
Jenderal Arianne merupakan satu-satunya wanita diantara keempat Jenderal yang ada di Nordhalbinsel. Sebelumnya Anna sudah mempelajari silsilah keluarga Montreux yang sedikit lebih rumit dibanding silsilah keluarga Jenderal lainnya. Tapi pada intinya, kakak tiri Jenderal Arianne adalah Duke Frederick Montreux. Arianne Montreux, meski merupakan putri kandung dari Duke Montreux sebelumnya dengan istri sahnya, tidak dapat mewarisi posisi Duchess Montreux karena tidak memiliki keturunan. Jenderal Arianne menikah saat berusia dua puluh tahun dan menjadi janda saat berusia dua puluh satu tahun karena suaminya mati dalam perang dan dia mengalami keguguran janin begitu mendengar kabar kematian suaminya. Sejak itu, Sang Jenderal memilih untuk tidak menikah lagi hingga kini di usianya yang sudah kepala empat. Anna juga mendengar rumor yang beredar bahwa dulu Jenderal Arianne merupakan sahabat baik Ratu Irene sehingga Jenderal Arianne sudah menganggap Putra Mahkota sebagai putranya sendiri dan begitu pun dengan Putra Mahkota yang sudah menganggap Sang Jenderal layaknya ibu kandungnya sendiri.
“Kenapa Ibunda menyambutku dengan formal begini?” Tanya Xavier dengan nada bercanda seperti sedang bercanda dengan ibu kandungnya sendiri.
Sang Jenderal langsung memeluk Xavier setelah salam hormat yang sangat formal itu dan mengecup kening Sang Putra Mahkota. Xavier membungkuk menjajarkan tingginya saat Sang Jenderal melakukannya.
“Kau telah tumbuh sebesar ini, Putraku. Sudah berapa tahun sejak terakhir kali aku melihatmu? Oh, lihatlah lenganmu yang berotot ini. Kau pasti sudah menjadi ahli pedang terhebat di seluruh kerajaan. Tapi kenapa kulitmu pucat sekali? Apa kau tidak tidur dengan baik putraku?”
“Baru setahun sejak terakhir Ibunda menemuiku di Istana. Aku tidak banyak berubah. Begitu pun dengan Ibunda yang masih terlihat sangat muda dan sehat.”
Jenderal Arianne tertawa senang mendengarnya. “Oh, apa yang kulakukan, menahanmu dan pasukanmu di luar saat cuacanya dingin seperti ini. Ayo, cepat kita masuk ke dalam kastil. Aku dan para gadisku sudah membuat makan siang yang sangat lezat. Kalian semua pasti sangat lapar setelah perjalanan jauh.”
***
Anna mengikuti Xavier dari belakang sambil terus mendengar pembicaraannya dengan Sang Jenderal. Jauh dari bayangan Anna selama ini, ternyata Sang Jenderal memiliki sosok keibuan yang jauh dari sosok Jenderal wanita tangguh yang selama ini didengarnya dari orang-orang. Bahkan saat Anna masih menjadi Putri yang hidup di Istana, gurunya selalu menceritakan satu-satunya Jenderal wanita di seluruh daratan yang masih hidup dan aktif adalah Jenderal Arianne Montreux, Sang Pemenggal. Dulu saat mendengar itu di Istana, Anna selalu membayangkan sosok wanita seusia ibunya, memakai baju rantai besi dan duduk di atas kuda sambil memenggal orang-orang tanpa rasa belas kasihan. Tapi kini saat melihatnya langsung, ternyata Jenderal Arianne adalah sosok yang sangat ramah yang bisa membuat siapa pun merasa seperti memiliki ibu kedua.
"Di mana Serigala Nakal Winterthur itu yang selalu ikut denganmu ke mana pun kau pergi?" tanya Jenderal Arianne saat mereka sedang berjalan melalui lorong panjang menuju tempat jamuan makan siang diadakan di dalam kastil.
