
Segera setelah Anna mengirimkan surat itu, dia masuk kembali ke dalam Kastil karena Xavier memanggilnya.
Saat itu hari sudah hampir malam. Semua orang berkumpul di ruang aula Kastil Montreux. Ada sekitar seratus orang prajurit Montreux yang kebanyakan adalah wanita diantaranya termasuk Honey Welsh dan puluhan prajurit Nordhalbinsel di bawah pimpinan langsung Putra Mahkota yang ikut dalam perjalanan mereka. Pangeran Jeffrey tidak ada di sana karena Putra Mahkota Xavier mengutusnya untuk pergi ke kediaman Duke Montreux sejak sore tadi agar memberitahu rencananya serta membagikan masker bagi warga sekitar.
"Kita akan berpatroli secara bergantian sepanjang malam. Buatlah lima grup prajurit. Masing-masing grup harus berjaga di luar kastil selama tiga jam dimulai dari jam 6 dimana matahari mulai sepenuhnya terbenam hingga jam delapan pagi dimana matahari mulai terbit. Jenderal Arianne akan memimpin grup pertama dan ke-dua. Aku akan memimpin grup ke-tiga dan ke-empat. Dan Pangeran Jeffrey akan memimpin grup ke-lima." Perintah Xavier.
Berikutnya mereka sibuk untuk membagi sekitar hampir dua ratus orang menjadi lima kelompok. Jenderal Arianne bersiap untuk membawa kelompok pertama keluar kastil untuk memulai patroli. Xavier menjelaskan bahwa hal ini diperlukan untuk memastikan tidak ada warga Montreux yang berada di luar saat malam hari dan untuk meninjau langsung kondisi di Montreux pada malam hari. Sementara itu, Pangeran Jeffrey tiba di Kastil sesaat sebelum matahari benar-benar terbenam. Pangeran Jeffrey langsung menemui Xavier dan Anna di ruang kerja Jenderal Arianne.
"Salam hormat saya kepada Yang Mulia Putra Mahkota." ucap Pangeran Jeffrey begitu memasuki ruangan kerja tersebut.
Xavier mengangguk kepadanya. "Bagaimana? Apakah kau berhasil menemui Duke Montreux?" Tanya Xavier langsung.
"Ya, Yang Mulia. Saya sudah menyampaikan kepada Duke Montreux semuanya yang Anda perintahkan kepada Saya."
"Dan bagaimana tanggapannya?"
"Persis seperti dugaan Anda, Yang Mulia. Duke Montreux tidak percaya pada awalnya. Tapi saya berhasil meyakinkannya dengan cara yang Anda katakan."
Xavier tersenyum sinis mendengarnya. "Frederick, biar bagaimana pun, adalah orang yang rakus. Dia takkan percaya pada apa pun selain emas. Tapi emas itu akan segera berubah menjadi batu saat matahari terbit esok hari karena tentu saja, aku tidak mungkin memberikan emas sungguhan kepada orang licik yang membuat suami dari adik tirinya mati dalam perang. Semua ini berkat kemampuan sihir milik Lady Eleanor."
"Jadi tadi itu bukan emas sungguhan?" Tanya Anna.
"Tentu saja bukan. Aku sudah menduga akan sangat sulit berbicara dengan orang seperti Duke Montreux. Maka dari itu, saat di Villa aku meminta Eleanor untuk membuatkan satu peti penuh emas dari batu kerikil." Xavier menatap Anna, "Eleanor adalah salah satu penyihir paling berbakat di Nordhalbinsel. Dia bisa melakukan apa pun untuk melindungi miliknya atau untuk menghancurkan apa pun yang dibencinya."
Anna merasa seolah dua kalimat terakhir ditujukan padanya. Seolah Xavier sedang memperingatkannya untuk berhati-hati pada Eleanor. Tapi kemudian Xavier beralih darinya dan kembali berbicara kepada Pangeran Jeffrey.
"Kau boleh beristirahat, Pangeran."
"Terima kasih, Yang Mulia."
