The Rose That Blooms In North

The Rose That Blooms In North
Chapter 33 : La Nuit où Le Roi est Mort



Malam kematian Raja Edward...


Darah segar menodai seisi ruangan. Karpet beludru merah menjadi merah gelap, lantai dibanjiri darah dan tangisan. Udara dipenuhi duka dan dendam, serta alunan pilu patah hati seorang wanita. Seorang Ratu kehilangan Rajanya.


Hujan lebat, angin kencang dan gemuruh guntur di tengah malam terdengar dari luar istana kerajaan Schiereiland, meredam suara teriakan dan tangisan meraung Sang Ratu saat melihat suaminya tergeletak tak berdaya di atas lantai. Mahkota bertatahkan emas dan batu permata yang selalu dikenakannya dengan bangga tergeletak sembarang di lantai tak jauh darinya. Dunia seakan runtuh di hadapannya. Suara-suara langkah kaki terdengar samar di telinganya. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya mengaburkan pandangan.


Sang Ratu tahu saat itu dia harus bersikap tegar dan bersiap atas kemungkinan terburuk yang terjadi selanjutnya. Seorang Ratu tak diizinkan bermuram hati dan berduka terlalu lama. Tangisan itu harus segera dihentikannya karena musuh mereka masih ada di suatu tempat di dalam Istana. Cepat atau lambat, mereka akan menemukannya dan mungkin juga membunuhnya. Sehingga hilang sudah harapannya untuk mempertahankan kerajaan mereka. Nasib jutaan rakyat kerajaannya ada pada kekuatan hatinya. Jika dia cukup kuat untuk meninggalkan jasad suaminya, mengumpulkan sisa prajurit yang masih ada di sekitar Istana, menyusun strategi pembalasan, rakyatnya dan juga kerajaannya mungkin dapat dia selamatkan. Tapi Sang Ratu tidak dapat berpikir dengan jernih. Hatinya hancur, pikirannya kacau, dirinya dikuasai oleh rasa takut dan sedih.


Ratu Isabella tahu bahwa ini adalah sebuah penyerangan tiba-tiba dari Nordhalbinsel. Padahal hari itu mereka baru saja berpesta dengan gembira merayakan hari ulang tahun Putri sulungnya, Putri Anastasia yang baru saja menginjak usia dewasa, dua puluh tahun. Sang Ratu langsung teringat pada wajah penuh senyuman bahagia Putri Anastasia saat itu. Dia tidak dapat membayangkan betapa takut dan hancurnya Sang Putri jika melihat ini semua. Buru-buru Sang Ratu segera beranjak dari tempat itu untuk memanggil Leon dan pasukan Schiereiland untuk mengamankan tempat itu. Sang Ratu mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk segera pergi dari tempat itu untuk melindungi anak-anaknya dan kerajaannya. Meski rasanya hatinya sangat sulit menerima kenyataan itu, kakinya sulit digerakkan, suaranya seolah tak mau keluar. Tapi dia berhasil bangkit dan menyerukan panggilan kepada pasukan Schiereiland.


Saat itu, Sang Ratu menangkap pergerakan seseorang dari jendela. Dia segera pergi menuju jendela itu untuk melihat siapa yang ada di sana. Ratu membuka jendela yang menuju ke arah balkon ruang kamar itu. Tiba-tiba seseorang menahannya dan menutup mulutnya dari belakang.


"Bella, maafkan aku... Aku berjanji akan kembali dan memperbaiki semuanya." Bisik orang itu.


Sang Ratu gemetar. Bukan karena dia takut, tapi karena dia mengenal suara pria itu. Itu adalah suara Raja Edward, suaminya yang jelas-jelas baru saja dia lihat mayatnya.


"B-Baginda—“


Tapi sebelum Ratu Isabella menyelesaikan perkataannya, pria itu sudah melompat dari balkon dan menghilang dibalik pohon-pohon. Sang Ratu hanya dapat melihat punggung pria itu. Dia tidak mungkin salah mengenali suara dan punggung suaminya yang sudah hidup bersamanya selama lebih dari dua puluh tahun itu. Hanya suaminya yang memanggilnya dengan sebutan 'Bella'. Ratu Isabella yakin itu adalah Raja Edward. Tapi beliau juga meyakini bahwa pria yang tergeletak mati di dalam kamar itu juga adalah Raja Edward.


Di tengah semua kebingungan itu, Ratu segera bersiap pergi keluar dari kamar.


