The Rose That Blooms In North

The Rose That Blooms In North
Chapter 26 : Le Regard



Hari itu Istana Putra Mahkota akhirnya dibuka dan ditempati oleh Eleanor Winterthur karena hari pernikahannya dengan Xavier sudah semakin dekat. Xavier yang sudah menyelesaikan pekerjaannya di Istana Utama segera datang ke Istana itu untuk menemui tunangannya.


Istana Putra Mahkota siang itu tampak sangat ramai karena para pelayan yang keluar masuk untuk membawakan barang-barang milik Sang Putri Mahkota. Tidak seperti biasanya, hari itu Istana Putra Mahkota dihias sedemikian rupa sehingga tampak seperti hidup kembali setelah sekian lama tidak ditempati. Saat Xavier beserta sepuluh orang pengawalnya datang ke Istana itu, seluruh pengawal, pelayan dan dayang-dayang berbaris rapih di depan Istana untuk menyambutnya. Eleanor Winterthur melangkah keluar dari dalam Istana untuk menyambut Xavier.


"Selamat datang, Yang Mulia. Saya sudah menanti kedatangan Yang Mulia."


Eleanor Winterthur, wanita yang mendapat gelar sebagai wanita paling cantik di seluruh dunia, salah satu penyihir paling berbakat di seluruh Nordhalbinsel, menunduk dengan anggun di hadapan Xavier. Rambut pirangnya yang sangat panjang ditata dengan rapih. Dia mengenakan gaun panjang berwarna merah muda yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Kalung berlian, anting-anting, gelang dan cincin melengkapi kecantikannya yang tiada duanya.


Xavier segera menghampirinya dan mencium tangan Eleanor dengan lembut. Dia tersenyum menatap kedua mata biru es milik Eleanor yang memancarkan kebahagiaan dan kerinduan. Semua orang yang melihat pemandangan indah yang terlihat bagaikan lukisan romantis itu menahan air mata haru saat akhirnya pasangan itu dipertemukan kembali.


Xavier dan Eleanor segera memasuki Istana yang dalam waktu sepuluh hari ke depan akan resmi menjadi tempat tinggal mereka berdua. Mereka berjalan bergandengan tangan hingga ke ruang minum teh. Ruangan itu merupakan ruangan yang dikhususkan untuk acara minum teh bagi Putra Mahkota dan Putri Mahkota saja. Di dalamnya sudah tersedia peralatan minum teh, berbagai jenis camilan manis dan teh yang masih hangat. Ruangan minum teh itu dihiasi dengan berbagai jenis bunga dengan berbagai warna yang diimpor langsung dari Westeria. Semuanya tampak tertata dengan rapih dan indah.


"Aku ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan tunanganku. Kalian boleh melanjutkan pekerjaan kalian." Kata Xavier pada semua orang.


"Baik, Yang Mulia."


Setelah semua orang pergi, Eleanor dan Xavier segera melepaskan pegangan tangan mereka dan serempak menghembuskan napas lega. Mereka saling berpandangan sesaat dan tertawa.


“Kau semakin pintar berakting.” Kata Eleanor.


“Haruskah aku menyerahkan takhta sebagai pewaris kerajaan dan beralih menjadi aktor jalanan?” Canda Xavier.


Eleanor tertawa mendengarnya. Tentu saja Xavier tidak serius tentang hal itu. Tapi menjadi seorang Putra Mahkota pasti bukan hal yang mudah. Banyak orang mengincar nyawanya. Eleanor sempat berpikir mungkin terkadang Xavier benar-benar lelah dengan hidupnya tapi dia selalu berusaha untuk melakukan semuanya dengan baik.


Eleanor menatap Xavier dengan sungguh-sungguh. "Aku benar-benar bersyukur kau dapat kembali dengan selamat. Aku sangat panik saat membaca surat dari Anna. Tapi aku tidak bisa pergi saat itu juga. Kuharap kau mengerti." Kata Eleanor.


Mereka berdua duduk di kursi dan mulai menikmati teh mereka.


"Aku tidak apa-apa. Kau tahu hal seperti itu tidak dapat membunuhku kan?" Kata Xavier dengan santai sambil meminum tehnya.


