
Malam itu mereka menghabiskan waktu dengan membakar rusa hasil buruan para prajurit. Meski sempat merasa takut pada badai salju yang mungkin datang malam itu, tapi setelah Putra Mahkota menjelaskan kepada mereka terkait perhitungannya, tak satu pun dari mereka yang merasa ragu. Mereka semua mempercayai perkataan Putra Mahkota. Dan benar saja, mereka melewati malam itu tanpa adanya badai salju.
Para prajurit saling bergantian untuk berjaga dan berpatroli ke sekitar tenda mereka. Anna mendapat giliran jaga kedua. Seorang prajurit membangunkan Anna sekitar pukul sebelas malam saat Anna sudah tidur selama empat jam. Anna segera membasuh wajahnya dengan air dingin yang tersedia. Seketika itu rasa kantuknya hilang sepenuhnya.
Udara malam itu adalah udara Nordhalbinsel paling dingin yang pernah dirasakan Anna setelah lebih dari seminggu berada di wilayah yang terkenal dengan musim dingin abadinya itu. Anna merapatkan mantel bulunya dan memasukkan tangannya yang hampir membeku ke dalam saku mantelnya. Anna dapat melihat uap hangat yang muncul setiap dia menghembuskan napas.
Tiba-tiba Anna teringat pada ibunya, Ratu Isabella. Anna teringat musim dingin tahun lalu yang dilaluinya bersama keluarganya di Villa Kerajaan, saat semuanya masih normal. Meski musim dingin Schiereiland tidak sedingin musim dingin Nordhalbinsel, tapi Anna dapat mengingat dinginnya cuaca malam itu. Anna yang terbangun tengah malam keluar dari kamarnya dan berjalan-jalan menikmati udara dingin tengah malam di taman Villa Kerajaan. Tanpa sengaja dia bertemu dengan Ratu Isabella yang rupanya tidak bisa tidur malam itu. Mereka kemudian menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang banyak hal. Tentang masa lalu dan tentang masa depan. Dan meski Anna tidak terlalu yakin, tapi dia ingat malam itu terasa lebih hangat setelah mereka menghabiskan waktu bersama.
"Kau seharusnya berjaga, bukan melamun." Suara seseorang membuyarkan lamunan Anna.
Anna menoleh dan mendapati Putra Mahkota Xavier berdiri di sampingnya sedang menatap langit.
"Maafkan Saya, Yang Mulia."
"Tidak apa-apa. Tapi kau harus lebih berhati-hati lain kali." Dia melirik ke arah Anna. "Bukan tentangku. Tapi kau sendiri. Kalau kau lengah, seseorang bisa melukaimu."
"Baik, Yang Mulia." Kemudian Anna menyadari sesuatu. "Kalau boleh saya tahu, kenapa Anda terjaga Yang Mulia?"
"Aku tidak bisa tidur. Sudah hampir satu bulan rasanya sejak terakhir kali aku bisa tertidur dengan tenang." Ucap Xavier sambil menghela napas.
"Apa Anda sedang memikirkan sesuatu, Yang Mulia?"
"Bukan sesuatu. Tapi banyak hal. Dan rasa bersalah yang sangat besar terus menghantuiku belakangan ini."
Anna menunggu kata-kata berikutnya yang mungkin akan dikatakan oleh Putra Mahkota Xavier karena sepertinya dia ingin mengatakan hal-hal yang mengganggu pikirannya saat ini. Tapi dalam menit-menit berikutnya Xavier hanya terdiam sambil menatap langit.
Anna memperhatikan apa yang sedang dilihat oleh Putra Mahkota Xavier di langit. Tapi tidak ada apa-apa disana. Hanya ada langit gelap Nordhalbinsel tanpa bintang.
"Perhatikan sedikit lagi. Sebentar lagi." Kata Xavier.
Anna menuruti perkataannya. Memperhatikan langit gelap itu lebih lama. Dalam menit berikutnya tak satu pun dari mereka yang berbicara. Anna dan Xavier hanya memperhatikan langit gelap itu dalam diam.
