The Rose That Blooms In North

The Rose That Blooms In North
Chapter 25 : La Maison de Rêve



Xavier meliburkan seluruh pasukannya yang ikut ke Montreux termasuk Anna. Usai makan siang yang sangat mewah di Istana, Anna segera pergi mencari Leon. Tapi saat Anna mendatangi penginapan tempat mereka menginap dulu, yang ada hanya bekas bangunan yang sudah sepenuhnya terbakar dan sudah dihancurkan.


“Kejadiannya sudah sekitar beberapa hari yang lalu. Katanya Putra Mahkota memerintahkan untuk menghancurkan bangunan yang tidak terpakai dan tidak membayar pajak. Tuan Forbis sudah lama tidak membayar pajak karena tidak banyak orang yang menginap di penginapannya. Dan beliau sudah pergi entah ke mana.” Jelas salah seorang pekerja di kedai tempat makan mereka dulu.


Orang itu mengatakan bahwa Putra Mahkota lah yang memerintahkan untuk menghancurkan bangunan itu. Tapi Anna sudah berada di sisi Xavier selama hampir setiap saat. Dan Xavier tidak pernah memerintahkan apa pun terkait penghancuran bangunan. Xavier bahkan tampak terlalu sibuk untuk memperhatikan bangunan mana yang harus dihancurkan. Jadi Anna sama sekali tidak mempercayai perkataan orang itu. Bukan karena Anna ingin membela Xavier. Tapi karena Anna tahu kebenarannya.


Anna akhirnya berjalan tanpa tujuan mengelilingi pasar. Sesekali dia berhenti di tempat penjualan senjata untuk melihat apakah Leon atau Louis ada di sana. Tapi saat tidak mendapati keberadaan mereka, Anna segera pergi. Di toko senjata terakhir, Anna melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah busur panah. Anna langsung teringat pada para Pembunuh Bayangan itu. Tapi bukan merasa takut saat melihat busur panah, Anna justru ingin mempelajarinya. Pedang memang sangat baik untuk pertarungan jarak dekat. Tapi ada kalanya, seperti malam itu, saat dia ingin menghentikan para pembunuh bayangan yang mencoba kabur, sebuah busur panah dan anak panah dibutuhkan saat lawan dalam jarak yang jauh.


Anna melihat kembali busur itu dengan teliti. Dari desainnya yang dihiasi ukiran bunga mawar, Anna tahu bahwa busur itu berasal dari Schiereiland. Atau paling tidak pembuatnya pasti berasal dari Schiereiland. Mungkin juga mereka mendapatkannya dari gudang senjata di Istananya, mencurinya dan menjualnya. Anna tidak tahu pasti asalnya, tapi Anna merasa sangat tertarik dengan busur itu.


“Apakah Nona tertarik dengan busur ini? Ini adalah barang langka. Nona tidak akan menemukan barang yang sama di tempat mana pun.” Kata penjual itu seolah dapat membaca pikiran Anna.


“Berapa harganya?” tanya Anna.


“20.000 gold. Tapi karena Nona yang cantik ini adalah pelanggan pertama saya untuk hari ini, saya akan memberikan diskon jadi 15.000 gold. Bagaimana?”


Anna sudah menerima hadiah dari Istana untuk perjalanannya ke Montreux sebesar 50.000 gold. Tapi uang itu harus dia hemat karena dia tidak akan tahu apa yang akan dia hadapi kedepannya. Belum lagi jika mereka nanti sudah berhasil menyelamatkan Ibu dan adiknya. Mereka pasti akan membutuhkan banyak uang untuk bertahan hidup.


“Maaf, saya tidak jadi—“


“Saya akan membayarnya.” Ucap seseorang di belakang Anna. Orang itu mengenakan tudung kepala dan topeng sehingga akan sangat sulit untuk melihat wajahnya. Tapi Anna bahkan tidak perlu melihat wajahnya untuk mengetahui siapa yang berbicara. Orang itu segera memberikan 15.000 gold kepada penjual senjata itu.


