
Pagi keesokan harinya, seisi Istana gempar karena berita bahwa ada tahanan perang yang kabur. Putra Mahkota tampak sangat kesal. Raja Vlad murka. Jenderal Orthion yang saat itu sedang ada di Istana diperintahkan untuk menginterogasi semua orang di Istana termasuk para pelayan dan pengawal kerajaan. Tapi saat Anna berpura-pura tidak tahu dan menanyakan pada Xavier siapa tahanan perang yang kabur itu, Xavier tidak memberikan penjelasan. Dia hanya mengatakan bahwa mereka harus menemukan tahanan perang itu bagaimana pun caranya. Mendengar itu, Anna jadi semakin yakin untuk tidak mempercayai Xavier.
Pada akhirnya, setelah semua orang diinterogasi, mereka tidak dapat menemukan titik terang terkait penyelidikan terhadap dua orang tahanan perang yang kabur itu. Terlebih lagi malam itu adalah malam pesta dimana ada banyak sekali tamu yang datang dan para pelayan serta para pengawal sibuk mengurusi pesta.
Anna mengawasi Xavier. Dia bersikap seolah Anna benar-benar tidak ingat apa pun soal kejadian malam itu. Tentang Xavier yang mengetahui identitas asli Anna sebagai Putri Anastasia. Juga tentang ciuman itu. Anna sampai berdecak kagum betapa bagusnya akting Sang Putra Mahkota. Tapi hal itu justru memudahkan Anna untuk mendalami perannya juga. Untuk tetap berpura-pura sebagai Pengawal Pribadi yang setia dan tidak tahu apa-apa. Anna akan berpura-pura tidak ingat apa pun tentang kejadian malam itu.
“Yang saya ingat, saya akan berangkat ke pesta, tapi kemudian saya merasa sakit dan tertidur di kamar. Mungkin karena saya sangat lelah saat itu.” Kata Anna saat bersaksi pada Jenderal Orthion. Sang Jenderal sepertinya langsung mempercayai omongan Anna dan tidak menanyainya lebih lanjut.
Atas saran dari Permaisurinya, Raja Vlad akhirnya memutuskan untuk mengutus Putra Mahkota untuk pergi mencari dua tahanan yang kabur itu karena sebelumnya Xavier lah yang bertanggung jawab atas dua tahanan tersebut. Xavier segera menerima titah Raja tanpa protes sedikit pun meski pencarian itu mungkin membutuhkan waktu yang lama dan upacara pernikahannya akan digelar sebentar lagi. Tentu saja, mau tak mau Anna ikut bersamanya sebagai pengawal pribadinya.
Siang itu, mereka bersiap berangkat bersama tiga puluh orang pasukan ksatria saat tiba-tiba dari arah kamar Putri Mahkota terdengar suara panik dayang-dayang.
Sekitar lima orang pelayan berlari terburu-buru menuju kamar Putri Mahkota. Mereka semua tampak panik dan khawatir. Xavier menghentikan salah satu pelayan yang membawa wadah besar sambil berlari menuju kamar Putri Mahkota.
“Apa yang terjadi pada tunanganku?” Tanyanya.
Pelayan itu tampak ketakutan. Dia tidak berani menatap mata Xavier. “Maafkan saya, Yang Mulia. Saya bersalah. Tolong ampuni saya.” Suaranya bergetar.
“Bagaimana bisa aku memaafkanmu jika aku sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi dan apa kesalahanmu? Kenapa kalian semua pergi ke kamar Putri Mahkota?” Tanya Xavier dengan tegas. Nada suaranya yang dingin membuat pelayan itu semakin ketakutan.
Anna bisa melihat pelayan itu gemetar dan hampir menangis, jadi Anna mendatanginya dan menggenggam kedua tangannya yang gemetar dengan lembut. “Yang Mulia Putra Mahkota hanya ingin tahu apa yang sedang terjadi. Beliau sangat khawatir pada Putri Mahkota. Kau tidak perlu takut.” Kata Anna.
Pelayan itu mengangguk. “Sejak tadi pagi Putri Mahkota mengatakan sedang tidak ingin sarapan dan tidak mau makan apa pun. Padahal kemarin juga beliau hanya makan sedikit. Jadi siang ini saya membawakannya camilan kesukaannya dan teh bunga mawar yang sangat beliau sukai.” Pelayan itu terisak. “Saya bersumpah tidak memasukkan sesuatu yang aneh ke dalam camilan dan teh itu. Saya juga sudah mencicipi semuanya dan memastikan tidak ada racun di dalamnya. Tapi Yang Mulia Putri Mahkota langsung muntah-muntah setelah memakan sedikit camilannya. Dan kini beliau tampak sangat pucat.”
“Kau bilang sejak pagi? Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Cepat panggilkan Dokter!”