Tak lama kemudian, dalam sekejap mata muncul cahaya yang terdiri dari berbagai warna yang belum pernah Anna lihat sebelumnya. Cahaya itu berpendar di langit gelap Nordhalbinsel, berbentuk seperti gelombang air laut dan terus bergerak. Warna-warna yang muncul di langit itu tampak seperti campuran antara warna biru pada labirin es di Taman Istana Nordhalbinsel, warna ungu pada kunang-kunang yang Anna lihat di danau di hutan dekat Istana Schiereiland, warna kuning yang mirip seperti cahaya keemasan matahari musim panas di senja hari, dan warna hijau emerald yang tampak seperti warna mata Putra Mahkota. Warna-warna itu saling bercampur dan menari-nari dalam bentuk gelombang yang teratur namun juga bebas. Membuat langit yang awalnya terlihat gelap itu tampak jauh lebih indah dan berwarna. Untuk sesaat Anna begitu terhipnotis dengan cahaya berwarna-warni itu. Untuk sesaat Anna melupakan siapa dirinya dan apa yang sedang dilakukannya. Untuk sesaat Anna hanya lah Anna dan bukannya Putri Kerajaan Schiereiland, dan orang di sampingnya hanya lah pria bernama Xavier yang baru dikenalnya dan bukan putra dari orang yang telah membunuh ayahnya. Tarian cahaya itu begitu indah dan menghipnotis siapa pun yang melihatnya hingga bisa membuat orang melupakan siapa dirinya.
"Itu adalah Cahaya Utara." Jelas Xavier.
"Indah sekali." Ucap Anna, masih terperdaya kilauan Cahaya Utara di depan matanya.
"Benar. Indah sekali." Kata Xavier sambil tersenyum saat melihat Anna terlihat begitu takjub dan terpesona memperhatikan setiap gerakan Cahaya Utara di hadapan mereka. Tapi dalam sekejap senyuman itu langsung hilang dari wajahnya dan kembali muram. Anna tidak melihatnya, tapi mata Xavier saat itu benar-benar menyorotkan kesedihan.
Dalam waktu yang cukup lama, Anna dan Xavier masih menikmati pemandangan Cahaya Utara dalam diam. Tapi itu bukan sejenis diam yang canggung.
"Apa kau mengenal Putri Anastasia dari Schiereiland?" Tanya Xavier tiba-tiba setelah mereka cukup lama saling diam.
Anna terkejut mendengarnya. Pertanyaan itu muncul begitu tiba-tiba dan membuyarkan lamunannya. Pertanyaan itu menyadarkannya dari pesona hipnotis Cahaya Utara. Anna buru-buru memikirkan jawaban yang paling masuk akal di dalam kepalanya.
"Aku hanya penasaran, orang seperti apa dia?" Tanya Putra Mahkota. "Kudengar usianya lebih muda dariku. Tapi dia sudah mati di usia semuda itu."
Anna berusaha bersikap senormal dan sesopan mungkin. "Saya tidak terlalu tahu soal beliau, Yang Mulia."
"Kudengar dia tidak suka bergaul dan terus berada di dalam Istana."
"Itu tidak benar!" Sanggah Anna langsung yang kemudian segera disesalinya. Tapi Anna sendiri pun mengakui bahwa dirinya memang tidak suka bergaul. Dia juga sadar bahwa dia lebih sering mengurung diri di Istana dan tidak keluar dari Istana sama sekali selain untuk berlatih pedang bersama Leon. "Maksud saya, Beliau pasti punya alasan."
"Benar. Pasti ada alasan dibalik semuanya."
Xavier menghela napas seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat, kemudian melanjutkan, "Ayahku telah merebut kehidupan seseorang. Dan itu membuat semua orang di Negara itu menderita. Aku tidak tahu apa aku pantas memohon maaf atas hal itu. Aku memaklumi jika tak ada yang bersedia memaafkanku."
Anna diam mendengarkan. Tapi mendengar Xavier membahas tentang Raja Vlad yang membunuh ayahnya, darahnya rasanya mendidih. Dia tidak ingin mendengarnya. Itu membangkitkan rasa marahnya pada seluruh negeri itu dan orang-orang keji di dalamnya.
