The Rose That Blooms In North

The Rose That Blooms In North
Chapter 34 : Mort du Prince Héritier



“Setelah itu pemuda itu tak pernah datang lagi ke Istana Ratu. Para pelayan mengatakan dia sangat sibuk sehingga tidak sempat mengunjungiku. Tapi dia beberapa kali mengirimkan surat untuk memastikan aku dan Alexis baik-baik saja di Istana.” Kata Sang Ratu setelah menceritakan apa yang dialaminya selama ini.


“Jadi orang yang menyelamatkan Ibunda adalah Putra Mahkota Xavier?”


“Benar. Anastasia mengatakan bahwa dia adalah Putra Mahkota Xavier. Aku tidak tahu apa alasannya menolong kami setelah ayahnya membunuh Raja Edward. Tapi dia tidak tampak seperti orang yang jahat.”


“Maafkan saya, Ibunda. Tapi saya tetap tidak bisa mempercayai putra dari Raja yang telah membunuh Raja yang saya layani.” Kata Leon.


“Aku mengerti. Justru aku yang merasa aneh karena bisa mempercayainya. Kau mungkin tidak akan mengerti, tapi saat melihatnya aku seperti melihat seseorang yang kukenal sejak lama.”


“Apakah itu karena mata emeraldnya yang mirip dengan milik Jenderal Irene?”


Ratu Isabella terdiam cukup lama sebelum benar-benar bisa menjawabnya. “Mungkin karena itu. Entah lah.” Sang Ratu menatap Leon dengan penuh kasih sayang. Menatapnya seolah Leon benar-benar putranya. “Leon, tentang Jenderal Irene... Apa kau tahu siapa dia?”


Leon bingung dengan pertanyaan itu. Tentu saja dia tahu siapa Jenderal Irene. Meski cerita tentang Sang Jenderal wanita itu tidak ada di buku mana pun di Schiereiland, tapi kisahnya cukup terkenal di kalangan para prajurit. Leon sendiri mendengarnya dari seniornya dahulu kala sebelum dia diangkat menjadi Jenderal. Semua prajurit di Istana Schiereiland tahu tentang pahlawan legendaris yang berhasil melumpuhkan Orient dan menunjukkan kepada kerajaan lain bahwa Schiereiland bukanlah Kerajaan yang bisa dianggap remeh. Kemampuan berpedang yang tak tertandingi, strategi perang yang sempurna seolah dia bisa memprediksi masa depan dan kepemimpinan yang dapat menggerakkan seluruh pasukan. Jenderal wanita pertama yang berhasil memimpin ratusan pasukan ksatria pria dan memenangkan banyak pertempuran di masa kepemimpinan Raja Eustacius. Jenderal Irene adalah wanita yang namanya diingat sebagai salah satu pahlawan sekaligus sebagai salah satu pengkhianat besar.


“Saya rasa saya tahu sebanyak orang lain tahu tentang beliau, Ibunda.” Jawab Leon.


Ratu Isabella tersenyum mendengar jawaban itu. Ada sesuatu yang dia sembunyikan di balik senyumannya itu, tapi dia belum dapat mengatakannya. “Belum saatnya. Aku akan segera memberitahukan semuanya padamu jika saatnya sudah tiba.”


“Apa maksud—“


“Sekarang, aku ingin mendengar kisah kalian. Bagaimana Anastasia bisa menjadi pengawal pribadi Putra Mahkota Xavier? Dan apa saja yang terjadi pada kalian selama ini?”


