
Sementara itu, di Istana Putra Mahkota sesaat setelah Xavier pergi, Anna terbangun. Demamnya sudah turun dan dia tak pernah merasa sesehat itu. Dia tidak benar-benar mengingat kejadian seluruhnya bagaimana dia bisa ada di kamarnya di Istana Putra Mahkota dan mengenakan gaun tidur, tapi dia mengingat kata-kata Pangeran Ludwig. Itu adalah hal pertama yang dia ingat saat terbangun.
Anna memastikan para pelayan sudah tertidur dan baik Xavier maupun Eleanor tidak ada di dalam Istana. Dengan sembunyi-sembunyi, Anna buru-buru meninggalkan Istana Putra Mahkota, memakai jubah dengan tudung kepala. Anna berjalan menuju Istana Ratu yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Istana Putra Mahkota.
Dia tidak benar-benar berharap Pangeran Ludwig masih ada di sana, karena ini sudah lewat tengah malam. Tapi dia hanya ingin memastikan apa maksud dari perkataannya. Meski sebenarnya Anna masih merasa takut untuk berhadapan dengan pria itu lagi. Tapi rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya.
Saat sampai di taman belakang Istana Ratu, Anna melihatnya. Pria dengan rambut seputih salju itu sedang duduk di kursi taman. Dia mengenakan pakaian kerajaan berwarna putih dengan mantel bulu yang sewarna. Pemandangan itu dari kejauhan tampak sangat tidak nyata. Seorang pangeran di tengah taman bersalju dengan pakaian putih dan rambut putih salju yang disinari cahaya bulan keperakan tampak menanti dalam diam. Saat Ludwig melihat Anna yang sedang menatapnya dari kejauhan, Ludwig tersenyum ramah padanya dan mengisyaratkan untuk mendekat padanya. Seolah dia sedang berusaha terlihat baik di depan Anna. Saat itu dia memang tidak terlihat mengancam seperti sebelumnya.
Anna memberanikan diri berjalan ke arahnya. "Yang Mulia, Apa yang Anda lakukan di sini? Ini sudah larut malam."
Ludwig tertawa. "Bukankah seharusnya Saya yang menanyakan hal itu Nona? Seorang gadis muda berkeliaran di luar di tengah malam sendirian dengan hanya mengenakan gaun tidur. Saya tahu Nona adalah pengawal pribadi Putra Mahkota dan keberanian termasuk dalam kualifikasinya, tapi tidakkah Nona terlalu berani?"
Anna menutupi gaun tidurnya dengan jubah panjang yang dia kenakan. "Saya hanya sedang berjalan-jalan mencari angin."
"Mencari angin di tempat sedingin ini?"
"Saya suka udara dingin di malam hari." Anna berbohong, yang mana sangat terlihat jelas karena dia tampak kedinginan. Jari-jemarinya mulai terasa mati rasa dan suaranya bergetar karena kedinginan.
Melihat itu, Ludwig melepas mantel bulunya dan memakaikannya pada Anna. "Saya sudah kebal terhadap cuaca dingin ini." Kata Ludwig.
Perkataan itu sontak membawa ingatan Anna pada kejadian beberapa jam yang lalu di taman Tulip kristal. Entah bagaimana dia hampir melupakan hal itu. Sebelumnya Xavier juga mengatakan hal yang sama padanya.
"Kalian benar-benar bersaudara." Kata Anna dengan suara yang sangat pelan lebih seperti bisikan.
"Apa?"
"Bukan apa-apa, Yang Mulia." Jawab Anna langsung. Perlahan potongan-potongan ingatan tentang apa yang terjadi beberapa jam yang lalu mengisi pikirannya seperti potongan-potongan mimpi yang dia ingat. Anna tidak mengerti bagaimana dia bisa hampir melupakan semua itu, tapi kini saat dia meraba lehernya dan merasakan kalung mawar pemberian Xavier, dia mulai yakin itu semua bukan sekedar mimpi. Dia juga ingat Xavier menyebutnya sebagai Putri Anastasia. Mendadak jantungnya hampir berhenti saat mengingat itu.