"Tapi tetap saja. Itu sangat berbahaya. Bagaimana bisa kau terkena panah beracun? Memangnya ke mana perginya semua orang saat itu?" ada sedikit nada kesal dalam kata-kata Eleanor.


"Ini salahku sendiri karena pergi diam-diam tanpa memberitahu siapa pun saat tengah malam."


"Kau kan punya pengawal pribadi. Kenapa tidak memintanya menemanimu? Kalau itu Elias, kau pasti akan membangunkannya meski saat tengah malam sekalipun.”


"Anna ada di sana saat itu."


"Apa? Lalu kenapa dia—“


"Elle." Xavier menghentikan Eleanor sebelum gadis itu semakin emosi. Dia juga tidak ingin memberitahu Eleanor apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Bahwa anak panah itu awalnya ditujukan bukan hanya kepada dirinya, tapi juga kepada Anna. Jika Eleanor mengetahui hal ini, dia bisa melakukan sesuatu yang buruk pada Anna. Dan Xavier tidak mau hal itu terjadi. Tunangannya itu bukan wanita yang jahat, tapi dia akan menjadi sangat menakutkan jika itu menyangkut nyawa orang-orang di sekitarnya.


Xavier melanjutkan kata-katanya, "Yang terpenting sekarang adalah bahwa aku baik-baik saja. Jika kau mau menyalahkan seseorang, salahkan orang yang telah mengirim pembunuh bayangan itu. Bukan Anna."


"Maaf... Aku tahu. Tapi aku belum cukup kuat untuk melawan Permaisuri Selena." Eleanor menunduk menyesal.


"Aku mengerti. Tidak apa-apa. Aku juga ingin minta maaf padamu."


Eleanor mendongak padanya, "Atas apa?"


"Pernikahan ini. Aku mengambil kebebasanmu dengan menikahimu."


Eleanor meletakkan cangkir tehnya yang sejak tadi dipegangnya di atas meja. "Tidak. Kau menyelamatkan keluargaku dengan menikahiku. Kau menepati janjimu. Jangan katakan hal itu lagi seolah ini semua salahmu. Lagi pula kita memang seharusnya sudah menikah sejak tiga tahun yang lalu.”


Xavier tidak mengelak perkataan Eleanor. Tapi dirinya jelas masih melihat sedikit keraguan di mata gadis itu. Eleanor masih mencintai kekasihnya dan Xavier dapat melihatnya dengan jelas dari sorot mata gadis itu.


“Aku akan segera menemuinya untuk yang terakhir kalinya dan mengakhiri hubungan kami. Aku akan berterus terang padanya." Kata Eleanor, menutupi kesedihan dalam kata-katanya dengan senyuman yang dipaksakan.


"Kau tidak harus melakukannya, Elle. Kau bisa tetap bersamanya. Aku tidak pernah melarangmu untuk—“


"Xavier.” Eleanor memotong perkataannya. “Aku akan segera menikahi Putra Mahkota kerajaan ini. Jika orang tahu bahwa Putri Mahkota mereka memiliki seorang kekasih bahkan setelah menikah, itu akan menghancurkan nama baik keluargaku. Aku akan dianggap mengkhianati kerajaan, bahkan meski kau tidak merasa dikhianati."


"Tapi kau sangat mencintainya. Bukan aku yang kau cintai, Elle. Kita hanya berusaha untuk bisa menerima satu sama lain dan bersikap seolah kita saling mencintai di depan semua orang. Tetaplah bersamanya kalau itu yang membuatmu bahagia. Kita hanya perlu menyembunyikan kebenarannya seperti yang sudah kita lakukan selama enam tahun ini.”


Elle tidak menjawab. Dia tidak bisa menjawab Xavier dengan penyangkalan apa pun. Air matanya menggenang di pelupuk matanya. Elle mengangguk. "Aku sangat mencintainya. Aku minta maaf, Xavier. Aku—“


Xavier segera memeluk Eleanor dan membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya. Xavier tahu bahwa Eleanor mencintai seorang pria yang berasal dari kalangan rakyat biasa. Hubungan mereka sudah berlangsung selama enam tahun. Tapi pria itu, kekasih tunangannya itu, tidak tahu bahwa Eleanor adalah Putri Mahkota yang sudah memiliki tunangan. Dan Eleanor juga tidak ingin kekasihnya itu tahu siapa dirinya sebenarnya.


