The Rose That Blooms In North

The Rose That Blooms In North
Chapter 30 : La Winterthur



Mereka berkuda cukup lama, tapi tidak ke arah Istana. Ada sebuah tempat yang hanya diketahui oleh Xavier, Eleanor dan Elias. Tempat itu adalah Bukit Cahaya yang letaknya tidak jauh dari kediaman Winterthur. Dinamakan seperti itu, karena dari ketinggian Bukit itu, mereka dapat melihat hamparan luas pemukiman penduduk yang dipenuhi cahaya penerangan dari masing-masing rumah dan saat melihat ke atas, langit yang penuh bintang terasa sangat dekat dengan mereka, seolah mereka bisa mengambil cahaya bintang-bintang itu dari langit.


Saat mereka bertiga masih kecil, dan saat Xavier terlalu takut untuk pulang ke Istana karena Permaisuri Selena mungkin akan melakukan hal buruk padanya lagi, dia akan pergi ke Bukit Cahaya bersama Eleanor dan Elias. Tempat itu adalah tempat yang mereka tuju saat mereka membutuhkan pelarian dari kehidupan mereka. Seorang anak laki-laki yang memiliki ibu tiri yang kejam dan memegang tanggung jawab sebagai penerus takhta, dan sepasang saudara kembar yang berjanji untuk menemani dan melindunginya apa pun yang terjadi di masa depan yang juga menyimpan rahasia kelam keluarga mereka. Mereka bertiga membentuk ikatan persahabatan sejak bertahun-tahun yang lalu di Bukit Cahaya.


“Ini cincinmu. Aku sudah mempelajarinya." Kata Eleanor, memecah keheningan. Dia mengeluarkan cincin dengan permata Ruby dari kantung gaunnya. "Aku tidak tahu dari mana kau mendapatkannya, tapi ini adalah salah satu media sihir yang sangat kuat. Jadi kau bisa mengeluarkan inti jantung Naga dan memasukkannya ke cincin ini dengan sihirku. Tapi risikonya, jika cincinnya jauh darimu, kau tidak akan bisa bertahan hidup. Dan jika cincinnya jatuh, kau juga akan merasa sakit yang sama. Jika cincin ini dihancurkan kau mungkin akan...”


Eleanor tidak sanggup melanjutkan perkataannya, tapi Xavier tahu apa yang akan dikatakannya.


"Mati. Benar kan?"


Eleanor mengangguk. "Jangan lakukan ini, Xavier. Terlalu berisiko." Tatapan Eleanor memohon.


Xavier mengambil cincin itu dari tangan Eleanor dan mengamatinya. “Aku harus melakukannya. Mungkin dengan ini aku bisa menyelamatkannya. Kau bisa membantuku untuk memindahkannya?”


Eleanor terdiam. Dia ingin menolak permintaan Xavier, tapi dirinya sudah berjanji akan membantunya dan melakukan semua permintaannya. Perjanjian yang telah bertahun-tahun mereka lakukan itu lah yang mengikatnya. Perjanjian Grimoire.


"Elle? Kumohon..."


“Ya. Aku bisa." Jawab Eleanor dengan enggan. "Setelah ini, kita jangan langsung pergi ke Istana. Kita pergi ke rumahku. Disana ada banyak peralatan sihirku yang belum aku pindahkan ke Istana. Harus di sana. Jangan di Istana.”


"Terima kasih banyak."


"Aku yang harusnya berterima kasih padamu. Aku tahu semua yang kau lakukan hingga saat ini, semuanya adalah untukku dan keluargaku."


"Dan soal kejadian di rumah kaca itu... Maafkan aku, Elle. Aku benar-benar menyesal telah berbicara sekejam itu padamu. Tentu saja kau tidak tahu karena aku tidak menceritakan apa pun padamu."


"Tidak apa-apa. Aku sudah mengerti sekarang." Kata Eleanor sambil tersenyum tulus.