"Ayahku bukan orang yang jahat, kau tahu? Dia adalah orang yang akan melakukan segalanya untuk orang yang dia cintai. Kurasa sifat itu menurun padaku juga. Tapi terkadang dia melakukannya dengan cara yang salah dan tidak bisa dimaafkan." Jelas Xavier. "Aku benar-benar menyesal karena tak berhasil mencegahnya."
Anna mencengkeram pisau Nordhalbinsel di sisi kanan sabuknya. Dia tidak ingin mendengar apa pun penjelasan dari Xavier. Apa pun itu, tidak merubah kenyataan bahwa karena pembantaian itu lah Anna harus kehilangan semuanya. Rakyatnya menderita dan kini Ibu dan adiknya entah ada di mana. Bahkan meski Xavier terlihat benar-benar menyesal, hal itu tak merubah keadaan saat ini.
Anna menimbang-nimbang langkah selanjutnya. Xavier mungkin tidak akan menyadari jika dia melakukan gerakan secepat mungkin. Serangan mendadak di tengah malam sama seperti apa yang telah dilakukan oleh ayah Xavier terhadap ayahnya.
"Kau sudah melihat luka di tubuhku, bukan?" Tanya Xavier. "Selena yang melakukannya. Dia Ibu tiriku. Ralat, salah satu dari sekian banyak ibu tiriku. Bisa dibilang dia selalu mencari cara untuk membunuhku kapan pun. Aku berusia enam tahun saat Selena hampir membunuhku dengan pedang yang dia ambil dari salah satu Jenderal. Aku tidak mati semudah itu tentu saja, tapi bekas lukanya tidak dapat hilang sampai sekarang. Dan luka bekas cambukkan itu kudapatkan saat usiaku sembilan tahun. Saat itu semua orang di Istana bahkan ayahku sendiri melihatnya. Tapi tidak ada yang dapat menghentikannya. Mereka semua takut kepada Selena karena dia memiliki sihir terkuat di seluruh benua."
Mendengar itu, Anna merasa sedikit kasihan dengan Xavier. Tapi dirinya tidak dapat mengabaikan fakta bahwa ayahnya telah mati di tangan keluarga kerajaan Nordhalbinsel. Meski pun Anna tahu bukan Xavier yang membunuh ayahnya.
Untuk sesaat Anna merasa bimbang. Dirinya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah balas dendam merupakan cara yang tepat untuk menghilangkan perasaan yang terus mengganggunya itu? Apakah mungkin jika dia melukai Putra Mahkota Xavier maka Raja Vlad dapat merasakan apa yang dirasakannya saat kehilangan ayahnya dan kerajaannya? Tapi Anna tahu jika dia melakukan itu, dirinya tidak lebih baik daripada orang-orang Nordhalbinsel yang telah menghancurkan hidupnya. Lagi pula fokus utamanya bukan lah untuk membalas dendam, melainkan untuk menyelamatkan ibu dan adiknya.
"Kurasa ini milik Anda, Yang Mulia." Ucap Anna sambil menyerahkan pisau tersebut sambil menunduk, menghindari tatapan Xavier di depannya. Dia tidak mau menatap Xavier karena takut rasa ingin balas dendam itu muncul kembali. Dia tidak mau amarah menguasai hati dan pikirannya.
Mata Xavier melebar karena terkejut saat melihat pisau itu. "Benar, Ini milikku. Di mana kau menemukannya?" Tanya Xavier.
"Saya membelinya dari seorang pedagang senjata di sebuah Desa. Lalu saya dengar pisau ini adalah milik Putra Mahkota dari Nordhalbinsel. Jadi Saya mengembalikannya pada Anda."
Xavier menerima pisau tersebut dari tangan Anna. "Ini bukan pisau, Anna. Ini adalah pedangku." Saat mengucapkan itu, pisau yang ada di tangan Xavier itu tiba-tiba memanjang dan membesar menjadi sebuah pedang yang ukurannya lebih besar dari pedang mana pun yang pernah Anna lihat. Bahkan lebih besar dari pedang milik Leon yang mana sebelumnya merupakan pedang paling besar yang pernah Anna lihat. "Hanya jika berada di tangan yang tepat, pedang ini akan menunjukkan kemampuannya. Tapi jika berada di tangan orang lain, dia hanya akan menjadi pisau yang tidak terlalu berguna. Dan jika berada di tangan yang salah atau digunakan untuk hal yang tidak seharusnya, dia hanya akan menjadi pisau tumpul. Itulah kekuatan sihir dari pedang ini. Terima kasih sudah mengembalikannya padaku, Anna." Kata Xavier sambil tersenyum tulus padanya.