Apakah dia sudah tahu semuanya sejak awal? Kalau memang begitu, kenapa dia menyembunyikannya? Pikir Anna.
"Jadi Nona memutuskan untuk mempercayai perkataan saya?" Pertanyaan Ludwig menyadarkan Anna dari lamunannya.
"Tidak. Saya tidak percaya pada siapa pun. Tidak pada Yang Mulia Pangeran maupun pada Yang Mulia Putra Mahkota."
Ludwig menghela napas. "Kalau begitu, cari tahu sendiri siapa yang harus Nona percayai."
Pangeran Ludwig mengeluarkan sesuatu dari kantungnya dan memberikannya kepada Anna. Sebuah kunci emas yang dihiasi batu permata. Kunci itu tampak berkilau di bawah cahaya bulan.
"Apa ini, Yang Mulia?" Tanya Anna.
"Kunci."
"Saya tahu. Tapi kunci apa?"
"Coba saja cari tahu." Ludwig tersenyum kecil saat melihat Anna tampak bingung memperhatikan kunci itu. Dia mendekat ke arah Anna dan berbisik, "Sepertinya seseorang memasang sihir penghapus ingatan pada Nona. Tapi saya baru saja menghilangkan sihir itu. Biar bagaimana pun, saya juga anak dari seorang penyihir walau pun tidak sehebat Putri Mahkota.”
Anna menatap Ludwig, mempertimbangkan apakah pria itu benar-benar bisa dipercaya. Tapi Anna memang mendapatkan kembali ingatannya. Dia jelas mengingat Xavier menyebutnya sebagai Putri Anastasia. Dan dia ingat tentang ciuman itu. Jantungnya berdebar dan wajahnya memerah saat mengingatnya.
Dia juga mengingat kakinya terluka akibat sepatu hak tinggi milik Eleanor sehingga rasanya sangat sakit untuk berjalan. Anna menatap kembali kakinya yang anehnya tidak terasa sakit sama sekali. Kakinya memang baik-baik saja. Tidak ada bekas luka lecet atau apa pun. Membuatnya kembali meragukan ingatan itu yang mungkin hanya sekedar mimpi.
“Nona?”
“Ah, iya?” Anna tersadar kembali dari lamunannya.
"Saya akan membantu Nona untuk masuk karena Istana Ratu dipasangi sihir oleh Putri Mahkota. Calon kakak ipar saya itu benar-benar salah satu penyihir terhebat di kerajaan. Sihirnya benar-benar kuat. Jadi, Saya tidak bisa masuk ke sana. Bisa dibilang sihir kami saling berlawanan jadi dia pasti akan langsung tahu jika saya masuk ke dalam. Nona harus masuk sendiri. Setelah itu..." Ludwig menggantungkan kata-katanya. Dia terdiam selama beberapa saat, menimbang-nimbang apakah perlu mengatakannya atau tidak.
"Setelah itu?"
Ludwig tampak ragu-ragu sebelum mengatakannya. Seolah apa yang akan dikatakannya adalah hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Meski begitu, dia memutuskan untuk tetap mengatakannya. Dia memastikan keadaan sekitarnya sebelum bicara dengan suara yang sangat pelan seolah tak ingin di dengar oleh siapa pun. Dia menatap Anna dengan serius. Dari jarak sedekat itu, Anna dapat melihat betapa miripnya Ludwig dengan Xavier.
"Dengar, Nona tidak harus mempercayai Saya. Saya tahu betul akan sangat sulit mempercayai Saya karena Saya adalah putra dari Permaisuri Selena. Tapi Jangan terlalu percaya pada Putra Mahkota juga. Saya tidak yakin apa alasannya, tapi dia menyembunyikan sesuatu yang sedang Nona cari. Jika sudah menemukannya, segera pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi. Hiduplah dengan tersembunyi dan sebisa mungkin menjauh dari Ibu saya. Tempat ini terlalu berbahaya untuk Nona."
