
Anna memperhatikan Xavier yang kini tampak sedang mengenang kembali mendiang Ratu. Tatapan Sang Putra Mahkota tampak menerawang. Seolah dirinya sedang kembali ke masa lalu.
"Saya tidak tahu, Yang Mulia. Sepertinya pengetahuan saya masih sangat kurang."
Anna mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak pernah mendengar apa pun tentang Jenderal Irene di sejarah yang dipelajarinya di Istana. Raja Eustacius adalah kakeknya yang berarti ayah dari Raja Edward. Itu berarti Ratu Irene pernah menjadi seorang Jenderal di Kerajaannya saat ayahnya masih belum menjadi Raja. Anna merasa heran kenapa dirinya tidak pernah mendengar soal itu dan kenapa tidak ada catatan apa pun di perpustakaan tentang Jenderal Irene padahal Anna termasuk Putri yang sering menghabiskan waktu di perpustakaan Istana.
"Dia berasal dari Klan Winterthur." Xavier mulai bercerita, "Irene Winterthur adalah nama lahirnya. Orang-orang dulu mengenalnya sebagai anak haram dari Grand Duke Winterthur dengan seorang pelacur dari Westeria, yang tidak diketahui identitasnya, yang mati saat dia dilahirkan. Saat itu Grand Duke Winterthur adalah paman dari Grand Duke Winterthur yang sekarang. Dulu, orang-orang menganggap Irene Winterthur sebagai aib Klan Winterthur sehingga mengasingkannya ke Schiereiland bahkan sebelum dia bisa berbicara, hanya karena dia tidak memiliki rambut pirang dan mata warna biru es yang merupakan ciri khas keluarga Winterthur, seperti yang sudah kau lihat pada Lady Eleanor dan Jenderal Elias.
“Di Schiereiland, dia berhasil menjadi seorang Jenderal saat usianya baru 17 tahun dan membuat Schiereiland menjadi salah satu Kerajaan dengan militer terkuat. Tapi saat usianya 20 tahun, dia kembali ke Winterthur atas permintaan Keluarga Grand Duke untuk dinikahkan dengan ayahku yang saat itu belum naik takhta. Mereka akhirnya menikah. Dan Ratu Irene meninggal saat melahirkanku.”
Anna tidak tahu harus mengatakan apa untuk menghibur Xavier yang tampak sedih. Jadi Anna hanya diam saja dan terus mendengarkan. Xavier mungkin hanya butuh didengar. Karena apa pun yang dia katakan saat ini, takkan mengembalikan Sang Ratu yang telah tewas.
Xavier melanjutkan, “Kris, nama yang tertulis di pohon ini, adalah kekasihnya sebelum dia meninggalkan Schiereiland untuk menikahi ayahku. Sepertinya dia sangat mencintai Kris. Seandainya Ibuku tidak pernah kembali ke Nordhalbinsel dan tidak menikahi ayahku, mungkin dia saat ini sedang hidup bahagia bersama Kris dan anak-anak mereka di Schiereiland. Jika saja Jam Pasir milik Lilacier Grimoire masih ada, aku pasti sudah menggunakannya untuk merubah takdirnya. Gara-gara aku dilahirkan—“
“Kenapa Anda berpikiran seperti itu? Kenapa Anda berpikir takdir dapat diubah?” Anna memotong perkataannya.
Xavier terkejut mendengar pertanyaan itu dari Anna. Dia memang sering berpikir untuk mencari Jam Pasir milik Lilacier, tapi dirinya sendiri masih tidak yakin apakah dia bisa merubah takdir ibunya dengan jam pasir itu. Karena beberapa hal memang ditakdirkan untuk terjadi dan tak dapat diubah dengan cara apa pun.
“Yang Mulia seolah sedang menyalahkan takdir yang telah terjadi. Bukankah takdir adalah sesuatu yang tidak dapat diubah berapa kali pun Anda mengulang waktu? Saya pikir para anggota keluarga kerajaan seharusnya sudah mempelajari kebijakan tentang takdir dan waktu yang dituliskan oleh para orang suci di kitab. Apakah Anda akan menyalahkan Yang Mulia Raja Vlad karena telah menikahi Ratu Irene? Atau Anda akan menyalahkan diri Anda sendiri karena telah dilahirkan? Apakah hal itu dapat membawa Ratu Irene kembali hidup? Anda pikir mendiang Ratu akan senang jika Anda menyalahkan diri sendiri seperti ini?”
Xavier hanya terdiam. Karena ucapan Anna memang benar. Selama ini dia terus menyalahkan semua orang dan menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Ibunya meski dia tahu Sang Ratu belum benar-benar mati. Meski dia tidak yakin, tapi Xavier tahu pasti ada cara membuat ibunya kembali hidup. Xavier hanya belum bisa melakukannya.