Belum sempat pergi dari tempat itu, dalam sekejap Sang Ratu sudah dikepung oleh pasukan tentara Nordhalbinsel lengkap dengan baju zirah mereka. Semua bersenjata lengkap. Pasukan Nordhalbinsel memenuhi ruangan itu melingkari Sang Ratu dan menghunuskan pedang mereka serempak ke arah Sang Ratu.


Sang Ratu tak bersenjata. Tak juga punya tenaga untuk melawan mereka semua. Dia terkepung dan tak ada siapa pun yang dapat menolongnya. Rasanya, saat itu, semua sudah berakhir. Melawan pun, kini pria yang dicintainya sudah tiada. Tak ada alasan baginya untuk tetap bertahan selain kewajibannya sebagai seorang Ratu. Tapi tanpa Rajanya, tanpa kerajaannya, dia hanya seorang wanita biasa, bukan seorang Ratu. Jadi dia terduduk lemah tanpa perlawanan.


Salah satu dari mereka berjalan maju ke hadapan Sang Ratu. Tentara berbaju zirah itu membuka gulungan merah berisi titah Raja dan membacakannya.


"Atas Nama Sang Matahari Utara, Raja Vlad dari Nordhalbinsel akan mengambil alih Schiereiland."


"Berani-beraninya kalian menyerang kami!" Ratu Isabella murka.


Tapi para prajurit Nordhalbinsel sudah menahannya dan mengikat tangannya sebelum Sang Ratu dapat melawan. Jika saja saat itu Sang Ratu sedang memegang busur panahnya bersamanya, mungkin semua prajurit itu dapat dikalahkannya.


"Kalian semua akan segera menanggung akibatnya! Ini adalah pernyataan perang dari kalian dan kami akan menyanggupinya!" Ratu Isabella menatap tajam ke arah pemimpin mereka, orang yang tadi membacakan  titah dari Raja.


"Jenderal Orthion." Seseorang dengan baju zirah lainnya baru saja memasuki ruangan itu diiringi pasukannya yang jumlahnya tidak kalah banyak. Sang Ratu tidak dapat melihat wajahnya, tapi bisa melihat bahwa orang yang baru datang itu memiliki sepasang mata berwarna Emerald. "Biar aku yang membawa Sang Ratu."


"Yang Mulia, apa yang Anda lakukan di sini?" Orang itu, Jenderal Orthion tampak terkejut atas kedatangan pria yang baru saja datang. Dia membungkuk penuh hormat.


"Lepaskan ikatan Ratu Isabella! Apa yang kalian lakukan pada Ratu Kerajaan lain?" Kata pria itu. Dari nada suaranya dia terdengar seperti sedang menahan amarahnya.


"Schiereiland kini sudah menjadi milik Nordhalbinsel. Wanita ini tidak lagi seorang Ratu."


"Kalian tidak mendengarku? Lepaskan ikatannya!" katanya, setengah menggeram.


"B-baik, Yang Mulia." kata prajurit lainnya dan buru-buru melepaskan ikatan di tangan Ratu Isabella.


Pria itu, pria yang bermata Emerald berjalan perlahan ke arah Sang Ratu, membungkuk kemudian berkata "Baginda Ratu, Saya tahu ini sangat tiba-tiba dan Anda pasti sangat sedih. Saya juga turut sedih atas meninggalnya Raja Edward. Tapi saya memohon pada Anda untuk ikut dengan saya menuju Istana Nordhalbinsel. Seluruh pasukan Schiereiland sudah dikalahkan. Istana ini juga akan segera habis terbakar dan Anda tidak akan aman jika terus berada di sini. Saya akan mengurus pemakaman yang layak untuk mendiang Raja. Sementara itu, putra Anda, Putra Mahkota Alexis telah bersedia untuk ikut bersama kami. Sebisa mungkin saya akan menjamin perjalanan Anda dan Putra Mahkota Alexis aman dan nyaman."


"Siapa kau?" Tanya Ratu Isabella, masih dengan nada tegas yang dingin.


"Maafkan saya, Baginda Ratu. Untuk saat ini saya belum bisa memperkenalkan diri saya, tapi saya memiliki kedudukan yang cukup tinggi di Nordhalbinsel sehingga Baginda Ratu akan aman jika ikut dengan Saya. Saya akan melindungi Baginda Ratu dan Putra Mahkota Alexis. Mohon percayakan keamanan Anda pada Saya."


Ratu tak langsung menanggapinya. Dia menilai pemuda itu. Usianya tidak mungkin lebih tua dari putra angkatnya, Leon. Sorot matanya penuh ketulusan dan kata-katanya memang terdengar dapat dipercaya.