“Tidak apa-apa, Elle. Mencintai seseorang bukanlah kesalahan. Kau tidak perlu meminta maaf padaku.”


***


Enam tahun yang lalu...


Saat itu usia Xavier sudah menginjak 17 tahun. Menurut hukum Nordhalbinsel, di usia tersebut seorang pria sudah bisa menikah. Xavier yang saat itu sudah bertunangan dengan Eleanor belum memikirkan tentang pernikahan karena masih banyak yang harus dipelajarinya sebagai penerus takhta. Di usia itu dia sudah tidak bisa membolos dalam pelajaran dan ada banyak hal yang harus dilakukannya. Masalah konflik dengan Negara lain juga harus menjadi perhatiannya. Belum lagi kesejahteraan rakyat saat itu sedang mengalami kemerosotan akibat tersendatnya urusan impor-ekspor dan masalah dagang dengan pihak Westeria. Itu adalah tahun terburuk bagi perekonomian Nordhalbinsel dan tahun tersibuk bagi Xavier. Sehingga dia tidak dapat menikahi Eleanor tahun itu.


“Bagaimana kalau saat usiaku 20 tahun saja? Kau tidak keberatan kan kalau kita menundanya?” Xavier menawarkan.


“Saat itu usiaku sudah 23 tahun. Beberapa temanku bahkan ada yang sudah menikah sekarang.” Protes Eleanor.


Mereka sedang menyamar menjadi rakyat biasa, yang merupakan kegiatan rutin mereka bersama setiap bulan untuk mengamati keadaan para rakyat di daerah-daerah terpencil. Karena Eleanor memiliki kemampuan sihir transformasi yang sangat hebat, mereka dapat menyamar dengan baik sehingga tidak ada siapa pun yang dapat mengenali wajah mereka. Rambut pirang dan mata biru es milik Eleanor yang langsung dapat dikenali sebagai anggota keluarga Winterthur, berubah menjadi rambut cokelat gelap dan mata cokelat. Mata emerald milik Xavier yang merupakan warna mata yang sangat langka berubah menjadi warna kelabu yang merupakan warna mata paling umum di kalangan rakyat jelata di Nordhalbinsel.


“Memangnya kau sudah menyelesaikan semua pelajaran sihirmu di Menara? Bagaimana dengan pelajaran Putri Mahkota? Kudengar ada banyak hal rumit yang harus dipelajari.”


“Benar. Ada banyak sekali, aku sampai muak melihat buku. Tapi aku harus mempelajari semua buku-buku itu karena tahun ini aku akan segera lulus dari Menara dan menjadi penyihir kerajaan secara resmi. Untunglah kita punya jadwal rutin untuk berjalan-jalan di pedesaan seperti ini. Bagiku ini terasa seperti liburan.” Kata Eleanor sambil tertawa riang. "Terima kasih, Tuan Tunangan."


Xavier senang melihat Eleanor yang biasanya selalu terlihat serius dan tertekan baik di Istana maupun di kediaman Winterthur, kini dapat terlihat sangat bebas dan bahagia. Sebagai penyihir keturunan Grimoire, Eleanor diwajibkan mempelajari sihir secara formal di Menara. Meski sebenarnya Eleanor sudah memiliki bakat sihir sejak lahir karena ibunya termasuk salah satu penyihir terhebat di Nordhalbinsel, tapi apabila dia tidak mempelajari sihir secara formal di Menara, maka dia tidak boleh menggunakan sihirnya. Semua orang yang ingin mempelajari sihir maupun semua orang yang terlahir dengan bakat sihir diwajibkan untuk mempelajari sihir di Menara barulah mereka dapat menggunakan sihir mereka dengan izin dari Kerajaan. Penanggung jawab yang mengatur tentang segala hal yang menyangkut sistem pendidikan di Menara adalah Ratu. Tapi karena Raja tidak mengangkat seorang Ratu setelah kematian Ratu Irene, maka penanggung jawab Menara sementara sampai Raja menunjuk Ratu baru adalah Permaisuri Selena.