Pada jam-jam berikutnya Anna menghabiskan waktu dengan hanya mengamati keadaan di luar kastil melalui jendela besar yang ada di ruangan itu. Sementara Xavier sibuk menuliskan sesuatu di buku catatannya. Beberapa kali Anna memperhatikan Xavier berhenti menulis dan memejamkan matanya, tapi Anna tahu Sang Putra Mahkota tidak tertidur karena beberapa menit kemudian Anna kembali melihatnya menuliskan hal lainnya pada buku catatan.
"Apakah saya boleh bertanya apa yang sejak tadi Anda kerjakan, Yang Mulia?" Tanya Anna akhirnya setelah lama tidak ada percakapan di antara keduanya.
"Aku hanya sedang berusaha menuliskan surat untuk Eleanor." Jawab Xavier.
"Surat cinta?" Tanya Anna, ragu-ragu.
"Surat cinta..." Xavier terdiam sejenak. "Bukan juga. Tapi mungkin sejenis. Jika aku mati, aku ingin Elle tetap menjadi Ratu. Jadi aku membuat surat-surat ini."
Anna berpikir dia tidak seharusnya menanyakan tentang hal ini lebih lanjut. Tidak sopan baginya untuk ikut campur dalam hubungan orang lain. Meski Anna melihat Xavier beberapa kali berpikir keras hanya untuk menuliskan kata-kata berikutnya. Xavier bahkan tidak terlihat kesulitan seperti itu saat harus memikirkan masalah Montreux.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau pasti berpikir sangat aneh bahwa aku benar-benar kesulitan menuliskan surat kepada tunanganku sendiri." Kata Xavier.
"Maafkan sa—“
"Tidak, jangan meminta maaf. Karena aku memang benar-benar kesulitan menuliskan surat untuk Eleanor. Ini jauh lebih sulit daripada urusan kenegaraan mana pun. Karena yang kutuliskan adalah kebohongan." Kata Xavier. Dia menghela napas. "Sebenarnya kupikir akan bisa tidur lebih mudah jika membuat pikiranku sendiri lelah. Tapi aku justru semakin kesulitan tidur. Jika kau belum mengantuk, maukah kau membantuku?"
"Dengan senang hati, Yang Mulia."
Xavier mengisyaratkan Anna untuk mendekat dan membaca apa yang sudah dituliskannya di buku catatannya. Tulisan tangan Xavier jauh lebih indah dari tulisan tangannya. Bahasa yang digunakan juga sangat indah seperti puisi meski Xavier baru menuliskan satu paragraf pendek.
Tapi ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anna. Entah kenapa, Anna merasa tulisan tangan Putra Mahkota tampak familier baginya. Anna yakin pernah membaca tulisan tangan yang sama persis, tapi dia sendiri lupa dimana pernah membacanya. Tulisan tangan itu juga bukan jenis tulisan tangan yang bisa diikuti oleh orang lain karena tampak sangat indah.
"Yang Mulia, apakah saya boleh bertanya?" Tanya Anna saat dia mulai mengingat dimana dia pernah melihat tulisan itu.
"Silahkan, Anna. Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apakah di Nordhalbinsel ada pena atau kertas yang jika dituliskan tidak akan tampak isi tulisannya oleh siapa pun selain kepada orang yang dituju?"
Xavier terdiam sesaat. Mata emeraldnya menatap Anna dengan penuh curiga. Anna mundur beberapa langkah darinya tapi Xavier justru berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Anna.
"Kenapa kau bertanya begitu? Apakah kau pernah melihat sesuatu seperti itu?"
"Tidak." Jawab Anna langsung. Entah kenapa Anna merasa tatapan itu begitu mengancam hingga dia merasa gugup. "Sa-saya hanya bertanya karena penasaran. Karena orang biasa dari Schiereiland seperti saya tidak terbiasa dengan sihir yang merupakan hal yang biasa bagi orang-orang di Nordhalbinsel.”
Mendengar jawaban itu, Xavier tersenyum. Matanya kini tak lagi menyorotkan ancaman. Dia berdiri di dekat jendela besar dan mengamati keadaan di luar kastil.
