
Malam di Nordhalbinsel selalu gelap dan dingin melebihi malam di tempat mana pun di dunia. Bahkan di tempat yang dipenuhi cahaya lampu kristal dan dilengkapi penghangat ruangan dengan kayu berkualitas terbaik di ruang istirahat Raja, malam itu selalu sama gelap dan dinginnya seperti malam lainnya. Bahkan lebih gelap dan lebih dingin dari malam lainnya bagi Sang Raja.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun terakhir, hujan turun dengan sangat deras dan sangat tiba-tiba. Nordhalbinsel, Negri Es yang terletak jauh di daerah utara, tempat yang dingin dan kering yang tanahnya selalu ditutupi salju abadi, hujan tidak pernah turun selama ratusan tahun di tanah itu. Seolah datangnya hujan yang sangat tiba-tiba itu menandakan sebuah perubahan. Hal yang harusnya tidak pernah terjadi, pada akhirnya akan terjadi.
Padahal malam itu Istana utama sedang sangat ramai karena sedang ada pesta penyambutan atas kembalinya Putra Mahkota dari tugasnya di Montreux. Tapi Sang Raja yang sedang sakit tidak dapat menghadiri pesta itu. Raja Vlad sedang duduk di ruang istirahatnya, ditemani lima orang selir, empat dayang, dan tujuh pengawal Raja. Ruangan itu sangat luas sehingga meski ada belasan orang di dalamnya sekalipun, ruangan itu tetap terasa kosong.
Belakangan ini kondisi kesehatan Raja semakin menurun. Dia tidak lagi dapat mengikuti rapat di Istana, untuk berdiri saja dia harus dibantu oleh beberapa orang. Terkadang dia mengalami halusinasi dan kesulitan mengenali wajah selir-selirnya. Terkadang dia tiba-tiba marah dan detik berikutnya dia menangis seolah dunia runtuh di hadapannya. Hanya orang-orang terdekatnya saja yang tahu tentang kondisi kesehatannya. Meski begitu, dinding dan atap Istana seolah memiliki telinga dan mulut. Rumor melebur bersama fakta dan menyebar seperti penyakit. Di Istana, posisi Raja adalah posisi tertinggi dalam kekuasaan sekaligus posisi paling berbahaya dimana banyak orang menginginkannya jatuh. Seseorang harus menjadi sangat kuat dan kejam untuk bisa bertahan di posisi itu.
"Irene..." Panggil Raja dengan lirih. Suaranya terdengar tak bertenaga. "Mendekat lah kemari."
Selir yang ditunjuknya, maju dan berlutut di hadapannya, tampak mengasihani Sang Raja sekaligus takut dan hancur. Raja pernah menjadi orang yang paling bersinar di matanya, tapi sinar itu kini sudah memudar dan perlahan mati.
"Baginda... Saya Eliza, Selir ke delapan." Kata Selir itu dengan suara bergetar, menahan isak tangis.
"Eliza? Dimana Irene? Tadi aku melihatnya berdiri di sana." Raja menunjuk ke arah sebuah lukisan besar di depannya. Lukisan Ratu Irene. "Dia masih di sana, rupanya. Tampak sangat cantik dan kejam seperti biasa."
Sang Raja tersenyum lemah sambil memandangi lukisan itu. Air matanya mengalir, meluapkan kerinduannya pada sosok yang ada di lukisan itu. Sosok di lukisan itu, wanita itu, seolah menatapnya dengan tatapan dingin dan senyuman yang hampa. Wanita itu sangat cantik dengan gaun berwarna merah sewarna dengan warna bibirnya. Dia mengenakan mahkota ratu di atas kepalanya. Rambutnya berwarna hitam tampak kontras dengan kulitnya yang seputih salju. Dari keseluruhan penampilannya yang tampak begitu mempesona, matanya yang berwarna emerald lah yang membuat kecantikannya semakin terlihat tidak nyata. Tapi sosok itu dulunya nyata. Sosok itu dulunya hidup dan tersenyum cerah, menghangatkan hati Sang Raja.
"Irene, cintaku, aku merindukanmu. Apakah pada akhirnya aku benar-benar tidak akan bisa melihatmu lagi?"
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lebar, memperlihatkan seorang pemuda yang melangkah masuk dengan santainya, meninggalkan para penjaga yang terluka parah di belakangnya. Langkah kakinya terdengar menggema ke seluruh ruangan, mendekat ke arah Raja dengan dua bilah pedang di tangan kanan dan kirinya. Pada masing-masing pedang itu terdapat ukiran bunga mawar pada pegangannya. Pemuda itu tampak sangat tinggi untuk seusianya, rambutnya pirang madu dan matanya berwarna merah terang. Mata itu menatap Raja di hadapannya dengan berani seolah akan menantangnya berduel.
Para pengawal yang sempat terkejut dengan kedatangannya, segera mencegahnya untuk melangkah lebih dekat lagi dengan raja. Mereka menghunuskan pedang, mengepungnya dari segala arah. Pemuda itu tak sedikit pun melirik para pengawal Raja. Dia tersenyum mengejek saat melihat Sang Raja di hadapannya tampak sangat terkejut dengan kedatangannya yang sama tiba-tibanya seperti hujan malam itu.
Pemuda itu menjatuhkan dua pedangnya ke lantai, lalu menunduk penuh hormat.
"Saya menghadap Baginda Raja Nordhalbinsel, Sang Matahari Utara." Kata Pemuda itu.
Raja mengisyaratkan para pengawal itu untuk membiarkan pemuda itu mendekat. Para pengawal sempat ragu, tapi pada akhirnya mereka menuruti perintah Raja.
