
"Terima kasih banyak, Anna." Kata Xavier, memecahkan lamunan Anna. Dia berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka. Anna memang tidak berniat untuk tidur jadi dia membiarkan pintu itu terbuka untuk berjaga-jaga apabila ada keadaan darurat.
Baru beberapa jam yang lalu Lucielle meminta agar Xavier memerintahkan Anna untuk beristirahat karena semalaman mereka tidak tidur dan saat ini situasi sedang membaik. Kabut debu sudah sepenuhnya hilang. Para pasien sudah diberikan ramuan oleh Lucielle dan mulai menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Beberapa prajurit yang terluka pun sudah diobati dan sedang dalam tahap pemulihan termasuk Jenderal Arianne yang sudah mulai tersadar dan Honey yang masih belum sadarkan diri. Tapi Anna datang ke kamar itu bukan untuk tidur, karena dia tidak dapat tidur sama sekali meski dia memang merasa lelah. Anna juga enggan memakan Bloody Berry karena itu bisa menurunkan kewaspadaannya. Jadi dia meminta pelayan Kastil untuk membawakannya teh dan menikmati teh hangat yang membuatnya merasa lebih rileks.
"Boleh aku masuk?" Tanya Xavier dengan ragu di ambang pintu.
"Silahkan masuk, Yang Mulia." Kata Anna sambil bangkit berdiri dari duduknya.
"Kau tidak perlu berdiri. Duduklah."
Xavier masuk ke kamar itu, terlihat lebih lelah dari siapa pun. Dia duduk di kursi di samping Anna. Untungnya, pelayan yang tadi membawakan teh untuk Anna telah menyiapkan dua cangkir untuk digunakan seolah tahu bahwa Sang Putra Mahkota akan mengunjunginya. Anna segera menuangkan teh di cangkir yang kosong tersebut.
"Terima kasih." Kata Xavier. Dia kemudian meminum teh yang baru saja Anna tuangkan untuknya. "Tadinya kupikir kau sedang tidur."
"Saya tidak merasa mengantuk, Yang Mulia." Jawab Anna. Anna sendiri heran kenapa dirinya tidak merasa mengantuk bahkan setelah beberapa hari kurang tidur dan semalaman tidak istirahat.
"Kau benar-benar telah melakukan banyak hal untuk kebaikan Nordhalbinsel, padahal ini bukan kerajaanmu. Padahal kerajaan inilah yang sedang menjajah negara asalmu." Ucapnya dalam nada bicara sarat penyesalan. Dari sorot matanya, Anna bisa tahu bahwa Xavier memang benar-benar merasa menyesal. Seolah dia sendiri lah yang telah membunuh Raja Edward.
"Saya melakukannya bukan sebagai orang Schiereiland. Melainkan sebagai sesama manusia." Jawab Anna.
"Kau menemukan Bloody Berry, menyelamatkan Jenderal Arianne, membantu Lady Lucielle dan menyelamatkanku saat itu di hutan. Aku sangat berterima kasih padamu, Anna. Sungguh. Apakah ada yang kau inginkan? Kalau aku bisa, apa pun itu akan kukabulkan." Kata Xavier.
Anna menyebutkan segala hal yang dia inginkan dalam hatinya. Kebebasan negaranya. Kembalinya ibu dan adiknya. Hidup ayahnya. Tapi Anna tahu dia tidak dapat mengatakan semua itu. Xavier mungkin takkan bisa mengabulkan semua itu.
"Tidak ada, Yang Mulia. Itu adalah kewajiban saya yang sudah sepatutnya saya lakukan sebagai pengawal pribadi Anda." Anna akhirnya menjawab. Itu hanya jawaban formalitas, tentu saja.
Xavier tampak sangat kecewa mendengar jawaban dari Anna. "Benarkah? Kau yakin? Kau mungkin tidak mengatakannya karena tidak tahu, tapi di Nordhalbinsel, adalah suatu kewajiban bagi keluarga kerajaan untuk memberikan imbalan pada siapa pun yang telah berjasa dalam urusan kenegaraan. Dan menolak imbalan tersebut sama saja dengan perbuatan tidak sopan atau merendahkan Raja. Aku bahkan sudah menyiapkan gelar bangsawan sebagai Countess untukmu jika kau bersedia menerimanya nanti setelah kita kembali ke Istana. Aku bisa memberikanmu wilayah kekuasaan di Nordhalbinsel, di wilayah mana pun yang kau mau selain wilayah kekuasaan milik Grand Duke Winterthur tentunya."