“Terima kasih, Tuan. Ini silahkan busur dan anak panahnya.” Kata si penjual sambil menyerahkan busur dan wadah yang berisi penuh anak panah kepada orang itu.


Orang itu segera melangkah pergi meninggalkan toko tanpa bicara sepatah kata pun. Anna buru-buru mengikutinya dari belakang.


“Aku tidak tahu kau punya uang sebanyak itu.” Kata Anna setelah berada cukup jauh dari toko tadi.


“Kami bahkan mampu membeli pondok kecil. Hanya busur dan anak panah seharga 15.000 gold bukanlah hal yang sulit untuk dibeli.” Kata Leon dengan enteng.


“Topengmu bagus. Apa aku sebaiknya memakai topeng juga?”


“Itu ide yang bagus, Yang Mulia. Tapi untuk sekarang hal itu masih belum diperlukan.”


Anna dan Leon berjalan cukup jauh hingga akhirnya keluar dari pasar menuju pinggir kota. Dari pinggir kota, mereka menaiki kuda yang Leon titipkan di salah satu rumah warga yang menerima jasa penitipan kuda. Kuda itu adalah kuda perang berwarna hitam pemberian Putri Eugene. Leon menyebutnya Onyx.


Mereka berkuda lebih jauh lagi melewati pedesaan yang jumlah penduduknya sangat sedikit dan jarak antar rumah saling berjauhan. Dari pedesaan, mereka berkuda lebih jauh lagi hingga ke hutan yang dipenuhi pohon cemara yang ditutupi salju tebal. Semakin masuk ke dalam hutan, udara semakin dingin. Sinar matahari tidak dapat menembus pohon-pohon cemara itu. Dan mereka berkuda semakin jauh ke kedalaman hutan hingga mereka tidak dapat mendengar apa pun selain kicauan burung dan langkah kaki Onyx.


“Sebenarnya kita mau pergi ke mana? Apa kita harus pergi sejauh ini?” Tanya Anna yang sudah mulai merasa sangat lelah karena belum beristirahat selama dua hari perjalanan sebelumnya.


Leon menghentikan kudanya, kemudian segera turun. Onyx merunduk, merendahkan tubuhnya saat Anna akan turun seolah tahu Anna agak kesulitan untuk turun dari kuda setinggi Onyx. Tapi Leon membantu Anna turun sehingga dia tidak terlalu kesulitan.


“Kita sudah sampai, Yang Mulia.” Kata Leon.


Di depan mereka saat ini, berdiri dengan kokoh sebuah pondok kecil yang terbuat dari batu-bata dan kayu. Lengkap dengan tempat pemotongan kayu bakar di samping pondok kecil itu dan cerobong asap yang mengeluarkan asap pertanda perapiannya dapat digunakan dengan baik. Berbeda dengan pondok kayu kecil yang menjadi tempat persembunyian Anna dan Leon di hutan Schiereiland, di sekeliling pondok itu, pohon-pohon cemara tumbuh dengan daun hijaunya yang tertutup salju tebal. Lampu kecil menyala dengan terang di dekat pintu meski hari masih siang karena hutan ini cukup gelap. Secara keseluruhan, pondok kecil itu tampak terang dan hangat meski berada di tengah hutan bersalju yang gelap.


“Ini memang jauh dari kemewahan Istana Schiereiland, tapi kuharap Yang Mulia bisa beristirahat dengan nyaman di dalam.” Kata Leon.


Anna menatap Leon dengan tidak percaya.


“Kau membeli rumah ini?”


Leon mengangguk. Dia tersenyum puas melihat Anna begitu takjub saat melihat pondok kecil mereka yang sangat sederhana. Anna hampir menitikkan air mata karena merasa terharu. Karena pondok itu adalah pondok impiannya sejak kecil.


“Kau mengingatnya?” Tanya Anna.


