The Rose That Blooms In North

The Rose That Blooms In North
Chapter 29 : Baiser de Guérison



"Putri, ada apa denganmu?" Tanpa sengaja Xavier memanggil Anna dengan sebutan yang sudah lama Anna lupakan. Karena Xavier tahu bahwa Anna lah yang sedang menyamar menjadi Eleanor, dia mengetahuinya dari detakan jantungnya yang semakin cepat sejak berada di aula pesta.


Xavier berusaha menyentuhnya, tapi Anna langsung mendorong Xavier menjauh. Xavier tahu dia harus menenangkannya bagaimana pun caranya. Xavier pernah mempelajari tentang reaksi seperti itu sebagai reaksi pasca trauma.


"Itu hanya ilusi yang kau lihat. Kau harus melupakan kejadian itu. Apa pun yang kau lihat saat ini, itu sudah berakhir. Kau sedang berada di tempat yang jauh lebih baik dan aman. Kau baik-baik saja sekarang." Xavier berusaha memegang kedua tangan Anna yang terasa sangat dingin, dia mendekapnya. Suhu tubuh Xavier yang panas dapat menghangatkan Anna. Tapi jantung Naga Api di dalam tubuhnya berdetak sangat cepat saat dia memeluknya. Melihat air mata Anna merebak membuat sekujur tubuhnya kesakitan, tapi dia berhasil menahannya. Prioritasnya saat ini adalah menenangkan Anna.


Anna memberontak dalam pelukannya. "Lepaskan aku! Kau sama saja dengan orang-orang itu kan? Jangan bersikap sok baik padaku! Kau... Kau anak dari pembun—“


"Hentikan." Xavier menghentikan ucapan Anna dengan sebuah ciuman lembut di bibirnya. Sesuatu dalam dirinya mendorongnya untuk melakukannya. Mata emerald milik Xavier berubah menjadi warna merah menyala. Kehangatan api memancar darinya, melingkupi Anna seperti sebuah selimut tebal yang membuatnya merasa nyaman dan tenang. "Apa pun yang mau kau katakan, aku sudah tahu itu. Jadi jangan kau ucapkan lagi, Putri Anastasia." Saat mengatakan itu, Anna yang sebelumnya menjadi Eleanor kembali berubah menjadi dirinya sendiri. Sihir transformasi akan menghilang jika ada yang menyebut nama aslinya.


Xavier segera menangkap tubuh Anna yang hampir ambruk ke lantai saat sihir transformasi terlepas darinya. Anna tak sadarkan diri.


"Sudah ratusan tahun hujan tidak pernah turun di Nordhalbinsel. Aku tidak pernah memintamu untuk melakukan ini semua, Elle." Ucap Xavier dengan nada bicara yang dingin. Kedua matanya masih semerah api. Dia menoleh ke udara kosong di sekitarnya. Udara kosong itu mewujud, menjadi tunangannya. Xavier menatap Eleanor dengan marah, hal yang tidak akan pernah dia lakukan sebelumnya.


"Itu hanya hujan ilusi yang terjadi di area Istana saja. Bukan hujan sungguhan." Eleanor, yang sejak tadi menggunakan sihir tidak terlihat, kini sudah terlihat sepenuhnya. "Jadi kau sudah tahu sebelumnya kalau Anna adalah Putri Anastasia? Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa kau menyembunyikan hal itu dariku? Padahal aku sudah menyiapkan semuanya untuk memberitahumu, untuk memperingatkanmu. Aku bahkan sudah mempelajari sihir mendatangkan hujan ilusi itu meski sangat sulit."


"Apa aku pernah memintanya? Kau tidak perlu bertindak sejauh ini! Jangan gunakan cara seperti ini. Aku tahu apa yang aku lakukan. Jadi jangan ikut campur." Xavier segera mengangkat tubuh Anna yang sudah pingsan akibat pelepasan sihir dari Eleanor. "Kau sudah membahayakannya."


"Kalau kau sudah tahu bahwa dia adalah Putri Anastasia, lalu kenapa kau masih membiarkannya berada di sekitarmu? Membahayakannya, katamu? Dia bisa saja membahayakanmu. Dia mungkin berencana untuk membunuhmu."