"Saya tidak menginginkan hal itu—“
"Yang Mulia!" Tiba-tiba Elias Winterthur datang sambil berlari dengan tergesa-gesa. Dia membawa sepucuk surat di tangan kanannya, melambai-lambaikan sepucuk surat itu di hadapan mereka. "Ini dari Putri Eugene."
Xavier tampak terkejut mendengar kalimat terakhir itu sehingga dia langsung berdiri. "Aku mengerti. Kau bisa menunggu di ruanganku, Jenderal Elias."
"Baik, Yang Mulia." Ucap Elias sebelum pergi meninggalkan ruangan Anna.
Xavier kembali menghadap ke arah Anna, menaruh cangkir tehnya di atas meja. "Baiklah, mungkin kau belum tahu apa yang kau inginkan sekarang. Jika nanti kau sudah menemukan apa yang kau inginkan, segera katakan padaku. Aku akan berusaha untuk mengabulkannya. Sekarang, istirahatlah terlebih dahulu." Kata Xavier pada Anna, kemudian pergi menyusul Elias.
Anna memastikan Xavier sudah benar-benar pergi. Dia sangat ingin mengetahui isi surat dari Putri Eugene. Dia menduga Sang Putri memberitahukan kondisinya dan kondisi Kerajaan Westeria saat ini sesuai dengan apa yang Anna dengar dari Leon. Jadi Anna diam-diam pergi menuju ruangan Xavier yang tak jauh dari kamarnya.
Sesampainya di sana, Anna dapat melihat di dalam ruangan itu telah berkumpul Xavier, Elias dan Pangeran Jeffrey. Putra Mahkota Xavier sedang membaca surat dari Putri Eugene sambil bersandar di birai jendela. Jenderal Elias dan Pangeran Jeffrey duduk diam sambil menunggu Xavier selesai membaca surat dari Putri Eugene.
"Ini tidak bagus. Tidak. Ini sangat buruk." Kata Xavier setelah membaca isi surat tersebut. Dia menghela napas berat, mengerutkan keningnya, memejamkan matanya dan tampak berpikir keras.
"Apa yang dituliskan oleh Putri Eugene hingga membuatmu tampak frustasi seperti itu, Yang Mulia?" Tanya Elias. Dia turut mengerutkan dahinya melihat Xavier yang tampak pusing.
Tapi Xavier tidak segera menjawabnya. Dia menatap Jenderal Elias kemudian menatap Pangeran Jeffrey secara bergantian.
"Putri Eugene baik-baik saja di tempat persembunyiannya." Kata Xavier. Yang langsung saja disambut napas lega dari Pangeran Jeffrey.
"Tempat persembunyian? Jadi Putri Eugene tidak sedang berada di Istana?" Tanya Elias.
"Lalu bagaimana dengan kondisi Ratu Elizabeth, Yang Mulia?" Tanya Pangeran Jeffrey.
"Sang Ratu dalam kondisi yang sangat sehat berkat ramuan yang dikirimkan secara rutin oleh Lady Eleanor. Tidak ada racun mana pun di dunia ini yang dapat membuatnya sakit." Jawab Xavier dengan penuh keyakinan.
"Kalau begitu sepertinya semuanya aman dan sehat. Lalu apa yang membuatmu begitu frustasi setelah membaca surat itu?" Tanya Elias.
Akhirnya Xavier memutuskan untuk menceritakan apa yang diketahuinya dari surat tersebut. Anna turut mendengarkan. Tapi dia sudah tahu semuanya dari cerita Leon sebelumnya. Isi surat Putri Eugene untuk Xavier kurang lebih sama. Sang Putri menceritakan tentang bagaimana Pangeran Yi ingin membalas dendam atas penolakan tersebut dan ingin membunuh Ratu Elizabeth dengan mengirimkan tabib palsu yang memberikan racun secara rutin pada Sang Ratu. Dari apa yang diketahui Putri Eugene, Pangeran Yi ingin menguasai Westeria dengan membunuh Ratu dan menikahi Putri Eugene.
"Jadi Ratu Elizabeth berpura-pura sekarat?" Tanya Elias lagi.