"Apa?"


"Saat tadi kau mematahkan tangan Dylan dan hampir membunuhnya, meski aku tahu kau melakukan itu untukku, untuk membelaku, tapi aku tetap tidak bisa membiarkanmu melakukan hal itu. Aku tidak mau kau menyakitinya. Aku menyadari saat itu bahwa itu juga hal yang kau rasakan saat aku membuat Anna kembali merasakan trauma psikologisnya dengan mendatangkan hujan."


"Aku tidak bermaksud—“


"Xavier, kau mencintainya."


"Bukan begitu. Itu karena jantung Naga Api Agung—“


"Dan kau lah Naga Api Agung itu. Kau selalu mengatakan hal itu seolah kau dan Naga Api Agung adalah dua orang yang berbeda. Kau adalah Naga Api Agung yang terlahir kembali." Kata Eleanor sambil menatap Xavier dengan penasaran. Ada terlalu banyak hal yang tidak diceritakan Xavier pada Eleanor. Meski awalnya gadis itu tidak mempermasalahkannya karena walaupun bertunangan, mereka ingin menjaga privasi masing-masing. Tapi kini Eleanor ingin mengetahui semuanya agar kelak dia tidak melakukan kesalahan yang sama. "Kalau begitu, ini hanya dugaanku saja, apa benar Putri Anastasia adalah Ratu Agung Zhera yang terlahir kembali?"


Xavier tertawa. Dirinya tidak pernah bisa benar-benar menyembunyikan rahasia dari Eleanor. "Kau memang gadis terpintar di Nordhalbinsel."


Pupil mata Eleanor melebar, terkejut bahwa asumsinya selama ini benar. Eleanor memang sudah menduganya sejak awal dia memperhatikan Xavier yang memandang Anna dengan cara yang berbeda. Dengan tatapan yang belum pernah dilihatnya dilakukan kepada orang lain selain Anna. Xavier mungkin tidak menyadari itu, mungkin juga tidak ada yang menyadari itu, tapi Eleanor tahu.


"Benarkah itu? Jadi aku benar? Anna, yang ternyata adalah Putri Anastasia, adalah Ratu Agung Zhera yang terlahir kembali? Astaga. Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Kenapa kau menyembunyikan banyak hal dariku? Bagaimana kondisinya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Astaga aku telah melakukan dosa besar. Para Dewa pasti akan mengutukku."


"Sekarang kau terdengar seperti Elias." Xavier tertawa. "Tenang lah. Dia baik-baik saja. Dokter bilang dia demam tinggi, tapi sudah diobati." Xavier terdiam sebentar, mengingat wajah Anna yang terbaring di atas kasur tidak sadarkan diri. Saat itu dia benar-benar panik karena wajah Anna sangat pucat dan tubuhnya terasa sangat dingin seperti mayat. Tapi setelah dokter mengatakan bahwa Anna baik-baik saja, semua rasa kalutnya hilang. Xavier tidak tahu dirinya bisa secemas itu terhadap seseorang yang tidak benar-benar dia kenal.


"Maaf tidak memberitahumu. Aku tidak mau kau terlibat dalam hal ini." Kata Xavier, menjawab pertanyaan Eleanor sebelumnya.


"Apa maksudmu? Aku kan memang sudah terlibat sejak awal kau melakukan perjanjian itu denganku dua belas tahun yang lalu. Ah, aku lupa memberitahumu. Aku menghapus sebagian ingatan Putri Anastasia tentang malam ini. Tapi aku tidak terlalu yakin sihirku cukup kuat untuk bisa mempan padanya sekarang setelah aku mengetahui bahwa dia adalah Ratu Agung Zhera."


"Sihirmu bisa tidak mempan padanya?"