"Elias? Apa Ibunda belum mendapatkan beritanya? Dia kini menjadi Jenderal Elias Winterthur Penjaga Wilayah Utara. Yah, meski acara penobatannya belum benar-benar diadakan. Tapi Grand Duke sudah mengumumkannya bahwa beliau sudah berhenti dari posisinya sebagai Jenderal dan akan fokus menjadi Grand Duke Winterthur saja." Jelas Xavier. "Ah, aku belum memperkenalkan Ibunda pada Pengawal Pribadiku yang baru. Anna, kemari lah."
Anna segera mempercepat jalannya ke sisi Putra Mahkota dan menghadap ke arah Jenderal Arianne.
"Dia adalah pengawal pribadiku yang baru. Namanya Anna." Xavier memperkenalkan Anna pada Sang Jenderal.
Anna membungkuk untuk memberikan salam.
"Semoga Putra Mahkota tidak terlalu merepotkanmu, nak. Elias dulu sering mengeluh padaku betapa sulitnya menjadi Pengawal Pribadi Putra Mahkota karena dia sering bepergian ke mana-mana. Oh, kau masih sangat muda, nak. Sepertinya banyak gadis-gadisku yang seusia dirimu. Kau akan suka di sini."
Saat Jenderal Arianne menyebut 'gadis-gadis' Anna dapat langsung tahu bahwa yang dimaksud adalah para prajurit Montreux yang kebanyakan anggotanya adalah gadis-gadis muda berusia dua puluh hingga tiga puluh tahun. Di saat Jenderal lain menolak keberadaan prajurit wanita, Arianne justru mengumpulkan para wanita pemberani di seluruh kerajaan untuk dilatihnya dan dijadikan prajurit yang handal dan setara dengan prajurit pria.
"Anna? Itu kau?"
Anna menoleh saat merasa namanya dipanggil oleh suara yang dikenalnya. Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui bahwa yang memanggilnya adalah Honey Welsh.
Dari jarak 2 meter, Honey langsung berlari menghampiri Anna dan memeluknya seolah mereka adalah teman lama yang sudah terpisah selama bertahun-tahun lamanya. Honey kemudian memperhatikan Anna dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Dia tersenyum lebar. Melihatnya tersenyum, Anna juga ikut tersenyum lebar.
“Kau sudah banyak berubah sejak terakhir kita bertemu. Kau terlihat lebih...” Honey menggantungkan kata-katanya sambil memikirkan kata yang tepat. “Seperti seorang ksatria wanita.”
“Aku bisa mengatakan hal yang sama padamu.” Kata Anna, disambut tawa Honey.
Honey mengikat rambut hitamnya yang panjang setelah melepas penutup kepalanya. Dia mengenakan seragam prajurit lengkap dengan baju pelindung yang terbuat dari besi. Pedangnya disampirkan di sabuk pinggangnya. Anna melihat sorot mata penuh waspada saat Honey memperhatikan keadaan di sekitar mereka. Anna mengikuti arah pandangan Honey, tapi tidak dapat melihat apa pun yang mencurigakan. Sementara itu, Putra Mahkota dan Jenderal Arianne sudah berjalan lebih dulu di depan mereka.
“Ayo cepat kita masuk ke dalam. Di luar sini berbahaya.” Kata Honey.
Anna mengangguk setuju dan mengikuti Honey dan rombongan lainnya ke dalam Kastil Montreux.
Saat sudah sampai di dalam kastil dan pintu sudah di tutup rapat, Putra Mahkota memerintahkan semua pasukannya untuk melepas masker dan bersiap menikmati makan siang mereka di acara perjamuan itu.
“Setiap kali kalian akan keluar atau saat malam hari, kalian harus mengenakan masker ini.” Kata Putra Mahkota Xavier, yang langsung disambut dengan baik oleh seluruhnya yang ada di Kastil tersebut.