"Tentu saja, Yang Mulia."


***


Sepuluh tahun yang lalu di Istana Schiereiland...


"Yang Mulia, kau marah padaku?" Tanya Leon. Dia duduk di samping gadis kecil berambut merah panjang yang menutupi sisi wajahnya, tampak sedang menggambar sesuatu di atas kertas.


Anna tidak menjawabnya. Dia mengabaikan pertanyaan itu dan terus sibuk menggambar.


Saat itu musim semi di Schiereiland. Musim di mana semua bunga mulai bermekaran. Musim di mana semua orang harusnya merasa bahagia karena berhasil melewati musim dingin yang gelap dan mencekam. Tapi suasana hati Anna sedang tidak baik. Dia hanya mengurung diri di dalam kamar seharian dan tidak mau bicara dengan siapa pun. Raja dan Ratu putus asa dengan sikapnya itu dan meminta Leon untuk bicara dengannya sebelum pergi ke medan perang.


Leon mencoba lagi, "Kudengar minggu depan perwakilan dari kerajaan di Utara akan datang bersama Putra Mahkota dan beberapa Pangeran. Apa Yang Mulia tahu bahwa kerajaan itu memiliki banyak sekali pangeran? Dan banyak diantaranya yang seusia dengan Yang Mulia. Yang Mulia akan segera mendapatkan teman baru. Pasti menyenangkan sekali."


Anna masih diam, mengabaikan Leon. Kepalanya tertunduk serius pada kertas gambarnya.


"Yang Mulia, kumohon bicaralah padaku. Aku mungkin tidak akan kembali. Aku bisa saja mati di sana. Jadi mungkin ini pertemuan kita yang terakhir."


Anna menghentikan kegiatan menggambarnya. Sekeras apa pun usahanya menahan tangis saat itu, satu tetes air mata jatuh ke kertas di hadapannya, mengaburkan warna yang dia torehkan pada gambarnya.


"Kalau begitu, jangan pergi." Ucap Anna, lirih. Matanya berlinang air mata yang mengalir hingga ke pipinya yang kemerahan. "Kalau Leon mati dalam perang, siapa yang akan melindungiku dan menemaniku?" Anna mulai menangis meski dia tidak ingin. Dia sebenarnya ingin terlihat baik-baik saja di hari kepergian Leon. Tapi dia tidak bisa mengontrol emosinya.


Leon segera memeluk Anna. Gadis kecil berusia sepuluh tahun itu terisak dalam pelukannya.


"Aku berjanji akan kembali dengan selamat. Jadi Yang Mulia juga harus berjanji akan baik-baik saja selama aku pergi."


Leon melepas pelukannya dan menyeka air mata Anna dengan sapu tangannya. Anna lebih muda lima tahun darinya. Meski begitu, karena titelnya sebagai seorang Putri Kerajaan, Anna jarang memperlihatkan emosinya di depan umum sehingga membuatnya terlihat lebih dewasa dari usianya. Biasanya dia akan tersenyum sepanjang hari dan menyapa orang-orang di Istana dengan ceria. Melihat Anna menangis saat itu adalah hal yang sangat langka bagi Leon. Tapi dengan begitu dia menyadari bahwa Anna hanya lah seorang gadis kecil yang kesepian.


"Leon, menikahlah denganku." Ucap Anna sambil menatap Leon dengan serius.


Leon yang sangat terkejut mendengar ucapan Anna tidak dapat berkata-kata.


"Hukum Schiereiland tentang Keluarga Kerajaan pasal sembilan nomor dua menyatakan bahwa suami dari Putri Raja yang belum memiliki keturunan diperbolehkan untuk tidak ikut dalam perang. Aku sudah mempertimbangkannya dengan baik-baik." tambah Anna, masih menatap Leon dengan serius. "Aku tahu kau tidak punya orang tua kandung, dan tidak punya nama belakang. Tapi aku tidak akan mempermasalahkan hal itu. Status kebangsawanan juga aku tidak membutuhkannya. Untuk tempat tinggal, karena Putri Raja yang sudah menikah harus tinggal di luar Istana, kita bisa mencari pondok kecil di tengah hutan terpencil yang harganya murah. Lihat, aku sudah menggambar sketsa rumah kita nanti." Kata Anna sambil menunjukkan gambarnya yang hampir selesai.