"Menurut legenda yang kuketahui, Ratu Agung Zhera memiliki kekuatan suci yang sangat besar karena ibunya adalah Dewi Langit. Memang tidak banyak manuskrip tua yang menyebutkan tentang hal itu, tapi aku meyakini hal itu. Itulah sebabnya keempat Naga—termasuk kau—sampai turun dari langit untuk membantunya saat dia mengalami kesulitan. Sihir pun tidak mempan terhadap Ratu Agung Zhera. Kecuali jika kekuatan suci itu belum sepenuhnya terbangun dalam tubuhnya."


"Entah lah. Kurasa sebagian kekuatan suci itu sudah ada."


"Dari mana kau tahu?"


"Bekas luka di seluruh tubuhku sudah hilang sekarang seolah tidak pernah ada sebelumnya."


"Apa? Kapan dia—oh... aku mengerti." Eleanor tertawa senang melihat Xavier berusaha menyembunyikan ekspresinya yang sedang malu. "Aku bertahun-tahun mempelajari ramuan dan sihir yang dapat menghilangkan bekas luka tapi tidak pernah berhasil. Dan Putri Anastasia melakukannya dengan mudah hanya dengan satu ciuman. Sangat mengesankan. Inilah kekuatan cinta Sang Ratu Agung."


"Hentikan. Aku tidak bermaksud melakukannya di hadapanmu." Wajah Xavier memerah.


"Kau jelas sengaja. Tenang lah. Sebagai tunanganmu maupun sebagai temanmu, aku tidak cemburu kalau itu yang kau khawatirkan." Canda Eleanor.


"Aku tahu. Aku tidak mengkhawatirkanmu."


Eleanor tersenyum bangga. Dia merasa seperti seorang kakak yang telah berhasil membesarkan adik laki-lakinya dengan baik. Perasaannya kini sudah jauh lebih baik meski hubungannya dengan cintanya baru saja berakhir.


"Akhirnya kau menemukannya. Seseorang yang dapat mencairkan tembok es raksasa di hatimu yang sudah kau bangun sejak kecil." Eleanor tersenyum pada Xavier. "Kau ingat? Dulu waktu kita masih kecil, kau mengatakan tidak akan jatuh cinta pada siapa pun. Karena ayahmu yang semudah itu beralih hati dari satu wanita ke wanita lainnya. Dan kau bilang aku adalah pasangan yang tepat karena kita memiliki tujuan yang sama, dan sama-sama bertekad untuk tidak pernah jatuh cinta. Saat aku mulai beranjak dewasa dan mengatakan bahwa aku mencintai seseorang pun, kau tetap dengan tekadmu itu untuk tidak mencintai siapa pun." Kenangnya.


"Wah, ingatanmu benar-benar luar biasa."


"Xavier, kau adalah pria yang baik. Kau hanya takut suatu saat kau menjadi seorang pria seperti ayahmu dan menyakiti hati wanita yang kau cintai. Kau tidak perlu merasa takut lagi, Xavier. Kau hanya perlu mencintainya tanpa rasa takut atau menyesal untuk selamanya."


"Apa kau tidak menyesal telah mencintai Dylan walaupun dia membenci klan Grimoire?"


"Tidak. Aku tidak menyesal sama sekali. Aku mencintainya, dan itu adalah hal yang terpenting terlepas dari bagaimana perasaannya padaku setelah mengetahui yang sebenarnya." Kata Eleanor. Xavier tampak merenung dalam diam mendengar perkataan Eleanor. Mereka sudah bertahun-tahun bersama, jadi Eleanor sudah tahu apa yang ada di pikiran Xavier bahkan tanpa dikatakannya langsung. Eleanor menepuk pundak Xavier. "Kau tidak perlu khawatir. Aku akan melakukan apa pun untuk melindungi Putri Anastasia dari Selena dan dari siapa pun yang berniat menyakitinya. Karena dia adalah orang yang paling berharga bagimu, dan itu berarti bagi kita semua."


