
Istana Putra Mahkota memang tidak sebesar Istana Utama. Tapi Istana itu tetap sangat besar dan mewah. Jaraknya juga cukup jauh dari Istana Utama sehingga untuk pergi ke sana mereka harus menaiki kuda atau kereta kuda dari Istana Utama. Anna merasa jauh lebih nyaman berada di Istana Putra Mahkota karena tidak banyak orang yang tinggal di sana. Hanya ada Xavier, Eleanor, dan para dayang serta pelayan dan pengawal yang ada di Istana itu. Setidaknya Anna bisa merasa tenang karena tidak akan bertemu dengan Raja Vlad maupun Permaisuri Selena dan putra-putranya di Istana itu. Terutama Pangeran Ludwig.
Hari itu dari matahari terbit hingga matahari terbenam Anna sibuk mengikuti Xavier yang sudah mulai kembali ke jadwal rutinitas hariannya. Tapi berkat kesibukannya itu, Anna jadi tahu rutinitas Xavier selama berada di Istana dan berbagai kondisi politik dan ekonomi yang terjadi di berbagai daerah di Nordhalbinsel. Selama mengikuti pertemuan Xavier dengan para Duke dan Count, Anna mendengarkan semua yang mereka bicarakan. Diam-diam, Anna mempelajari kondisi berbagai daerah dan berusaha mengingat semuanya.
Kebanyakan masalah utama Nordhalbinsel adalah aliran air dan bahan pangan. Wilayah Winterthur yang meliputi daerah utara, memiliki banyak penyihir lulusan Menara dan seorang Grand Duchess yang juga seorang penyihir, Ibu dari Putri Mahkota. Jadi wilayah itu tidak mengalami masalah kekurangan air maupun bahan pangan karena para penyihir bisa menggunakan sihirnya untuk mengatasi masalah itu. Tapi di wilayah lain seperti Richterswill, Engelberg, Lautern dan Iseltwall yang berada di sebelah Selatan dan Timur, mereka kekurangan tenaga penyihir sehingga penyihir yang ditugaskan disana kelelahan akibat beban kerja yang berlebihan. Sehingga mereka tidak dapat menumbuhkan tanaman sihir dengan cepat yang berimbas kepada menurunnya bahan pangan untuk rakyat.
Berbeda dengan Schiereiland yang memiliki empat musim yang selalu datang dengan teratur, dan lebih sering terkena sinar matahari, Nordhalbinsel hanya memiliki musim dingin sepanjang tahun. Saat di Schiereiland dulu, Anna tidak pernah mendengar adanya rakyat yang mengeluhkan masalah air dan bahan pangan. Curah hujan yang tinggi sepanjang musim semi dan musim panas membuat air selalu mengalir deras sepanjang tahun. Schiereiland memiliki banyak sumber air yang segar dan tidak pernah habis baik dari sungai-sungai maupun air tanah di pegunungan. Bahkan saat musim dingin, air sungai Scheine tidak membeku. Untuk bahan pangan pun Schiereiland tidak pernah kekurangan. Semua jenis tanaman dapat tumbuh dengan baik di berbagai wilayah di Schiereiland. Ada banyak sekali tanaman yang dapat dimanfaatkan baik buahnya, bijinya, batangnya, daunnya, akarnya bahkan hingga bunganya dapat dimakan. Anna sedikit memahami kenapa Nordhalbinsel berusaha menaklukkan Schiereiland. Schiereiland seperti tanah surga impian yang kaya akan sumber daya alam jika dibandingkan dengan tanah beku yang mati milik Nordhalbinsel.
Nordhalbinsel dapat bertahan selama ini dengan mengadakan perdagangan dengan Westeria. Itulah sebabnya Raja sebisa mungkin memelihara hubungan baik dengan Westeria. Meski tidak sesubur tanah Schiereiland, Westeria juga memiliki empat musim dan cuaca yang hangat selain musim dingin. Nordhalbinsel juga mengimpor bibit tanaman dari Westeria untuk dikembangkan di Rumah Tanam masing-masing daerah oleh para penyihir. Itulah sebabnya keberadaan penyihir sangat berharga bagi rakyat Nordhalbinsel.