Leon menerima gambar itu dan memperhatikan setiap detail yang Anna gambar. Meski masih berusia 10 tahun, Anna sudah memiliki kemampuan menggambar yang cukup menakjubkan karena semua Putri Kerajaan di Schiereiland diwajibkan untuk memiliki ketrampilan seni. Mahakarya itu bahkan terlihat lebih seperti lukisan profesional alih-alih sketsa dari anak berusia sepuluh tahun. Gambar itu menunjukkan sebuah pondok kecil yang terbuat dari batu-bata merah dan kayu. Di sekeliling pondok kecil itu tumbuh pohon-pohon cemara yang rindang. Pondok kecil itu memiliki sebuah pintu kecil dan dua jendela kecil yang tampak menyala dari dalam. Ada cerobong asap yang dari lubangnya keluar asap kelabu yang membumbung tinggi hingga ke langit biru di atasnya. Di sekitar pondok kecil itu terdapat berbagai rumput liar dan bunga-bunga liar aneka warna serta beberapa hewan kecil seperti kelinci dan rusa kecil. Pondok kecil buatan Anna tampak seperti sebuah rumah yang hangat dan indah meski sangat sederhana.


Sang Putri Kecil melanjutkan, "Untuk biaya hidup, kau tidak perlu takut hidup kekurangan karena sebagai Putri Raja aku akan tetap mendapatkan uang bulanan dari Kerajaan sebesar sepuluh juta gold meski aku sudah menikah. Uang itu akan cukup untuk biaya hidup kita berdua. Kita juga bisa menjual kayu bakar karena kita tinggal di hutan yang penuh dengan pepohonan. Lihat, aku sudah menuliskan semuanya. Aku tidak asal melamarmu. Aku sudah mempertimbangkan semuanya dengan baik. Jadi kau tidak perlu pergi ke medan perang dan—“


"Yang Mulia..." Leon menghentikan kata-katanya.


"Ya?"


"Maaf, tapi aku tidak bisa menikahimu Yang Mulia."


Anna terlihat seperti akan menangis lagi. “Kenapa tidak?” Tanyanya.


Saat itu Leon ingin mengatakan bahwa alasan dia menolak Anna adalah karena dirinya hanya anak tanpa orang tua dan tidak memiliki apa pun selain kemampuan berpedangnya yang diakui semua orang. Sedangkan Anna adalah seorang Putri Kerajaan yang sudah terbiasa hidup di Istana dengan segala kemewahannya. Anna adalah Putri yang akan Leon layani seumur hidup. Dia sudah berjanji pada Raja Edward untuk selalu ada di sisi Anna sebagai pedang dan perisainya. Dan sebagai Putri Raja, kelak Anna akan menikahi seorang bangsawan atau mungkin seorang Pangeran dari Kerajaan lain untuk kepentingan Kerajaannya. Itu adalah jalan hidup seorang Putri Raja yang tidak dapat dihindari oleh Anna.


"Untuk menikah, bukankah diperlukan cinta?" Kata Leon. Jawaban seperti itu akan lebih mudah diterima Anna yang masih berusia sepuluh tahun dan gemar membaca dongeng tentang para putri dan pangeran yang saling jatuh cinta.


"Kau tidak mencintaiku?"


"Tidak." Jawabnya.


"Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku."


"Bukan begitu maksudku..." Leon tersenyum menenangkan, “Aku tidak mencintai Yang Mulia sebagai seorang wanita. Tapi aku sangat menghormati Yang Mulia sebagai orang yang kuberikan kesetiaanku selamanya.”