Xavier tersenyum. Eleanor sudah dia anggap sebagai saudari perempuan yang tidak pernah bisa dia miliki. Dia sangat bersyukur memiliki teman seperti Eleanor di saat seperti ini. "Terima kasih banyak, Elle. Tapi melindunginya adalah tugasku. Kau seharusnya lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri. Jangan pergi keluar Istana sendirian seperti tadi. Terlalu berbahaya. Setidaknya ajaklah Elias."


Eleanor menghela napas saat Xavier mulai mengomelinya. "Tapi ini adalah malamnya para Serigala. Ini saatnya dia berburu. Kau tahu sendiri para Serigala paling tidak suka diganggu saat sedang berburu."


"Ah, benar. Aku tadi meninggalkannya di Istana karena terburu-buru mencarimu."


Eleanor bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Xavier. "Dia mungkin ada di rumah sekarang. Ayo kita ke rumahku dan memulai pemindahan inti jantung Naga Api ke cincin itu."


Xavier baru saja akan berdiri, tapi Eleanor tiba-tiba jatuh terduduk kembali.


"Elle? Kau kenapa?"


Eleanor hanya terdiam sambil memejamkan matanya dan menutupi mulutnya seperti menahan sesuatu keluar dari mulutnya, "Aku tidak tahu. Sejak tadi pagi sebenarnya aku merasa kurang sehat."


"Sepertinya aku sudah sangat hati-hati soal itu. Mungkin bukan racun."


"Kalau begitu haruskah kita tunda—“


"Tidak. Kita tidak perlu menundanya. Aku tidak benar-benar sakit. Mungkin hanya sedikit kelelahan. Akan segera pulih dengan ramuan yang sudah kubuat di rumah. Ayo kita segera ke rumahku."


***


Dua belas tahun yang lalu...


Kediaman Winterthur bukanlah rumah biasa. Rumah itu terlalu besar untuk disebut sebagai rumah, lebih mirip seperti Istana. Bahkan Istana pun akan malu menyebut dirinya sendiri sebagai Istana jika melihat betapa megahnya kediaman Winterthur.


Di dalamnya hanya dihuni oleh Grand Duke Winterthur dan istrinya, Lilithier Winterthur beserta dua anak mereka, Si Kembar Winterthur, Eleanor dan Elias. Pagi itu, rumah mereka bahkan tampak lebih megah lagi dari biasanya. Sejak jauh-jauh hari, seluruh atap diperbaiki. Seluruh kertas dinding diperbarui. Semua lantai dan jendela di gosok hingga benar-benar mengkilap. Mereka bahkan membeli gorden baru dengan warna biru es yang merupakan warna khas Klan Winterthur. Seluruh pelayan yang jumlahnya puluhan juga sudah sibuk sejak dini hari, berlalu lalang memastikan seluruh sudut rumah mereka sudah bersih dan rapi. Memastikan makanan sudah siap saji dan tidak ada yang kurang. Para pengawal dan prajurit yang dipimpin langsung oleh Grand Duke Winterthur sudah berbaris rapih sejak pagi-pagi sekali. Bendera Kerajaan Nordhalbinsel dikibarkan di depan rumah. Pagi itu, mereka semua bersiap menyambut kehadiran Putra Mahkota Nordhalbinsel yang akan datang untuk kunjungan pertamanya ke kediaman mereka.