“Aku menolak rencana ini!” Kata Xavier di rapat terakhirnya di sore hari. Dia melempar proposal yang diajukan oleh Duke Richterswill. Dari raut wajahnya Anna tahu bahwa rencana itu pasti sangat buruk sehingga bisa membuat Xavier semarah itu.
“Yang Mulia, mohon pertimbangkan kembali. Saat ini sudah banyak rakyat kita yang kelaparan. Dengan mengambil alih semua hasil pertanian Schiereiland dan memperkerjakan mereka sebagai budak pekerja, kita dapat menghidupkan rakyat kita.” Kata Duke Richterswill.
Mendengar itu, tentu saja Anna ikut marah. Rakyatnya akan dijadikan budak dan hasil pertanian mereka akan dirampas. Bagaimana mungkin Anna tidak marah. Jika bisa, saat itu juga Anna ingin langsung menebas kepala Duke dengan pedangnya. Tapi Anna tidak bisa melakukan itu. Jadi dia hanya menahan emosinya dengan tangan terkepal pada pegangan pedangnya.
“Setelah kita mengambil alih Kerajaan Schiereiland, maka rakyat Schiereiland juga adalah rakyat kita. Dan kau mau menjadikan mereka sebagai budak, mengorbankan jerih payah mereka untuk mengisi perut kita? Apakah hanya itu yang dapat kau pikirkan, Duke?”
“Kita tidak punya pilihan lain—“
“Ada.” Potong Xavier. “Selalu ada pilihan lain. Jika kau berhenti menumpuk bahan pangan di gudang pribadimu, Duke Richterswill.” Kata Xavier sambil menatap tajam ke arah Duke Richterswill yang mulai berkeringat dingin.
“A-apa maksud—“
“Dan jika kau tidak memungut biaya besar untuk rakyat yang ingin belajar sihir di Menara, Count Iseltwall.”
“Yang Mulia, saya tidak...“ Count Iseltwall yang duduk di samping Duke Richterswill juga tampak gelisah.
Xavier menoleh ke arah Count Lautern yang sejak tadi hanya diam, “Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau mematok harga yang sangat tinggi untuk air di wilayahmu, Count Lautern?”
“I-itu... Saya bisa menjelaskannya, Yang Mulia...“
Xavier menghela napas. Keningnya berkerut dan menatap tajam ketiga Duke dan Count di hadapannya.
Anna memperhatikan dalam diam. Menunggu Xavier melakukan sesuatu untuk menghentikan rencana mereka. Untuk menyelamatkan rakyatnya. Karena saat ini, dalam posisinya sekarang, dia tidak memiliki kuasa untuk melakukan apa pun.
“Duke Engelberg, serahkan padaku data yang kuminta.”
Duke Edric Engelberg, yang masih ada hubungan keluarga dengan Jenderal muda Tyros Engelberg Penjaga Wilayah Timur kerajaan Nordhalbinsel, maju ke depan untuk menyerahkan setumpuk kertas kepada Xavier.
“Ini adalah bukti yang dapat menghancurkan keluarga dan reputasi kalian. Jika kalian tidak mau apa yang terjadi pada keluarga Winterthur 23 tahun yang lalu terjadi juga pada keluarga kalian, lebih baik kalian hentikan rencana kalian sekarang juga.”
Duke Richterswill menggebrak meja dan berdiri, “Kami hanya setia pada Baginda Raja dan hanya akan mematuhi perkataan Baginda. Kau bahkan belum menjadi Raja tapi kau sudah berani mengancam kami yang lebih tua darimu?”
Anna baru hendak maju untuk menghunuskan pedangnya, Tapi Xavier buru-buru memberi isyarat untuk berhenti dan diam. Anna menyarungkan kembali pedangnya. Meski sebenarnya dia benar-benar ingin menghunuskan pedangnya melawan orang yang berani-beraninya menjadikan rakyatnya sebagai budak. Tapi Anna harus mempercayakan urusan ini kepada Xavier. Meski Anna tidak sepenuhnya mempercayai Xavier, tapi dia meyakini bahwa Xavier adalah pemimpin yang baik dan mengutamakan rakyat.
“Anna, bawa kotak itu ke sini.”