"Baiklah." Ratu Isabella akhirnya menyetujui. "Tapi apa kau tahu dimana putriku dan pengawal pribadinya berada?"


"Kami sudah menyusuri seluruh Istana ini dan tidak menemukan keberadaan Putri Anastasia maupun Jenderal Leon. Tapi saya berjanji akan segera menemukannya dan mempertemukannya dengan Anda, Baginda Ratu."


Setelah itu Ratu Isabella dan Putra Mahkota Alexis dibawa menuju Istana Nordhalbinsel menggunakan kereta kuda yang biasanya digunakan oleh anggota keluarga kerajaan. Orang yang mengajak mereka ke sana tidak ikut dalam kereta kuda itu, tapi seluruh pasukannya menjaga Ratu dan Putra Mahkota Alexis dengan baik. Terkadang mereka akan berhenti untuk istirahat sejenak di sebuah kastil yang juga merupakan bangunan milik anggota keluarga kerajaan Nordhalbinsel maupun di penginapan yang mewah.


Ratu Isabella dan Putra Mahkota Alexis diperlakukan seperti tamu kehormatan. Mereka kemudian ditempatkan di Istana Ratu yang tidak pernah dipakai sejak dua puluh tiga tahun yang lalu. Ratu Isabella bertanya kepada para pelayan yang bertugas di Istana Ratu kenapa Istana sebesar itu tidak digunakan.


"Mendiang Ratu Irene meninggal dunia saat melahirkan Yang Mulia Putra Mahkota Xavier. Sejak itu, Baginda Raja tidak mengangkat Ratu yang baru dan posisi Ratu dibiarkan kosong sehingga tidak ada yang menempati Istana Ratu." Jelas Pelayan itu.


Keseharian Ratu Isabella dan Putra Mahkota Alexis di dalam Istana Ratu tidak jauh berbeda dengan keseharian mereka di Istana mereka di Schiereiland. Mereka diberikan pelayan-pelayan yang ramah dan pengawal-pengawal yang setia menjaga dan melindungi mereka. Pakaian mewah dan aksesori untuk dikenakan setiap hari. Makanan enak yang melimpah, tea time di kebun buatan sihir yang ada di dalam Istana dan camilan manis saat mereka membutuhkan.


Perbedaannya hanyalah iklim Nordhalbinsel yang sangat dingin dan mereka tidak diizinkan keluar dari Istana sama sekali. Istana itu dijaga ketat oleh sihir agar tidak ada yang dapat mencelakai Ratu Isabella dan Putra Mahkota Alexis.


Seorang gadis muda dengan rambut pirang dan mata berwarna biru es yang sangat cantik jelita menggunakan sihir tertentu yang membuat orang-orang di dalam Istana Ratu tidak dapat keluar dan orang-orang di luar Istana Ratu tidak dapat masuk ke dalam tanpa izinnya. Ratu Isabella tidak pernah sempat berkenalan langsung dengan gadis muda yang cantik itu dan hanya memperhatikannya dari jendela kamarnya saat beberapa kali gadis itu mendatangi Istana Ratu untuk merapalkan sihirnya, tapi dari para pelayan dia mengetahui bahwa namanya adalah Eleanor Winterthur. Setelah mengorek informasi dari para pelayan yang ditugaskan di Istana Ratu, Ratu Isabella akhirnya mengetahui bahwa Eleanor Winterthur adalah tunangan dari Putra Mahkota Xavier, putra pertama dari Raja Vlad.


"Dia sangat cantik. Dari gerak-geriknya yang kuperhatikan, tata kramanya juga sangat bagus. Dan ternyata dia seorang penyihir?"


"Benar, Baginda Ratu. Putri Eleanor adalah salah satu penyihir terhebat di Kerajaan." jawab Si Pelayan.


"Kelak dia akan menjadi Ratu yang baik untuk rakyatnya. Ratu yang dapat melindungi rakyatnya dan kerajaannya dengan kekuatannya sendiri." Kata Ratu Isabella yang terdengar sedih karena dirinya tidak dapat menjadi Ratu yang seperti itu untuk rakyatnya.