“Ampuni saya, Yang Mulia. Putri Mahkota memerintahkan kami untuk tidak memberitahu hal ini pada siapa pun. Tidak kepada Yang Mulia Putra Mahkota, maupun kepada Dokter Istana. Saya tidak berani membantah perintah Yang Mulia Putri Mahkota.”
Pelayan itu tampak ketakutan di hadapan Xavier, tapi dia jauh lebih takut lagi pada apa yang bisa terjadi padanya jika membantah perintah salah satu penyihir terkuat di Kerajaan.
“Kenapa—“ Xavier baru akan bertanya, tapi kemudian Eleanor beserta para dayangnya keluar dari kamar.
“Yang Mulia...” panggil Eleanor.
Melihat tunangannya itu berjalan keluar dengan dibantu oleh para dayang, Xavier segera berlari menemuinya. Dari kejauhan Anna dapat melihat betapa pucatnya wajah Sang Putri Mahkota.
"Elle? Apa yang terjadi padamu? Wajahmu pucat sekali. Padahal semalam kau tidak sampai sepucat ini. Sebenarnya kenapa—“
"Saya tidak apa-apa, Yang Mulia. Hanya merasa kelelahan. Mungkin saya hanya butuh istirahat." Jawab Eleanor.
"Kau yakin? Aku akan memanggilkan dokter istana—“
"Xavier." Eleanor memanggil Xavier dengan namanya di depan umum. Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Xavier sendiri terkejut karena biasanya Elle memanggil namanya hanya jika tidak ada orang lain di sekitar. "Pergilah, Yang Mulia. Saya baik-baik saja. Elias juga akan segera datang setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dia akan menjaga saya di sini selama Yang Mulia pergi dan—“ Kata-kata Eleanor terhenti saat dia menahan dirinya sendiri untuk tidak muntah. Dari raut wajahnya semua orang tahu Sang Putri Mahkota tidak baik-baik saja. "Sungguh... Tidak apa-apa... Pergilah..."
"Kau yakin tidak perlu pulang ke rumahmu? Atau aku sebaiknya memanggil Grand Duke dan Grand Duchess untuk tinggal di Istana sementara waktu?"
"Tidak, jangan lakukan itu. Belakangan ini ada banyak hal yang harus dikerjakan ayah, jadi dia tidak boleh terlalu banyak pikiran. Hari pernikahan kita juga sudah dekat Yang Mulia, jadi jangan sampai orang luar tahu tentang kondisi saya. Saya akan sehat kembali setelah beristirahat. Tolong percaya pada Saya, Yang Mulia."
Xavier tampak cemas. Sebagian dari dirinya ingin membatalkan kepergiannya. Menunda pencarian selama satu hari tidak akan terlalu berpengaruh meski itu mungkin akan membuat Raja Vlad lebih murka lagi. Tapi akal sehatnya tahu itu bukan hal yang tepat untuk dilakukan. Eleanor benar. Elias akan segera datang untuk menemaninya. Tidak banyak juga hal yang dapat Xavier lakukan karena Eleanor telah bersikeras tidak ingin diperiksa oleh Dokter Istana. Dan tidak ada satu orang pun yang dapat membujuk Eleanor yang sedang keras kepala selain saudara kembarnya yang jauh lebih keras kepala darinya.
Xavier menghela napas. "Baiklah. Aku akan mengirimimu surat segera. Mudah-mudahan ini tidak lama. Sampai saat itu, bertahan lah. Kau harus tetap sehat sampai aku kembali lagi."
***
Delapan jam yang lalu...
Leon sedang meminum bir yang disajikan oleh pelayan bar. Itu adalah gelas ketiganya malam itu. Biasanya dia sanggup menghabiskan tujuh sampai delapan gelas bir, tapi kali ini dia harus berhati-hati agar tidak sampai mabuk. Karena tujuan utamanya minum bir malam itu bukan lah untuk mabuk, tapi untuk mengawasi pergerakan orang-orang yang keluar masuk Istana. Dan tentu saja dia mengenakan topeng untuk berjaga-jaga agar tidak ada orang yang mengenalinya.
Bar itu buka hanya saat malam, mulai dari pukul lima sore hingga pukul lima pagi. Bar itu tidak pernah didatangi oleh kaum bangsawan karena diperuntukkan untuk rakyat biasa yang tinggal di Ibu Kota Noord. Harga minumannya pun jauh lebih murah dari bar lainnya. Suasananya sangat sempurna untuk menyendiri saat malam. Pelayannya cantik dan ramah.
