya tidak tinggal di kediamannya maupun di Istana.
Dari cerita itu, Leon mengetahui bahwa Putri Eugene pernah menolak lamaran salah satu pangeran dari Kekaisaran Orient yang bernama Pangeran Yi. Pangeran Yi, yang sudah memiliki 3 orang Istri dan tidak pernah ditolak sebelumnya, murka karena penolakan Putri Eugene.
Putri Eugene mengatakan bahwa Ratu Elizabeth mencurigai tabib Orient yang dikirimkan oleh pangeran Yi dengan dalih untuk selalu menjaga kesehatan Ratu. Akhirnya Ratu Elizabeth memalsukan kondisi kesehatannya dan menyebarkan berita di kalangan para bangsawan yang suka bergosip bahwa Sang Ratu sedang sakit keras dan dalam kondisi sekarat. Sejak itu, Putri Eugene diminta untuk bersembunyi di tempat yang aman. Karena harus bersembunyi dalam waktu yang lama, proyek milik Putri Eugene, yaitu pembuatan obat penguat stamina, terpaksa dihentikan. Putri Eugene juga tidak bisa berkirim surat kepada siapa pun dan tidak boleh keluar dari tempat persembunyiannya.
Tak lama setelah berita itu menyebar, terdengar kabar bahwa tempat pembuatan obat itu meledak. Putri Eugene tahu bahwa Pangeran Yi adalah dalang dibalik semua ini untuk membuat Sang Putri keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi ternyata tidak berhenti disana, ledakan bahan-bahan aktif dalam obat itu ternyata mengandung sesuatu yang dapat merusak saraf manusia jika dihirup. Pangeran Yi bersikap seperti pahlawan dengan cara mengevakuasi semua penduduk desa di sekitar tempat pembuatan obat itu agar orang-orang Westeria mendukungnya untuk menjadi pasangan Putri Eugene yang akan segera naik takhta apabila Ratu Elizabeth meninggal.
Sebelum Leon pergi melanjutkan perjalanannya menuju Montreux, Putri Eugene sempat memohon agar Leon bersedia melindunginya dari Pangeran Yi. Leon pun mengatakan bahwa ada orang lain yang harus dilindunginya dan dia sudah berjanji padanya. Tapi Leon meyakinkan Sang Putri bahwa dia akan kembali secepatnya setelah memastikan orang yang harus dilindunginya itu baik-baik saja. Sebagai gantinya, Leon meminta Putri Eugene untuk mengangkat Si Pemilik Penginapan menjadi salah satu pekerja di Istana Putri. Pemilik Penginapan sangat bahagia saat tahu dirinya akan bekerja untuk Putri Eugene dan melupakan penginapannya yang sudah separuh terbakar.
Leon dan Louis akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju Montreux setelah dua hari menginap di tempat persembunyian Putri Eugene. Sang Putri menghadiahi mereka seekor kuda perang berwarna hitam yang merupakan kuda yang pernah dipakai ayahnya dulu sebelum meninggal. Karena satu-satunya cara untuk sampai Montreux dari Westeria adalah dengan melewati hutan besar di Fiore, jadi Leon dan Louis berkuda melalui hutan itu. Saat itulah kuda mereka berhadapan dengan kuda Jenderal Arianne yang kehilangan kendali. Jenderal Arianne terjatuh dari kudanya dan pingsan sementara kudanya hilang entah ke mana. Louis pun segera mengobati Jenderal Arianne atas permintaan Leon karena Leon mengenali Sang Jenderal.
“Lalu aku pergi untuk mengambil air dan buah-buahan untuk makan malam kami.” Kata Leon.
“Dan saat itulah kita bertemu.” Lanjut Anna, tersenyum pada Leon.
“Benar. Saat itulah kita akhirnya bertemu.” Kata Leon yang tersenyum karena dapat melihat kembali senyuman Anna setelah sekian lama.
"Tapi, kami belum mendengar cerita Anda, Yang Mulia. Apa saja yang terjadi pada Anda selama beberapa hari ini?" Tanya Louis sambil meratakan tanaman obat yang telah selesai ditumbuk ke beberapa luka memar di tubuh Jenderal Arianne.
Anna pun akhirnya menceritakan semuanya. Tentang perjalanannya menuju Montreux, tentang pisau pemberian Leon yang ternyata adalah pedang sihir milik Xavier, tentang hubungan antara Xavier dan Duke Francis yang baru dia ketahui dari Eleanor, hingga tentang dugaan sementara penyebab wabah di Montreux, surat yang Xavier kirimkan dan yang Anna kirimkan serta tentang alasannya pergi ke hutan Fiore.
"Jadi maksudmu, Si Anjing Gila Winterthur itu ada di sekitar hutan ini?" potong Leon saat Anna sudah bercerita tentang kepergiannya ke hutan ini bersama Elias.
"Dia Serigala Gila bukan Anjing Gila, Jenderal." Louis mengoreksi.