"Aku tidak tahu tentang kertas. Tapi aku tahu sebuah pena yang dapat melakukan sesuatu persis seperti yang kau katakan.” Katanya. Kemudian mengalihkan tatapannya kembali kepada Anna yang masih berdiri di depan meja kerja. “Hanya ada satu di dunia karena pena itu merupakan peninggalan turun temurun milik keluarga Grimoire yang merupakan keluarga penyihir tertua di Dunia. Baru-baru ini Lilithier Grimoire menurunkannya kepada putrinya, Eleanor Winterthur. Jadi kini pemilik pena itu adalah Lady Eleanor."
"Jadi pena itu sekarang ada pada Lady Eleanor?"
"Bukan. Pemiliknya memang Elle. Tapi pena itu ada padaku sekarang. Pena yang ada tepat di hadapanmu saat ini adalah Pena Grimoire."
Anna menatap pena yang ada di meja kerja Xavier di hadapannya. Pena itu terlihat seperti pena tinta biasa. Tapi dengan hanya melihatnya saja, Anna dapat memastikan usia pena itu sudah lebih dari ratusan tahun. Pena itu terbuat dari logam yang tidak berkarat. Tapi ukiran di sekitarnya terlihat sudah sangat tua. Tidak ada lagi orang yang membuat ukiran serumit itu di pena sekarang. Awalnya Anna mengira ukiran itu hanya berupa sulur-sulur yang mengelilingi pena dengan indah. Tapi setelah dia teliti kembali, itu bukan lah sulur-sulur melainkan sebuah tulisan seperti sajak tua yang menggunakan bahasa Halbinsel kuno, bahasa yang ada sejak zaman Ratu Agung Zhera. Anna bersyukur tidak pernah melewati kelas bahasa Halbinsel kuno dulu di Istana, jadi dia tahu arti dari tulisan itu.
'Takut lah pada dosa leluhurmu. Tersiksa lah pada kenangan dari kehidupan masa lampaumu. Pena ini akan memberitahukan segalanya hanya padamu.'
Anna merasakan sesuatu yang aneh saat melihat pena itu. Seolah dia ingin menyentuhnya tapi di saat yang sama dia merasa harus menjauh dari pena itu karena dia tahu apa arti dari kata-kata itu.
“Yang Mulia, kenapa Anda melakukan itu?”
“Sudah kubilang, bukan? Aku ingin menolongnya. Jadi akan kulakukan apa pun.”
“Maksudku kenapa Anda sampai mencuri dari tunangan Anda? Saya yakin Lady Eleanor akan memberikannya jika Anda yang meminta.”
“Elle? Memberi harta keluarga Grimoire?” Xavier tertawa sinis. “Itu sama saja dia mengkhianati keluarganya sendiri. Klan Grimoire sudah pernah kehilangan salah satu harta keluarga mereka, sebuah jam pasir yang dapat memutar kembali waktu. Lilacier Grimoire, Saudari kembar dari Lilithier yang memegang Jam Pasir itu dulu saat dia masih sangat muda. Lalu seorang Pangeran dari Schiereiland merayunya dan mencuri jam pasir itu dari Lilacier. Saat Klan Grimoire tahu bahwa Lilacier membiarkan Jam Pasir itu dicuri, mereka menganggapnya sebagai pengkhianat dan memberinya hukuman mati dengan sangat kejam. Jadi mereka tidak akan membiarkan harta lainnya diambil dari tangan mereka."
Anna terdiam. Dia pernah mendengar tentang harta keluarga Grimoire yang merupakan barang-barang ajaib yang dipenuhi kekuatan sihir. Dulu Anna berpikir hal itu hanya merupakan kisah dongeng anak-anak belaka. Tapi sekarang saat Xavier membicarakannya, dia tahu bahwa itu bukan hanya dongeng. Dan salah satu buktinya, harta keluarga Grimoire yang asli yaitu Pena Grimoire ada di hadapannya.
"Tapi bukankah Lady Eleanor juga akan dihukum—“
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku berniat untuk mengembalikannya segera setelah urusan kita di Montreux selesai."