Leon pun mulai menceritakan semua yang telah terjadi pada mereka sejak malam itu. Tentang bagaimana mereka melewati minggu pertama setelah kejadian itu. Tentang Putri Anastasia yang kehilangan cahayanya dan tidak dapat bicara selama seminggu. Tentang bagaimana Sang Putri memimpin para penduduk desa untuk melawan Nordhalbinsel yang ingin merebut air sungai Scheine dan bagaimana pada akhirnya Louis ikut dalam perjalanan mereka. Tentang Sang Putri yang tak berhenti untuk berlatih pedang siang dan malam agar dapat terpilih menjadi pengawal pribadi Putra Mahkota Xavier untuk masuk ke Istana dan menyelamatkan Ratu Isabella dan Putra Mahkota Alexis. Leon menceritakan semuanya dan Sang Ratu mendengarkan dengan seksama. Terkadang Sang Ratu terlihat sangat sedih hingga akan menangis terlebih setelah mendengar apa saja yang telah dilalui oleh putrinya itu. Tapi Sang Ratu tidak menyela cerita Leon dan meminta Leon untuk melanjutkan ceritanya meski air mata mulai mengalir di kedua pipi Sang Ratu. Louis menyodorkan sapu tangannya untuk Sang Ratu yang berterima kasih pada kebaikan anak laki-laki itu. Mereka terus saling berbagi cerita tentang perjalanan mereka masing-masing.


***


Seminggu setelah kepergian Putra Mahkota Xavier dan pasukannya, Kerajaan Nordhalbinsel diselimuti duka.


Istana ditutup dan tidak menerima tamu dari luar selain anggota keluarga kerajaan. Penjagaan diperketat. Bendera Tulip Kristal Putih dikibarkan di Istana dan di seluruh jalanan di Ibu kota sebagai tanda kematian salah satu anggota keluarga kerajaan.


Semalam pihak Istana mengeluarkan pengumuman bahwa Putra Mahkota Xavier beserta seluruh pasukannya tewas akibat penyerangan oleh kelompok bandit Black Mamba saat dalam misi pencarian tahanan perang yang kabur.


Semua orang di seluruh kerajaan mengenakan pakaian hitam sebagai bentuk rasa duka mereka yang mendalam terhadap meninggalnya Putra dari Sang Matahari Utara. Toko-toko ditutup dan semua orang tidak bepergian keluar. Lampu-lampu dimatikan dan mereka hanya menyalakan lilin di malam hari. Semua itu dilakukan sebagai bagian dari ritual duka atas kematian yang sangat disayangkan.


Jasad Putra Mahkota tidak dapat ditemukan. Regu pencari yang dikirim Raja hanya menemukan jasad para prajurit yang ikut dengan Putra Mahkota. Mereka semua mati dalam kondisi mengenaskan. Jasad mereka ditemukan di atas tebing di sebuah hutan. Sehingga pihak Istana menyimpulkan jasad Putra Mahkota mungkin terjatuh ke jurang dan hanyut di sungai. Tapi ada banyak spekulasi yang beredar di kalangan para rakyat terkait kematian Sang Putra Mahkota.


“Kudengar selain jasad Putra Mahkota, jasad pengawal pribadinya juga tidak ditemukan.”


“Pengawal pribadi Putra Mahkota yang baru? Kalau tidak salah dia adalah Ksatria Perempuan yang masih muda yang berasal dari Schiereiland bukan?”


“Tidak. Dari yang kudengar dia bahkan hanya gadis muda yang berasal dari kalangan rakyat biasa seperti kita. Tapi dia memiliki kemampuan berpedang yang luar biasa sehingga dia bisa menjadi pengawal pribadi Putra Mahkota.”


“Mungkinkah dia adalah dalang sebenarnya dibalik penyerangan bandit itu?”


“Apa maksudmu?”


“Gadis itu berasal dari Schiereiland. Mungkin dia ingin balas dendam kepada Raja jadi dia membunuh Putra Mahkota dengan bekerja sama dengan kelompok Black Mamba.”


“Wah... Benar juga. Mungkin kau benar. Mungkin itu sebabnya jasad gadis itu juga tidak ditemukan. Karena dia sebenarnya tidak mati. Karena dia lah otak dibalik penyerangan terhadap Putra Mahkota dan pasukannya.”


“Baik pengawal pribadi Putra Mahkota maupun Permaisuri Selena, para wanita di Istana, mereka semua selicik ular.”