***
Keesokan paginya sebelum matahari benar-benar terlihat dan hari masih sangat gelap, barisan pasukan Putra Mahkota melanjutkan perjalanan menuju Villa keluarga Winterthur yang terletak di wilayah perbatasan antara Grand Duchy Winterthur dengan Duchy Montreux. Letak Villa tersebut tidak terlalu jauh dari hutan tempat mereka bermalam. Jadi beberapa jam kemudian saat matahari sudah benar-benar bersinar di langit Utara, mereka sudah sampai di Villa keluarga Winterthur.
Villa keluarga Winterthur terlihat seperti sebuah Istana mewah yang berdiri kokoh di atas bukit bersalju. Mulai dari gerbang masuk hingga pintu masuk Villa mereka harus melalui jalanan yang menanjak dengan curam dan dilapisi salju tebal. Kuda-kuda terlihat kesulitan saat harus melalui jalan itu sehingga mereka semua berjalan lebih lambat.
Pintu masuk Villa terbuka lebar. Seluruh pasukan tampak lega saat mereka berhasil sampai di depan pintu. Mereka semua disambut oleh para pelayan dan para prajurit Winterthur yang menjaga Villa tersebut. Saat Putra Mahkota Xavier turun dari kereta kuda, seorang wanita muda segera datang menghampirinya.
"Salam hormat saya kepada Yang Mulia Putra Mahkota Xavier dan Pangeran Jeffrey. Selamat datang, Yang Mulia." Sapa wanita muda itu dengan gerakan penuh hormat yang terlihat sangat anggun.
Wanita itu adalah makhluk paling cantik yang pernah Anna lihat secara langsung. Tubuhnya tinggi semampai dengan pinggang yang sangat kecil dan dihiasi oleh gaun yang sangat indah berwarna putih dan biru. Wajahnya kecil berbentuk hati dengan dagu yang runcing namun garis wajahnya terlihat lembut dan kedua pipi yang tampak merona. Kulitnya seputih salju, seperti kebanyakan orang di Nordhalbinsel. Bibirnya yang penuh tampak seperti kelopak bunga mawar berwarna merah muda tersenyum dengan ramah kepada para tamunya. Matanya yang lebar dan bulat berwarna biru es dengan bulu mata yang panjang dan lentik. Wajah cantiknya itu dibingkai dengan rambut pirang panjang bergelombang yang tertata dengan rapih dan sempurna. Anna tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kesempurnaan wanita itu, dia tak pernah merasa sangat iri seperti ini pada kecantikan wanita sebelumnya. Bahkan sebelum mengetahui nama dari wanita itu, Anna sudah yakin bahwa wanita yang ada di hadapannya itu pasti lah Lady Eleanor Winterthur, Putri Mahkota Nordhalbinsel sekaligus tunangan Putra Mahkota Xavier.
Eleanor mempersilahkan tamu-tamunya untuk masuk dan meminta para pelayan untuk segera menunjukkan ruang yang bisa mereka pakai untuk beristirahat dan mandi. Setelah Xavier mengizinkannya, Anna pun segera pergi ke tempat istirahatnya untuk segera mandi dan berganti pakaian.
***
Perhitungan Xavier benar. Siang itu, sekitar empat jam setelah mereka tiba di Villa, langit tiba-tiba berubah menjadi gelap. Matahari ditutupi oleh awan dan kabut. Lalu muncul angin yang sangat kencang bersamaan dengan turun salju yang sangat deras. Badai salju benar-benar melanda seluruh daratan Nordhalbinsel selama seharian penuh.
Anna mengkhawatirkan Leon dan Louis di penginapan mereka. Seandainya Anna dapat menemukan cara untuk mengirimi mereka surat tanpa ketahuan oleh siapa pun, Anna pasti sudah memperingatkan terkait badai salju itu lebih dahulu. Anna hanya bisa berharap bahwa Leon dan Louis akan baik-baik saja di penginapan mereka. Lagi pula Anna percaya Leon selalu dapat diandalkan. Dia mungkin sudah tahu bahwa badai salju akan datang tanpa diberitahu oleh siapa pun.