Xavier juga merasa bersalah pada Eleanor. Dia tidak ingin Elle memiliki kehidupan yang sama seperti Ibunya yang harus menikahi pria yang tidak dicintainya kemudian terkurung di Istana yang dingin dan kejam. Xavier, lebih dari apa pun, menginginkan kebahagiaan dan kebebasan untuk Eleanor yang mencintai orang lain. Karena gadis itu sudah merelakan seluruh hidupnya untuk menemaninya dan mendukungnya. Xavier tahu dirinya bersikap egois dengan memutuskan untuk menikahi Eleanor saat dia tahu hati gadis itu bukan untuknya. Tapi dia tidak punya pilihan lain karena ini dilakukannya juga untuk melindungi Keluarga Winterthur. Xavier tahu bahwa alasan Wolfgang Winterthur beserta keluarganya tidak dihukum mati adalah karena permintaan Ratu Irene kepada Raja Vlad untuk menjadikan Eleanor sebagai pasangan putra mereka. Eleanor adalah satu-satunya alasan keluarga Winterthur yang sekarang masih hidup. Jika Xavier menolak untuk menikahi Eleanor, bahkan jika itu untuk membebaskan Eleanor, maka keluarga Winterthur mungkin akan ikut dibinasakan.
Xavier menatap Anna yang ada di hadapannya dengan takjub. Gadis itu secantik bunga mawar yang mekar di tengah daratan bersalju. Berbeda dengan orang-orang di Nordhalbinsel yang memiliki kulit putih salju yang dingin, gadis itu tampak bercahaya seperti sinar matahari di musim semi. Xavier sendiri tidak tahu apakah ini karena jiwa Naga Api Agung dalam dirinya atau mungkin dia memang merasakannya sendiri tanpa pengaruh masa lalu mereka. Seberapa besar pun kebencian yang dipendam gadis itu terhadap orang yang telah menghancurkan hidupnya, tatapan Anna selalu membuatnya merasa hangat. Xavier bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa seseorang yang sudah sangat tersakiti, telah sangat menderita, dapat menatapnya dengan hangat dan bahkan menasihatinya untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri.
Dia mengingat perkataan Saintess Lucia bahwa gadis itulah yang kelak akan menjadi Ratunya. Menjadi pasangannya. Anna adalah Zhera yang terlahir kembali. Takdir mereka sudah dituliskan jauh sebelum mereka lahir, sejak seribu tahun yang lalu. Bahkan saat ini pun, saat menatapnya, Xavier dapat merasakan jantungnya yang berdetak sangat kencang. Belakangan ini dia sering merasakan hal itu setiap kali Anna ada di sekitarnya sehingga dia mulai terbiasa. Bahkan sekarang hal itu terasa menyenangkan baginya karena itu menandakan Anna ada di sekitarnya. Terasa menyakitkan sekaligus menyenangkan. Sesuatu yang sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Sementara itu, Anna melihat Xavier yang masih terdiam dengan kata-katanya tadi. Anna yang menyadari bahwa dirinya baru saja bersikap lancang terhadap Sang Putra Mahkota, buru-buru menyusun kalimat permohonan maaf. “Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia. Saya hanya—“
Anna tidak menyelesaikan kalimatnya karena tepat saat itu, Xavier sudah memeluknya dan memutar tubuhnya ke arah berlawanan. Awalnya Anna tidak mengerti apa yang terjadi dan kenapa Xavier melakukan hal itu. Tapi kemudian dirinya melihat anak panah, melaju sangat cepat, dan menancap di punggung Xavier. Tak jauh di belakang Xavier, seseorang baru saja akan menembakkan anak panah keduanya. Dengan cepat Anna menarik Xavier untuk berlindung di balik pohon besar.
"Yang Mulia. Anda—“
"Anna, aku tidak apa-apa." Kata Xavier, terengah-engah menahan rasa sakit. "Cepat lari. Panggil bantuan. Mereka ada banyak."
Anna melihat ke sekelilingnya. Ada sekitar lima atau enam orang pemanah di tempat yang berbeda-beda. Di atas pohon, di balik pohon dan beberapa langkah jauhnya dari mereka. Masing-masing sedang membidik ke arah mereka berdua.
"Tidak. Saya akan melindungi Anda." Anna mengambil anak panah yang tidak mengenai mereka dan mengamatinya. Ujung anak panah itu tidak berwarna logam melainkan berwarna hitam. Anna telah mempelajarinya dari Leon bahwa logam yang terkena racun akan berubah menjadi warna hitam. "Yang Mulia. Anda harus segera diobati. Anak panahnya beracun."