Mereka semua kemudian melanjutkan perjalanan menelusuri ruangan-ruangan dan lorong-lorong yang ada di Kastil menuju ke tempat jamuan makan siang diadakan. Anna dan Honey berjalan tepat di belakang Xavier, mendengarkan pembicaraannya dengan Jenderal Arianne.
“Jadi kau sudah memutuskan bahwa ini benar-benar akibat debu halus dari Westeria?” tanya Sang Jenderal.
“Benar, Ibunda. Meski ini baru dugaanku, tapi alangkah baiknya kita berjaga-jaga dengan memakai masker untuk melindungi diri kita sendiri.”
“Jenderal...” Honey menyela diantara percakapan itu. Tapi Arianne mengizinkannya berbicara lebih lanjut.
“Ah, benar. Salah satu putriku ingin menyampaikan sesuatu yang cukup penting kepadamu, Putraku. Silahkan lanjutkan, Nona Welsh.” Kata Jenderal Arianne.
“Yang Mulia, saya baru saja tiba di Kastil dua hari yang lalu." Kata Honey.
"Ah, ya. Aku mengingatmu. Kau adalah salah satu dari lima kandidat terbaik yang masuk ke dalam tahap ketiga pemilihan pengawal pribadiku. Syukurlah kau sampai dengan selamat di Kastil."
"Terima kasih atas perhatian Anda, Yang Mulia." Ucap Honey. Kemudian dia melanjutkan, "Ada yang perlu saya sampaikan terkait hal yang saya ketahui saat saya berada dalam perjalanan menuju Kastil ini."
"Apakah itu, Nona Welsh?"
"Teruskan. Apa yang mereka bicarakan, Nona Welsh?" Kata Xavier dengan tidak sabar.
Anna hanya diam sambil mendengarkan saat mereka berjalan melalui lorong lainnya menuju tempat jamuan makan siang. Anna merasa sangat lapar dan lelah juga mengantuk sekaligus begitu dia tiba di Kastil ini, tapi setelah bertemu dengan Honey dan gadis itu mulai bercerita, semua itu seolah lenyap dan dirinya begitu terhanyut dalam cerita temannya itu. Anna mengerti kenapa kebanyakan para penjelajah dari Orient merupakan pencerita yang sangat baik. Banyak dongeng-dongeng dan legenda-legenda yang dibawakan oleh para penjelajah dari Orient ke berbagai Negara karena mereka memang dikenal sangat detail dalam bercerita.
"Saya mendengar bahwa Ratu Elizabeth sekarat." Kata Honey.
Semua terdiam setelah mendengar satu kalimat itu. Anna tahu bahwa Westeria dipimpin oleh Seorang Ratu—bukan Raja—dalam beberapa generasi. Dan Ratu Westeria yang sedang memerintah saat ini adalah Ratu Elizabeth. Ratu Elizabeth juga dikenal tidak menikah dan tidak memiliki anak. Jadi satu-satunya yang mungkin meneruskan pemerintahannya saat ini adalah keponakannya, Putri tertua dari saudari tirinya, Putri Eugene. Putri yang sebelumnya diceritakan oleh Xavier sering berkirim surat dengannya. Sekarang semuanya mulai semakin jelas bagi Anna. Putri Eugene mungkin berhenti mengirim surat kepada Putra Mahkota Xavier karena dirinya sedang bersiap untuk penobatan menjadi Ratu Westeria yang baru.
"Kalau begitu, proyek tersebut ditutup karena Sang Ratu sekarat?" Tanya Anna.
Xavier mengangguk. "Aku juga sempat berpikir seperti itu. Tapi mungkin juga kondisi kesehatan Sang Ratu memburuk karena efek dari debu halus."
"Tidak, Putraku. Dari yang aku ketahui, tidak satu pun orang di Westeria mengalami hal yang sama seperti warga Montreux. Itulah yang membuatku awalnya ragu apakah semua ini terjadi karena debu halus dari proyek pembuatan obat itu." Kata Jenderal Arianne.