"Saya tidak mengerti—“
"Pilihan Nona hanya ada dua. Mencoba untuk memberikan sedikit rasa percaya Nona pada saya dan masuk ke Istana Ratu, atau melupakan ini selamanya dan saya tidak akan mengungkit lagi soal hal ini. Cepat tentukan. Kita tidak tahu kapan Putra Mahkota akan kembali ke sini."
Anna menatap Ludwig yang tampak sungguh-sungguh dengan perkataannya. Dia hampir bisa percaya sepenuhnya pada Ludwig jika dia mengabaikan fakta bahwa pria itu adalah putra dari Raja yang membunuh ayahnya dan Penyihir yang beberapa waktu lalu mengirimkan pembunuh bayangan untuk membunuhnya. Anna sendiri merasakan bahaya dari Pangeran Ludwig. Seolah keberadaan Sang Pangeran itu sendiri merupakan ancaman baginya. Tapi saat itu, saat Ludwig meminta padanya untuk memberikan sedikit rasa percayanya, entah kenapa Anna merasa perkataannya itu jujur dan tulus tanpa tipu muslihat.
"Baiklah. Saya akan mencoba sedikit mempercayai Yang Mulia. Saya harap pilihan yang saya ambil ini tepat.”
"Bagus.” Ludwig tersenyum penuh kemenangan. Anna sendiri tidak yakin apakah dirinya benar-benar mempercayai pria di hadapannya ini atau tidak. Atau mungkin dia berada di bawah pengaruh sihir. “Nona, cobalah mulai mencari dari ujung sayap kanan Istana di lantai tiga. Sepertinya saya pernah melihatnya dari kejauhan di sana. Tapi Nona harus cepat. Saya hanya dapat menahan sihirnya selama lima belas menit."
***
Istana Ratu jauh lebih mewah dan megah daripada Istana Putra Mahkota. Istana itu didominasi oleh warna putih mutiara dan ornamen emas. Lantainya yang terbuat dari marmer dilapisi karpet berwarna biru. Tapi berbeda dari Istana Utama dan Istana Putra Mahkota yang pernah Anna kunjungi, Istana Ratu tampak tertutup. Semua jendela ditutup rapat dan gorden-gorden tidak dibuka. Tidak ada penjaga maupun pelayan yang terlihat di sana, tapi Istana itu tetap tampak bersih dan tidak berdebu. Istana itu tampak sangat kosong dan sunyi hingga Anna dapat mendengar suara langkah kakinya sendiri.
Anna berjalan menyusuri tangga-tangga dan lorong-lorong yang dipenuhi pintu. Anna mengingat-ingat petunjuk yang diberikan oleh Pangeran Ludwig dalam kepalanya. Di ujung sayap kanan Istana di lantai tiga.
Setelah sampai di lantai tiga, Anna tidak melihat ada apa pun yang berbeda. Seperti lantai-lantai lain, tempat itu juga begitu sepi. Tidak ada satu orang pun pelayan maupun penjaga. Tidak ada siapa pun di sana.
Anna mengingat pesan dari Ludwig bahwa dirinya hanya punya waktu lima belas menit. Jadi Anna mempercepat jalannya menuju ujung sayap kanan. Di sayap kanan Istana terdapat banyak sekali pintu-pintu yang menuju ke berbagai ruangan. Anna mencoba memasukkan kunci yang diberikan oleh Pangeran Ludwig ke pintu paling ujung. Tapi kuncinya tidak sesuai.
Pintunya terbuka.
Anna membukanya perlahan. Ruangan itu dalam keadaan gelap, jadi Anna masuk untuk menyalakan lampunya.