Xavier segera mencabut anak panah yang menancap di tubuhnya dan melemparkannya ke arah salah satu pemanah yang sedang membidik. Lemparannya tepat sasaran sehingga membuat pemanah itu jatuh dan segera berlari menjauh.
Anna menuruti perkataan Xavier. Dia segera memanggil bantuan dengan menembakkan kembang api ke udara. Cara itu digunakan selama mereka ada di Montreux, dan Anna ingat dia masih menyimpan miliknya di mantel yang sedang dipakainya. Dalam sekejap, rombongan prajurit yang memang bertugas berjaga malam, datang dengan kuda mereka.
"Mereka mencoba membunuh Yang Mulia. Tangkap mereka!" perintah Anna sambil menunjuk ke arah perginya para pemanah itu.
Para prajurit segera mengejar para pemanah yang sudah mulai berlari. Anna pun meminta bantuan salah satu prajurit untuk membawa Xavier menuju Kastil.
"Xavier, tolong bertahan lah." Bisik Anna. Suaranya tercampur dengan tangisan. Anna sendiri tak paham kenapa dirinya sampai menangis seperti itu.
Setibanya mereka di Kastil, Xavier kehilangan kesadaran. Jika itu hanya anak panah biasa, dia sudah terbiasa dan lukanya mungkin akan cepat sembuh meski tetap meninggalkan bekas. Tapi anak panah itu sudah diberi racun. Meski sejak kecil Xavier sudah diberikan racun untuk membuat dirinya sendiri kebal terhadap berbagai racun, tapi racun kali ini terasa baru baginya. Dalam beberapa detik pandangannya mulai kabur. Lalu seluruh badannya mulai lumpuh. Tak lama kemudian dia mulai kesulitan bernapas seolah dirinya berada di ruangan tanpa udara. Hal terakhir yang dilihatnya adalah wajah Anna yang sedang menangis yang membuatnya merasakan rasa sakit yang luar biasa sehingga membuat bekas tusukan anak panah itu seolah bukan apa-apa.
***
Anna berjaga semalaman di kamar yang ditempati Xavier hingga pagi. Semalam mereka tidak berhasil menangkap para pemanah itu karena begitu para prajurit menemukan mereka, mereka langsung bunuh diri dengan menancapkan anak panah mereka sendiri tepat ke jantung mereka masing-masing. George, salah satu pemimpin grup prajurit mengatakan bahwa mereka adalah pembunuh bayangan—para pembunuh yang tercipta dari sihir—yang dikirimkan oleh seseorang untuk membunuh Putra Mahkota. Tapi Anna yang mengetahui kejadian itu yang sebenarnya, tahu bahwa mereka awalnya menargetkan Anna. Anak panah pertama ditujukan untuknya, tapi Xavier menyelamatkannya sehingga dia lah yang terkena anak panah itu.
Mereka sudah memanggil dokter dari kota terdekat semalam. Dokter mengatakan bahwa secara ajaib, Xavier baik-baik saja. Padahal racun yang ada pada anak panah itu adalah racun paling mematikan yang langsung bisa merusak organ tubuh bagian dalam hanya dengan satu tetes saja. Tubuhnya memang sempat bereaksi terhadap racun, tapi karena Sang Putra Mahkota sudah memiliki kekebalan terhadap beberapa jenis racun, efek racun itu tidak akan mematikan untuknya. Dan beruntung anak panah itu tidak masuk terlalu dalam sehingga tidak mengenai organ vitalnya. Meski begitu, karena Xavier sudah lama tidak tidur, daya tahan tubuhnya mengalami penurunan secara drastis dan dia mengalami demam tinggi sepanjang malam. Dokter memberikan Anna obat yang harus segera diminum oleh Xavier setelah bangun nanti.
Sambil menunggu sepanjang malam, pikiran Anna dipenuhi banyak hal. Tentang apa yang Xavier katakan padanya malam itu. Tentang Xavier yang menyalahkan ayahnya dan dirinya sendiri atas kematian Ratu Irene. Anna juga menyalahkan Raja Vlad dan membenci orang-orang Kerajaan Nordhalbinsel atas kematian Raja Edward. Padahal dia sendiri mengatakan pada Xavier bahwa takdir tidak dapat diubah. Tapi kenapa rasanya Anna masih marah pada takdir yang telah membuatnya kehilangan ayahnya dan kerajaannya. Anna menyadari saat itu dia tidak berhak mengatakan hal itu pada Xavier. Dia seharusnya mengatakan hal yang sama pada dirinya sendiri.
