
Pagi itu, di Istana Nordhalbinsel yang anehnya terasa lebih hangat dari kelihatannya sehingga Anna melepas mantel tebalnya, Anna diajak berkeliling Istana oleh Kepala Pelayan.
Anna baru saja mengetahuinya pagi ini—setelah bertemu dengan Elias yang menyambutnya di gerbang Istana—bahwa dia lolos Tes Wawancara dan dengan begitu telah resmi menjadi Pengawal Pribadi Putra Mahkota Xavier. Anna merasa campur aduk saat itu, bahagia dan lega karena akhirnya dia diterima dan rencananya berjalan dengan baik, tapi di saat yang bersamaan entah bagaimana dia merasa khawatir karena rencananya berjalan baik. Anna mengingat perkataan Leon tentang badai salju yang datang setelah hari cerah. Tapi Anna berusaha menepiskan pikiran itu jauh-jauh saat Elias melakukan upacara singkat penobatan Anna sebagai pengawal pribadi di hadapan prajurit Nordhalbinsel lainnya.
Setelah upacara singkat yang sangat sederhana itu selesai, Elias tampak buru-buru pergi meninggalkan tempat itu dan meminta Anna untuk mengikuti kepala pelayan yang akan memperkenalkan bagian-bagian di Istana serta memberitahukan jadwal pekerjaannya serta jadwal kegiatan Putra Mahkota. Tapi sebelum itu semua, Anna diminta untuk segera berganti pakaian dengan seragamnya dan Elias memberikannya sebuah pedang dengan ukiran naga pada pegangannya. Pedang yang hanya diberikan pada pengawal pribadi anggota keluarga kerajaan. Dengan senang hati Anna menyampirkan pedang itu di sabuk pada pinggangnya.
Kepala pelayan itu bernama Sebastian. Dia adalah seorang pria yang usianya sekitar tujuh puluh tahun atau lebih. Rambutnya sudah memutih semua, dan ada banyak kerutan di wajahnya, tapi untuk ukuran pria tua dia masih terlihat berwibawa dan terlihat bugar seperti kebanyakan kepala pelayan yang melayani keluarga terhormat. Anna langsung teringat pada kepala pelayan yang sangat ramah di Istananya di Schiereiland yang mungkin sudah ikut terbunuh malam itu. Anna segera menepis pikiran muram itu dari benaknya. Dia harus dapat berpikir jernih jika ingin menjalankan rencananya dengan baik.
Istana Nordhalbinsel terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu Istana Utama, Istana Ratu, Istana Putra Mahkota, dan Istana Selir. Namun Istana Ratu dan Istana Putra Mahkota saat ini sedang kosong dan tidak ditempati oleh siapa pun. Istana Ratu harusnya ditempati oleh mendiang Ratu Irene maupun salah satu wanita yang diangkat Raja menjadi Ratu, tapi Raja Vlad memutuskan untuk membiarkan posisi Ratu tetap kosong usai kematian Ratu Irene sehingga Istana Ratu pun tidak ada yang menempati. Sementara itu, Istana Putra Mahkota baru akan diisi jika Putra Mahkota sudah menikah. Meski seharusnya Putra Mahkota sudah menikah tiga tahun yang lalu saat usianya genap dua puluh tahun, tapi hingga sekarang Putra Mahkota terus menunda pernikahannya karena kesibukannya atau hal lainnya, sehingga Istana Putra Mahkota tidak ditempati oleh siapa pun. Walaupun begitu, terkadang Putra Mahkota akan mengunjungi Istana itu bersama tunangannya, Putri Mahkota Eleanor untuk menghabiskan waktu bersama.
Istana Selir terletak paling belakang dan jauh dari Istana Utama. Istana tersebut ditempati oleh para selir raja dan para pangeran. Sebastian juga menjelaskan kepada Anna bahwa selir Raja saat ini ada lebih dari sepuluh orang—Sebastian bahkan tidak tahu persis jumlahnya—dan terdapat dua puluh tiga pangeran, namun hanya satu putra raja yang dapat menjadi Putra Mahkota diantara dua puluh tiga orang itu, yaitu anak satu-satunya dari Ratu Irene, Putra Mahkota Xavier. Raja Vlad tidak memiliki seorang Putri karena ramalan yang dibacakan oleh Permaisuri Selena yang juga bertugas menjadi pemimpin penyihir Istana.
"Ramalan apa itu?" tanya Anna.
"Seorang Putri akan membunuh Raja Vlad dan menghancurkan Nordhalbinsel. Begitulah kira-kira inti dari ramalannya. Itu sebabnya setiap kali seorang selir hamil, jika penyihir mengatakan bayi yang akan lahir adalah seorang Putri, maka Raja akan membunuh ibu dan anak itu jika sang ibu tidak mau menggugurkan kandungannya." Jelas Sebastian.