Baru tiga langkah masuk ke dalam ruangan itu, seseorang dari balik pintu sudah menyergapnya. Dengan gerakan yang sangat cepat sehingga Anna tidak sanggup menghindar atau melawan, orang itu sudah mengunci pergerakan Anna dan menodongkan sebilah pisau buah ke lehernya. Cengkeraman tangannya sangat kuat sehingga Anna kesulitan untuk bergerak.
"Siapa kau?" Tanya orang itu. Tapi Anna mengenali suara itu. Itu adalah suara seorang wanita dengan aksen bicara khas Schiereiland yang rasanya sudah sangat lama tidak didengarnya. "Jangan bergerak. Pemuda itu tidak mengatakan akan ada orang yang datang malam ini, jadi kau pasti bukan orang suruhannya. Cepat katakan siapa kau atau aku akan—“
"Ibu?"
Itu memang suara ibunya, Ratu Isabella. Anna tidak mungkin salah mengenali suara yang sudah didengarnya sejak hari kelahirannya. Suara yang sudah sangat dia rindukan selama ini. Suara yang hangat yang selalu menenangkannya. Tanpa sadar air matanya mengalir.
Wanita itu, Ratu Isabella, melepaskan Anna dan membuang jauh-jauh pisau buah yang sejak tadi dipegangnya. Dia segera menyalakan lampu ruangan itu.
Untuk sesaat Anna kesulitan melihat dengan jelas karena cahaya lampu yang dinyalakan tiba-tiba. Ruangan yang dia masuki ternyata adalah sebuah kamar yang sangat luas. Jauh lebih luas dari kamar mana pun yang pernah dia lihat. Lalu di hadapannya saat ini berdirilah Ratu Isabella. Wanita itu meneteskan air mata saat menatapnya.
"Anastasia? Putriku? Apakah benar itu kau, putriku?" Ratu Isabella tampak tak mempercayai apa yang dilihatnya.
Anna mengangguk. "Ini aku, Ibu." Dia tak sanggup menahan tangisannya yang langsung pecah saat ibunya memeluknya dengan erat dan menghujaninya dengan ciuman penuh kerinduan di pipi dan keningnya. "Aku sangat merindukan ibu." Kata Anna di sela tangisannya.
"Astaga. Putriku. Putriku yang tersayang. Ibu juga sangat merindukanmu." Kata Ratu Isabella sambil membelai rambut putri kesayangannya itu. Air matanya tak terbendung. "Ibu pikir kau sudah mati. Ibu sangat terpukul hingga rasanya ingin mati saja saat mendengar berita itu. Suamiku dan putriku yang sangat aku cintai, mati di saat yang sama, bagaimana bisa aku bertahan hidup? Orang-orang mengatakan kau ikut terbunuh malam itu. Tapi pemuda itu terus mengatakan bahwa kau masih hidup dan berjanji suatu saat dia akan membawamu padaku, perkataannya saat itu menjadi satu-satunya harapan bagiku."
Anna mengusap air matanya untuk melihat wajah Ibunya yang sudah lama ia rindukan itu. Ibunya tampak lebih kurus, dan ada lingkar hitam di bawah matanya. Tapi Sang Ratu tetap terlihat cantik bercahaya dengan rambut pirang madu dan mata biru kehijauan yang selalu menatapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dia mengenakan gaun panjang khas Nordhalbinsel yang menyempurnakan kecantikan anggunnya. Sorot mata itu berkaca-kaca. Anna sangat merindukan tatapan itu. "Ibu baik-baik saja? Siapa yang mengurung ibu di sini? Apakah ibu terluka?" Tanya Anna sambil memperhatikan setiap detail wajah ibunya, mencari-cari tanda penderitaan yang mungkin dialaminya selama ini.
"Tidak, putriku. Ibu baik-baik saja. Pemuda baik hati itu memperlakukan kami seperti tamu kehormatan. Kami diberikan kamar yang bagus di Istana ini dan makanan yang lezat setiap hari. Ada banyak pelayan yang akan datang di saat-saat tertentu dan dia selalu memastikan kami baik-baik saja meski beberapa hari terakhir ini dia tidak menemui kami."