"Aneh sekali. Debu halus yang berasal dari Westeria tidak mengganggu warga Westeria satu pun dan justru menyebar ke Montreux hingga menciptakan wabah di Montreux." Kata Honey.
"Tapi, bagaimana jika ini bukan lah sesuatu yang tidak disengaja?" Tanya Anna.
"Apa maksudmu, Anna?" Tanya Xavier.
"Bagaimana jika seseorang atau sebuah kelompok sengaja melakukan semua ini untuk mengadu domba kedua kerajaan. Bukankah Westeria dan Nordhalbinsel memiliki hubungan yang sangat baik? Dan jika terjadi perang, Westeria akan membantu Nordhalbinsel sebagai sekutu, begitu pun sebaliknya." Jelas Anna.
"Kau benar. Bagaimana bisa aku tidak memikirkan ini sebelumnya." Xavier tertegun. "Dan ini semua terjadi bersamaan dengan munculnya berita bahwa Ratu sedang sekarat. Putri Eugene yang merupakan kandidat terkuat untuk melanjutkan pemerintahan masih berusia sembilan belas tahun dan belum menikah. Menurut hukum yang berlaku di Westeria, Putri Eugene belum memenuhi syarat untuk bisa dinobatkan menjadi Ratu bahkan meski dia satu-satunya penerus Sang Ratu. Putri Eugene harus menikah jika tidak ingin terjadi kekosongan pemerintahan."
Saat Xavier mengatakan itu, mereka sudah sampai di tempat perjamuan makan siang. Sebuah meja yang sangat panjang terbentang di hadapan mereka. Di atasnya terdapat berbagai jenis makanan lezat mulai dari daging-daging panggang, ikan bakar, sayur-sayuran yang segar, buah-buahan beraneka jenis dan anggur merah sebagai minumannya. Aroma makanan itu membuat semua orang merasa dua kali lipat lebih lapar dari yang mereka rasakan sebenarnya.
“Aku harus segera mencari tahu keberadaan Putri Eugene.” Kata Xavier yang bersiap pergi dari perjamuan itu, tapi Anna segera menahannya.
“Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia. Tapi Jenderal Arianne benar, Anda terlihat sangat pucat. Selama perjalanan juga Anda kurang istirahat. Alangkah baiknya jika Anda makan terlebih dahulu. Kalau Anda sakit, Anda tidak akan bisa menolong siapa pun.”
Anna memberanikan diri menatap Xavier yang sepertinya pikirannya sedang sangat kacau karena memikirkan segala hal yang terjadi di Negaranya dan Negara tetangga. Tapi kemudian Xavier menuruti perkataan Anna dan duduk dengan patuh di ujung meja panjang itu untuk memulai acara makan siang besar mereka.
***
Setelah makan siang selesai, semua orang merasa kenyang dan mengantuk. Xavier mengizinkan para prajuritnya untuk beristirahat secara bergantian. Sementara itu para prajurit Montreux sibuk dengan aktivitas harian mereka. Beberapa ada yang membersihkan sisa-sisa perjamuan, beberapa ada yang berlatih pedang, mengasah pedang dan ada juga yang naik ke menara pengawas untuk mengawasi keadaan sekitar.
Sementara itu, Anna, Putra Mahkota Xavier, Pangeran Jeffrey, Jenderal Arianne, Honey Welsh dan beberapa prajurit perwakilan dari masing-masing grup berkumpul di sebuah ruang yang Anna duga merupakan ruang kerja Jenderal Arianne. Mereka semua membicarakan tentang dugaan besar dari penyebab wabah penyakit di Montreux yang sepertinya berhubungan dengan kondisi Ratu Elizabeth. Xavier segera mengirim utusan dari salah satu prajuritnya untuk menyebarkan berita terkait keberadaan Putra Mahkota di Montreux. Dengan cara ini dia berharap bahwa berita itu akan terdengar hingga ke tempat Putri Eugene berada karena tidak satu pun yang tahu keberadaan Sang Putri saat ini. Meski dia tidak yakin apakah cara ini akan berhasil.