Seluruh hidup Eleanor Winterthur, sejak dirinya dilahirkan, adalah untuk mempersiapkan hari ini. Hari dimana dia akan bertemu dengan calon tunangannya yang usianya tiga tahun lebih muda darinya. Karena setelah pertunangan mereka diadakan, dirinya tidak akan lagi disebut sebagai Putri dari Grand Duke Winterthur, melainkan Putri Mahkota Nordhalbinsel. Berbeda dengan tradisi sebelumnya dimana seorang gadis baru akan disebut sebagai Putri Mahkota setelah menikah dengan Putra Mahkota, Eleanor akan menjadi Putri Mahkota setelah pertunangan mereka diresmikan. Itu karena wasiat dari mendiang Ratu. Eleanor Winterthur sudah mempersiapkan segalanya untuk hari ini. Sebagai Putri dari Grand Duke sekaligus Jenderal yang menjaga perbatasan wilayah utara Nordhalbinsel, dirinya diwajibkan mempelajari ilmu strategi perang dan dasar-dasar dari ilmu berpedang. Sebagai Putri dari seorang Grimoire, dan calon penyihir kerajaan, dirinya harus mempelajari ilmu sihir dan belajar di Menara sejak kecil. Sedangkan sebagai calon Putri Mahkota, dirinya sudah dibekali pelajaran Putri Mahkota, pelajaran Tata Krama Kerajaan, sampai ilmu ketatanegaraan dan politik kerajaan yang sudah mulai dipelajarinya semenjak dia mulai bisa berbicara. Seluruh hidupnya adalah untuk belajar dan mempersiapkan diri agar kelak dapat menjadi pasangan yang sempurna untuk Putra Mahkota yang kelak akan menjadi Raja Nordhalbinsel. Tidak ada waktu baginya untuk bermain-main seperti kebanyakan anak seusianya.


Terkadang Eleanor merasa iri pada saudara kembarnya, Elias. Anak laki-laki itu tampak lebih bebas darinya. Dirinya tidak dibebani keharusan untuk menjadi sempurna. Meski tetap saja, Elias pun sudah diharuskan untuk belajar menjadi penerus Grand Duke sejak kecil dan diberikan pelajaran ilmu berpedang sejak dirinya mulai bisa berdiri. Sebenarnya, keduanya sama saja. Mereka sama-sama memiliki masa depan yang sudah ditentukan sejak hari mereka dilahirkan dan tidak dapat memiliki kehidupan yang normal seperti anak-anak lainnya.


Anak laki-laki itu berdiri di hadapannya. Menatap Eleanor dengan pandangan yang penuh penilaian, seolah sedang memastikan apa Eleanor sudah cukup pantas untuk menjadi pendampingnya kelak. Rambut hitamnya segelap malam dan matanya berwarna emerald, persis seperti apa yang sering didengarnya dari orang-orang yang sudah pernah melihat Sang Putra Mahkota secara langsung. Mata Emerald itu adalah mata paling indah yang pernah Eleanor lihat. Seperti permata yang sangat mahal harganya.


Setelah seluruh rangkaian acara yang penuh formalitas dalam penyambutan kedatangan Putra Mahkota, perkenalan antara Putra Mahkota Xavier dengan seluruh anggota keluarga Winterthur yang lebih mirip seperti sebuah upacara, kini mereka hanya bertiga di ruang kerja Grand Duke. Sang Putra Mahkota yang usianya masih sebelas tahun itu meminta pertemuan privasi antara dirinya dengan calon tunangannya dan semua orang menurutinya.


"Jadi kau yang akan menjadi tunanganku?" Tanya Xavier.


"Benar, Yang Mulia." Jawab Eleanor, sebisa mungkin menjaga suaranya terdengar tetap rendah hati namun anggun.


"Kau hanya seorang gadis kecil rupanya."


Elias yang sejak tadi diam di ruangan itu dan menolak untuk pergi meninggalkan Eleanor, maju saat Sang Putra Mahkota tampak merendahkan saudari kembarnya. "Jaga bicaramu. Kami tiga tahun lebih tua darimu. Lagi pula kau juga masih anak-anak." Ujar Elias penuh emosi. Sejak awal, bahkan sebelum pertemuan pertama mereka, dirinya tidak menyukai Putra Mahkota yang dispesialkan oleh semua orang.


"Siapa anak kecil ini?" Tanya Xavier kepada Eleanor, sepenuhnya mengabaikan perkataan Elias.