Anna berpikir kenapa Xavier sampai rela mencuri harta keluarga Grimoire yang dapat membuat tunangannya sendiri dalam bahaya jika Klan Grimoire tahu dan membuat dirinya sendiri terkena kutukan dari Pena itu hanya untuk menolong orang lain. Dan Anna semakin tidak paham karena sepertinya dirinya tahu siapa orang yang dimaksud.
Itu adalah dirinya sendiri. Saat melihat tulisan Xavier, dan mengetahui apa yang dapat dilakukan Pena Grimoire, Anna merasa yakin bahwa Xavier lah yang mengirimkan surat rahasia itu saat dirinya masih mengikuti pemilihan pengawal pribadi putra mahkota. Tapi Anna tidak tahu apa alasan Xavier melakukan itu.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Memangnya kau tidak pernah mencuri dari tunanganmu?” Kata Xavier saat melihat Anna sedang menatapnya dengan tidak biasa.
Anna langsung teringat saat dia menerobos masuk gudang senjata Duke Francis beberapa minggu yang lalu. Entah kenapa Xavier seolah mengetahui apa yang telah dilakukannya sehingga menyindirnya seperti itu. Mungkin juga Xavier tidak bermaksud menyindirnya, tapi kemudian Anna teringat perkataan Eleanor bahwa Xavier dan Nicholas Francis adalah teman dekat. Xavier bisa saja mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Tapi kemudian Anna berpikir seharusnya Xavier tidak membantunya selama ini untuk terpilih menjadi pengawal pribadinya jika dia benar-benar tahu bahwa Anna adalah Putri Anastasia. Seharusnya sejak awal Xavier sudah melaporkannya pada Raja Vlad atau mungkin dia bisa saja langsung dibunuh.
Belum sempat bertanya lebih lanjut, tiba-tiba pintu terbuka menampilkan Honey Welsh yang tampak berlumuran darah sambil menahan rembesan darah yang terus keluar dari luka pinggang sebelah kirinya yang sepertinya akibat tusukan benda tajam.
“Yang Mulia! Jenderal Arianne menghilang! Kami sedang—“ Seru Honey dari pintu.
Tanpa menunggu Honey melanjutkan kalimatnya, Xavier segera berlari keluar membawa pedangnya dan memakai maskernya. Anna segera menyusul Xavier dan melakukan hal yang sama.
"Apa yang terjadi?" Tanya Xavier saat dirinya dan Anna sudah sampai di luar kastil.
Sesuatu yang tampak seperti kabut tebal menutupi pandangan mereka. Tapi Anna tahu itu bukan kabut. Itu debu halus di udara yang membentuk kabut tebal sehingga menghalangi pandangan. Anna tidak dapat melihat lebih jauh dari satu meter di depannya. Xavier ada tepat di samping kanannya dan seseorang yang Anna tidak dapat lihat dengan jelas ada di samping kiri Xavier mengenakan pakaian prajurit lengkap dengan penutup kepala.
“Saya tidak tahu, Yang Mulia. Tiba-tiba saja kabut debu yang tebal ini datang dari arah jembatan sungai Forettire yang menghubungkan antara Montreux dan Fiore di Westeria. Lalu Jenderal Arianne mencoba untuk mencari tahu dengan berkuda ke arah Westeria menyeberangi jembatan. Beliau berpesan jika setelah lewat dari satu jam beliau belum kembali, kami harus segera memberitahukannya kepada Yang Mulia. Tapi saat kami akan memberitahukan hal ini, tiba-tiba saja mereka datang menyerang.” Seseorang yang berdiri di hadapan mereka yang nampaknya adalah salah satu prajurit Montreux menjelaskan kepada mereka.
“Mereka siapa?” tanya Anna.