Xavier juga menuliskan surat rahasia tanpa diketahui oleh siapa pun selain Anna yang harus dikirimkan kepada Raja Vlad terkait kemungkinan terjadinya penyerangan Orient terhadap Westeria. Xavier meminta Anna mengirimkan elang pengirim surat itu secara rahasia saat senja tanpa diketahui oleh siapa pun. Anna memanfaatkan hal ini untuk turut mengirimkan surat kepada Leon dengan elang yang sama.
***
L, ini aku A.
Segera bakar isi surat ini setelah kau membacanya. Kemudian kirim elang ini untuk membawa surat lainnya kepada Raja Vlad di Istana Nordhalbinsel. Tidak perlu membaca surat itu, aku akan memberitahukan isinya padamu.
Singkatnya, aku berhasil menjadi pengawal pribadi Xavier. Tapi ternyata Sang Putra Mahkota Nordhalbinsel adalah orang yang sangat sibuk dan memiliki banyak jadwal bepergian keluar istana. Jadi di hari pertamaku bekerja, aku harus langsung pergi bersamanya untuk mengatasi masalah di daerah Montreux.
Sekarang aku berada di Montreux. Kau tidak perlu khawatir karena aku baik-baik saja dan aman dari badai. Aku berharap kau juga baik-baik saja dan aman dari badai.
Kau harus menyiapkan diri atas apa yang akan kuberitahu selanjutnya karena ini hal yang sangat penting dan sepertinya Xavier menuliskan hal yang sama untuk Raja Vlad di surat lainnya.
Ratu Elizabeth dari Westeria sepertinya sakit parah dan sedang sekarat. Dia tidak menikah dan tidak punya anak. Pewarisnya adalah keponakannya. Putri dari saudari tirinya yang merupakan seorang gadis belia berusia sembilan belas tahun dan belum menikah. Dia adalah Putri Eugene yang sepertinya kau kenal bertahun-tahun yang lalu kalau aku tidak salah ingat. Putri Eugene sedang dalam bahaya dan Xavier yang sepertinya juga mengenalnya dengan sangat baik sangat mengkhawatirkannya dan sedang berusaha menemukannya. Dia meminta prajurit untuk menyebarkan berita tentang keberadaannya di Montreux agar Putri Eugene mengetahui hal ini dan segera mengirimkan surat kepadanya.
Berita tentang kondisi Sang Ratu sepertinya diketahui oleh pihak lain yang ingin menghancurkan hubungan Westeria dengan Nordhalbinsel. Jadi pihak lain itu sepertinya membuat sebuah wabah yang berasal dari debu halus—atau paling tidak begitulah yang kami duga—yang menyerang Montreux dan sepertinya berasal dari Westeria. Jika kedua kerajaan berhasil diadu domba dan memutuskan hubungan persekutuan mereka, kemungkinan besar pihak lain itu akan memperoleh keuntungan.
Untuk saat ini aku dan Xavier berasumsi bahwa pihak lain itu adalah Kekaisaran Orient. Aku tidak benar-benar yakin, tapi Xavier berasumsi bahwa Orient ingin memperluas wilayah kekuasaan. Itu masuk akal bagiku, tapi aku masih tidak tahu alasan sebenarnya karena ini masih asumsi belaka.
Kuharap kau bisa mencari tahu tentang hal ini. Kurasa kita bisa merebut kembali Schiereiland dari Nordhalbinsel dengan memanfaatkan keadaan saat ini.
Cari tahu apakah Ratu Elizabeth memiliki calon pewaris takhta lain selain Putri Eugene, Di mana dan bagaimana kondisi Putri Eugene saat ini dan siapa yang sedang berusaha mengadu domba Westeria dan Nordhalbinsel. Segera kirimkan surat ke alamat yang kutuliskan di bawah ini.
A.
***