"Dia tidak seburuk itu, Leon."
"Dia harus mengalahkanmu dulu untuk itu. Sekarang, jangan khawatirkan Elias terlebih dahulu. Aku harus membawa Jenderal Arianne bersamaku sebelum Sang Jenderal benar-benar tersadar." Kata Anna. "Louis, kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan Jenderal untuk kembali tersadar?"
"Saya tidak benar-benar yakin, Yang Mulia. Tapi sepertinya tidak lama lagi. Karena benturan di kepalanya tidak terlalu keras." Jawab Louis.
"Kalau begitu kita harus cepat." Kata Anna, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan seolah takut ada yang mendengarkan pembicaraan mereka. "Dengar, Aku mengirimkan surat itu padamu, Leon. Tapi jika kau di sini, dan penginapan dalam keadaan kosong, kira-kira siapa yang akan menemukan surat itu?" Tanya Anna.
"Kurasa mungkin jika para prajurit kembali untuk menggeledah penginapan itu, maka salah satu dari mereka akan menemukannya." Kata Leon.
"Tapi sepertinya mereka tidak akan kembali karena mereka jelas melihat kita telah meninggalkan penginapan itu." Kata Louis.
"Baiklah, semoga saja tidak ada yang mendapatkan surat itu. Tapi aku benar-benar mengkhawatirkan surat kedua yang ditulis oleh Xavier untuk dikirimkan kepada Raja Vlad." Kata Anna. Berbagai pikiran memenuhi kepalanya. Dia khawatir identitasnya yang sebenarnya akan terbongkar karena surat itu.
"Yang Mulia, Anda terlihat sangat kalut. Makan lah beberapa beri ini. Saya pernah membaca tentang Bloody Berry langka milik Westeria yang katanya dapat menenangkan saraf manusia." Kata Louis sambil memberikan beberapa buah merah mirip anggur yang Anna lihat sebelumnya di dekat air terjun.
Untuk beberapa lama, Anna terpaku pada buah itu. Sinar bulan memantul pada buah tersebut sehingga membuat buah Berry itu tampak bersinar. Buah itu tidak lebih besar dari anggur. Bentuknya bulat sempurna. Warnanya semerah darah. Setelah memperhatikannya lagi, Anna merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Anna mengambil satu butir buah Bloody Berry itu dan memakannya. Untuk sesaat, tidak terasa apa pun, hanya aroma manis yang menyegarkan yang keluar dari kulit Berry itu sendiri. Aroma itulah yang Anna hirup tadi saat berada di dekat air terjun. Lalu setelah buah Berry itu mulai hancur di dalam mulutnya, barulah Anna merasakan rasa Bloody Berry itu. Rasanya manis, tapi tidak membuat mual. Rasa manis itu terasa begitu tipis sekaligus kaya dan memenuhi indra perasanya. Untuk sesaat Anna benar-benar melupakan apa yang sedang ada di pikirannya tadi dan hanya ada ketenangan. Anna merasa sangat rileks dan segalanya terasa sangat nyaman baginya. Udara malam yang dingin di sekitarnya terasa hangat, tanah berbatu dan penuh rumput basah di tempatnya duduk terasa selembut dan seempuk ranjangnya di istana. Perlahan, Anna mulai merasa mengantuk. Anna memang sudah berhari-hari tidak cukup tidur dan perjalanan menuju Montreux menguras energinya sehingga dia merasa sangat lelah dan mengantuk. Atau mungkin buah Berry itu memang telah menenangkan seluruh sarafnya.
“Yang Mulia.” Leon menepuk pundaknya dan menyadarkannya dari lamunan panjang dan ilusi yang diakibatkan Bloody Berry. “Kau tidak ingat pernah memakan ini dulu di Istana?”
Sekarang Anna mengingatnya setelah Leon menyebutkannya. Dulu saat pertama kali harus berpisah dengan Leon karena Leon ditugaskan untuk pergi berperang, Anna merasa gelisah setiap harinya karena takut Leon tidak dapat kembali dengan selamat hingga Anna tidak bisa tidur. Lalu Sang Ratu meminta ahli herba istana untuk memberikan Anna obat yang bisa membuatnya tenang hingga dapat tidur kembali. Saat itulah Anna tahu tentang buah Bloody Berry yang merupakan buah langka yang hanya bisa tumbuh di Westeria.
“Leon, bisakah kau membawakanku lebih banyak lagi buah ini?”
***
Di puncak gunung Reux, terdapat sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu. Di sekeliling rumah itu, tumbuh beraneka tanaman dengan beraneka bentuk yang tidak dapat ditemukan di tempat mana pun. Meski gunung Reux terletak di Nordhalbinsel, dan gunung itu sendiri merupakan gunung yang ditutupi salju tebal seperti halnya tempat-tempat lain di Nordhalbinsel, tapi puncak gunung Reux tampak sangat hijau dipenuhi rumput dan berbagai tanaman herba. Bahkan meski saat itu malam hari dan benar-benar gelap, Tapi sinar bulan menerangi tempat yang indah itu. Sebuah padang hijau di puncak gunung Reux dipenuhi tanaman yang dihinggapi berbagai serangga malam termasuk kunang-kunang ungu, Di sanalah Lucielle, mantan Ahli Herba Kerajaan Nordhalbinsel tinggal setelah diusir oleh Raja karena dianggap telah gagal menyelamatkan nyawa Ratu Irene.