"Benar. Kita juga tahu betapa cerdasnya Sang Ratu, itulah sebabnya dirinya yang diangkat menjadi Ratu, bukan saudari tirinya sekaligus Ibu dari Putri Eugene. Ratu Elizabeth tahu bahwa jika Pangeran Yi mengetahui kondisi kesehatannya, maka Pangeran Yi akan segera menjalankan rencananya berikutnya. Ratu Elizabeth sengaja melakukannya karena ingin membongkar rencana Pangeran Yi."
"Berarti setelah ini Pangeran Yi akan mencari Putri Eugene, memaksanya untuk menikahinya dan menyatakan diri sebagai Raja Westeria?" Tanya Pangeran Jeffrey.
"Benar."
"Maaf, aku tidak mengerti." Kata Elias, masih dengan kening yang berkerut. "Tapi seperti yang kita semua ketahui sekarang, Sang Ratu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Jadi rencana Pangeran Yi pasti akan gagal, bukan?"
"Itu juga benar." Kata Xavier, kemudian melanjutkan. "Tapi itu berarti Pihak Orient memang telah berniat untuk mengambil alih Westeria. Dimulai dari tabib yang dikirimkan oleh pihak Orient yang ternyata meracuni Ratu, kemudian Pangeran Yi melamar Putri Eugene dengan tujuan menjadi Raja Westeria. Mereka sudah merencanakan ini sejak lama. Aku tidak tahu apakah Kaisar Orient mengetahui hal ini atau tidak, tapi sepengetahuanku, Pangeran Yi memiliki pasukan yang besar. Jumlah pengikut setia Pangeran Yi bahkan lebih banyak dari pengikut Putra Mahkota Orient. Dia memiliki kekuatan politik dan militer paling besar di Kekaisaran Orient. Dan jika dia tahu rencananya gagal, dia mungkin akan melancarkan serangan terbuka pada Westeria. Dan saat itu terjadi, Kita sebagai sekutu Westeria harus membantu dan turut serta dalam peperangan itu. Kita baru saja mengambil alih Schiereiland dan melakukan banyak penataan ulang terhadap wilayah-wilayah di Schiereiland yang menghabiskan banyak biaya sehingga anggaran untuk perang tidak akan cukup. Kita belum siap untuk perang."
"Dan kau tidak akan menjadikan seluruh rakyat Schiereiland sebagai prajurit dadakan. Kau tidak mau mengorbankan mereka untuk mati terlebih dahulu." Elias menyimpulkan.
"Itu tidak akan pernah terjadi. Rakyat Schiereiland tidak akan dikorbankan." Ucap Xavier. Jelas sekali terlihat menahan amarah. "Jangan pernah mengatakan hal itu lagi."
Setelah mendengar penjelasan itu, tidak satu pun dari mereka bertiga angkat bicara. Anna pun ikut terdiam dan berpikir. Jika perang benar-benar terjadi antara Orient dan Westeria, dan Nordhalbinsel sebagai sekutu harus turut membantu dalam perang tersebut, maka mungkin banyak diantara orang-orang Schiereiland yang akan dijadikan tentara tambahan. Bahkan meski Xavier sudah berkata seperti itu, bukan tak mungkin Raja Vlad memiliki pendapat yang berbeda dengan putranya. Bukan Xavier yang berhak menentukan tentang nasib rakyatnya, melainkan Sang Raja.
Itu artinya banyak diantara rakyatnya yang akan turut menderita akibat perang tersebut, jika perang memang akan terjadi. Anna tidak dapat membayangkan pertumpahan darah lainnya setelah kematian Ayahnya. Tapi di saat yang sama, Anna tidak dapat melakukan apa pun. Anna merasa sangat frustasi akan dirinya yang tak berdaya. Apabila Anna ikut serta dalam perang sekalipun, dia tidak yakin akan banyak membantu. Dia juga tidak ingin Leon ikut serta dalam hal semacam ini, yang mana pasti akan dilakukannya jika tahu Anna ikut dalam perang. Leon akan membahayakan dirinya sendiri untuk Anna dan itu adalah hal yang paling tidak Anna inginkan.
"Yang Mulia, bolehkah saya bertanya sesuatu?" Tanya Pangeran Jeffrey, memecahkan keheningan.