Tapi bukan itu yang membuat Leon mendatangi bar itu hampir setiap malam. Itu karena Bar tersebut memiliki area luar ruangan untuk meminum bir di bawah langit malam Nordhalbinsel yang dipenuhi bintang. Meski tidak selalu dipenuhi bintang, terkadang ada saatnya langitnya sangat gelap dan udaranya sangat dingin. Tapi malam itu Leon beruntung karena cuacanya jauh lebih hangat dari biasanya dan bintang-bintang menghiasi langit malam seolah menemani kesendiriannya. Leon menyukai area luar ruangan itu, karena dari tempat itu dia dapat melihat dengan jelas gerbang Istana Nordhalbinsel dan siapa saja yang keluar atau pun masuk ke dalam.
Jam di tengah Kota menunjukkan pukul dua dini hari. Leon hanya akan berjaga di Bar itu sampai pukul lima pagi saat Bar itu tutup. Pelayan yang merupakan adik dari pemilik Bar itu sudah menghafal kebiasaan Leon untuk minum sepanjang malam hingga Bar mereka tutup, sehingga dia tidak mengusiknya lagi. Bahkan meski Si Pelayan Bar itu merasa tertarik dan penasaran pada Leon, dia tidak berani mendekatinya. Leon bahkan tidak repot-repot melirik si Pelayan Bar saat semua pelanggan di sana bermain mata padanya. Pandangan Leon terus tertuju pada gerbang Istana.
"Gelasmu sudah hampir kosong, Tuan. Kau mau tambah satu gelas lagi?" Tanya pelayan itu.
"Ya. Tolong." Jawab Leon singkat, tanpa melihat ke arah Si Pelayan.
Pelayan itu mengisi gelas bir Leon sampai penuh kembali dan bersiap untuk kembali ke dapur saat tiba-tiba Leon memegang tangannya.
"Maaf. Aku hanya penasaran, kenapa malam ini Istana terlihat begitu ramai?" Tanya Leon sebisa mungkin menggunakan aksen bicara khas Nordhalbinsel agar dirinya tidak dicurigai.
Pelayan itu tertegun sesaat. Itu pertama kalinya Leon bicara lebih dari dua kata padanya setelah beberapa hari Leon menjadi pelanggan tetap di sana.
"Begitu rupanya... Baiklah. Terima kasih atas informasinya, Merry."
Pelayan itu tersenyum senang saat Leon menyebut namanya. Dia bahkan tidak pernah sampai berharap pria itu mengingat namanya meski dia sudah memperkenalkan diri di hari pertama Leon datang ke Bar itu. "Silahkan panggil saya jika Tuan membutuhkan sesuatu." Kata Merry sebelum pergi kembali ke dapur dengan dipenuhi perasaan bahagia.
Leon memang sudah menduganya. Anna sempat menceritakan tentang rencana pernikahan Putra Mahkota dan tentang pesta itu. Anna juga mengatakan tentang rencananya untuk segera menemukan Ratu Isabella dan Putra Mahkota Alexis sebelum upacara pernikahan Putra Mahkota dilangsungkan. Tapi dia tidak tahu bahwa pesta yang dimaksud Anna akan dilaksanakan malam itu.
Saat malam semakin larut dan gelas bir keempatnya sudah hampir habis, Leon melihat dua orang dengan jubah hitam. Wajah mereka tidak terlihat karena memakai tudung kepala. Tapi dari cara berjalannya saja, meski dari kejauhan, Leon tahu siapa dua orang itu. Leon segera bangkit dari kursinya dan pergi sejauh mungkin dari bar. Dua orang yang dilihatnya itu juga sudah melihatnya dari kejauhan dan mengikutinya berjalan semakin jauh.
Hingga akhirnya mereka sampai di terowongan kecil yang gelap dan tidak ada orang lain selain mereka bertiga. Salah satu orang yang memakai jubah hitam itu menyingkap tudung kepalanya dan memperlihatkan rambutnya yang berwarna merah. Leon segera memeluknya dengan erat.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu Yang Mulia. Kenapa kau tidak bilang bahwa—“
Sebelum Leon melanjutkan kalimatnya, orang di samping Anna turut menyingkap tudung kepalanya. Leon sangat terkejut melihatnya hingga dia tak dapat berkata apa pun. Dia segera berlutut di hadapan orang itu. Leon berlutut di hadapan Sang Ratu.
"Aku sangat merindukanmu, putraku." Kata Ratu Isabella sambil tersenyum haru. Sang Ratu memang sudah menganggap Leon sebagai putranya sendiri seperti halnya Raja Edward yang juga sering menyebutnya sebagai putranya. "Berdirilah, nak. Aku ingin melihat wajahmu."
Leon menuruti perkataan Ratu Isabella dan melepas topengnya. Dia berdiri di hadapan Sang Ratu yang sangat dia hormati seperti ibunya sendiri.
Sang Ratu menatap Leon dengan lembut seperti menatap putranya yang telah lama jauh darinya. Tanpa terasa air mata menggenang di kedua matanya. Sang Ratu segera memeluk Leon. "Terima kasih, Leon. Terima kasih banyak karena kau masih hidup dan terima kasih banyak karena kau telah menjaga putriku dengan baik saat aku tidak ada di sisinya."