Anna bergidik ngeri mendengarnya. Dia bersyukur terlahir sebagai Putri Schiereiland dan bukannya Putri Nordhalbinsel.
Mereka melanjutkan perjalanan tur Istana ini ke Istana Utama. Istana Utama merupakan bangunan yang paling besar diantara keempat Istana. Istana itu dihiasi dengan ukiran-ukiran rumit berlapis emas dan berhias berlian. Istana Utama saat ini ditempati oleh Raja Vlad, Putra Mahkota, Permaisuri Selena, serta tiga orang pangeran yang merupakan putra-putra dari Sang Permaisuri.
"Kau tidak perlu menghafal seluruh nama pangeran untuk saat ini, tapi kau setidaknya harus mengetahui nama putra-putra dari Permaisuri Selena karena mereka tinggal di Istana ini bersama Putra Mahkota. Mereka adalah Pangeran Ludwig, Pangeran Wilhelm dan Pangeran Heinrich. Untuk memudahkanmu, jika kau melihat seorang pangeran dengan wajah yang sangat mirip dengan Putra Mahkota Xavier tapi matanya bukan mata Emerald melainkan berwarna hitam gelap dengan rambut yang seputih salju, maka itu pasti adalah Pangeran Ludwig. Dan jika kau melihat remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun dengan mata yang mirip dengan Pangeran Ludwig, serta berambut hitam, itu adalah Pangeran Wilhelm. dan jika kau melihat seorang anak laki-laki yang sering menghampiri Putra Mahkota di kamarnya ketika beliau sedang tidak sibuk, maka itu adalah Pangeran Heinrich yang masih berusia sebelas tahun." Jelas Sebastian panjang lebar.
Anna mendengarkan semua penjelasan itu dengan sungguh-sungguh dan bahkan mencatat beberapa poin dari perkataan Sebastian yang menurutnya sangat penting. Tapi hal terpenting baginya belum juga dibahas oleh Sebastian.
"Tuan, apakah ada tempat di mana para kriminal atau tahanan perang dikurung di Istana ini?" Tanya Anna setelah rasanya dia sudah berjalan berkeliling Istana selama satu jam tapi tur masih belum berakhir.
Sebastian, Si Kepala Pelayan tampak berpikir sebelum menjawab dengan singkat, "Kau tidak perlu tahu tempat itu." Katanya. "Nah, sekarang di sebelah sini adalah perpustakaan Istana. Hanya para anggota keluarga kerajaan dan orang-orang utusan keluarga kerajaan yang diizinkan masuk ke tempat ini." Lanjut Sebastian.
Anna berhenti sejenak untuk pura-pura memperhatikan pintu masuk perpustakaan Istana itu, yang sebenarnya adalah dia mulai merasa lelah berkeliling istana dan karena dia belum makan apa pun pagi ini.
Tapi tepat saat Anna akan melanjutkan perjalanan keliling istana bersama Sebastian, seseorang membuka pintu perpustakaan itu dari dalam. Pintu yang tingginya mencapai ke langit-langit Istana itu terbuka sebagian memperlihatkan sedikit isi ruangan perpustakaan itu. Dan dari dalamnya, seseorang berjalan keluar. Itu adalah seorang pria yang awalnya Anna kira adalah Putra Mahkota Xavier karena kemiripan wajahnya, tapi matanya berwarna hitam gelap dan rambutnya hampir terlihat seperti warna putih salju. Tapi selain itu, wajahnya benar-benar mirip dengan Putra Mahkota Xavier.
"Itu Pangeran Kedua, Pangeran Ludwig. Putra Pertama dari Permaisuri Selena. Berikan salam padanya." Bisik Sebastian dengan cepat sebelum Pangeran Ludwig menyadari keberadaan mereka berdua.
"Salam Hormat saya kepada Yang Mulia Pangeran." Ucap Anna sambil menunduk penuh hormat.
Sebastian di sampingnya turut melakukan hal yang sama, kemudian memperkenalkan Anna, "Yang Mulia, Nona ini adalah Pengawal Pribadi Putra Mahkota Xavier, Nona Anna."
Ludwig yang awalnya tidak memperhatikannya kini menatap Anna. Tapi sesaat begitu pandangan mereka bertemu, Anna dapat melihat pupil mata Pangeran Ludwig yang berwarna gelap itu melebar seperti melihat sesuatu yang mengejutkan baginya. Napasnya tersekat dan dia membuka mulutnya seperti akan mengatakan sesuatu, tapi segera diurungkannya. Ludwig buru-buru pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun dan melemparkan tatapan sinis pada Anna sebelum berpaling.