Elias yang merasa emosi karena anak yang lebih kecil darinya menganggapnya anak kecil, maju ke arah Xavier, tapi Eleanor segera menahannya. "Elias, ingat kata Ayah dan Ibu." Kata Eleanor pada Elias dengan suara sepelan bisikan. Perkataan Eleanor berhasil menahan Elias. Karena sebelumnya mereka sudah diperingatkan oleh kedua orang tua mereka untuk bersikap penuh hormat kepada Putra Mahkota dan bahwa Putra Mahkota lah alasan keluarga mereka masih hidup.


"Dia adalah saudara kembar saya, Elias Winterthur. Saya lebih tua tiga menit darinya, jadi saya adalah kakaknya. Mohon maafkan ketidaksopanan dia, Yang Mulia." Kata Eleanor.


"Ah, begitu rupanya. Jadi benar rumor yang kudengar bahwa calon Putri Mahkota memiliki saudara kembar." Kata Xavier sambil melirik ke arah Elias yang masih menahan emosinya. "Ini agak merepotkan. Padahal aku hanya ingin berbicara berdua dengan calon tunanganku."


"Apa pun yang akan kau katakan, katakan juga di depanku. Kami satu paket." Kata Elias.


Eleanor mengangguk setuju. Dirinya merasa membutuhkan Elias di sampingnya saat ini.


"Baiklah, tidak masalah." Xavier menghela napas, kemudian tersenyum sinis. "Lady Eleanor, aku ingin membuat perjanjian. Dan ini bukan perjanjian biasa. Aku tahu kau adalah seorang Grimoire. Perjanjian dengan seorang Grimoire adalah Perjanjian Tak Terlanggar. Kuharap kau sudah mempelajari tentang hal ini."


"Benar, Yang Mulia. Saya sudah mempelajari tentang Perjanjian Tak Terlanggar. Perjanjian yang sama yang pernah dibuat oleh mendiang Ratu Irene dengan Ibu kami, Lilithier Grimoire. Tapi saya harus mendengar dulu perjanjian apa yang ingin Anda buat?"


"Aku tahu kalian semua seharusnya sudah mati sebelas tahun yang lalu saat ayahku, Raja Vlad memberikan perintah eksekusi mati pada seluruh Klan Winterthur dan keturunannya. Tapi Raja akhirnya menyisakan Keluarga Wolfgang Winterthur karena perjanjian yang dibuat oleh Ratu Irene pada Grand Duchess Lilithier Grimoire-Winterthur. Grand Duchess telah berjanji akan menyerahkan anaknya untuk menjadi pasangan dari anak yang akan dilahirkan Ratu. Apabila anak yang lahir adalah seorang Putra Mahkota, maka anak perempuan Grand Duchess yang akan menjadi pasangannya. Apabila anak yang lahir adalah seorang Putri, maka anak laki-laki Grand Duchess yang akan menjadi pasangannya."


Eleanor terkejut karena Xavier mengetahui tentang isi perjanjian itu dengan sangat detail. Dia sendiri sudah mengetahui tentang perjanjian ibunya dengan Sang Ratu sejak kecil.


Eleanor berusaha agar keterkejutannya tidak terlihat, "Benar, Yang Mulia."


Xavier memperhatikan sikap Eleanor yang tetap tenang, dari sikap tenangnya itu lah Xavier bisa yakin bahwa Eleanor akan menjadi partner yang baik di kemudian  hari. Meski alasannya untuk datang ke sini karena dirinya memang sudah menyelidiki Putri dari Grand Duke itu dan meyakini bahwa gadis kecil itu sangat cerdas dan dia yakin bahwa Eleanor akan menerima perjanjian itu.


"Aku berjanji akan menjadikan Lady Eleanor Winterthur sebagai Ratu dan memastikan Keluarga Winterthur tidak akan dijatuhi hukuman mati. Sebagai gantinya, Kau..." Kemudian Xavier melirik ke arah Elias yang sejak tadi mendengarkan dalam diam karena sedang berusaha memahami situasi saat ini, "Ah tidak, karena kalian satu paket, jadi kalian, harus berjanji untuk menjadi satu-satunya orang yang hanya setia padaku dan tidak mengkhianatiku di kemudian hari. Berjanjilah untuk selalu membantuku dan menemaniku sampai akhir apa pun yang terjadi nanti."