Meskipun Eleanor adalah salah satu penyihir paling berbakat, tapi masih ada banyak hal yang harus dia pelajari. Karena kelak jika dia menikahi Xavier, dan Xavier naik takhta menjadi Raja, maka Eleanor lah yang akan menjadi Ratu sekaligus penanggung jawab Menara.


“Jadi... Tiga tahun lagi? Aku berjanji tidak akan mengundurnya lebih lama lagi. Tiga tahun lagi mungkin perekonomian kerajaan sudah membaik. Aku akan berusaha keras melakukan segala hal untuk memperbaiki hubungan dengan Westeria agar masalah ini cepat selesai.” Xavier masih mencoba untuk meminta persetujuan Eleanor terkait pernikahan mereka.


“Elle? Kau mendengarkanku?”


Eleanor segera kembali tersadar dari lamunannya. “Apa? Maaf, aku tadi..."


Xavier menunggu Eleanor melanjutkan kata-katanya, tapi Eleanor kesulitan menjelaskannya. Saat itu Eleanor sudah sangat menyukai pria bermata biru laut itu, tapi belum berani berterus terang kepada Xavier karena biar bagaimana pun mereka sudah bertunangan.


"Baiklah." Katanya, "Kita tunda pernikahan kita sampai kau berusia dua puluh tahun. Tapi sebelumnya, ada yang harus kutanyakan padamu. Lebih tepatnya aku ingin meminta izin padamu.” Eleanor memberanikan diri untuk berterus terang pada Xavier.


“Meminta izin? Apa hal yang ingin kau lakukan yang membutuhkan izin dariku?”


“Berkencan."


"Apa?" Xavier tampak sangat terkejut.


"Mohon izinkan aku untuk berkencan dengannya."


Xavier mengikuti arah pandang Eleanor. Ke arah pria bermata biru laut itu. "Kau mengenalnya?"


"Aku menyukainya. Sangat." Kata Eleanor sambil menatap Xavier dengan sungguh-sungguh. "Aku... sepertinya jatuh cinta padanya."


Mereka saling terdiam lama sambil menatap satu sama lain. Xavier saat itu berpikir bahwa Eleanor pasti sangat menyukai pria itu sampai dia memberanikan diri untuk mengatakannya pada dirinya.  Dia juga tidak punya alasan untuk tidak mengizinkan Eleanor untuk berkencan karena mereka tidak saling mencintai. Xavier memang menyayangi Eleanor sebagai temannya yang selalu ada untuknya sejak kecil, tapi Xavier tidak mencintainya. Tidak ada romansa manis di antara mereka. Mereka saling menjaga dan menyayangi karena secara tak langsung mereka adalah saudara sepupu. Mereka hanya memiliki ikatan pertemanan yang sangat kuat sehingga menginginkan kebahagiaan satu sama lain.


Xavier kemudian tertawa memecah keheningan yang canggung diantara mereka. "Wah, Elle... Aku baru tahu Putri Es ini bisa jatuh cinta pada seseorang."


"Jangan mentertawaiku. Kau juga akan segera menemukan seorang wanita yang melelehkan dinding es dalam hatimu itu, Pangeran Es." Eleanor membalasnya dengan pelototan tajam. Tapi pipinya bersemu kemerahan.


"Entah lah. Aku tidak yakin.” Kata Xavier. “Tapi aku senang bahwa kau sudah menemukan orang yang benar-benar kau cintai dengan tulus. Baiklah, aku memberikan izinku. Pergilah bersamanya. Aku akan berkeliling desa sendiri, dan kita akan kembali ke Istana sebelum matahari tenggelam."


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sebelum matahari benar-benar terbit, Anna sudah kembali ke Istana. Dia segera berjalan cepat menuju kamar Putra Mahkota di Istana Utama untuk menemui Xavier. Tapi sesampainya di sana, Xavier tidak ada.


"Yang Mulia tinggal di Istana Putra Mahkota mulai kemarin. Yang Mulia dan Putri Mahkota untuk seterusnya akan tinggal di Istana Putra Mahkota." Sebastian, kepala pelayan istana menjelaskan kepada Anna.


Setelah mendengar penjelasan itu, Anna buru-buru pergi menuju ke Istana Putra Mahkota. Akan tetapi, karena terburu-buru, Anna tidak melihat sekitarnya saat berbelok ke lorong utama dan hampir menabrak seseorang.