"Beliau memang begitu. Kau tidak perlu khawatir. Semua putra Permaisuri Selena tidak terlalu suka dengan orang-orang baru di Istana." Jelas Sebastian segera.
***
Setelah setengah jam kemudian, akhirnya Anna tiba di tempat terakhir yang diperkenalkannya. "Aku memperkenalkan tempat ini paling terakhir karena di tempat inilah kau akan mulai bekerja. Ini adalah kamar pribadi Putra Mahkota Xavier. Beliau sudah menunggu di dalam." Kata Sebastian sebelum pergi meninggalkan Anna.
Pintu kamar itu berwarna putih dengan ornamen-ornamen yang rumit yang terbuat dari emas murni. Terdapat dua penjaga di depan pintu kamar itu, masing-masing dari mereka mengenakan seragam prajurit dan memegang tombak dan perisai dengan simbol naga di tangan kanan dan kiri mereka. Kedua penjaga itu kemudian membukakan pintu untuk Anna dan mempersilahkannya masuk.
"Kenapa lama sekali?"
Itu adalah kalimat pertama dari Putra Mahkota Xavier yang didengar Anna begitu dia mulai melangkah masuk ke kamarnya. Saat itu Putra Mahkota sedang berganti pakaian dibantu oleh para dayang. Sesaat Anna ingin mengalihkan pandangannya karena bukan etika yang tepat seorang Putri melihat pria yang bukan anggota keluarganya berganti pakaian, tapi kemudian dia ingat dia datang bukan sebagai seorang Putri melainkan sebagai seorang pengawal pribadi. Dan pengawal pribadi tidak seharusnya mengalihkan pandangannya dari orang yang harus dilindunginya.
"Maafkan keterlambatan saya, Yang Mulia." ucap Anna, sambil sebisa mungkin tidak benar-benar menatap tubuh Putra Mahkota. Anna masih belum terbiasa melihat seorang pria tidak berpakaian di hadapannya.
"Tidak. Tidak. Kau sama sekali tidak terlambat. Aku yakin Sebastian yang mengajakmu berkeliling terlalu lama. Kau boleh duduk di sana sambil menungguku." Kata Xavier.
Anna segera menuruti perkataannya. Dia segera duduk di tempat yang ditunjuk oleh Xavier. Dari tempat itu dia bisa melihat punggung Xavier yang penuh dengan bekas luka yang sepertinya sudah sangat lama tapi masih membekas. Bekas luka itu melintang panjang dari bahu kanan atas hingga ke bahu kiri bawah. Itu luka bekas sayatan pedang, Anna yakin. Dan ada lagi bekas luka lainnya yang lebih kecil yang terlihat seperti bekas cambukkan. Anna bertanya-tanya siapa orang yang berani melukai seorang Putra Mahkota kerajaan Nordhalbinsel.
"Apa terlihat sangat buruk?" Tanya Xavier yang memperhatikan Anna dari pantulan cermin di hadapannya. “Terkejut? Kau pasti tak mengharapkan bekerja untuk anak Raja yang memiliki banyak luka. Paling tidak kau jadi mengerti kenapa aku butuh pengawal pribadi kan?”
"Tidak, Yang Mulia. Maafkan kelancangan saya." Anna buru-buru menundukkan pandangannya.
"Kau boleh bersikap santai padaku terutama saat tidak ada orang lain. Elias biasanya selalu begitu. Aku bukan sejenis orang yang gila kehormatan atau apa." Kata Xavier sambil mulai memakai pakaian gantinya. "Dan bekas luka ini bukan rahasia. Semua orang di Istana sudah tahu bahwa Putra Mahkota mereka memiliki banyak bekas luka. Aku tidak berniat untuk menyembunyikannya. Lagi pula kau harus terbiasa melihatnya. Kedepannya kau akan lebih sering lagi melihatnya."
"Elias belum memberitahumu? Kita akan segera berangkat menuju Montreux. Daerah perbatasan kita dengan Westeria. Raja menugaskanku untuk pergi mengatasi masalah wabah penyakit misterius di sana."
***
Anna tidak pernah menyangka bahwa menjadi pengawal pribadi Putra Mahkota dari Nordhalbinsel artinya dia akan sering bepergian dan jauh dari Istana dalam waktu yang cukup lama. Xavier mengatakan bahwa perjalanan menuju Montreux akan memakan waktu setidaknya empat hari, paling cepat tiga hari. Jika tahu dia akan langsung ditugaskan keluar Istana di hari pertamanya bekerja sebagai pengawal pribadi, dia tidak akan melamar untuk pekerjaan itu dan lebih memilih untuk menjadi pelayan Istana saja. Tapi tentu saja Anna tidak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya berharap tugas ini dapat cepat diselesaikan agar dirinya dapat segera kembali ke Istana Nordhalbinsel untuk menemukan Ratu Isabella dan Putra Mahkota Alexis.