Eleanor menimbang-nimbang sebelum benar-benar menyetujui perjanjian itu. Hal yang ditawarkan oleh Xavier sangat besar, yaitu menjadi Ratu, dan hal yang harus dia lakukan hanya sesederhana menjadi orang yang membantu dan menemaninya tanpa mengkhianatinya sama sekali. Jika dia menerima perjanjian itu, secara otomatis, janji ibunya terhadap Sang Ratu akan terpenuhi dan ibunya akan terhindar dari hukuman akibat pelanggaran janji yang mungkin terjadi.


"Bagaimana jika kami melanggar perjanjian itu?" Tanya Elias.


"Berdasarkan catatan kuno tentang Perjanjian Grimoire, kalian akan diberikan hukuman yang sangat berat." Kata Xavier.


"Hukuman apa? Mati?"


Xavier tertawa getir. "Bukan. Tentu bukan. Kematian bukanlah hukuman terberat. Kurasa Lady Eleanor sudah mengetahui hal itu."


Eleanor menatap Xavier dan Elias bergantian sebelum akhirnya bicara, "Aku memang pernah membacanya. Seorang Grimoire yang melanggar Perjanjian Grimoire akan mendapat hukuman Seribu Tahun Penderitaan."


"Tapi berbeda dengan leluhur kita, kita kan manusia biasa. Kita tidak hidup sampai seribu tahun." Sanggah Elias.


"Itulah hukumannya. Kita akan hidup abadi selama seribu tahun dan hidup menderita selama itu. Bahkan meski kita berusaha untuk membunuh diri kita sendiri, kita tidak akan mati tapi tetap merasakan sakit. Kita juga akan melihat orang-orang yang kita kenal mati lebih dulu hingga akhirnya tidak ada lagi orang yang kita kenal. Hukuman itu juga akan membuat tubuh kita kesakitan, mimpi buruk setiap kita menutup mata, dan tidak pernah merasa bahagia. Seperti itulah hukuman yang akan kita dapatkan."


Elias bergidik mendengar penjelasan itu dari Eleanor. "Kenapa mengerikan sekali? Lalu hukuman apa yang akan dia dapatkan?"


"Tidak ada."


"Apa?"


"Pada dasarnya, Perjanjian Grimoire hanya untuk Klan Grimoire. Kita yang menjanjikan. Jadi kita yang mendapat hukuman jika melanggarnya. Sementara itu, pihak yang kita janjikan, hanya menawarkan balasan yang akan kita terima jika kita berhasil memenuhi janji itu. Jadi tidak ada hukuman apa pun untuknya."


"Itu tidak adil." Kata Elias. Tapi Eleanor tidak berpikir begitu. Gadis kecil itu berpikir inilah kesempatan emas yang mungkin takkan bisa dia dapatkan lagi. Untuk menyelamatkan keluarganya dan menjadi Ratu sehingga tidak akan ada lagi yang dapat menyentuh keluarganya.


"Kalau begitu kalian akan menolaknya?" Tanya Xavier. Tapi tatapannya hanya berfokus pada Eleanor. Karena anak laki-laki itu tahu bahwa Eleanor lah yang menjadi pengambil keputusan di antara mereka berdua.


"Tidak." Jawab Eleanor.


"Tidak?" Elias terperangah, tak pernah menyangka saudari kembarnya menyetujui perjanjian yang diajukan Putra Mahkota.


Eleanor menatap dua bola mata emerald itu dengan serius. Tanpa berkedip sedikit pun, dia berkata dengan sungguh-sungguh, "Kami akan menerima isi perjanjian itu."


***