Anna segera menuruti perkataan Xavier. Xavier sudah membawa kotak kecil berwarna emas itu sepanjang hari dan menitipkannya pada Anna. Anna memang penasaran dengan isi kotak itu, tapi Xavier memintanya untuk tidak bertanya dan bahwa Anna akan segera mengetahuinya nanti. Rupanya kotak itu dibutuhkan di saat seperti ini.
Xavier membuka kotak emas itu. Di dalamnya stempel kerajaan berbentuk Naga yang terbuat dari emas dengan batu permata berwarna merah sebagai matanya. Xavier menunjukkan stempel itu kepada Duke Richterswill dan para pengikutnya, Count Iseltwall dan Count Lautern.
“Perintahku adalah perintah Raja. Kau sebaiknya menjaga sikapmu selagi aku masih bersikap baik.” Kata Xavier.
Duke Richterswill dan para pengikutnya menatap stempel kerajaan dengan terkejut. Begitu pun dengan Anna. Anna tahu apa artinya jika seorang Raja sudah memberikan stempel kerajaan kepada penerusnya. Raja akan segera menyerahkan takhtanya. Dengan kata lain, Raja Vlad kemungkinan besar sedang sekarat saat ini.
“Bagaimana bisa—“
“Baginda Raja sudah menyerahkannya padaku kemarin." Kata Xavier. “Jadi, hukuman apa yang sebaiknya kuberikan pada kalian?”
***
Usai rapat yang menegangkan itu, Xavier tampak lebih lega. Anna memperhatikan bahwa bahkan untuk Xavier sendiri, menghadapi para bangsawan yang menentangnya bukan lah perkara mudah.
Ketiga bangsawan itu tidak langsung diberi hukuman karena Xavier belum resmi menjadi Raja meski sudah memegang stempel kerajaan. Tapi paling tidak mereka tidak akan mengganggu rakyat Schiereiland seperti rencana mereka. Dan mereka juga sudah berjanji untuk tidak melakukan apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Xavier juga berniat mengadakan pemberian beasiswa untuk para calon murid penyihir yang tidak mampu agar jumlah penyihir kerajaan bertambah serta mengirimkan utusan untuk pergi ke Westeria untuk memperbarui perjanjian perdagangan.
Anna juga memperoleh keuntungan dengan mengikuti Xavier ke berbagai tempat di Istana. Dia jadi mengetahui berbagai tempat di Istana yang sebelumnya tidak dia ketahui karena Sebastian si Kepala Pelayan Istana tidak mengenalkannya pada tempat-tempat itu. Tapi dari sekian banyak tempat yang mereka lalui atau singgahi hari itu, Anna tidak melihat adanya tempat yang menjadi kemungkinan tempat Ratu Isabella dan Putra Mahkota Alexis dikurung.
"Terima kasih, Anna. Kau sudah bekerja keras hari ini. Pestanya akan dimulai jam tujuh malam. Istirahat lah terlebih dahulu, masih ada waktu tiga jam lagi sebelum pestanya dimulai." Kata Xavier saat mereka keluar dari ruang kerjanya.
"Bukankah setelah ini masih ada satu jadwal lagi?"
"Itu hanya acara minum teh mingguan dengan para Istri dan Putra Raja, bukan acara formal. Aku juga sebenarnya tidak ingin datang. Bayangkan, sebuah acara minum teh yang dipenuhi ibu tiri dan sudara tiriku. Dan aku akan menjadi satu-satunya yang tidak datang bersama ibuku." Xavier bergidik ngeri. "Merepotkan sekali harus menghadapi mereka. Tapi karena Baginda Raja memintaku untuk datang menggantikannya, aku harus datang. Kau tidak perlu ikut karena akan ada banyak sekali pengawal dari Istana Utama yang datang.”
“Kalau begitu, Permaisuri Selena juga akan hadir dalam acara itu bukan?” Kali ini kening Anna berkerut khawatir tanpa disadarinya.
“Benar.”
“Apakah tidak berbahaya—“
“Apa kau mengkhawatirkanku?”