Xavier, Anna dan Pangeran Jeffrey sudah berangkat sejak matahari mulai terbit sekitar pukul sembilan pagi di Nordhalbinsel. Hari itu termasuk hari paling cerah di Nordhalbinsel karena Matahari biasanya baru terbit pada pukul sepuluh atau sebelas. Cuaca cerah itu sepertinya sangat berpengaruh pada suasana hati Sang Putra Mahkota karena Anna memperhatikan Xavier sejak tadi memuji cuaca baik hari ini sambil tersenyum. Beberapa prajurit Nordhalbinsel yang ikut dalam perjalanan berbisik kepada Anna bahwa Putra Mahkota biasanya tidak pernah tersenyum bahagia seperti itu.
"Aku yakin cuaca di Schiereiland selalu secerah ini. Beruntung sekali bagi mereka yang dapat selalu melihat cerahnya matahari." Ucap Xavier.
Anna berada di kereta kuda yang sama dengan Xavier sementara Pangeran Jeffrey berada di kereta kuda yang lain. Jadi mau tidak mau, meski baginya terasa sedikit canggung, Anna harus bisa menjadi teman mengobrol Sang Putra Mahkota selama perjalanan empat hari itu.
"Cuacanya tidak selalu cerah di Schiereiland, Yang Mulia. Tapi kami memang sering melihat cerahnya matahari jika tidak sedang turun salju atau turun hujan." Jelas Anna dengan bahasa formal meski sebelumnya Xavier sudah memintanya berulang kali untuk berbicara informal padanya ketika mereka hanya sedang berdua saja. Tapi Anna menolaknya dengan alasan tidak terbiasa berbicara seperti itu. Nyatanya, dulu saat dia masih seorang Putri yang tinggal di Istana, Anna dan Leon juga menggunakan bahasa informal jika tidak ada orang lain di sekitar mereka. Tapi itu karena hubungan mereka berdua memang sudah sangat dekat seperti saudara kandung.
Anna tiba-tiba memikirkan Leon dan Louis. Dia akan pergi jauh dari Noord selama beberapa hari dan mungkin lebih dari seminggu, tapi Anna belum memberitahukan apa pun pada Leon dan Louis. Leon mungkin akan mulai mencemaskannya karena tidak akan mendengar kabar darinya selama berhari-hari. Anna berpikir untuk mencari cara agar dapat mengirimkan surat kepada Leon begitu mereka sampai di Montreux nanti.
Pada jam-jam berikutnya, Xavier terus menanyakan suasana di Schiereiland dan Anna sebisa mungkin menceritakannya dari sudut pandang seorang rakyat biasa. Anna menceritakan tentang empat musim di Schiereiland dan tanaman apa saja yang ditanam oleh para petani pada musim-musim tersebut. Xavier merasa tertarik dengan cerita itu karena di Nordhalbinsel hanya ada musim dingin abadi dan tidak ada tanaman yang dapat ditanam selain rumput di daerah perbatasan dan bunga Tulip kristal. Mereka berdua saling bertukar cerita tentang daerah asal mereka masing-masing. Tentang cerahnya matahari di musim panas Schiereiland dan tentang dinginnya badai salju di Winterthur. Tentang indahnya warna-warni bunga yang bermekaran di musim semi Schiereiland dan ajaibnya warna Cahaya Utara di langit Noord saat tengah malam. Cerita tentang dua kerajaan yang sangat berbeda itu terus memenuhi obrolan mereka berdua selama berjam-jam.
Tanpa terasa, entah bagaimana, Anna mulai merasa nyaman berbincang dengannya.
Sesekali saat kuda-kuda mulai lelah dan mereka sudah cukup jauh dari Noord, saat mereka dapat menemukan tempat peristirahatan yang baik di tengah hutan bersalju, rombongan itu akan berhenti sesaat untuk memberi makan kuda-kuda. Sementara itu Putra Mahkota Xavier, Pangeran Jeffrey dan Anna akan keluar dari kereta untuk meluruskan kaki mereka dan merasakan udara dingin di hutan. Anna tidak benar-benar mengerti bagaimana pohon-pohon dalam hutan itu dapat tetap hidup meski jarang terkena matahari dan selalu ditutupi salju. Tapi kemudian Xavier menjelaskan padanya tentang kebiasaan makhluk hidup untuk bertahan hidup dalam keadaan sesulit apa pun. Pohon-pohon tersebut benihnya berasal dari Schiereiland dan ratusan tahun yang lalu ditanam di Nordhalbinsel. Memang membutuhkan waktu yang lebih lama dari pohon-pohon biasa, tapi pada akhirnya pohon-pohon itu berhasil tumbuh meski tidak memiliki daun. setidaknya ranting-ranting mereka terus memanjang dan bercabang untuk kemudian diambil dan dijadikan kayu bakar ataupun perabotan dari kayu.