“Kalau dipikir-pikir mereka berdua memiliki kesamaan.”


“Kesamaan apa?”


“Memangnya kau lupa? Mungkin kalian yang masih lebih muda tidak tahu hal ini. Tapi kami yang sudah sangat tua ini tahu.”


“Jelaskan kepada kami, Kakek. Apa maksud Kakek?”


“Sama seperti pengawal pribadi Putra Mahkota yang berasal dari Schiereiland, Permaisuri Selena juga berasal dari sebuah kerajaan kecil di seberang laut yang sudah hancur karena kalah perang dengan Nordhalbinsel. Raja terdahulu membunuh seluruh keluarga kerajaan itu dan mengambil alih wilayah kekuasaan mereka. Permaisuri Selena dulu bekerja sebagai pelayan Istana setelah kehancuran kerajaan itu. Tapi karena dia memiliki bakat sihir yang luar biasa, Raja mengizinkannya untuk belajar sihir di menara dan akhirnya menjadi penyihir terhebat hingga saat ini. Kisah itu dulu sangat terkenal. Seorang gadis pelayan cantik yang berasal dari Kerajaan yang sudah hancur, namun berhasil menjadi penyihir terhebat di Nordhalbinsel dan dia juga berhasil menaklukkan hati Raja Vlad sehingga dia dinikahi oleh Raja Vlad setahun setelah kematian Ratu Irene. Tapi semenjak dia menjadi Permaisuri, orang-orang dilarang membicarakan masa lalunya sehingga generasi sekarang tidak tahu tentang asal Sang Permaisuri.”


***


Pagi itu, Elias Winterthur datang mengunjungi Istana Putra Mahkota setelah mendengar berita duka semalam. Tapi alasan utama kedatangannya bukan karena berita kematian Putra Mahkota, melainkan pesan yang dikirimkan oleh Jane, dayang Putri Mahkota. Dalam surat itu, Jane menjelaskan mengenai keadaan Putri Mahkota.


"Tuan Muda, selamat datang." Jane menyambut di pintu masuk Istana, mempersilahkan Elias untuk masuk ke dalam.


"Di mana Elle?" Tanya Elias tanpa basa-basi. Jane segera mengantar Elias ke depan pintu kamar Eleanor.


"Putri Mahkota tidak mau keluar dari kamarnya. Sejak kemarin beliau hanya menangis semalaman dan tidak mau makan apa pun. Putri Mahkota mengusir para pelayan dan tidak mengizinkan siapa pun masuk ke dalam. Saya tidak berani melawan perintahnya."


Tanpa mengetuk, Elias membuka pintu yang tidak dikunci itu dan masuk ke dalam kamar. Saudari kembarnya terbaring lemah di atas tempat tidurnya sambil menangis tanpa suara. Elias segera menghampirinya.


Saudari kembarnya itu adalah gadis tercantik yang dicintai oleh semua orang. Kini gadis itu tampak hancur. Tubuhnya semakin kurus sejak dia terakhir bertemu dengannya. Wajahnya sangat pucat. Rambutnya yang selalu tertata dengan indah tampak kusut tak terawat. Matanya yang persis seperti matanya, mata biru es yang indah kebanggaan keluarga Winterthur menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Air mata tidak berhenti mengalir deras dari mata biru es yang cantik itu.


"Elle..."


Melihat kedatangan saudara kembarnya, Eleanor segera bangkit dari tempat tidurnya dan memeluknya. Kini satu-satunya orang yang dia miliki hanya Elias. Satu-satunya orang yang bisa dipercayainya dan mempercayainya. Orang yang melihatnya sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai apa pun yang orang-orang harapkan darinya. Hanya saudara kembarnya seorang.


Eleanor melepas pelukannya dan menatap Elias dengan serius. "Berita itu bohong kan? Itu tidak mungkin bukan? Tolong katakan padaku bahwa ini hanya bagian dari rencana kalian berdua dan bahwa Xavier sebenarnya masih hidup dan bersembunyi di suatu tempat."