"Siapa pemuda yang terus ibu bicarakan ini?"
"Dia tidak mau memberi tahu kami namanya. Dia juga menutupi wajahnya dengan topeng setiap kali datang mengunjungi kami. Tapi aku dapat melihat dia memiliki sepasang mata Emerald yang sangat indah dan langka. Mata itu mengingatkanku pada seseorang yang dulu pernah menjadi kakak angkatku."
Anna terkejut saat mendengar deskripsi tentang Pemuda yang telah merawat ibu dan adiknya itu. "Mata Emerald?" Anna memang pernah mendengar cerita tentang anak perempuan tertua Grand Duke Smirnoff yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengan Ratu Isabella. Meski tidak pernah melihatnya, Anna ingat ibunya sering menceritakan tentang sosok wanita dengan mata emerald yang diangkat menjadi anak Grand Duke Smirnoff dan menjadi Jenderal yang melayani Raja Eustacius, kakeknya Anna. Tapi Semenjak bertemu dengan Xavier, mata emerald selalu mengingatkannya pada mata Xavier, seolah dia tidak pernah mendengar tentang orang lain yang memiliki mata emerald.
"Ya. Kau mengenalnya?"
Anna mengangguk. "Dia adalah Putra Mahkota Nordhalbinsel. Putra dari Raja yang membunuh ayah." Kata Anna. Tiba-tiba dia mengingat perkataan Ludwig untuk tidak terlalu mempercayai Xavier. Ludwig mungkin benar. Mungkin Xavier memang merencanakan sesuatu tapi dia tidak tahu apa itu. Dan apa pun itu, Anna merasa harus mewaspadai Xavier. "Ibu, dengar, kita tidak bisa berlama-lama di sini. Waktu kita tinggal beberapa menit lagi. Dimana Alexis?"
"Alexis pergi sejak beberapa jam yang lalu, dan masih belum kembali. Itulah sebabnya ibu sangat waspada dan hampir melukaimu tadi karena khawatir seseorang mungkin berniat melukai kami."
"Tidak apa-apa, Bu. Apakah Ibu tahu ke mana Alexis pergi?"
"Ibu tidak tahu. Dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun meski ibu sudah melarangnya untuk tidak pergi dari Istana ini. Pemuda itu, Putra Mahkota Xavier, menyampaikan pesan melalui para pelayan bahwa kami tidak boleh keluar malam ini karena akan ada banyak sekali orang yang datang ke Istana."
Anna berpikir keras. Menyelamatkan ibu dan adiknya adalah prioritasnya saat ini, tapi waktunya tidak banyak. Dia harus segera membawa Ratu Isabella keluar dari Istana Ratu bagaimana pun caranya.
"Ibu, pertama-tama kita harus segera keluar dari sini. Nanti saat kita keluar dari Istana Ratu, akan ada seorang Pangeran yang dapat membantu kita keluar tanpa ketahuan dengan sihirnya. Lalu Leon akan menunggu kita tidak jauh dari gerbang Istana. Dia akan membawa ibu ke tempat yang sangat aman, sementara itu aku akan tetap di sini untuk mencari Alexis. Mohon percayakan ini semua padaku. Aku pasti bisa membawa Ibu dan Alexis pergi dari sini secepatnya."