"Apabila seorang anggota keluarga kerajaan dari Nordhalbinsel menikahi Putri Eugene, apakah itu bisa membuat Westeria menjadi kerajaan yang lebih kuat dari Orient dan mencegah pecahnya perang antara Westeria dengan Orient? Bukankah jika Putri Eugene menikah dengan anggota keluarga kerajaan Nordhalbinsel maka Pangeran Yi takkan bisa memaksa Sang Putri untuk menikah dengannya?"
Anna dapat melihat Xavier tampak terkejut sekaligus takjub mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut adiknya yang pendiam dan pemikir itu. "Kau benar, Pangeran. Ada cara seperti itu. Itu akan menjadi alasan yang sangat kuat bagi Putri Eugene untuk menolak pernikahan dengan Pangeran Yi."
"Tunggu dulu. Xavier--maaf, maksudku, Yang Mulia, kau tidak bermaksud untuk membatalkan pertunangan dengan saudariku dan menikahi Putri Eugene bukan?" Tanya Elias. Meski Anna tidak dapat melihatnya dengan jelas, tapi dari nada bicaranya Anna tahu Elias sedang menahan amarah.
"Tenanglah Jenderal Elias. Kau sendiri tahu aku sangat menyayangi saudarimu. Aku tidak akan membatalkan pertunangan kami dengan alasan apa pun."
"Lalu kau akan menikahi keduanya? Hukum Nordhalbinsel memang tidak membatasi pernikahan Raja maupun Calon Raja dengan wanita mana pun dan berapa pun jumlahnya, tapi--"
"Aku tidak akan menikahi Putri Eugene jika itu maksudmu." Kata Xavier dengan tenang. "Raja Vlad memang memiliki banyak pasangan, tapi aku tidak akan melakukan hal yang sama jika itu akan menyakiti perasaan saudarimu." Jawaban itu saja sudah membuat Elias lebih tenang. Xavier melanjutkan kata-katanya, "Tapi berkat hal itu, Raja memiliki banyak putra. Kau harusnya ingat bahwa termasuk diriku, ada dua puluh tiga putra Raja dan sembilan diantaranya sudah memasuki usia menikah."
"Ah, begitu rupanya. Maafkan atas kelancanganku, Yang Mulia." Kata Elias.
"Pangeran Ludwig yang merupakan Putra tertua Permaisuri Selena sekaligus Putra kedua dari Raja sudah memiliki tunangan juga. Jadi aku tidak dapat memintanya menikahi Putri Eugene. Bagaimana denganmu, Pangeran Jeffrey? Kau adalah putra Raja yang ketiga. Usiamu sudah dua puluh tahun dan sepengetahuanku, kau belum memiliki tunangan."
"Benar, Yang Mulia. Jika diizinkan, saya yang akan pergi ke Westeria untuk meminang langsung Putri Eugene. Dan juga jika diizinkan, jika Putri Eugene menghendakinya, saya akan segera menikahinya secepatnya."
Xavier tersenyum mendengarnya, dia merasa sedikit tenang dengan perkataan adiknya itu. Tapi dia bertanya untuk memastikan. "Apa kau sudah yakin dengan ucapanmu barusan, Pangeran? Pernikahan politik adalah kewajiban bagi para putra Raja dan kau tidak dapat menikahi wanita lain jika kau menikahi seorang Calon Ratu."
"Saya sangat yakin dengan perkataan saya, Yang Mulia. Sebenarnya, saya sudah cukup lama mengagumi Putri Eugene dari apa yang sering Yang Mulia ceritakan pada saya. Meski saya sendiri belum pernah bertemu dengannya langsung, tapi saya tahu dari apa yang diceritakan oleh Yang Mulia bahwa Sang Putri adalah sosok yang bijaksana, cerdas, berani dan mandiri meski usianya masih sangat muda. Wanita seperti itulah yang selama ini saya inginkan menjadi pasangan hidup saya. Saya hanya mengkhawatirkan jikalau Putri Eugene sudah memiliki seseorang di hatinya. Tapi jika memang benar begitu, saya tidak akan memaksakan pernikahan ini."
"Putri Eugene memang sudah memiliki seseorang di hatinya, Pangeran. Itulah salah satu alasan beliau menolak lamaran Pangeran Yi."
"Be-benarkah?" Dari suaranya, Anna tahu bahwa Pangeran Jeffrey pasti sangat terkejut sekaligus kecewa mendengar perkataan itu dari kakaknya. Anna merasakan keterkejutan yang sama dengan Sang Pangeran.