"Dia tidak berbahaya untukku! Dia tidak akan seperti itu. Kalau kau tidak tahu apa pun, sebaiknya diam saja. Aku tak akan memaafkanmu kalau sampai terjadi sesuatu padanya karena perbuatanmu ini."


Xavier yang masih marah, pergi meninggalkan Eleanor dan membawa Anna ke Istana Putra Mahkota. Di Istana, Xavier dengan panik meminta para pelayan untuk segera menggantikan pakaian Anna dan membuatkannya obat-obatan herbal yang menghangatkan tubuh dan memanggil kepala dokter Istana yang biasanya hanya melayani Raja untuk memeriksanya. Saat dirinya sudah lebih tenang, mata emerald nya kembali.


“Bagaimana kondisinya?” tanya Xavier langsung begitu dokter keluar dari kamar Anna.


“Nona Anna menderita trauma psikologis yang terkadang akan muncul saat ada pemicu tertentu. Tapi selain itu Nona baik-baik saja. Dia demam tinggi, tapi saya sudah memberikan obat-obatan terbaik. Demamnya akan turun dalam waktu satu jam. Yang Mulia tidak perlu khawatir. Yang Mulia juga harus istirahat agar tidak terkena demam.” Kata Dokter.


“Terima kasih banyak.”


Tanpa menghiraukan perkataan Dokter yang menyuruhnya untuk istirahat, Xavier segera pergi menuju kamar Anna. Gadis itu terbaring lemah di atas tempat tidurnya dengan kedua mata terpejam. Warna kulitnya mulai kembali normal, tidak sepucat sebelumnya. Xavier menyentuh keningnya untuk memeriksa suhu tubuhnya yang masih panas.


"Dia masih demam." Kata Xavier saat menyadari kepala pelayan Istana Putra Mahkota memasuki kamar itu sambil membawakan obat dan air.


"Dokter mengatakan bahwa demamnya baru akan turun setelah satu jam. Mohon bersabar, Yang Mulia." Kata Kepala Pelayan sambil meletakkan obat dan air di meja di samping tempat tidur Anna.


"Aku akan berada di sini sampai suhu tubuhnya kembali normal. Kau bisa pergi."


"Yang Mulia basah kuyup. Akan lebih baik jika Anda mengganti pakaian terlebih dahulu agar tidak terkena flu. Saya akan memanggilkan—“


"Tidak perlu."


"Yang Mulia, saya mohon, perhatikan kesehatan Anda. Saat ini kondisi Raja juga sedang tidak baik. Anda harus tetap sehat. Ini semua demi Kerajaan."


"Tapi, Anna—“


"Saya yang akan menjaga Nona Anna dan memastikan demamnya turun. Dan jika masih belum turun juga, saya yang akan memberikannya obat. Yang Mulia bisa beristirahat."


Xavier menghela napas. Kepala Pelayan memang benar, saat ini dia harus menjaga dirinya sendiri agar tetap sehat untuk melindungi kerajaannya. Dia tahu itu. Tapi dia ingin tetap berada di samping Anna hingga gadis itu telah pulih sepenuhnya. Dia masih merasa bersalah karena biar bagaimana pun Eleanor melakukan semua itu demi melindunginya. Dan kata-kata Anna tadi masih terngiang dalam benaknya. Anna mengalami kejadian traumatis akibat penyerangan malam itu. Dan dia tak bisa dikatakan sepenuhnya tak bersalah atas kejadian itu.


"Bisakah aku mempercayaimu?" Tanya Xavier akhirnya.


"Saya akan menjaganya. Silahkan percayakan Nona Anna pada saya."


Xavier mengangguk. Evelyn, Kepala Pelayan Istana Putra Mahkota sudah menjadi pelayan sejak ayahnya masih seorang anak Raja. Jadi Xavier sudah tahu kesetiaannya. Dia tidak meragukannya sama sekali. Dia hanya ragu untuk meninggalkan Anna. Sebagian besar dirinya ingin tetap berada di samping gadis itu, tapi sebagian lainnya mengatakan bahwa dia harus pergi dan menuruti perkataan Dokter serta Kepala Pelayan.