"Kenapa kau bicara seperti itu?" Eleanor meninggikan suaranya. Ada rasa frustasi dalam nada suara itu. "Dia belum mati. Kau bicara seolah itu adalah hal yang pasti bahwa dia benar-benar sudah mati. Dia tidak bisa mati secepat ini. Dia tidak boleh mati sekarang."


"Kalau dia memang benar masih hidup, lalu kenapa sampai sekarang dia tidak memanggilku? Dan kenapa dia tidak mengirimi kita surat sama sekali?"


"Tapi itu tidak mungkin..." Eleanor mulai menangis lagi. Tadinya saat melihat Elias datang, dia pikir saudara kembarnya itu akan membawakan berita gembira bahwa Xavier masih hidup. Tapi ternyata Elias sendiri tidak tahu apakah Xavier masih hidup atau tidak. "Padahal rencana kita hampir berhasil. Seharusnya semuanya berjalan lancar..."


"Elle..." Elias melihat nampan berisi berbagai makanan yang masih belum disentuh sama sekali oleh saudari kembarnya itu. "Kau harus makan." Kata Elias sambil membelai lembut rambut saudarinya itu. "Paling tidak makan lah untuk bayi yang ada di kandunganmu."


Perkataan itu membuat tangisan Eleanor terhenti. Jantungnya seolah berhenti sesaat. Hal yang selama ini dirahasiakannya dari semua orang ternyata sudah diketahui oleh saudara kembarnya.


"K-kau tahu? Bagaimana..." Suara Eleanor gemetar. Dia tidak sanggup melanjutkan pertanyaannya. Takut pada apa yang akan didengarnya.


"Putra mahkota meninggalkan tunangannya yang sedang mengandung bayi laki-laki. Berita itu sudah menyebar di kalangan bangsawan di daerah utara bersamaan dengan berita kematian Xavier. Aku tidak yakin siapa saja yang sudah mengetahui hal ini. Aku juga tidak tahu siapa yang telah menyebarkannya. Ayah dan Ibu juga sudah tahu. Itu sebabnya aku buru-buru datang ke sini. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Istana, mungkin tiga hari lagi mereka akan sampai. Ayah tampak sangat murka. Dia tahu itu bukan anak Xavier."


Seminggu yang lalu, saat Xavier berangkat bersama pasukannya untuk misi pencarian tahanan yang kabur, yang sebenarnya Eleanor ketahui sebagai bagian dari rencana Xavier, Elle mengalami mual dan muntah di pagi hari. Xavier memintanya agar mengizinkan dokter memeriksanya, tapi Eleanor menolak karena dirinya sendiri sudah mengerti apa yang sedang terjadi. Saat itu sudah lebih dari dua bulan sejak menstruasi terakhirnya dan Eleanor belum pernah setelat itu. Tapi saat itu Eleanor tidak mengatakan apa pun pada Xavier karena tidak ingin merusak rencana Xavier. Dia berencana akan memberitahu Xavier setelah rencana mereka berhasil dan Xavier pulang dengan selamat. Dia juga sudah berencana untuk mengundurkan diri dari posisi Putri Mahkota dan membatalkan rencana pernikahan mereka jika rencana Xavier sudah berhasil. Eleanor tidak pernah menyangka bahwa saat itu akan menjadi terakhir kalinya dia melihat Xavier.


Dia merasa sangat terkejut saat dokter mengatakan bahwa dirinya sedang mengandung.


"Selamat, Yang Mulia. Ini akan segera menjadi berita bahagia begitu Yang Mulia Putra Mahkota pulang nanti. Kalian akan segera memiliki seorang putra." Kata dokter yang memeriksa keadaan Elle setelah dirinya pingsan di hari kedua setelah seharian tidak bisa makan apa pun karena semua yang dia coba makan akan langsung keluar lagi. Saat itu hanya ada Jane, dayang kepercayaannya yang merupakan Putri dari seorang Count, dan Sang Dokter. Jadi selain dirinya sendiri, hanya dua orang itu saja yang tahu tentang berita kehamilannya.