"Astaga, maafkan saya Yang Mulia Putri. Anda tidak apa-apa?" Tanya pria itu.


Anna mendongak dan langsung terkejut saat mengetahui siapa orang yang hampir dia tabrak karena kecerobohannya. Mata hitamnya segelap langit malam dan rambutnya seputih salju. Dia adalah putra pertama dari Permaisuri Selena. Pangeran Ludwig.


Jantung Anna hampir berhenti saat melihatnya. Tangannya gemetar, tapi dia langsung menyembunyikan tangannya ke belakang. Entah kenapa Pangeran Ludwig membuatnya merasa takut hanya dengan menatapnya. Mungkin karena Pangeran Ludwig adalah putra dari Permaisuri Selena. Mungkin juga karena Sang Pangeran tadi menyebutnya sebagai Yang Mulia Putri. Anna berusaha menyembunyikan rasa takutnya dengan tersenyum ramah dan berusaha tidak menatapnya secara langsung.


"Maafkan kecerobohan saya, Yang Mulia. Saya Anna, pengawal pribadi Putra Mahkota. Saya bukan seorang Putri seperti yang Anda sebut tadi." Kata Anna, setelah berhasil menjaga suaranya agar tidak bergetar.


Pangeran Ludwig menatapnya dengan curiga karena Anna terus menunduk.


"Benarkah? Biasanya saya tidak pernah salah menilai orang. Aku pikir kau Putri Duke atau Marquess. Atau bahkan Putri dari Kerajaan lain. Wajahmu seperti tak asing.” Kata Ludwig. Dia terus menatap Anna seperti sedang mencari tahu kebohongan apa yang sedang disembunyikannya. “Ah, bukankah kita pernah bertemu sebelumnya di depan perpustakaan, Nona Anna? Maafkan atas ketidaksopanan saya waktu itu."


"Tidak apa-apa, Yang Mulia." Kata Anna langsung, tidak ingin berlama-lama berada di tempat itu bersama Pangeran Ludwig.


"Waktu itu saya agak terkejut saat pertama kali melihat Anda. Rambut merah milik Nona mengingatkan saya pada seseorang yang hampir menjadi tunangan saya sepuluh tahun yang lalu. Tapi setahu saya orang itu sudah mati." Ludwig terdiam sebentar untuk melihat reaksi Anna. Tapi Anna berusaha mengatur ekspresinya agar tidak tampak gugup meski saat ini dia merasa ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. "Putri Anastasia dari Schiereiland.”


Ludwig tersenyum saat melihat Anna tampak terkejut. Meski sekilas saja, Anna sempat bereaksi saat mendengar nama aslinya disebut, lengkap dengan gelarnya. Tapi Anna masih tidak mengatakan apa pun. Jadi dia melanjutkan, “Waktu itu saya hanya melihatnya dari kejauhan, tapi saya mengingat dia memiliki rambut panjang berwarna merah seperti mawar. Persis seperti warna rambut Nona."


Anna tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Dia tiba-tiba teringat tentang orang pertama yang hampir menjadi tunangannya. Dia sudah lama melupakan hal itu, tapi kini dia mengingatnya kembali. Seminggu setelah kepergian Leon ke medan perang di saat usianya masih sepuluh tahun, beberapa perwakilan dari Nordhalbinsel dan beberapa pangeran datang ke Schiereiland. Saat itu sedang maraknya menjalin persahabatan antar Negara dengan pernikahan politik. Jadi Tujuan utama kedatangan mereka adalah untuk menjadikan Anna sebagai tunangan salah satu pangeran Nordhalbinsel. Tapi Anna menolak pertunangan itu bahkan sebelum dia menemui Sang Pangeran karena dia hanya menginginkan Leon sebagai pendampingnya dan dia sudah berjanji pada Leon untuk menunggunya. Raja Edward pun tidak memaksakan pertunangan itu pada Anna karena saat itu Anna masih terlalu muda untuk bertunangan dengan siapa pun.