Anna hanya terdiam saat mendengar kata-kata dari Leon. Saat itu dia tak benar-benar memikirkan soal penolakan. Dia pikir Leon pasti akan langsung menerima lamarannya. Saat itu, dia pikir semuanya akan berjalan dengan lancar. Jadi tentu saja penolakan dari Leon sempat membuatnya terkejut.


“Aku mungkin tidak tampak seperti wanita yang cantik sekarang tapi aku akan segera tumbuh dewasa menjadi seorang Putri yang sangat cantik. Kau akan terpesona saat melihatku nanti setelah aku dewasa.” Katanya dengan nada suara yang meyakinkan.


Leon tersenyum.


“Aku akan menantikan itu, Yang Mulia. Tapi saat ini pun, Yang Mulia sudah sangat cantik.”


“Jadi kau tetap akan pergi? Kau menolak lamaranku?”


“Aku berjanji akan kembali secepatnya untuk segera melihat Yang Mulia yang tumbuh dewasa dan menjadi semakin cantik.” Kata Leon sambil membelai lembut rambut Anna seperti yang selalu dia lakukan pada gadis kecil itu. “Bolehkan aku membawa gambar ini untuk jimat keberuntunganku?” Tanya Leon.


“Tentu. Dan aku punya satu jimat lagi. Berlutut lah, Jenderal Leon.”


Leon segera menuruti perintah Anna dan berlutut di hadapannya sehingga tinggi mereka kini sama. Anna berjalan mendekatinya kemudian mengecup pipi Leon dengan malu-malu.


“Berjanjilah untuk kembali dengan selamat secepatnya. Aku akan menunggumu.”


Leon tersenyum melihat Anna yang tersipu malu. “Aku berjanji, Yang Mulia.”


***


“Gambar itu sudah rusak dan hilang di medan perang. Tapi aku masih mengingatnya dengan baik. Jadi saat aku melihat pondok kecil ini, aku langsung teringat pada gambar yang kau buat saat berusia sepuluh tahun dan memutuskan untuk membelinya.” Kata Leon saat mereka sudah berada di dalam pondok kecil itu.


Di dalam pondok kecil itu hanya terdapat satu kamar, satu dapur, satu kamar mandi dan satu ruang tamu yang digunakan untuk ruang makan juga. Jika dibandingkan dengan ruangan kamar Ratu Irene di Kastil Trivone, pondok kecil mereka luasnya hanya setengah dari kamar tersebut. Tapi perapiannya berfungsi dengan baik sehingga mereka tidak kedinginan. Dan Louis sudah menyiapkan makanan yang cukup untuk mereka bertiga di atas meja makan. Daging rusa yang dipanggang, ikan panggang dan sup sayuran yang bahan-bahannya dia beli di pasar. Semua makanan itu tidak semewah makan siang Anna di Istana Nordhalbinsel, tapi terasa sangat enak dan hangat.


“Oh, aku sangat penasaran ingin melihat gambar itu.” Kata Louis sambil mengambilkan sup yang masih hangat untuk Anna.


“Yang Mulia adalah salah satu pelukis terbaik di Schiereiland. Gambarnya sangat mirip dengan pondok kecil ini.” Kata Leon.


“Tidak. Aku tidak sebaik itu. Tapi itu memang benar, pondok kecil yang aku gambar saat itu sangat mirip dengan pondok kecil ini. Hanya saja tidak ada salju tebal di gambarku.” Kata Anna.


Saat itu sudah sore hari dan matahari hampir terbenam. Karena Anna sudah diberikan izin untuk libur, Anna memutuskan untuk bermalam di pondok kecil mereka dan berangkat kembali ke Istana besok pagi. Usai makan siang—hampir sore—mereka saling menceritakan tentang apa saja yang terjadi sejak terakhir kali mereka berpisah di hutan Fiore sambil menikmati teh dan camilan yang dibuat oleh Louis. Di antara mereka bertiga, hanya Louis yang dapat membuat hidangan enak, sehingga Anna dan Leon tidak diizinkan untuk menggunakan dapur oleh Louis.