"Benar. Sang Putri sering menyebutkan tentang pria yang dia sukai itu di surat-suratnya untukku. Dia seringkali menanyakan apa yang sedang dilakukannya dan bagaimana kabarnya tapi Sang Putri masih terlalu malu untuk menanyakannya secara langsung kepada orang tersebut. Jadi Sang Putri memintaku menceritakan tentang dirinya pada orang tersebut." Xavier tersenyum melihat wajah bingung adiknya. "Orang itu adalah kau, Pangeran Jeffrey. Itulah sebabnya aku sering menceritakan tentang Putri Eugene padamu. Putri Eugene sudah lama menyukaimu diam-diam dan dia pasti tidak akan menolakmu jika kau melamarnya. Kalian sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk satu sama lain."
Anna ikut tersenyum bahagia mendengarnya. Biasanya Anna tidak suka dengan pernikahan politik yang wajib dilakukan oleh para putra dan putri Raja untuk kepentingan Kerajaan. Seperti halnya pernikahan politik yang harus Anna lakukan sebelumnya dengan Duke Francis yang ternyata tidak berjalan mulus. Anna bersyukur belum menikahi Sang Duke karena ternyata pria itu sudah mencintai wanita lain. Pernikahan politik biasanya tidak berjalan dengan baik karena itu adalah sesuatu yang dipaksakan demi keuntungan politik semata. Tapi mendengar perkataan Xavier tentang bagaimana Putri Eugene diam-diam menyukai Pangeran Jeffrey dan menanyakan kabarnya lewat Xavier membuat Anna merasa yakin pernikahan politik Sang Putri dan Pangeran akan menjadi pernikahan yang bahagia.
Anna pun akhirnya diam-diam pergi menjauh dari ruangan itu. Berita bahagia itu sudah cukup baginya. Dan dia mulai merasa lelah dan mengantuk. Penyelesaian masalah dengan pernikahan kerajaan yang akan diadakan antara Putri Eugene dengan Pangeran Jeffrey telah membuatnya merasa bisa tidur dengan tenang.
***
Setelah kepergian Anna, pembicaraan di ruangan itu masih berlanjut. Xavier meminta Pangeran Jeffrey untuk menuliskan surat kepada Raja Vlad mengenai rencananya menikahi Putri Eugene. Meski Xavier tahu ayahnya tidak akan menentang pernikahan itu karena pada dasarnya pernikahan politik dengan pihak sekutu akan menguntungkan Kerajaan dan mempererat hubungan baik dengan Westeria, Tapi Xavier ingin Sang Raja mengetahui tentang hal ini. Pangeran Jeffrey segera menuruti perkataan kakaknya dan pergi ke kamarnya untuk menuliskan surat serta bersiap berangkat menuju Westeria dengan pasukannya.
Kini di ruangan itu hanya ada Xavier dan Elias. Elias baru akan mengatakan sesuatu, tapi Xavier mengisyaratkan padanya untuk menahan apapun yang ingin dikatakannya. Xavier hanya berdiri diam sambil memejamkan matanya dan memegang jantungnya yang sejak tadi berdetak kencang. Lalu dia menghembuskan napas lega saat detak jantungnya sudah kembali normal.
"Kau sakit? Apa jantung Naga membakarmu dari dalam? Atau kau akan berubah menjadi naga lagi sekarang? Jangan katakan kau akan segera mati."
Xavier tidak dapat menjawabnya. Dia hanya menggeleng sambil menahan sakit.
"Lalu apa? Katakan sesuatu."
"Sejak tadi jantungku berdetak sangat kencang sampai kupikir aku akan mati. Aku berusaha menahannya tadi karena ada Pangeran Jeffrey dan aku harus terlihat baik-baik saja di depannya. Kalau tidak, adikku itu akan sangat khawatir." Kata Xavier. Kini setelah membuka matanya, dia melihat raut wajah Elias yang terlihat sangat khawatir. Saat seperti itu, Elias benar-benar terlihat mirip dengan Eleanor hingga membuat Xavier hampir tertawa melihat kemiripan mereka yang luar biasa.
Xavier duduk di salah satu kursi dan menyandarkan punggungnya. "Belakangan ini selalu begitu setiap kali dia ada di sekitarku. Tapi sepertinya dia sekarang berada cukup jauh dariku jadi jantungku sudah berdetak secara normal kembali."