Anna terdiam. Itu pertanyaan yang sangat sederhana. Apa dia mengkhawatirkannya. Sejak kapan Anna mulai mengkhawatirkannya, Anna sendiri tidak yakin. Mungkin sejak Xavier menyelamatkan nyawanya malam itu. Mungkin sejak Anna mulai menjadi pengawal pribadinya. Sejak dia mengetahui bahwa ada banyak orang yang menginginkan kematian Xavier. Bahkan Anna sendiri pernah sangat marah pada apa yang terjadi padanya dan kerajaannya sehingga menginginkan kematian Xavier. Tapi itu sebelum Anna mengenalnya.
Xavier tersenyum pahit mendengar jawaban itu. Itu bukan jawaban yang ingin dia dengar. “Jangan khawatir. Permaisuri tidak akan menyerang secara langsung terlebih saat ada banyak orang di sekitarnya. Beberapa Selir dan Pangeran juga ada di pihakku. Jadi aku akan baik-baik saja. Beristirahatlah.”
"Baik, Yang Mulia."
Xavier baru akan berbalik pergi tapi mengingat ada yang harus dikatakannya lagi pada Anna jadi dia kembali. "Kau akan datang ke pesta sebagai salah satu tamu yang diundang, jadi kau bukan datang untuk bekerja. Kenakanlah gaun cantik yang kau inginkan. Aku sudah meminta para pelayan untuk menyiapkan beberapa gaun yang mungkin kau sukai. Mereka akan segera mengantarkannya ke kamarmu. Sampai bertemu di pesta."
***
Beberapa gaun yang dimaksud oleh Xavier ternyata ada lebih dari dua puluh gaun yang dibawakan langsung oleh perancang gaun Kerajaan. Semua gaun itu sangat cantik dan jenis gaun yang belum pernah Anna kenakan di Schiereiland. Terdapat perbedaan gaya berbusana antara Nordhalbinsel dan Schiereiland. Jika di Schiereiland, mereka punya empat musim dan pakaian yang dikenakan pun akan disesuaikan dengan musimnya. Kebanyakan wanita bangsawan di Schiereiland akan mengenakan gaun dengan korset ketat dengan bagian pinggang yang sangat kecil dan bagian rok yang mengembang lebar. Gaun-gaun Schiereiland adalah model gaun ruffle dengan banyak hiasan berupa renda, lipatan tambahan, hingga batu permata sehingga berat sebuah gaun bisa mencapai satu kilo atau lebih. Jika cuacanya lebih panas dari biasanya seperti pada musim panas, mereka akan menggunakan gaun dengan jenis yang sama namun dengan bahan yang lebih ringan dan tipis serta mengurangi aksesori tambahan di gaun mereka. Jika cuacanya lebih dingin, mereka akan mengenakan lapisan dalam tambahan serta mantel bulu sehingga gaun itu akan menjadi semakin berat.
Tapi di Nordhalbinsel, para wanita bangsawan diperbolehkan tidak memakai korset. Gaun-gaun yang dikenakan pun tidak memiliki bagian rok yang mengembang lebar. Gaun Nordhalbinsel terbuat dari bahan tebal namun sangat nyaman dipakai dan lebih menonjolkan lekuk tubuh asli pemakainya. Gaun-gaun itu sangat panjang hingga dapat menyapu jalanan namun terlihat sangat anggun saat dipakai oleh para Lady.
"Silahkan dipilih, Nona." Kata para pelayan yang membawakan gaun-gaun tersebut.
Tumbuh sebagai seorang Putri Raja, sejak dahulu Anna sangat menyukai gaun-gaun cantik, perhiasan dan pesta. Meski Anna membenci korset dan gaun yang berat benar-benar membuatnya lelah sepanjang hari. Jadi saat melihat gaun-gaun cantik khas Nordhalbinsel yang tidak berat saat dipakai dan tidak perlu memakai korset, dia tergiur ingin mencoba gaun-gaun itu. Tapi saat ini, lebih dari gaun-gaun cantik di hadapannya, dia hanya ingin segera menemui Ibu dan adiknya. Dan pesta nanti malam akan jadi kesempatannya untuk pergi diam-diam mencari Ibu dan adiknya tanpa ketahuan karena nanti malam orang-orang akan terlalu sibuk berpesta.
"Aku tidak—“
Anna baru saja akan menolak gaun-gaun indah tersebut saat tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya. Anna segera membukanya. Berdiri di hadapannya, mengenakan gaun yang lebih indah dari gaun mana pun yang pernah dilihatnya, Eleanor Winterthur.