"Baiklah. Segera informasikan padaku jika setelah satu jam demamnya masih belum turun. Tapi jika suhu tubuhnya sudah kembali normal, kau bisa kembali beristirahat. Aku akan mengganti pakaianku sendiri jadi jangan bangunkan siapa pun. Kerajaan membutuhkan kalian tetap sehat dan cukup istirahat untuk membantu kami."


"Baik, Yang Mulia."


Setelah keluar dari kamar Anna, Xavier baru menyadari pakaiannya benar-benar basah kuyup akibat hujan. Dia segera pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian sendiri karena tidak mau merepotkan para pelayan di tengah malam saat mereka sudah tertidur lelap. Tapi saat melepas pakaiannya, dia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari pantulannya di cermin. Semua bekas luka di tubuhnya menghilang tanpa bekas. Tidak ada satu pun bekas luka yang tersisa di tubuhnya bahkan luka yang baru didapatnya beberapa hari yang lalu akibat panah beracun.


“Elias...” Xavier memanggil dengan suara pelan yang tidak lebih dari bisikan.


Dalam sekejap, seekor serigala yang besarnya hampir sama dengan Iris, kuda putih milik Xavier, muncul begitu saja. Serigala itu memiliki bulu seputih salju dan mata biru es. Taringnya yang panjang terlihat mengerikan dengan bercak darah memenuhi mulutnya.


“Ada kepentingan mendesak apa kali ini?” Tanya Serigala itu dengan nada kesal.


“Oh, maaf, aku lupa ini adalah 'malam itu' ya? Pantas saja kau tidak hadir di pesta."


Serigala itu mendengus kesal. Tapi kemudian Serigala itu berubah bentuk menjadi sesosok manusia. Sesosok pria dengan rambut pirang stroberi dan mata berwarna biru es. Wajahnya tampak sempurna seperti lukisan dan dia mengenakan pakaian bangsawan yang sangat rapih seperti akan pergi ke sebuah pesta. Serigala itu adalah Jenderal Elias.


“Aku tadi sudah bersiap akan pergi ke pesta. Tapi, yah, kau tahu kan." Kata Elias sambil membersihkan bercak darah dari mulutnya. Darah dari mangsanya malam itu.


"Ya, aku mengerti. Tidak masalah." Kata Xavier. "Sepertinya kau mendapatkan tangkapan yang bagus malam ini. Sudah kenyang?"


"Hanya beberapa monster di wilayah perbatasan dan beberapa Penyihir Hitam yang mencoba menerobos masuk ke Nordhalbinsel. Tidak ada yang istimewa. Tapi sudah cukup untuk malam ini."


"Apa Grand Duke juga ikut berburu? Aku tidak melihatnya di pesta tadi."


"Tentu saja. Kalau bukan karena hal itu dia pasti sudah datang ke pesta. Ayahku itu sepertinya tidak menua. Dia masih sehebat dulu. Dia berhasil menangkap—Tunggu sebentar..." Elias menghentikan kata-katanya saat menyadari bahwa Xavier tak berpakaian, "Sopankah jika aku bertanya kenapa kau tidak memakai pakaian saat memanggilku?”


“Aku hanya ingin memastikan, apa kau melihat bekas luka di punggungku atau di mana pun? Karena aku tidak melihatnya. Apa ini ilusi atau karena aku meminum terlalu banyak anggur tadi?”


Mata Elias membulat lebar saat menyadarinya. “Astaga... Kau benar. Tidak ada bekas luka sama sekali. Apa yang kau lakukan hingga bisa membuat semua bekas luka yang sudah ada selama bertahun-tahun itu hilang?” tanya Elias.


“Aku tidak melakukan apa pun. Itu hilang begitu saja.” Jawab Xavier. Tapi kemudian dia teringat kejadian di rumah kaca. Dan sesaat wajahnya memanas. “Ah, aku mungkin memang melakukan sesuatu. Tapi itu tidak disengaja. Tidak, itu tidak mungkin tidak disengaja, jelas-jelas aku sengaja melakukannya. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku melakukannya. Tapi aku tidak menyangka efeknya akan seperti ini. Ini tidak masuk akal. Ini benar-benar aneh.”