Tak jauh dari rumah kecil itu, di langit malam Nordhalbinsel yang gelap, tampak sosok yang gelap dan besar sedang terbang membentangkan sepasang sayap lebarnya. Sosok gelap itu semakin lama semakin terlihat jelas. Itu adalah seekor Naga yang sedang terbang menukik dari ketinggian menuju puncak gunung Reux. Naga itu hampir sebesar kastil, sehingga saat berhasil mendarat tidak jauh dari rumah Lucielle, Sang Ahli Herba tidak bisa tidak melihat Naga tersebut.
Lucielle yang sedang membaca buku dengan perapian menyala di dekatnya dan sangat nyaman dengan sofa yang kulitnya terbuat dari bulu domba, segera berdiri bangkit dari tempat duduknya dan buru-buru berlari menuju depan pintu rumahnya sambil tanpa sadar melemparkan bukunya. Lucielle berlutut di hadapan Naga itu.
"Naga Api Agung, kesetiaan saya pada engkau yang sudah hidup ribuan tahun yang lalu. Saya selalu percaya bahwa engkau akan datang kembali suatu hari nanti. Saya hanya berjanji setia pada Para Naga dan keturunannya yang Agung." Ucap Lucielle, menggunakan bahasa kuno Halbinsel.
Naga Api Agung berjalan mendekat ke arah Lucielle. "Berdiri lah, Saintess Lucia." Katanya.
Lucielle yang merasa senang karena Sang Naga mengingat nama lamanya dan siapa dirinya sebenarnya, menuruti perkataan itu. Lucielle berdiri dan menatap kedua mata Sang Naga yang berwarna merah terang. Dia tak dapat berhenti menatap mata itu yang tampak agung sekaligus mengerikan. Tapi Lucielle akhirnya melihat bahwa tubuh Naga itu penuh luka. Lucielle memekik ngeri. "Demi para Dewa! Siapa yang telah melukai engkau, Wahai Naga Api Agung?"
"Saintess Lucia, ketahui lah bahwa aku sekarang hidup kembali sebagai seorang manusia biasa. Sehingga apa pun yang terjadi pada tubuh manusiaku yang fana ini, maka akan berlaku pada tubuhku juga. Aku di kehidupan ini telah melalui banyak hal pahit yang menyakitkan dalam hidup sejak diriku dilahirkan, tapi kau tak perlu mengkhawatirkanku. Luka ini menjadikan diriku lebih kuat dan berani."
Sang Saintess mengangguk mengerti. Tak lama kemudian dia kembali mengajukan pertanyaan. "Jika engkau hidup kembali, apakah Putri Dewi Langit yang berharga, Zhera Yang Agung, juga hidup kembali?"
"Kau akan mengetahuinya saat melihatnya nanti. Kalau kau menghendakinya, aku akan mempertemukanmu dengannya. Tapi gadis itu masih belum mengingatku dan aku pun masih ragu apakah itu benar dirinya."
"Lalu bagaimana dengan naga-naga lainnya? Apakah mereka juga bangkit kembali?"
"Kau akan segera mengetahuinya." Kata Naga itu.
Sebelum Lucielle bertanya kembali, Naga Api Agung di hadapannya mengeluarkan cahaya yang sangat terang membutakan sehingga Lucielle harus menutup matanya rapat-rapat. Lalu seorang pemuda muncul di tempat yang sama saat Naga Api Agung menghilang bersamaan dengan hilangnya cahaya yang membutakan itu.
Pemuda itu tinggi dan tampan seperti hasil mahakarya yang dipahat dengan sempurna oleh para Dewa. Dia mengenakan pakaian kerajaan. Sebuah pisau kecil tersampir di ikat pinggangnya di sebelah kanan. Kulitnya seputih salju paling bersih di Nordhalbinsel. Rambutnya sehitam malam. Tapi dari keseluruhan penampilannya, hal yang membuat Lucielle terpaku begitu lama adalah kedua matanya yang berwarna Emerald. Lucielle tersenyum menyambutnya.
"Wajahmu sangat mirip dengan Raja muda yang kulayani beberapa tahun yang lalu. Tapi matamu tidak segelap mata Rajaku. Matamu sangat mirip dengan mata Ratuku yang telah gagal kuselamatkan nyawanya." Kata Lucielle. "Siapa kau?"
"Aku adalah Putra Mahkota Nordhalbinsel, satu-satunya putra dari Raja Vlad dan Ratu Irene, dan aku adalah Naga Api Agung."
***