Dia teringat pada saat sebelum dirinya menjadi Ratu. Saat dirinya ditunjuk langsung oleh Raja Eustacius untuk menjadi tunangan Pangeran Edward. Saat itu Putra Mahkota Schiereiland bukanlah Edward, melainkan kakaknya, Putra Mahkota Philip. Tapi berkat peperangan yang dimenangkan Edward dan tewasnya Putra Mahkota Philip dalam perang tersebut, gelar Putra Mahkota pun beralih kepada Edward. Sejak saat itu berbagai pelajaran untuk menjadi Putri Mahkota, yang awalnya dipelajari oleh Istri dari Putra Mahkota Philip, harus dipelajari oleh Isabella dengan cepat. Dia tidak memiliki banyak waktu karena segera setelah penobatan Putra Mahkota Edward, mereka akan segera menikah dan Isabella secara otomatis akan memperoleh gelar Putri Mahkota dan tinggal di Istana. Sang Ratu mengenang masa-masa itu dimana menjadi Putri Mahkota bukanlah hal yang mudah dan bahkan setelah naik takhta menjadi Ratu, masih banyak lagi hal yang tidak mudah baginya.


Mengingat kenangan itu, Ratu Isabella mengingat kembali sosok Putri Mahkota Nordhalbinsel yang dari luar tampak sangat sempurna tanpa cela. Sama seperti bagaimana para bangsawan dahulu menganggapnya sebagai sosok yang sempurna. Tapi lebih dari siapa pun, Ratu Isabella tahu seberapa banyak hal yang harus dikorbankan oleh seorang gadis yang menyandang gelar Putri Mahkota. Kebebasan, cita-cita, impian, hasrat, masa muda yang harusnya dipenuhi dengan berbagai pengalaman baru yang menyenangkan, pergaulan dengan sesama gadis bangsawan, hingga cinta pertamanya semua itu harus dia lepaskan untuk menjadi sosok Putri Mahkota yang sempurna.


"Benar, Yang Mulia."


"Aku mengenal seseorang yang juga seorang Winterthur. Kakak angkatku yang dulu adalah Jenderal tertinggi di Schiereiland. Dia memiliki kemampuan berpedang yang sangat luar biasa hingga dia yang tadinya adalah seorang yatim piatu, diangkat menjadi anak oleh ayahku, Grand Duke Smirnoff. Saat itu kami semua tidak tahu bahwa dia adalah Putri dari Grand Duke Winterthur yang diasingkan ke Schiereiland. Dia adalah Jenderal Irene Smirnoff. Tapi di sini orang-orang mengenalnya sebagai Ratu Irene."


"Saya memang sempat mendengar cerita tentang mendiang Ratu Irene yang pernah menjadi Jenderal di Schiereiland. Tapi saya tidak tahu bahwa cerita itu benar. Seperti apakah sosok Ratu Irene dahulu, Baginda?"


Ratu Isabella tersenyum mengenang kakak angkatnya itu. "Sebelum aku menceritakannya, bisakah kau menuangkan secangkir teh lagi untukku?"


"Oh, astaga, maafkan saya karena tidak menyadari cangkir teh Anda sudah mulai kosong, Baginda Ratu." Pelayan itu buru-buru menuangkan teh ke dalam cangkir Sang Ratu.


"Tidak apa-apa. Kau juga, minumlah tehnya. Ini sangat enak. Kalau kau menolak, aku yang akan menuangkannya langsung untukmu."


"Biar saya tuangkan sendiri, Baginda." Kata si Pelayan, menyerah karena Sang Ratu bersikeras ingin meminum teh bersama.


Setelah Pelayan itu menuangkan teh ke gelasnya sendiri, Ratu Isabella baru mulai bercerita.


"Aku dan Irene hanya berbeda satu tahun. Tapi Irene yang saat itu baru berusia dua belas tahun sudah sangat dewasa untuk gadis seusianya. Yang kami ketahui adalah bahwa Irene merupakan seorang anak yang tinggal di rumah khusus anak-anak terlantar yang diurus oleh keluarga Kerajaan. Di Schiereiland ada tempat seperti itu, dimana anak-anak terlantar akan dirawat dan diasuh hingga mereka cukup umur. Tentu saja biaya hidup mereka semua ditanggung oleh Kerajaan. Setelah mereka cukup umur, mereka akan diajari berbagai macam ilmu dan keterampilan. Anak-anak yang berbakat akan diperkerjakan di Istana.