“Yang Mulia mohon ampuni hamba yang rendah ini sehingga tidak mengerti apa yang Anda katakan.” Ucap Elias, mendaramatisir.


"Aku tidak mau mengatakannya padamu. Tidak akan. Aku sudah cukup memastikan. Kau boleh pergi." Kata Xavier sambil memakai pakaian yang baru dan kering.


"Aku tidak akan pergi sebelum kau memberitahuku bagaimana semua bekas luka itu hilang. Karena jika itu sihir baru Eleanor, aku mungkin membutuhkannya. Aku juga punya beberapa bekas luka bekas perang yang sangat ingin kuhilangkan."


"Tidak, itu bukan sihir Eleanor."


"Kalau begitu, apa itu ramuan baru yang Eleanor ciptakan?"


"Lalu apa?"


“Aku menciumnya.”


“Siapa? Eleanor?" Nada suaranya kian meninggi. "Apa kau sudah gila Yang Mulia? Kalian tidak benar-benar saling mencintai kan? Itu aneh sekali!”


"Bukan Eleanor."


"Apa? Bukan? Jadi maksudmu kau mencium wanita lain padahal kau sudah akan menikahi saudariku minggu depan? Apa kau sudah gila Yang Mulia? Siapa wanita itu?"


“Ratu Agung Zhera yang terlahir kembali.”


“Ratu Agung Zhe—maksudmu Putri Anastasia?" Elias tampak kehilangan kata-kata. Sebelumnya Xavier sudah menceritakan semuanya tentang pembicaraannya dengan Saintess Lucia pada Elias. Jadi Elias sudah tahu bahwa Anna adalah Ratu Agung Zhera. Meski begitu, Xavier meminta Elias untuk tidak memberitahukan hal itu pada Eleanor. "Bagaimana, maksudku, kenapa? Maksudku, apa yang kau pikirkan? Baiklah, aku tahu dia adalah pasanganmu—pasangan Naga Api Agung seribu tahun yang lalu. Tapi itu kan seribu tahun yang lalu. Kalian bahkan tidak benar-benar saling kenal sekarang dan kau sudah menciumnya? Apa kau sudah gila!"


"Baiklah! Aku mungkin memang sudah gila! Tapi apa urusanmu? Kau benar-benar mempermasalahkan hal ini, padahal Eleanor sama sekali tidak mempermasalahkannya. Sebenarnya siapa yang bertunangan denganku? Kau atau Elle?"


Elias terkesiap. "Jadi maksudmu Eleanor tahu?"


Xavier menghembuskan napas panjang. Dia tahu tidak seharusnya menceritakan hal ini pada saudara kembar dari tunangannya. Tapi biar bagaimana pun Elias adalah satu-satunya orang yang dapat dia percayai selain Eleanor. "Elle melihatnya. Dia melihatku mencium Anna. Tapi dia tidak berkomentar apa pun tentang itu dan hanya mengkhawatirkan keselamatanku. Dia mengkhawatirkanku." Jawab Xavier akhirnya. Kini dia sadar bahwa kata-katanya tadi mungkin menyakiti perasaan Eleanor. "Benar... Dia selalu saja begitu. Mengkhawatirkanku seolah aku adalah putranya."


"Astaga... Lalu di mana dia sekarang?" Tanya Elias.


Pertanyaan Elias menyadarkan Xavier bahwa dia harus segera meminta maaf pada Eleanor karena perkataannya sebelumnya. Tanpa memedulikan Elias, Xavier segera pergi dari Istananya menuju rumah kaca tempatnya meninggalkan Eleanor tadi. Tapi gadis itu tidak ada di sana.