"Itu pertama kalinya saya ditolak. Tentu saja Ibu saya, Permaisuri Selena sangat marah saat itu. Rencananya untuk menaklukkan Schiereiland mulai hari itu telah gagal karena penolakan dari seorang Putri kecil yang polos dan tidak tahu apa-apa." Kenang Ludwig sambil tertawa. "Ah, maaf. Saya jadi membicarakan hal ini pada Nona. Tapi saya sangat penasaran sejak saat itu. Saya sampai berpikir kalau Nona mungkin saja memang Putri Anastasia yang dianggap sudah mati."


Ludwig menyentuh dagu Anna dan menengadahkan wajahnya. Anna terlalu takut untuk melawannya. Dia mengepal tangannya untuk memanipulasi rasa takutnya sendiri. Anna memberanikan diri menatap kedua mata Ludwig yang berwarna hitam pekat seperti kegelapan abadi. Anna merasa terperangkap di dalamnya, seperti tak ada jalan keluar. Mata itu tampak berkilat sesaat seperti ujung pisau yang terkena pantulan cahaya bulan.


Ludwig dapat melihat dengan jelas ketakutan itu di wajah Anna, tapi tidak mau melepaskannya. Dia meneliti setiap inci wajah Anna dari dekat. Memastikan apakah gadis itu memang gadis yang sama yang dia lihat sepuluh tahun yang lalu di Istana Schiereiland. Karena penilaiannya jarang salah. Tidak. Dia tidak pernah salah.


“Jika itu benar, jika kau memang Putri Anastasia, maka akan sangat disayangkan sekali. Setelah selamat dari satu kematian, kematian lainnya sedang menanti tepat di depan mata.” Bisik Ludwig tepat di telinga Anna.


"Sa-saya—“


"Pangeran Ludwig!" Seseorang datang dari arah belakang Anna. Anna dan Ludwig serentak melihat siapa orang yang baru datang itu. Ludwig segera melepaskan Anna dan mundur beberapa langkah dari gadis itu setelah melihat siapa yang datang.


"Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Ada keperluan apa sampai kau menyita waktu pengawal pribadiku?" Tanya Xavier. Dia melangkah hingga berada tepat di hadapan Ludwig, menarik Anna ke belakangnya agar menjauh dari Ludwig. Anna mundur beberapa langkah, menjauh dari dua kakak-adik itu.


Ludwig tidak langsung menjawabnya. Dia hanya menatap Xavier dengan tajam, kemudian tersenyum tipis. "Lucu sekali. Kau yang tidak pernah bicara padaku selama bertahun-tahun tiba-tiba berbicara padaku hanya karena aku menyita waktu pengawal pribadimu." Ludwig mengarahkan pandangannya kepada Anna yang berada di belakang Xavier. "Sepertinya aku mengerti alasannya. Kalau begitu, aku tidak akan mengganggunya lagi, Yang Mulia." Kata Ludwig sambil berjalan melalui Xavier.


Saat Ludwig berada tepat di hadapan Anna, dia membisikkan sesuatu di telinganya.


"Saat pesta nanti malam, Nona harus datang ke taman belakang Istana Ratu. Nona harus tahu apa yang disembunyikan oleh Putra Mahkota di sana. Berhati-hatilah."


Kemudian Ludwig pergi melangkah semakin jauh dari Anna dan Xavier. Anna tidak bisa tidak memikirkan kata-kata yang dibisikkan oleh Ludwig. Biar bagaimana pun, dia adalah putra dari Permaisuri Selena. Anna tidak ingin mempercayainya. Tapi Anna penasaran pada maksud dari kata-katanya itu.


"Apa yang dia katakan padamu?" Tanya Xavier saat melihat wajah Anna dipenuhi pertanyaan.


"Bukan hal yang penting, Yang Mulia." Jawab Anna. Anna memang tidak mempercayai Pangeran Ludwig, tapi dia juga tidak ingin sepenuhnya percaya pada Xavier. Anna tidak bisa mempercayai siapa pun di Istana itu.


"Maaf karena tidak mengatakannya padamu terlebih dahulu. Aku akan tinggal di Istana Putra Mahkota untuk seterusnya. Jadi kau tidak perlu datang ke Istana Utama lagi kecuali jika ada urusan di tempat ini." Kata Xavier. “Dan satu lagi, sebisa mungkin jangan berurusan dengan Pangeran Ludwig apa pun yang dia katakan.”


"Saya akan mengingatnya, Yang Mulia."


***