Saat itu, Irene yang berusia dua belas tahun menunjukkan bakat berpedang yang luar biasa. Hal itu menarik perhatian ayahku, Grand Duke Smirnoff. Keluarga kami adalah ujung tombak kerajaan. Hampir seluruh ksatria yang bekerja di Istana adalah orang-orang dari keluarga Smirnoff. Pihak Istana yang mengetahui bakat Irene pun merekrutnya untuk menjadi pemimpin pasukan termuda. Sejak itu aku sangat jarang bertemu dengannya. Tapi aku ingat dia memiliki kulit putih bersih seperti salju yang baru turun, rambut hitam segelap malam dan mata berwarna Emerald. Dia memiliki kecantikan yang sangat mengagumkan hingga semua pria jatuh cinta padanya dan semua wanita iri padanya.


Sejak dia direkrut oleh Istana, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya dan hanya mendengar kabarnya dari kakak tiriku, Kris yang saat itu bekerja sebagai pengawal pribadi Pangeran Edward.


Ah, aku belum memberitahumu bahwa ibu kandungku sudah meninggal karena sebuah penyakit mematikan. Grand Duchess Smirnoff yang baru, sebelumnya adalah seorang Marchioness janda yang memiliki seorang putra dari pernikahan sebelumnya. Anak laki-laki itu lah kakak tiriku, Kris. Meski kami tidak memiliki hubungan darah, tapi Kris sangat baik padaku. Grand Duchess yang baru juga benar-benar menyayangiku dan memperlakukanku seperti putri kandungnya.


Kris menceritakan padaku bahwa Irene diangkat menjadi Jenderal saat usianya baru tujuh belas tahun dan memimpin perang melawan Orient. Setiap kali dia mendapat libur dan pulang dari Istana, Kris selalu menceritakan tentang Irene. Dia selalu memuji betapa luar biasanya Irene sampai-sampai terkadang aku merasa cemburu. Tapi saat itu aku sudah tahu bahwa kakak tiriku itu jatuh cinta pada Irene. Meski yang kudengar, Edward saat itu juga telah menaruh perhatian pada Irene. Edward beberapa kali mengunjungi kediaman Smirnoff dan meminta ayahku untuk mengizinkannya menjadikan Irene sebagai pasangannya kelak. Tentu saja ayahku menolaknya dan akhirnya akulah yang menjadi tunangan Edward atas perintah dari Raja Eustacius.


Kisah cinta segitiga itu tidak berjalan dengan baik. Irene yang akhirnya diketahui merupakan Putri dari Grand Duke Winterthur diusir oleh Raja Eustacius ke Nordhalbinsel dan akhirnya menikahi Raja Vlad. Kakak tiriku, Kris mati dalam perang meski kami menang. Dan Edward yang memimpin perang itu kehilangan kakaknya yang juga tewas, sehingga membuatnya naik takhta menjadi Putra Mahkota. Pada akhirnya, Edward, yang hanya mencintai Irene, justru menikahiku untuk kepentingan politik."


Setelah menceritakan itu, Sang Ratu tampak sedih. Sedih karena mengingat kembali masa lalu. Sedih karena mengingat kakak tirinya yang sudah meninggal dalam perang dan suaminya yang belum lama ini terbunuh. Ada terlalu banyak kematian yang menghampiri orang-orang yang ada di dekatnya. Bahkan kakak angkatnya yang kini dikenal sebagai Ratu Nordhalbinsel ternyata sudah meninggal dunia juga sebelum dia sempat menemuinya lagi.


"Apakah pernikahan politik adalah hal yang seburuk itu, Baginda Ratu?" tanya pelayan itu, memecahkan keheningan karena Sang Ratu tampak sangat sedih.


"Apa?"


"Ah, maaf jika pertanyaan saya tidak sopan. Saya hanya penasaran apakah pernikahan politik yang biasa dilakukan oleh para bangsawan itu adalah hal yang baik atau tidak."


Ratu Isabella tersenyum lembut pada pelayan itu, "Itu tergantung dari apa yang kau rasakan. Apakah kau merelakannya atau tidak. Itu akan menjadi hal yang bagus jika kedua pihak akhirnya saling jatuh cinta setelah menikah. Meski kebanyakan, keduanya hingga akhir, hanya berusaha untuk pura-pura saling peduli tapi tidak pernah bisa benar-benar mencintai karena telah memiliki orang lain di hatinya."


"Apakah Yang Mulia Ratu mencintai Raja Edward? Apakah Yang Mulia Ratu menyesal pada akhirnya?"