“Jadi bagaimana kalian bisa mendapat uang sebanyak ini sampai bisa membeli pondok ini?” Tanya Anna sambil memakan camilan buatan Louis.


“Kami menuruti semua perintahmu untuk menjual beberapa Bloody Berry dan menanam sebagian bijinya.” Kata Leon.


“Tidak mungkin kalian bisa membeli sebuah pondok hanya dengan menjual Bloody Berry.”


“Benar. Kami menjualnya ke ahli herba di berbagai daerah di Nordhalbinsel melalui perantara sehingga uang yang kami dapat tidak terlalu banyak.”


“Lalu?” tanya Anna, tidak sabar.


“Louis membawa sebagian besar uang itu ke tempat perjudian.”


“Apa?! Kalian berjudi?”


“Bukan aku. Yang Mulia, kau juga tahu aku tidak ahli dalam hal itu. Bisa-bisa aku langsung dirampok di tempat perjudian.” Jawab Leon.


“Benar. Jadi Louis kau—“


“Saya lumayan ahli dalam berjudi Yang Mulia.” Kata Louis dengan bangga.


“Itu bukan sesuatu yang pantas dibanggakan!”


“Yang Mulia, mohon dengar dulu penjelasannya.” Kata Leon.


“Oh, kau membelanya sekarang?”


“Yang Mulia, tempat perjudian itu dijalankan oleh para bangsawan korup, dan mereka melakukan hal curang untuk meraup keuntungan besar dari para rakyat.” Kata Louis.


“Baiklah, lanjutkan.” Kata Anna.


“Singkatnya, aku berhasil mengalahkan pemilik tempat perjudian itu meski dia berbuat curang.”


“Louis sangat pintar. Kau akan takjub jika melihatnya langsung.” Tambah Leon.


“Apa yang kalian pertaruhkan?”


“Aku mempertaruhkan pedang milik Jenderal Leon dan—“


“Apa?!” Anna langsung menatap Leon dengan tajam. "Kau sudah gila?"


“Mereka mengenali pedang itu, tentu saja." Jawab Leon dengan kalem.


"Tentu saja! Pedang itu adalah sebuah legenda nyata!"


"Mereka tahu bahkan Raja sekalipun akan rela membeli pedangku dengan harga yang sangat tinggi.” Jelas Leon lagi.


"Tentu saja! Itu kan pedang yang diberikan langsung oleh gurumu dari Westeria. Pedang yang dulu pernah digunakan oleh Raja Zuidlijk, Raja Pertama Schiereiland. Astaga! Bagaimana bisa kau berpikir untuk mempertaruhkan pedang itu? Lalu apa yang dipertaruhkan oleh Si Pemilik tempat perjudian itu?"


“Si pemilik tempat perjudian itu, Count Barnes mempertaruhkan tempat perjudian mereka.” Kata Leon.


“Jadi kalian berhasil mendapatkan tempat perjudian itu?”


Leon mengangguk senang. “Benar. Tapi saat Louis menang mereka tidak mau mengakui kekalahannya. Jadi aku terpaksa muncul dan—“


“Jenderal Leon melumpuhkan mereka semua dengan cepat, lalu menyerahkan mereka kepada Tuan Duke agar mendapat hukuman karena telah menipu banyak orang.” Kata Louis dengan penuh semangat.


“Tuan Duke?”


“Oh, aku lupa menceritakan padamu ya? Aku pernah mengatakan bahwa aku punya beberapa kenalan di Nordhalbinsel bukan? Salah satunya yang pernah ikut mendaftar untuk audisi Pengawal Pribadi Putra Mahkota, yang waktu itu aku kunjungi untuk memintanya agar membatalkan pendaftarannya. Ternyata dia adalah anak dari Duke Versoix. Salah satu Duchy yang terkenal dengan kasino mewah tempat berkumpulnya para bangsawan di seluruh Nordhalbinsel. Bahkan para Pangeran sering pergi ke kasino tersebut.”