"Dia siapa maksudmu?" Tanya Elias, tapi kemudian buru-buru menjawabnya sendiri. "Oh, maksudmu Putri dari Schiereiland itu? Jadi sejak tadi dia mendengar pembicaraan kita? Syukurlah aku belum mengatakan sesuatu yang sangat rahasia."
"Benar. Maksudku adalah Anna. Dan itulah sebabnya aku memintamu untuk tidak mengatakan apa pun tadi. Aku harus memastikan Anna sudah benar-benar jauh dari sini." Kata Xavier.
"Ini tidak bagus. Kedepannya pun Anna akan selalu ada di dekatmu karena dia pengawal pribadimu. Haruskah aku menyerahkan gelarku dan kembali menjadi pengawal pribadimu lagi? Aku tidak akan keberatan. Menjadi Jenderal ternyata tidak terlalu menyenangkan. Aku memiliki banyak sekali tugas dan tanggung jawab yang besar. Belum lagi para serigala remaja itu benar-benar menyusahkan."
"Tidak. Kita harus tetap pada rencana. Jadi apa yang tadi mau kau katakan?"
"Elle mengirimkan surat." Kata Elias sambil mengeluarkan gulungan kertas yang sejak tadi disembunyikannya. "Aku sudah membacanya, aku tahu kau tidak akan keberatan. Dan dia sepertinya marah karena kau mengambil Pena Grimoire meski sebenarnya secara teknis aku yang mengambilnya atas perintahmu. Tapi selain itu, dia seperti biasa, menanyakan kondisimu, dan ada berita menarik yang sudah sangat kau tunggu-tunggu. Kau sebaiknya membacanya sendiri."
Xavier menatap Elias dengan tatapan galak. "Kenapa kau terus membaca surat-surat kami? Kau mungkin lupa tapi aku masih atasanmu karena aku adalah Putra dari Raja yang kau layani. Dan Elle, biarpun ini hanya formalitas, dia tetap tunanganku. Tidakkah kau seharusnya memberi kami sedikit privasi?"
"Tapi Elle adalah saudari kembarku. Kau mengatakan itu seolah Elle akan menuliskan surat yang bersifat pribadi untukmu. Konyol sekali." Elias tertawa sinis. Tentu saja dia sudah tahu hubungan sesungguhnya antara saudari kembarnya dengan Xavier. Dia pun menambahkan, "Dan juga, aku tiga tahun lebih tua darimu. Tidakkah kau berpikir untuk mulai memperlakukanku sebagai kakak iparmu?"
"Tidak, terima kasih. Lagi pula kau lebih muda beberapa menit dari Elle. Kau seharusnya jadi adik iparku."
"Aku lebih tua tiga tahun darimu, Xavier."
"Baiklah, kau tidak perlu memperlakukanku seperti atasanmu. Jadi aku juga tidak perlu memperlakukanmu seperti orang yang lebih tua tiga tahun dariku. Kau boleh membaca surat-surat itu selama itu bukan surat yang bersifat pribadi."
"Setuju. Memangnya ada surat yang bersifat pribadi di antara kalian?" Dia tertawa. Tapi kemudian tawanya itu memudar saat dia mencurigai sesuatu, "Tunggu, jangan bilang kau—“
"Tidak. Bukan begitu. Sudah kubilang aku tidak mengharapkan apapun darinya. Tidak ada apa pun di antara kami. Elle berhak bahagia dengan pria yang dipilihnya meski itu bukan aku. Kau tahu sendiri itu alasanku menunda pernikahan kami selama tiga tahun terakhir."
"Tapi Elle mengatakan di surat itu bahwa kau boleh melanjutkan rencanamu." Elias tersenyum lebar saat mengatakannya. "Segera umumkan pernikahan kalian, Xavier. Elle sudah menemukan 'dia'." Kata-katanya itu membuat Xavier terkejut.
"Jadi, maksudmu, Elle sudah menemukan Sang Singa dari Selatan? Kalau begitu rencana kita berjalan dengan sempurna. Kita hanya perlu kembali ke Istana, membiarkan Anna menyelamatkan Ratu Isabella dan Putra Mahkota Alexis, dan saat itu, pasti Leon akan muncul dengan sendirinya." Kata Xavier. Saat mengucapkan itu, dia tersenyum puas dan mata Emeraldnya tampak berkilat tajam dalam cahaya temaram.
***