"Anna, Aku ingin meminta bantuanmu."
***
"Yang Mulia Putra Mahkota Xavier Fils du Roi Nordlijk del Norte le Grand dan Yang Mulia Putri Mahkota Eleanor Liliana Grimoire-Winterthur memasuki ruangan."
Itu adalah aba-aba yang harus diperhatikannya. Anna melangkahkan kakinya dengan mantap. Rasanya sudah sangat lama sejak terakhir dirinya melangkah menuju aula pesta. Dia mengenakan gaun panjang berwarna putih yang berkilau karena dihiasi berlian dan batu permata Sapphire yang sangat indah dan sepatu hak tinggi yang berkilau terbuat dari es yang dipadatkan dan dibuat oleh sihir sehingga tidak meleleh dan tidak terasa berat. Jantungnya berdebar, takut melakukan kesalahan karena kali ini dia akan memasuki aula pesta dansa itu sebagai Eleanor Winterthur.
Beberapa jam yang lalu, Eleanor mendatanginya di kamarnya untuk meminta bantuan. Saat itu dua jam sebelum dimulainya pesta. Eleanor segera mengajaknya ke kamar Putri Mahkota dan memohon agar Anna datang ke pesta sebagai dirinya karena ada urusan mendesak yang sangat penting yang membuat Sang Putri Mahkota tidak dapat menghadiri pesta. Sedangkan pada malam itu Xavier berencana akan mengumumkan rencana pernikahan mereka, jadi Eleanor tidak bisa membiarkan Xavier datang sendirian. Melihat Eleanor yang memohon padanya sampai berlutut di hadapannya membuat Anna tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan Sang Putri Mahkota. Eleanor yang ahli dalam sihir transformasi merubah Anna menjadi sangat mirip dengan dirinya dengan rambut pirang yang panjang dan tertata rapih serta mata berwarna biru es yang sangat indah. Jadi di sini lah dia sekarang, memasuki aula pesta sebagai Eleanor dengan Xavier berada di sampingnya.
Semua orang yang ada di pesta menghentikan semua hal yang sedang mereka lakukan. Mata mereka terpaku pada Anna dan Xavier yang baru saja memasuki ruangan.
"Para tamu undangan yang terhormat, saya ucapkan terima kasih karena telah menghadiri pesta malam ini. Pesta ini diadakan oleh Baginda Raja dengan kemurahan hatinya sebagai perayaan sekaligus penghargaan untuk mereka yang telah berjuang menyelamatkan para warga di Montreux dari wabah. Tapi kondisi kesehatannya kurang baik belakangan ini akibat kelelahan, jadi Baginda Raja tidak dapat hadir dalam pesta kali ini." Kata Xavier kepada seluruh hadirin pesta yang kebanyakan adalah para prajurit dan keluarga bangsawan.
Terdengar suara kasak-kusuk yang mencemaskan kesehatan Raja saat Xavier menyebutkan kondisi Sang Raja.
"Tidak perlu khawatir, karena saat ini Baginda Raja sedang diobati dan keadaannya semakin membaik." Xavier buru-buru menambahkan. Kemudian Xavier menoleh ke arah Anna yang sedang menjadi Eleanor, dia tersenyum lembut padanya dan mengulurkan tangannya dengan sopan, meminta izinnya untuk menggandeng tangannya. Anna menerima uluran tangan itu dan membiarkan mereka saling bergandengan tangan. Anna tersenyum canggung. Dia bahkan belum berlatih tersenyum seperti Eleanor.
"Meski begitu, Baginda Raja meminta saya untuk tidak menunda pengumuman ini. Jadi saya akan mengumumkannya sekarang juga bahwa minggu depan, Saya, Putra Mahkota Nordhalbinsel akan segera menikahi tunangan saya yang sangat saya cintai, wanita yang ada di samping saya saat ini, Putri dari Grand Duke Winterthur, Putri Mahkota Eleanor Liliana Grimoire-Winterthur."
Serentak semua orang menyambut gembira pengumuman itu. Semua orang bertepuk tangan meriah dan memberikan selamat kepada pasangan Putra Mahkota dan Putri Mahkota kerajaan mereka. Anna dan Xavier pun mulai menuruni anak tangga untuk menghampiri semua tamu undangan dan untuk dansa pertama.