"Dokter, bisakah Anda merahasiakan hal ini? Kami bahkan belum menikah, jadi jika orang lain mengetahuinya, akan sedikit memalukan. Pihak Istana akan segera mengumumkannya dengan resmi setelah kami menikah nanti." Pinta Eleanor saat itu.


"Baik, Yang mulia. Saya bersumpah tidak akan mengatakan hal ini pada siapa pun."


Setelah itu, Dokter memberikan menu makanan khusus yang harus dimasak oleh Koki Istana untuk Eleanor. Dan meminta Ahli herba untuk memberikan ramuan khusus untuknya agar dapat membuat tubuhnya kuat menghadapi masa awal kehamilan. Jadi Eleanor berpikir mungkin orang-orang mulai mencurigainya karena makanan dan ramuan yang dia konsumsi.


"Apa yang harus kulakukan sekarang Elias? Aku tidak mau mereka melukai anak ini." Kata Eleanor sambil memegang perutnya yang belum terlihat membesar.


"Kau mau membiarkannya lahir dan akhirnya membuat semua orang mengetahui bahwa bayi itu bukan bayi kerajaan?" Elias terlihat kesal.


"Kenapa perkataanmu kejam sekali? Biar bagaimana pun dia tetap anakku. Lagi pula mereka tidak akan tahu. Dia mungkin tidak akan memiliki mata Emerald, tapi dia pasti memiliki mata berwarna biru es. Semua putra Winterthur pasti memiliki mata biru es."


"Kau gila? kau mau menjadikannya penerus takhta padahal dia sama sekali tidak memiliki satu tetes pun darah anggota keluarga kerajaan dalam tubuhnya? Kau sadar apa yang sedang kau pikirkan saat ini, Elle?" Elias meninggikan nada suaranya tapi tetap menjaga agar pembicaraan mereka tidak terdengar sampai ke luar kamar itu.


"Aku tahu." Eleanor duduk di kursi minum teh yang ada di salah satu sudut kamarnya, tubuhnya dan emosinya terlalu lelah menghadapi situasi saat ini. Elias mengikutinya dan duduk di kursi di seberangnya. "Aku tahu dengan pasti apa yang sedang kulakukan saat ini, Elias. Aku tidak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya cara untuk membiarkan anak ini hidup dan untuk mengamankan takhta yang harusnya menjadi milik Xavier." Ucap Eleanor, sungguh-sungguh.


"Apa maksudmu?"


"Coba pikirkan, Raja Vlad memiliki dua puluh tiga orang putra. Meski begitu, selama ini tidak ada perebutan takhta yang terlihat diantara para Pangeran."


Elias mengangguk menyetujui. "Lalu?"


"Hal itu dikarenakan Xavier sebagai Putra Mahkota memiliki hal yang tidak mereka miliki. Titel sebagai keturunan sah dari Raja dan Ratu serta dukungan penuh dari para petinggi Negara setelah dirinya sendiri membuktikan bahwa dia sangat pantas menjadi Putra Mahkota. Xavier sudah berusaha keras selama ini untuk mempertahankan posisinya di Istana yang penuh dengan persaingan."


"Benar. Dia sudah melakukan banyak hal untuk membuat dirinya sendiri diakui di mata para petinggi negara." Elias mengingat tahun-tahun pertamanya menjadi pengawal pribadi Xavier, dia sempat kewalahan karena jadwalnya yang padat dan Sang Putra Mahkota sendiri sepertinya tidak pernah istirahat.


"Tapi setelah berita kematian Xavier diumumkan, perebutan takhta, yang selama ini tidak terjadi, pasti akan segera terjadi. Dan untuk saat ini, kandidat terkuat adalah Pangeran kedua, putra Permaisuri Selena, Pangeran Ludwig. Permaisuri Selena pasti sudah merencanakan semua ini untuk menjadikan Putranya sebagai penerus takhta dan membuat dirinya sendiri menjadi Ratu."