Pangeran Jeffrey bergabung dengan mereka saat mereka mendirikan tenda untuk bermalam di hutan itu. Anna baru sekali melihat Pangeran Jeffrey saat beliau memberikan sambutan di Tahap Kedua pemilihan pengawal pribadi Putra Mahkota, jadi kini saat dia dapat melihatnya lagi dari jarak yang lebih dekat, Anna menyadari bahwa Sang Pangeran sangat tinggi meski hanya lebih tinggi beberapa senti dari Putra Mahkota Xavier. Saat Putra Mahkota dan Pangeran duduk bersama di hadapannya, Anna akhirnya dapat melihat sedikit kemiripan mereka. Mereka sama-sama memiliki kulit seputih salju yang sangat sempurna dan bentuk hidung yang sama.
"Salam hormat saya kepada Yang Mulia Putra Mahkota." Ucap Pangeran Jeffrey, memberikan salam hormat kepada Xavier. Putra Mahkota mengangguk kepadanya.
"Apakah perjalananmu cukup nyaman, Pangeran Jeffrey?" tanya Xavier.
"Sangat nyaman, Yang Mulia." jawab Pangeran Jeffrey. "Tapi jika diizinkan, saya ingin mengutarakan pendapat saya, Yang Mulia."
"Ada apa, Pangeran Jeffrey?"
"Saya perhatikan beberapa hari ini matahari bersinar sangat cerah meski di Negara lain musim dingin sedang berada di puncaknya. Udara juga semakin hari menjadi semakin dingin. Sehingga saya berpikir mungkin badai salju akan segera datang. Alangkah baiknya jika kita tidak bermalam di hutan malam ini, Yang Mulia." Kata Pangeran Jeffrey.
Anna memperhatikan kedua kakak-beradik yang berbeda ibu itu saling berbicara dengan bahasa yang sangat formal. Anna teringat adiknya, Putra Mahkota Alexis. Anna dan Alexis juga sering kali berbicara dengan formal jika mereka berada di tempat umum. Tapi ketika mereka hanya mengobrol secara pribadi, mereka berdua sepakat untuk tidak menggunakan bahasa formal agar pembicaraan mereka bisa lebih akrab.
"Kau benar, Pangeran. Badai salju memang akan segera datang. Tapi bukan malam ini. Jika perhitunganku benar, menurut kalender Nordhalbinsel, badai salju selalu terjadi setelah lima sampai tujuh hari matahari di daerah Utara bersinar dengan terang. Karena pada saat itulah Negara lain yang memiliki empat musim sedang mengalami titik beku musim dingin. Dan itu berarti badai salju akan terjadi sekitar besok siang selama seharian penuh. Untuk malam ini, kita akan beristirahat di hutan ini dan besok pagi-pagi sekali kita akan melanjutkan perjalanan menuju Villa keluarga Winterthur untuk berlindung dari badai salju." Jelas Xavier.
***
Sore itu Leon dan Louis sedang menghabiskan makan malam mereka di kedai sup saat mencuri dengar pembicaraan beberapa orang yang ada di kedai tersebut.
"Kudengar badai salju akan menyerang Noord malam ini."
"Benarkah? Kau tahu dari mana?"
"Semua orang di kota membicarakan hal itu. Memangnya kau tidak merasa aneh bahwa belakangan ini mataharinya bersinar cerah tapi udaranya lebih dingin dari biasanya?"
"Kau benar. Aku jadi teringat badai salju tahun kemarin. Benar-benar mengerikan."
"Tahun lalu banyak hewan ternak yang mati karena badai salju itu. Rumah-rumah juga banyak yang rusak."
"Bukan itu saja, banyak orang yang tidak tahu akan datang badai salju sehingga mereka berkeliaran di luar rumah. Tak satu pun dari mereka yang berada di luar rumah saat itu selamat dari badai salju."
"Lebih baik malam ini kita mengurung semua hewan ternak di dalam. Jangan ada yang keluar rumah."
"Kau benar. Ayo cepat kita pulang."
***