Anna sempat beberapa kali memikirkan untuk balas dendam terhadap Raja Vlad yang sudah membunuh ayahnya dan dia juga pernah berpikir untuk membunuh Xavier padahal pria itulah yang akhirnya menyelamatkan nyawanya. Jika saat itu Anna yang terkena anak panah beracun, Anna pasti sudah mati. Di Schiereiland, hanya Putra Mahkota yang akan diberikan pelatihan kekebalan racun. Jadi Anna tidak akan kebal terhadap racun itu. Anna membayangkan jika dirinya mati, siapa yang akan menyelamatkan ibu dan adiknya? Bagaimana dengan Leon dan Louis? Apakah mereka akan terus menunggu Anna tanpa kepastian. Anna belum sempat mendengar jawaban dari Leon untuk lamaran keduanya saat itu. Anna ingin tahu apakah Leon memikirkannya dan merindukannya sebanyak dia memikirkan dan merindukan Leon saat ini.
Saat semua pikiran itu memasuki kepalanya sekaligus, Anna mulai merasa kewalahan dan pusing, jadi Anna memejamkan matanya. Kegelapan memeluk jiwanya yang lelah.
***
Xavier terbangun saat matahari sudah benar-benar bersinar terang. Cahaya matahari yang masuk melewati jendela kamar itu terasa membutakan. Untuk sesaat, dia tidak dapat melihat dengan jelas karena segalanya terlalu terang baginya. Samar-samar dia mulai dapat melihat langit-langit kamar itu yang dihiasi ukiran bunga mawar. Xavier akhirnya mengingat bahwa dia tidak sedang berada di kamarnya di Istana, melainkan di kamarnya di Villa liburan milik Ratu Irene.
Hal yang pertama dia rasakan adalah kepala seseorang yang tertidur di lengannya. Xavier terkejut mendapati Anna sedang tertidur dengan posisi duduk di kursi di samping tempat tidurnya dan kepalanya bersandar pada lengannya. Lalu Xavier mulai mengingat kejadian semalam. Seseorang—sekitar lima orang—bersembunyi di balik pohon sambil membidik anak panah mereka ke arah Anna dan dirinya. Saat itu Xavier tidak dapat memikirkan hal lain selain cara agar anak panah itu tidak mengenai Anna. Entah instingnya sendiri atau karena jiwa Naga dalam dirinya membuatnya menghalangi anak panah itu agar tidak mengenai Anna dengan tubuhnya sendiri, yang mana jika dia pikirkan kembali sekarang itu adalah tindakan yang sangat ceroboh. Dia tidak ingin Anna mati, tapi tentu saja dia sendiri belum ingin mati. Masih ada banyak hal yang ingin dia lakukan dan masih banyak kesalahan dalam hidup ini yang ingin dia perbaiki. Itulah sebabnya selama ini Xavier selalu berusaha keras untuk tetap hidup meski kematian seolah terus mengejarnya.
Xavier akan menganggap hal itu wajar jika mereka hanya berniat membunuhnya karena itu sudah sangat sering terjadi. Ada banyak orang yang menginginkan kematiannya sejak hari dia dilahirkan. Tapi dirinya jelas mengingat bahwa mereka juga berniat membunuh Anna. Anak panah yang pertama ditembakkan oleh para pemanah itu ditujukan untuk Anna, bukan dirinya. Xavier mulai berpikir orang lain mungkin mengetahui bahwa Anna adalah Putri Anastasia. Meski begitu, dia tidak dapat memikirkan satu pun orang yang mungkin mengetahui identitas asli Anna sebagai Putri Anastasia yang dianggap telah mati. Karena berpikir terlalu keras, kepalanya mulai terasa sakit kembali. Jadi Xavier hanya menatap langit-langit dengan ukiran bunga mawar itu dengan tatapan kosong selama beberapa menit.
Xavier mulai merasa haus, tenggorokannya terasa kering dan terbakar. Tapi dia tidak ingin membuat Anna terbangun. Dia tahu Anna juga kurang tidur selama perjalanan. Gadis itu tampak sangat lelap dalam tidurnya. Rambutnya yang berwarna merah menutupi matanya yang terpejam. Xavier mencoba untuk menyentuh rambut Anna agar tidak menutupi matanya. Rambut Anna terasa sangat lembut dan halus. Wajah gadis itu tampak sangat tenang dan damai saat tertidur. Tanpa sadar Xavier tersenyum saat memperhatikannya tidur.
“Leon...”
Untuk sesaat Xavier hampir mengira Anna sudah terbangun. Tapi gadis itu masih menutup matanya sambil memanggil nama itu. Anna mengigau dalam tidurnya.
“Jangan pergi, Leon...”
***