Pesta sudah berakhir satu jam yang lalu. Semua orang sudah pergi meninggalkan aula pesta. Dan kini saat Xavier memasuki aula tersebut untuk mencari Eleanor, gadis itu juga tidak ada di sana. Aula itu tampak kosong oleh tamu, namun penuh oleh para pelayan yang sedang membereskan sisa-sisa pesta. Sangat kosong jika dibandingkan dengan situasi beberapa jam yang lalu saat dirinya berdansa dengan Anna yang menyamar menjadi Eleanor. Melihat aula pesta membuatnya teringat kembali saat mereka berdansa untuk pertama kalinya. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang lagi. Saat itu pun jantungnya berdetak sangat kencang, tapi Xavier tidak mau melepaskan tangan Anna. Dia setengah berharap saat itu Anna tidak sedang menyamar menjadi Eleanor sehingga dia dapat melihat kedua bola mata Anna yang berwarna cokelat keemasan dari dekat. Xavier tanpa sadar tersenyum saat mengingatnya.


"Yang Mulia, apakah ada yang Anda perlukan?" Tanya Sebastian, kepala pelayan Istana.


Xavier segera tersadar dari lamunannya. Dalam hati dia menyalahi dirinya sendiri karena bisa-bisanya dirinya tenggelam dalam perasaan itu padahal dia harus segera menemukan Eleanor. Xavier menanyakan keberadaan Eleanor pada Sebastian dan beberapa pelayan dan dayang yang dia temui yang masih membereskan aula. Tapi tidak ada satu pun yang melihat Eleanor.


"Saya melihat Putri Mahkota pergi menaiki kudanya. Tapi Yang Mulia Putri Mahkota tidak mengizinkan siapa pun mengikutinya dan mengatakan dia ingin pergi sendiri. Saya sudah bersikeras mengatakan bahwa terlalu berbahaya jika beliau pergi sendiri, tapi Yang Mulia Putri Mahkota menggunakan sihirnya sehingga kami tidak dapat bergerak hingga beliau telah benar-benar jauh." Kata salah satu penjaga gerbang Istana saat Xavier bertanya padanya. Dari wajahnya terpancar rasa takut karena telah membiarkan Putri Mahkota pergi seorang diri tanpa pengawalan.


Xavier berusaha membuat dirinya sendiri terdengar tenang dan tidak mengancam agar para penjaga itu tidak merasa tertekan.


"Ke arah mana dia pergi?"


***


Xavier pergi ke sebuah desa terpencil yang letaknya di pinggir kota bernama Northwood. Desa kecil itu dibangun oleh Raja terdahulu untuk para budak yang beliau bebaskan dari Istana Utara bertahun-tahun yang lalu.


Di desa itulah, dulu, enam tahun yang lalu, Eleanor meminta izin Xavier untuk mengencani seorang rakyat biasa yang telah membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali. Xavier memang tidak pernah menemui pria itu secara langsung. Dia hanya melihatnya dari kejauhan dan mengenalnya dari cerita-cerita Eleanor. Tidak banyak yang Xavier ketahui tentang kekasih dari tunangannya itu. Tapi Xavier tahu namanya adalah Dylan dan sebagaimana kebanyakan rakyat jelata yang ada di Nordhalbinsel, Dylan tidak memiliki nama keluarga. Dylan juga tidak memiliki keluarga dan tinggal seorang diri di rumah yang sangat sederhana. Xavier tahu persis letak rumah Dylan karena Eleanor sering pergi ke sana setiap kali mereka berkesempatan untuk pergi berjalan-jalan keluar Istana.


Jadi malam itu, sekitar tengah malam, Xavier menunggangi Iris menuju rumah Dylan yang terletak di Desa Northwood dengan berharap dapat menemukan Eleanor di sana. Jika tunangannya itu ada di sana dan sedang bersama dengan Dylan, Xavier akan merasa lebih tenang. Dia tidak akan mencoba mengganggu mereka dan membiarkan Eleanor bersama Dylan karena mungkin pria itulah yang paling dibutuhkannya saat ini. Jadi dia hanya akan datang untuk memastikan.


Xavier turun dari kudanya sebelum mulai memasuki Desa Northwood karena langkah kaki kuda akan membangunkan para penduduk desa yang mungkin sudah mulai tertidur. Dia memakai jubah hitam dengan tudung kepala yang menyembunyikan pakaian kerajaan yang dia kenakan dan wajahnya yang dikenali semua orang karena warna matanya yang langka. Untuk berjaga-jaga dia membawa pedangnya dalam bentuk pisau belati kecil yang digantungkan di pinggangnya.