Elias terkesiap mendengar penjelasan itu. Dia malu karena hampir berpikir bahwa saudari kembarnya sendiri ingin melakukan hal yang egois dan berambisi menjadi Ratu. Bahkan jika Eleanor menginginkan takhta Ratu, itu dilakukannya demi keluarganya. Tapi Elias mengenal Eleanor lebih lama dari siapa pun. Dia tahu gadis itu tidak akan melakukan sesuatu yang egois. Satu-satunya hal egois yang pernah dilakukan oleh saudari kembarnya itu adalah jatuh cinta pada orang yang bukan tunangannya.


"Aku mengerti." ucapnya, "Kau benar. Mungkin Selena memang sudah merencanakan semua ini. Dan kondisi kesehatan Raja juga semakin memburuk. Jadi jika orang-orang tahu Putra Mahkota Xavier memiliki seorang putra dari pasangan sahnya..."


"Maka putranya lah yang paling berhak menjadi penerus takhta. Dan aku akan menjadi Ratu sementara."


"Sementara?"


"Ya. Aku akan menunggu Xavier kembali. Aku yakin dia masih hidup di suatu tempat. Aku percaya suatu saat nanti dia pasti akan kembali. Ketika dia kembali, aku akan mengundurkan diri dari posisiku, membatalkan perjanjian Grimoire dan menerima hukumanku."


Elias menghela napas. Dia tahu hukuman apa yang Eleanor maksud. Jika Eleanor mengundurkan diri dari posisinya, itu artinya dia menyalahi isi perjanjian Grimoire dan hukuman yang akan didapatkan Eleanor, yang juga akan didapatkan oleh Elias sesuai isi perjanjian itu, adalah penderitaan seribu tahun.


"Baiklah jika itu rencanamu. Meskipun aku yakin, jika Xavier kembali nanti, dia akan melakukan segala cara untuk mempertahankanmu agar tidak perlu menerima hukuman  itu. Kita sendiri tahu bahwa dia tidak akan benar-benar membiarkan kita menerima hukuman itu. Tapi kita memiliki beberapa masalah. Pertama, kau belum menjadi pasangan sahnya, meski upacara pernikahan kalian seharusnya berlangsung kemarin, tapi nyatanya kalian belum menikah. Kedua, anak itu tidak akan memiliki mata Emerald meski akan memiliki mata biru es sehingga orang-orang mungkin akan curiga. Tidakkah kau lihat kemiripan Xavier dengan Raja Vlad saat masih muda? Anggota keluarga kerajaan biasanya memiliki wajah yang sangat mirip sehingga pada petinggi negara bisa yakin bahwa dia memang anak Raja. Bahkan Ludwig terlihat persis seperti versi muda Raja Vlad jika saja rambutnya berwarna hitam."


Eleanor mengangguk setuju. "Itu memang menjadi masalah saat ini. Aku mungkin bisa menggunakan sedikit sihir pada anakku nanti agar dia terlihat sedikit menyerupai Xavier."


"Aku belum selesai. Ada masalah ketiga."


"Apa lagi?"


"Jika Ayah dan Ibu tahu apa yang kau rencanakan, kau mungkin tidak akan diizinkan menjalankan rencanamu itu. Karena rencana ini sangat berisiko. Jika ada yang tahu bahwa bayi itu bukanlah anak dari Putra Mahkota, kau mungkin akan dihukum mati karena telah mencoreng nama baik kerajaan dan dianggap sebagai penghianat. Mungkin juga bukan kau saja, melainkan kita semua sekeluarga akan dibinasakan."


"Aku tahu itu. Itulah sebabnya aku membutuhkan bantuanmu untuk meyakinkan Ayah dan Ibu—“


"Lalu ada masalah keempat..." Elias menyela.


"Ada lagi?"


"Kita tidak tahu apakah Xavier masih hidup atau tidak. Apakah Xavier akan kembali atau tidak. Sampai kapan kita bisa menunggunya, Elle?"


***