Setelah membersihkan tubuhnya dan makan siang, Anna berkeliling Villa untuk mencari Putra Mahkota Xavier. Sebelumnya Sang Putra Mahkota sudah mengizinkan Anna untuk beristirahat sebentar di kamarnya dan segera menemuinya jika dia sudah selesai beristirahat. Tapi Sang Putra Mahkota sama sekali tidak memberitahunya di mana Anna harus menemuinya. Sedangkan Villa itu sangat besar dan memiliki banyak ruangan.
Kamar tempat Anna beristirahat dan mandi ada di lantai tiga dan terletak di sebelah tangga yang mengarah ke sebuah lorong panjang. Di lorong panjang tersebut terdapat banyak sekali pintu menuju ruangan lain yang Anna yakini isinya adalah kamar yang kurang lebih sama seperti kamar tempat istirahatnya. Dia menebak-nebak mungkin salah satu kamar itu adalah ruangan yang dimaksud Putra Mahkota. Tapi bisa saja ruangan tersebut hanya kamar prajurit lainnya. Dan Anna tidak mau mengambil resiko salah memasuki ruangan.
Anna menelusuri lorong panjang itu. Bunyi langkah kakinya teredam karena lantai keramik Villa itu dilapisi oleh karpet merah yang tebal dan berkualitas bagus. Dinding-dindingnya terbuat dari marmer dan emas. Terdapat ornamen-ornamen sulur dedaunan yang juga terbuat dari emas menghiasi dinding hingga ke langit-langit yang membentuk lekukkan kubah. Di sepanjang lorong tersebut Anna dapat melihat potret anggota keluarga Winterthur yang semuanya memiliki visual yang menakjubkan sebagaimana Eleanor dan Elias. Mereka semua memiliki rambut pirang dan mata biru es.
Lorong panjang itu mengingatkan Anna pada lorong di Istana Schiereiland. Meski samar-samar, Anna mengingat dirinya semasa kecil pernah hampir tersesat di lorong panjang seperti itu di Istananya saat mencoba untuk mengikuti kunang-kunang berwarna ungu. Tapi Anna tidak terlalu mengingat hal itu karena hampir terasa seperti mimpi baginya.
Setelah lama menelusuri lorong itu, Anna akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada para pelayan. Tapi tak satu pun diantara mereka yang mengetahui keberadaan Putra Mahkota. Hingga akhirnya tanpa sengaja Anna berpapasan dengan Eleanor di lorong.
"Salam hormat saya kepada Yang Mulia Putri Mahkota." Anna membungkuk kepada Eleanor.
Eleanor tersenyum dan mengangguk padanya. "Kau pasti Anna, pengawal pribadi Putra Mahkota."
"Benar, Yang Mulia."
"Senang sekali ada seorang wanita di sini. Kebetulan sekali aku sedang ingin minum teh tapi Putra Mahkota sedang sangat sibuk sehingga tidak dapat diganggu. Apa kau bisa menemaniku, Anna?" Tanya Eleanor dengan sangat ramah dan sopan.
Anna menimbang-nimbang apakah dia seharusnya menghampiri Putra Mahkota Xavier terlebih dahulu atau menuruti perkataan Putri Mahkota Eleanor. Karena Xavier jelas mengatakan bahwa Anna harus segera menemuinya setelah dirinya selesai beristirahat.
Tapi kemudian Eleanor menambahkan, "Aku akan meminta izin Putra Mahkota untuk meminjammu sebentar. Ini hanya minum teh, tidak akan lama."
Anna tidak dapat menolak ajakan itu. Jadi menit berikutnya Anna dan Eleanor sudah berada di sebuah taman di tengah Villa dengan teh yang terbuat dari bunga mawar dan beraneka camilan manis tertata dengan rapih di piring bertingkat tiga. Taman di tengah Villa itu sendiri merupakan hasil sihir yang dilakukan oleh Eleanor karena tidak mungkin ada taman dengan berbagai tumbuhan hijau dan bunga beraneka warna di tempat sedingin itu dan di tengah badai salju. Bahkan udara di sekitar mereka kini terasa hangat dan penuh aroma bunga. Anna merasa seperti dirinya berada di Schiereiland pada pertengahan musim semi.