"Jadi dia Putra Duke Versoix? Wah, jaringan pertemananmu benar-benar luas ya." Kata Anna, takjub.


Leon tersenyum bangga. "Tidak juga. Tapi jaringan pertemananku jelas lebih luas darimu, Yang Mulia."


"Lalu setelah menyerahkan mereka kepada Tuan Duke, apa yang terjadi dengan tempat perjudian itu?" Tanya Anna pada Louis, mengabaikan Leon yang berusaha menyombongkan ketenarannya.


"Kami menjualnya kepada Tuan Duke. Sebenarnya kita bisa saja menjalankan tempat perjudian itu dan memperoleh keuntungan yang lebih banyak lagi. Tapi Jenderal Leon mengatakan bahwa itu berarti kita jauh lebih buruk dari para penipu itu." Kata Louis.


"Memangnya berapa harga tempat perjudian itu?"


Baik Leon dan Louis tidak langsung menjawab Anna. Mereka hanya saling melirik, kemudian Leon memberikan isyarat pada Louis. Louis mengambil sebuah peti yang cukup besar sehingga Anna yakin Louis sendiri bisa masuk ke dalam peti itu.


Louis membuka peti itu. Di dalam peti itu terdapat banyak sekali emas dan batu permata. Meski tidak memenuhi peti itu, tapi jumlahnya cukup banyak untuk bisa membeli rumah besar di pusat kota.


"Tadinya penuh. Tapi kami membagikan separuhnya untuk para rakyat yang menderita kerugian besar akibat tempat perjudian itu dan untuk membeli pondok ini serta berbagai kebutuhan pokok lainnya." Kata Leon.


"I-ini banyak sekali." Anna terperangah saat melihat isi peti itu. Bahkan sebagai Putri Raja, dia tidak pernah melihat secara langsung peti yang berisi penuh emas dan permata. "Pantas saja kau bisa membeli busur panah itu. Padahal menurutku 15.000 gold terlalu mahal untuk ukuran busur panah yang sudah tua." Kata Anna pada Leon.


"Ah, benar. Aku sejak tadi ingin bertanya kenapa kau tiba-tiba ingin membeli busur panah, Yang Mulia?" Tanya Leon.


Akhirnya Anna menceritakan semuanya. Tentang apa yang terjadi di Montreux setelah dia berpisah dengan Leon dan Louis. Tentang pernikahan Putri Eugene dan Pangeran Jeffrey. Tentang rencana pernikahan Putra Mahkota Xavier dengan Eleanor Winterthur. Sampai tentang para pembunuh bayangan itu dan bagaimana dia bisa saja mati saat itu jika Xavier tidak menyelamatkannya. Leon dan Louis mendengarkan dengan seksama dan tidak menginterupsi sedikit pun.


"Maafkan aku Yang Mulia. Seharusnya saat itu aku yang melindungimu." Kata Leon.


"Jangan berkata seperti itu, Leon. Aku justru bersyukur saat itu kau tidak ada di sana. Kau bisa saja mati jika terkena panah beracun itu."


"Tapi kenapa Putra Mahkota Xavier baik-baik saja setelah terkena panah beracun itu? Bukankah Yang Mulia sendiri mengatakan bahwa seharusnya tidak ada manusia yang dapat kebal terhadap racun Siarine?" Tanya Louis.


Anna merenungkan pertanyaan itu baik-baik. Sebelum ini, dia terlalu khawatir pada kondisi Xavier sehingga tak sempat mempertanyakan keanehan itu. Tapi kini setelah Louis menanyakannya, dia pun mau tak mau turut memikirkannya. "Aku juga tidak yakin, Lou. Ada sesuatu yang aneh dengan Putra Mahkota Xavier. Tapi aku belum yakin apa itu."


***