Xavier berada di samping Anna, menggandeng tangannya dan menuntun langkah kakinya perlahan, memperlakukannya selembut mungkin seolah dirinya adalah setangkai bunga yang rapuh. Anna jadi bertanya-tanya apakah hubungan Sang Putri Mahkota dengan Sang Putra Mahkota benar-benar sebaik kelihatannya atau tidak. Jika hubungan keduanya memang sangat baik, tidak seharusnya Eleanor pergi meninggalkan pesta dansa dan membuat Anna yang hanya seorang pengawal pribadi Putra Mahkota menjadi dirinya untuk menemani tunangannya apalagi di hari pengumuman pernikahan mereka. Di Schiereiland, pesta dansa kerajaan adalah hal yang sangat penting bagi anggota keluarga kerajaan. Jadi Anna penasaran apa yang lebih penting dari hal ini bagi Eleanor. Tapi jika melihat dari cara Xavier yang memperlakukan Eleanor dengan sangat lembut dan sopan, Anna tahu bahwa hubungan keduanya cukup baik, paling tidak bagi Xavier.
Anna menuruni tangga dengan perlahan. Sikap anggun yang sudah dipelajarinya selama bertahun-tahun belum luput dari ingatannya. Bagaimana cara berjalan yang baik, cara menatap orang-orang di sekeliling dengan ramah dan tersenyum, Anna masih mengingat semua itu.
Setelah menuruni tangga, beberapa orang telah menanti mereka, membuat barisan untuk mengucapkan selamat atas pernikahan yang akan segera dilaksanakan. Mulai dari para bangsawan, para Selir Raja hingga para Pangeran yang hadir di sana satu persatu mengucapkan selamat dan betapa mereka telah sangat lama menanti kabar bahagia ini. Semua ada di sana untuk merayakan pengumuman pernikahan kerajaan yang telah sangat dinantikan. Semua, kecuali Permaisuri selena dan ketiga putranya.
Saat Anna dan Xavier sampai di lantai dansa untuk dansa pertama yang akan membuka pesta itu, Xavier menunduk memberi salam hormat padanya. Dia mengulurkan tangannya untuk mengajak Anna berdansa. Anna menerimanya, dan musik pun dimulai.
Mereka berdua berdansa mengikuti irama musik. Setelah mereka berdua mulai berdansa, pasangan lainnya yang ada di lantai dansa turut berdansa. Anna bersyukur cara berdansa di Schiereiland dengan Nordhalbinsel ternyata sama. Sehingga dirinya tidak merasa canggung sama sekali. Sebagai Putri Kerajaan Schiereiland, Anna memang sangat ahli dalam berdansa karena sudah mempelajarinya selama bertahun-tahun.
Selama berdansa, mereka begitu terhanyut pada alunan musik sehingga tidak ada satu pun yang bicara. Hingga akhirnya dua lagu selesai dan mereka mulai memasuki lagu ketiga dengan tempo yang lebih lambat dan gerakan yang lebih halus.
“Aku sudah tahu kau bukan Eleanor.” Bisik Xavier di telinga Anna saat dansa ketiga mereka, saat alunan musik lebih lembut.
Anna terkejut mendengarnya. Dia mengingat permintaan Eleanor untuk tidak mengatakan apa pun pada Xavier bahkan jika Xavier mengetahui rencananya. Anna berusaha untuk tidak menatap mata Xavier yang hanya beberapa senti dari matanya. Tapi sulit bagi Anna untuk menghindari tatapan sepasang mata emerald itu.
Xavier tersenyum. "Tidak apa-apa. Kau tidak perlu mengatakan apa pun. Elle pasti sudah menyuruhmu untuk tetap diam dan tidak mengatakan apa pun. Dia sudah biasa mengirimkan dayang-dayangnya atau bahkan pelayannya untuk menemaniku saat ada acara seperti ini dan dia sedang memiliki urusan mendesak. Kau tahu? Dia sedang menemui kekasihnya saat ini. Dia mungkin sudah menceritakannya padamu, atau mungkin juga tidak."