"Tidak. Aku tidak menyesali apa pun. Dan sampai sekarang pun aku tetap mencintainya meski aku tak pernah tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya padaku." Sang Ratu kemudian menggenggam kedua tangan pelayan itu yang sesaat tampak sedih mendengar ceritanya. "Yang terpenting adalah isi hatimu. Kepada siapa kau mempercayakan hatimu. Jika menurutmu pernikahan itu tidak akan menghasilkan apa pun yang baik, kau tidak perlu memaksakannya dan akhirnya membuat dirimu menderita selamanya. Sebenarnya, kau bisa memilih untuk kabur jika tidak suka dengan pernikahan itu. Bukannya tidak bisa, tapi kebanyakan wanita bangsawan sepertiku memilih untuk menyelamatkan nama baik keluarga dengan tidak kabur dari pernikahan politik. Tapi jika kau percaya bahwa pernikahan itu adalah sesuatu yang baik, bahkan jika kau belum mencintainya, jika pria itu adalah pria yang baik, maka kau bisa mempercayainya. Karena hati manusia dapat berubah-ubah."


Pelayan itu tampak terkejut karena Sang Ratu seolah dapat membaca isi hatinya.


"Ah, sepertinya saya harus menyambut kedatangan Yang Mulia. Terima kasih banyak atas teh dan ceritanya, Baginda Ratu. Dan terima kasih banyak atas nasihatnya. Saya mohon undur diri dahulu." Pelayan itu kemudian buru-buru pergi meninggalkan Sang Ratu yang tersenyum memandanginya dari jauh karena sebenarnya Ratu Isabella sudah mengetahui siapa pelayan itu sebenarnya.


Tidak pernah ada pelayan yang menuangkan teh dengan cara seperti itu. Cara duduk dan cara berdiri hingga cara berjalannya pun sangat menunjukkan siapa dia sebenarnya. Hanya orang-orang yang sudah dilatih keras dari kecil untuk bersikap mengikuti tata krama kerajaan yang dapat bergerak seanggun itu. Sang Ratu sudah tahu karena dirinya pun mempelajari seluruh etika itu. Karena gadis pelayan itu sebenarnya adalah Putri Mahkota Nordhalbinsel, Eleanor Winterthur.


***


Seminggu setelah kematian Raja Edward, Sang Ratu mendengar berita yang menyatakan bahwa Putri Anastasia yang tidak kunjung ditemukan telah tewas dan mayatnya diperkirakan hanyut di sungai bersama dengan pengawal pribadinya, Jenderal Leon Sang Singa dari Selatan.


“Beraninya kau membohongiku!” Tangis Sang Ratu saat Xavier mengunjunginya setelah berita itu tersebar luas.


“Saya tidak membohongi Anda, Baginda Ratu. Mohon tenangkan diri Anda.” Kata Xavier.


“Putriku... Putriku yang sangat kusayangi melebihi apa pun di dunia ini... Bagaimana bisa dia...” Ratu Isabella tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Berita kematian Putri Anastasia membuatnya sangat terpukul. Selama ini dia berusaha berpikiran positif bahwa putrinya mungkin masih hidup dan sedang bersembunyi di suatu tempat. Selama ini dia termakan ucapan penyelamatnya itu sehingga percaya begitu saja bahwa dia akan segera dipertemukan dengan putrinya.


“Dia masih hidup.”


“Bagaimana aku bisa percaya padamu?” Ratu Isabella melemparkan tatapan sinis pada Xavier.


“Saya mohon, percayalah pada saya. Dia masih hidup. Dia dan Jenderal Leon yang bersamanya saat kejadian malam itu masih hidup. Ini adalah buktinya.”


Xavier mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. Itu adalah sebuah emblem singa dan kalung mawar merah.


Saat menatap kedua benda itu, tangisan Ratu terhenti. Dia menatap kalung dan emblem singa itu dengan tatapan tak percaya.


“Ini... ini... ini adalah kalung yang kuberikan pada Anastasia di ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Dan ini adalah hadiah kemenangan pertama Leon dari mendiang suamiku. Bagaimana kau bisa mendapatkannya?”


“Saya membelinya di sebuah pasar di desa kecil tak jauh dari Istana Schiereiland. Penjualnya mengatakan seorang gadis berambut merah menjual kalung itu dan seorang pemuda yang sangat tinggi dengan mata berwarna Hazel menjual emblem singa itu.”


“Itu pasti Anastasia dan Leon. Putriku masih hidup. Begitu pun dengan putraku.” Secercah harapan kembali mengisi hati Sang Ratu.


“Ya, Baginda. Mereka masih hidup. Saya akan menepati janji saya pada Baginda Ratu. Karena itu, sampai saat itu, mohon bersabar menunggu mereka di Istana ini.”


***