Anna dan Eleanor duduk di tengah taman buatan sihir itu. Tempat duduk mereka sangat empuk serta berlapis beludru yang lembut. Meja di hadapan Anna penuh dengan camilan manis dan peralatan teh itu terbuah dari kaca bening yang jika dilihat dari jauh terlihat seperti es. Di langit-langit tumbuh sulur-sulur anggur dengan beberapa bunga Wisteria berwarna ungu dan merah muda. Di sekelilingnya tumbuh beraneka warna bunga Tulip—bukan Tulip Kristal yang Anna lihat di taman Istana Nordhalbinsel—Bunga mawar, bunga Daisy, hingga bunga Lily dan masih banyak lagi bunga lainnya yang belum pernah Anna lihat sebelumnya yang dia yakini hanya dapat tumbuh di iklim hangat seperti di wilayah timur kekaisaran Orient atau di wilayah Duchy Francis di Schiereiland pada musim semi. Semua bunga itu mekar bersamaan dan memunculkan warna-warni yang membuat ruangan itu terasa seperti di taman sungguhan. Di pojok ruangan yang kini dindingnya tertutup oleh batu-batuan dan lumut juga berbagai tumbuhan berdaun lebar serta semak Hawthorne, mengalir dengan lembut aliran air sungai kecil yang lebarnya hanya seukuran dua jengkal. Aliran air itu, serta suara kicauan burung yang Anna tidak tahu muncul dari mana, membentuk sebuah alunan musik yang indah dan menenangkan. Suasana itu tampaknya pernah Anna rasakan tapi dia tidak benar-benar ingat kapan dan di mana. Beragam peristiwa yang terjadi dalam hidupnya beberapa minggu terakhir ini seolah menghapus kenangan manis akan suasana itu dalam ingatannya.
"Kudengar kau berasal dari Schiereiland." Eleanor memulai percakapan setelah teh mawar dituangkan. "Aku berusaha membuat replika taman kota di daerah Duchy Francis yang terkenal itu. Bagaimana menurutmu? Apakah ini mirip dengan suasana musim semi di Schiereiland?"
"Benar, Yang Mulia. Anda membuatnya sama persis seperti yang ada di Schiereiland." jawab Anna setelah akhirnya mengingat bahwa suasana itu pernah dirasakannya saat dia pertama kali mengunjungi Duchy Francis di musim semi saat usianya jauh lebih muda.
"Aku dan Putra Mahkota pernah berkunjung ke Duchy Francis untuk mengunjungi teman lama Putra Mahkota di sana saat musim semi tahun kemarin. Kau tahu Duke Nicholas Francis? kudengar dia adalah tunangan Putri Anastasia."
Anna terkejut saat mendengar nama mantan tunangannya itu disebut. Dia tidak pernah mengira bahwa Putra Mahkota Xavier memiliki hubungan pertemanan dengan Duke Francis. Apakah itu alasannya Nicholas masih menduduki posisinya sebagai Duke Francis bahkan setelah Schiereiland jatuh ke tangan Nordhalbinsel? Anna merasa ada banyak sekali hal yang disembunyikan mantan tunangannya itu darinya. Dia merasa kesal. Kali ini bukan karena perselingkuhan Nicholas, tapi juga karena Nicholas sepertinya memiliki rahasia dengan keluarga kerajaan Nordhalbinsel.
Anna berusaha menjawab dengan sewajar mungkin, menyembunyikan keterkejutannya. "Kudengar juga demikian, Yang Mulia."
"Tapi apa kau tahu? Duke Francis sebenarnya sudah memiliki kekasih bahkan sebelum pertunangan mereka diadakan. Sungguh Putri yang malang. Pasti sangat menyakitkan mengetahui tunangannya memiliki wanita lain. Kalau itu terjadi padaku aku pasti akan sangat marah."
Eleanor tersenyum penuh makna padanya, “Bagaimana menurutmu, Anna? Tidakkah kau merasa seperti itu?”
***