Rumah Dylan berada jauh dari rumah penduduk lainnya. Bahkan lebih dekat ke hutan yang sepi dan tidak banyak orang yang berani masuk ke hutan itu saat malam hari.


Saat Xavier sudah mulai dekat dengan rumah Dylan, Xavier memelankan langkah kakinya dan menajamkan pendengarannya berusaha menemukan suara Eleanor dari dalam rumah sederhana itu.


“Jadi kau seorang Grimoire? Teganya kau membohongiku."


"Maaf... maafkan aku, Dylan. Aku tidak pernah bermaksud membohongimu.”


Itu suara Eleanor. Tapi suaranya terdengar tersekat seolah mengatakannya sambil menangis.


"Kau tahu apa yang telah dilakukan oleh Klanmu pada keluargaku? Mereka membantai seluruh keluargaku! Mereka mengambil semua anak-anak dan menjadikan kami semua budak penyihir di Istana Utara selama bertahun-tahun. Mereka menyiksa kami dan menjadikan kami bahan percobaan untuk sihir mereka."


"Aku tidak tahu Klanku melakukan semua itu. Aku tidak pernah—“


"Tentu saja kau tidak tahu! Memangnya kau tahu apa? Kau hidup dengan bahagia di Istana. Sejak kecil hidupmu sempurna dan dicintai banyak orang. Tentu saja kau tidak tahu apa yang para penyihir itu lakukan. Kau sudah membohongiku selama bertahun-tahun dan mengatakan bahwa kau mencintaiku. Kalau kau benar-benar mencintaiku seharusnya kau tidak membohongiku sejak awal.”


"Tapi aku benar-benar mencintaimu dengan tulus, Dylan. Kebahagiaanku tidak berada di Istana, aku tidak pernah merasa benar-benar hidup sebelum aku bertemu denganmu. Aku hanya bahagia saat bersamamu. Kau adalah kebebasanku dari kehidupanku yang menyesakkan."


"Diam kau! Dasar Penyihir—“


Tepat saat itu, saat Dylan sudah mengangkat tangannya hampir menampar Eleanor, Xavier menerobos masuk ke dalam dan mencengkeram tangan Dylan dengan kuat. Mata emeraldnya menatap Dylan di hadapannya dengan penuh amarah.


"Apa yang sedang kau coba lakukan pada tunanganku?"


Dylan terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. Dengan melihat mata berwarna emerald itu saja dia sudah tahu.


"P-Putra Mahkota..."


"Keluarga Kerajaan telah bermurah hati membebaskan para budak di Istana Utara dan memberikan mereka kehidupan yang layak di Nordhalbinsel. Apakah ini caramu berterima kasih pada kami?"


Xavier mencengkeram tangan Dylan semakin kuat sehingga terdengar suara tulang tangan Dylan yang mulai patah.


“Xavier, hentikan!” Tangis Eleanor.


"Sa-saya mohon ampun Yang Mulia." Kata Dylan.


Xavier melepaskan tangan Dylan kemudian menghunuskan pedangnya ke leher Dylan. "Siapa pun yang membahayakan nyawa anggota keluarga kerajaan akan diberikan hukuman mati. Beraninya kau—“


"Jangan! Jangan lakukan itu, Xavier. Kumohon, ampuni dia. Biarkan dia hidup." Eleanor memohon sambil berlutut di hadapan Xavier.


"Dia hampir memukulmu, Elle. Dia membuatmu menangis. Apa haknya melakukan itu padamu?"


"Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau membunuhnya. Turunkan pedangmu, Xavier!” Eleanor meninggikan suaranya. Dia kini terlihat sangat marah.


Xavier menuruti perkataan Eleanor. Pedang itu kembali menjadi pisau belati kecil.


Xavier berbalik memandang Eleanor yang hanya menunduk, menghindari tatapannya. Dia menyeka air mata gadis itu dengan sapu tangannya. “Air matamu terlalu berharga untuknya. Ayo kita pulang.” Kata Xavier, sambil menggandeng tangan Eleanor yang masih gemetar, membawanya pergi dari rumah itu dan meninggalkan Dylan seorang diri.


***