Anna terkejut karena Xavier mengatakan hal itu dengan sangat santai seolah hal itu bukan apa-apa. Tunangannya meninggalkannya untuk menemui pria lain terlebih lagi kekasihnya di acara sepenting ini dan Xavier tidak terlihat marah sama sekali atau bahkan kecewa.
Anna tetap diam. Dia takut jika mengatakan apa pun, Xavier akan tahu bahwa dirinya adalah Anna, pengawal pribadinya. Dan Anna takut jika Xavier tahu, dia mungkin akan diberhentikan dari pekerjaannya dan akhirnya semua rencananya selama ini akan berantakan.
"Katakan, kau putri bangsawan dari mana? Kau tidak mungkin seorang pelayan biasa karena kau berdansa dengan sangat baik. Bahkan Eleanor tidak bisa berdansa sebaik ini. Minimal kakiku akan terinjak sebanyak sepuluh kali dalam satu lagu. Dia membenci acara-acara formal seperti ini." Kenang Xavier sambil tertawa ringan.
Anna tidak menjawabnya. Tentu saja dia berdansa dengan baik karena dia sudah belajar berdansa sejak dia mulai bisa berjalan. Karena berdansa merupakan keterampilan yang wajib dimiliki oleh seorang Putri kerajaan di Schiereiland. Tapi Anna tidak dapat menjelaskan semua itu kepada Xavier.
"Kenapa kau tegang sekali? Aku kan hanya bertanya. Aku tidak ada maksud untuk menggodamu. Seperti yang kau tahu, aku sudah memiliki tunangan dan kami akan segera menikah. Aku berencana untuk setia padanya agar tidak menjadi pria brengsek seperti ayahku." Xavier menatap Anna yang tampak terkejut karena dia mengatakan hal yang buruk tentang ayahnya yang mana adalah Raja dari Kerajaan ini di hadapan orang yang bahkan belum tentu dikenalnya. "Oh, jangan khawatir soal itu. Sudah menjadi kebiasaan orang-orang untuk mengatakan hal buruk tentang Raja. Yah, asalkan mereka tidak ketahuan saat mengatakannya. Kalau tidak, lidah mereka akan dipotong." Xavier kembali memperlihatkan senyumannya. "Tapi sungguh, Ayahku sebenarnya bukan orang jahat. Hanya saja tidak banyak orang yang mengetahui kebenarannya. Mereka hanya mempercayai apa yang mereka lihat."
Anna tidak ingin mendengar perkataan Xavier tentang Raja Vlad. Anna merasa marah pada dirinya sendiri karena hari itu saat dia melihat Sang Raja dalam jarak yang cukup dekat bukannya amarah besar dan rasa ingin balas dendam yang dia rasakan, justru Anna merasa kasihan padanya. Anna kecewa karena orang yang membunuh ayahnya tidak terlihat dalam kondisi yang bisa membuatnya membencinya. Anna marah pada dirinya sendiri yang mengasihani orang yang telah membunuh ayahnya.
"Apa kau lelah? kau terlihat sedikit lebih pucat, Nona Siapa Pun Namamu. Ayo kita istirahat sebentar." Ajak Xavier.
Anna tidak lelah, tapi dia menyetujui ajakan itu karena kakinya mulai terasa sakit. Sudah sangat lama sejak terakhir Anna berdansa dan memakai sepatu hak tinggi. Apalagi sepatu yang dia kenakan saat ini sangat tinggi hingga membuat kakinya terluka. Anna dapat merasakan tumitnya mulai berdarah karena lecet. Dulu memang memakai sepatu hak tinggi adalah bagian dari kehidupannya. Tapi semenjak kejadian itu, karena kehidupan yang dia jalani berbeda dengan kehidupan mewah di Istananya, Anna sudah tidak pernah lagi memakai sepatu hak tinggi.
Mereka duduk dan menikmati jamuan pesta serta minum anggur. Meski sebenarnya Anna tidak terlalu suka minuman beralkohol karena dia biasanya akan langsung mabuk setelah gelas kedua, tapi malam itu sangat dingin dan dia ingin merasakan anggur dari Nordhalbinsel. Setelah mereka makan sedikit camilan dan minum beberapa gelas anggur, Xavier memutuskan untuk tidak kembali ke lantai dansa dan mengajak Anna untuk menemaninya berjalan-jalan di taman bunga Tulip kristal milik istana.
***