***
Cahaya bulan menembus melalui jendela besar di puncak tertinggi Menara. Bangunan yang dikenal telah ada sejak zaman Ratu Agung Zhera itu adalah bangunan yang tingginya melebihi Istana. Di dalam Menara itu lah para penyihir berkumpul untuk memperkuat sihirnya dan mempelajari berbagai hal. Di puncak tertinggi Menara yang hanya dapat dimasuki oleh penyihir-penyihir tertentu, seorang pemuda berjalan dengan langkah yang pasti seolah itu adalah rumahnya sendiri. Para penjaga Puncak Menara yang merupakan para penyihir dengan kekuatan sihir yang tinggi membungkuk penuh hormat pada pemuda yang usianya tidak sampai separuh umur mereka. Pemuda itu bahkan tidak repot-repot melirik mereka yang membungkuk padanya karena itu adalah hal yang biasa baginya. Semua orang di Menara menghormatinya. Tapi dia hanya menghormati satu orang. Dan orang itu, wanita itu, kini sedang berdiri di hadapannya dengan gaun berwarna ungu yang sewarna dengan matanya. Wanita itu, yang tampak semuda dirinya, tersenyum saat melihatnya memasuki ruangan itu.
“Salam hormat saya kepada Ibunda.” Kata si Pemuda sambil membungkuk hormat di hadapan Wanita itu.
“Putraku tersayang, Pangeran Ludwig, ada kabar gembira apa yang ingin kau sampaikan padaku?” Tanya Wanita itu dengan nada suara yang manis. Wanita itu adalah pemimpin Menara, penyihir terhebat di Nordhalbinsel, Permaisuri Selena.
“Saya sudah melaksanakan apa yang Ibunda perintahkan kepada saya.” Kata Pangeran Ludwig.
“Bagus sekali, Putraku. Sekarang kita tinggal menunggu pergerakan dari Putra Mahkota." Kata Sang Permaisuri. Senyumannya penuh intrik. Mata ungunya berkilat di bawah sinar rembulan. Membuatnya terlihat sangat cantik dan keji di saat bersamaan.
"Argus." Sang Permaisuri memanggil seseorang. Dalam hitungan detik, seorang pria yang berpakaian layaknya seorang Jenderal muncul dari sisi lain ruangan itu. "Oh, atau aku harus memanggilmu Jenderal Orthion?"
"Saya menghadap Yang Mulia Permaisuri Selena." Kata pria itu, berlutut di hadapan Permaisuri Selena.
"Aku memiliki tugas untukmu."
"Setelah membunuh Jenderal Orthion yang asli, siapa lagi yang harus saya bunuh sekarang Yang Mulia? Saya, Argus, Ketua dari Black Mamba akan melakukan apa pun untuk Yang Mulia."
Selena tersenyum puas. "Kau mungkin akan agak kesulitan untuk tugas ini. Bawa seluruh anggota Black Mamba. Kali ini tidak boleh ada kegagalan. Bunuh Putra Mahkota dan Putri berambut merah dari Schiereiland itu.”
Mendengar itu, Ludwig sontak terkejut. Meski dia tahu dirinya tidak diizinkan menyela perkataan ibunya, tapi dia angkat bicara. “Sang Putri juga? Tapi Ibunda sebelumnya tidak mengatakan bahwa dia juga harus dibunuh. Kenapa dia-”
“Kenapa kau mempertanyakan perintahku, Putraku? Dia hanya akan menjadi penghalang jika dibiarkan hidup. Aku tak menyangka Putri kecil itu kini sudah tumbuh dewasa dan dia bisa menggunakan pedangnya dengan cukup baik. Dia akan menjadi penghalang yang berbahaya jika dibiarkan hidup.”
“Saya pikir—“
“Ludwig!" Selena tampak marah, tapi langsung merubah nada suaranya menjadi semanis madu, "Apa kau mau membantah perintah dari Ibu yang telah melahirkan dirimu dan membesarkanmu dengan susah payah? Lagi pula aku melakukan semua ini untukmu, Putraku. Kelak kau yang akan menjadi Raja di Kerajaan ini. Jangan lemah, nak. Ingatlah betapa kejamnya orang-orang itu dahulu saat membantai seluruh keluargaku dan merebut kerajaanku. Balaskan dendamku, Putraku. Lalu semuanya akan menjadi milikmu.”
Ludwig tidak dapat membantah perkataan Ibunya. Dengan penuh rasa bersalah dan suara bergetar, dia menjawab, “Baik, Ibunda."
***