"Baginda Ratu—“
"Kenapa kau memanggilku seperti itu lagi?"
Leon menghela napas. "Ibunda..." Ucap Leon. Ratu Isabella tampak tersenyum bahagia saat Leon memanggilnya seperti itu.
"Ya, putraku?"
"Apa Ibunda baik-baik saja? Apa mereka memperlakukan Ibunda dengan buruk? Saya akan memenggal kepala mereka jika Ibunda mengizinkan."
"Tidak sama sekali, putraku. Untuk lebih jelasnya kita bicarakan nanti. Anastasia mengatakan dia harus cepat kembali sebelum sihirnya hilang."
"Sihir?" Tanya Leon pada Anna.
"Benar. Aku ingin menjelaskannya padamu tapi kita tidak punya banyak waktu. Aku harus cepat kembali dan menemukan Alexis secepatnya." Kata Anna.
"Apakah itu tidak terlalu berbahaya, Yang Mulia? Mereka akan segera menyadari bahwa Ratu menghilang. Mereka pasti akan memperketat pengamanan."
"Percayakan Alexis padaku, Leon. Dan aku mempercayakan keamanan Ibu padamu."
"Aku akan ikut mencari Yang Mulia Putra Mahkota Alexis. Aku tidak bisa lagi berdiam diri menunggu sementara Yang Mulia berada dalam bahaya setiap detiknya."
"Mereka akan mengenalimu, Leon." kata Anna.
"Tapi, Yang Mulia—“
Ratu Isabella menggenggam tangan Leon yang terkepal. "Putraku.. Perkataan putriku benar. Aku mendengar pembicaraan para prajurit Nordhalbinsel. Mereka terus membicarakanmu. Mereka sedang mencarimu. Aku tidak tahu kenapa, tapi mereka menginginkanmu. Mereka akan mengenalimu langsung saat melihatmu. Jadi sebaiknya kita percayakan ini pada Anastasia. Kau tidak meremehkan kemampuan putriku bukan?" Ratu Isabella tersenyum dan menambahkan, "Guru berpedangnya adalah Singa dari Selatan yang terkenal itu."
"Ibu tahu?" Tanya Anna, terkejut. Karena selama ini dia menyelinap keluar istana untuk belajar pedang dari Leon agar Ratu Isabella tidak tahu. Dia tidak mau Sang Ratu khawatir.
"Selama ini aku sudah tahu. Leon yang memberitahuku. Dan kupikir itu hal yang bagus. Jadi aku tahu bahwa putriku bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik." Ratu tersenyum. "Jadi, Leon, tolong percayakan Alexis pada Anastasia. Ini bukan perintah dari seorang Ratu, melainkan permintaan dari seorang Ibu."
Leon pun menyerah pada perkataan Ratu Isabella. "Baik, Ibunda."
***
Pagi itu, di pondok kecil mereka, Louis menyambut kehadiran Sang Jenderal dan Sang Ratu dengan teh hangat, roti kering dan sup daging yang baru dimasaknya.
Anak laki-laki itu begitu terkejut saat dini hari Leon memasuki pondok mereka. Padahal biasanya Leon baru akan pulang setelah matahari benar-benar terbit. Tapi saat melihat orang yang datang bersama Leon, Louis jauh lebih terkejut lagi. Saking terkejutnya dia sampai tidak sanggup berkata apa pun dan bersujud di depan Sang Ratu.
Tapi Sang Ratu yang sangat rendah hati meminta Louis untuk memperlakukannya seperti seorang Ibu.
"Aku memiliki seorang putra yang usianya hanya satu tahun lebih tua darimu. Jadi sama halnya seperti Leon, aku juga akan menganggapmu sebagai putraku." Kata Sang Ratu.
Louis sangat bahagia saat mendengar hal itu keluar dari mulut Sang Ratu yang sangat dia kagumi sampai-sampai dia meneteskan air mata dan berulang kali berterima kasih pada Sang Ratu. Louis memang sudah tidak memiliki Ibu sejak masih bayi. Jadi dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ibu. Ratu segera memeluknya saat melihat anak laki-laki itu menangis bahagia.
Mereka pun sarapan pagi bersama dan kemudian menceritakan apa saja yang terjadi setelah penyerangan Nordhalbinsel. Awalnya Ratu Isabella kesulitan menceritakan apa yang terjadi malam itu. Suaminya yang sangat dicintainya mati di hadapannya. Jadi bagaimana mungkin dia tidak gemetar saat mengingat kembali peristiwa malam itu.
Ratu Isabella menyesap tehnya perlahan, tatapan lembutnya tertuju pada Leon dan Louis saat dia mengawali kisahnya, "Malam itu..."
***