Dua orang Prajurit Montreux di depan Anna mengangkat obor yang dipegangnya ke arah depan pandangan mereka, barulah semuanya terlihat jelas. Sekitar dua meter dari tempat mereka berdiri saat ini, gerbang besi Kastil Montreux ditutup rapat. Dan disisi lain dari gerbang tersebut, tepat di luar kastil terdapat lusinan orang—atau setidaknya itulah mereka dulu, sebagian memakai pakaian rakyat biasa, sebagian lainnya memakai seragam prajurit Nordhalbinsel menghunuskan pedang mereka masing-masing seolah ingin melawan siapa pun yang ada di depan mereka. Tapi kulit mereka pucat kebiruan, bibir mereka menghitam dan wajah mereka penuh luka. Pembuluh darah berwarna hijau kebiruan tampak jelas di kulit tipis mereka yang pucat. Mata mereka tampak seperti ditutupi selaput tebal. Dan mereka semua tidak berhenti bergerak maju ke depan berusaha menerobos pagar besi yang kokoh itu. Mereka semua tampak seperti mayat hidup yang kelaparan.
“Apakah... Apakah mereka adalah...” Anna tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
“Orang-orang Montreux dan para prajurit yang menghirup debu dari Westeria.” Xavier melanjutkan kata-kata Anna. “Turunkan pedang kalian! Jangan bunuh mereka!” Xavier memberikan perintah.
“Apa? Kau tidak lihat mereka tampak seperti akan memakan kita semua kapan saja? Mereka semua tidak lagi tampak seperti manusia, Xavier.” Seseorang di samping kiri Xavier yang tidak Anna ketahui tampak tidak setuju dengan rencana itu.
“Mereka masih manusia. Lihat lah selaput tebal yang menutupi mata mereka. Mereka tidak tahu apa atau siapa yang ada di hadapan mereka dan hanya menyerang sekitar mereka dengan brutal. Itu membuktikan saraf mereka sudah rusak.”
“Apakah ada kemungkinan mereka dapat kembali lagi menjadi manusia? Maksudku, kembali normal?” tanya Anna.
“Aku tidak yakin. Tapi aku pernah membaca tentang tanaman obat yang mengembalikan kerja saraf manusia kembali normal atau menenangkan saraf. Meski beberapa tahun yang lalu Raja melarang penggunaan herba tersebut karena banyak yang menyalahgunakannya, Tapi aku yakin tanaman itu sebenarnya masih ada. Seandainya kita punya ahli herba di Montreux, kita bisa memintanya menemukan tanaman itu dan membuatnya menjadi obat.”
“Madam Lucielle, Yang Mulia. Ahli herba yang terkenal di Montreux. Dia tinggal di atas gunung Reux.” sahut seorang prajurit.
"Lucielle? Maksudmu Si Ahli Herba terkenal yang diusir dari Istana oleh Raja Vlad?" tanya orang yang berada di samping kiri Xavier.
"Benar, Tuan."
"Kurasa ini akan sulit. Lucielle pasti tidak akan mau membantumu karena kau adalah putranya. Biar aku saja yang menemui Lady Lucielle."
"Tidak. Justru karena itulah aku yang harus menemuinya langsung dan meminta maaf atas perbuatan ayahku. Apa kau bisa pergi mencari Jenderal Arianne, Elias?" Tanya Xavier pada pria di samping kirinya yang ternyata adalah Elias Winterthur.
"Tentu saja. Kau bisa mengandalkanku."
"Bagus. Kalau begitu, Anna, Kau ikut dengan Elias untuk mencari Jenderal Arianne." Perintah Xavier pada Anna.
"Tapi tugas saya adalah—“
"Tugasmu adalah untuk selalu mematuhi apa yang kuperintahkan. Aku akan baik-baik saja."
Anna sempat ragu apakah dia harus bersikeras untuk mengikuti Xavier atau membiarkannya pergi sendiri. Tapi melihat Xavier yang tampak bersungguh-sungguh, Anna akhirnya mengangguk setuju.
"Siapkan kudaku!" Perintah Xavier, lalu dia pun pergi menuju gunung Reux.
"Dia akan baik-baik saja, tenang lah." Kata Elias pada Anna. "Kita harus cepat menemukan Jenderal Arianne. Jika kita sudah berhasil menemukannya, kita dapat segera menyusulnya ke gunung Reux. Ayo, segera bersiap. Kita akan keluar lewat pintu belakang."
***