"Kenapa tahanan perang datang menemuiku?"
"Tahanan perang? Saya pikir saya berada di sini sebagai tamu kehormatan."
Sang Raja tertawa.
"Siapa yang mengatakan hal konyol seperti itu?"
Pemuda itu tersenyum licik. "Putra Anda. Putra Mahkota Xavier." Kata Si Pemuda. "Tapi dia ada benarnya juga. Tidak pernah ada perang antara Nordhalbinsel dan Schiereiland. Baginda yang tiba-tiba datang, membunuh Raja kami dan mengambil alih Schiereiland."
Raja menatap Pemuda itu cukup lama. Beberapa putranya ada yang seusia pemuda itu, tapi tak satu pun dari mereka pernah menatapnya dengan berani seperti itu. Raja tersenyum.
"Rupanya mendiang Raja Schiereiland memiliki seorang putra yang cukup pintar dan berani. Apa yang kau inginkan?"
"Saya ingin berbicara hanya dengan Baginda."
"Kalian dengar itu? Sekarang juga, tinggalkan kami berdua."
Ketua pengawal berlutut di hadapan Raja. "Baginda, terlalu berbahaya--"
"Apa aku meminta pendapatmu? Aku tidak mau mengulang perintahku dua kali."
"Baginda--"
"Kalau dia memang datang untuk membunuhku, dia pasti sudah melakukannya sejak dia memasuki ruangan ini. Kau lihat sendiri bagaimana dia mengalahkan para penjaga di luar ruangan yang jumlahnya belasan itu. Dia seharusnya bisa mengalahkan kalian semua dan membunuhku tadi. Tapi dia justru menjatuhkan kedua pedangnya. Cepat tinggalkan kami."
"Baik, Baginda."
Dalam hitungan detik, semua orang pergi meninggalkan ruangan itu. Semua, kecuali Sang Raja dan Pemuda itu, Putra Mahkota Alexis.
Alexis mengepalkan tangannya, menahan dirinya agar tidak meluapkan emosinya saat itu juga. "Kembalikan Schiereiland." Katanya, dengan tegas. Itu bukan sebuah permintaan melainkan sebuah perintah yang dia berikan kepada Raja yang ada di hadapannya.
"Kepada siapa? Schiereiland tidak punya Raja jika kulepaskan begitu saja."
"Schiereiland masih memiliki saya. Bukankah itu sudah jelas? Jika Raja mati, mata Putra Mahkota yang akan naik takhta menjadi Raja."
"Tapi... Schiereiland tidak memiliki Putra Mahkota, melainkan Putri Mahkota." Raja mengeluarkan sesuatu dari balik jubah kerajaan yang dia kenakan. Itu adalah sepucuk surat. "Aku kebetulan menemukan surat yang ditinggalkan mendiang Raja Edward di kamarnya. Di hari ulang tahun putri sulungnya, Putri Anastasia, Mendiang Raja rupanya sudah menyiapkan hadiah yang sangat spesial. Di surat ini tertulis bahwa Raja Edward akan memberikan takhtanya kepada Putrinya, bukan kepada Putranya."
"Saya sudah tahu itu." Kata Alexis. Nada suaranya tetap tenang tanpa sedikit pun rasa takut. "Tapi tidak ada yang tahu soal surat itu maupun soal mendiang Raja yang tiba-tiba berubah pikiran dan mengganti penerusnya. Semua orang masih menganggapku sebagai penerus takhta. Lagi pula, bukankah kakakku dinyatakan sudah mati malam itu? Paling tidak itu lah yang diketahui dan dipercayai oleh orang-orang."
Raja terdiam. Dalam beberapa menit tidak ada satu pun yang bicara di antara mereka. Membuat suara hujan di luar istana terdengar semakin kencang dan mengisi kesunyian diantara mereka.
"Baiklah." Kata Raja akhirnya. "Apa yang bisa kau tawarkan padaku sebagai balasannya? Sepertinya kau sudah menyiapkan sesuatu untukku sebelum datang ke tempat ini."
Alexis melangkah lebih dekat pada Raja tanpa merasa gentar sedikit pun. Dia seolah memiliki kendali atas hidup Sang Raja.
"Saya tahu apa yang Baginda Raja butuhkan. Hal yang membuat Anda sampai membunuh Ayah saya."
Mata Raja tampak mengawasi setiap gerak-gerik Alexis. Mencari-cari ketakutan yang mungkin disembunyikannya. Tapi Raja tidak menemukan rasa takut itu darinya. Putra dari Raja Schiereiland yang sudah mati itu tampak tidak memiliki rasa takut sama sekali bahkan di hadapan orang yang telah membunuh ayahnya.
"Katakan. Apa itu?" Tanya Raja.
Alexis tersenyum, "Jantung Naga." Katanya. "Saya tahu Baginda membunuh Ayah saya karena mengira Ayah saya lah pemilik Jantung Naga itu. Apakah salah satu penyihir Anda mengatakan bahwa mereka merasakan keberadaan Jantung Naga di Istana Schiereiland? Dia tidak sepenuhnya salah. Saya tahu siapa yang memiliki Jantung Naga itu. Satu hal yang harus saya perjelas, Ayah saya bukan pemilik Jantung Naga. Pemilik Jantung Naga masih hidup."
Raja Vlad menatap Alexis dengan penuh penilaian. Putra Mahkota Schiereiland itu masih sangat muda tapi dia terlihat sangat dewasa. Dia tahu apa yang sedang dilakukannya. Jadi Raja Vlad hanya diam dan mendengarkannya.
"Satu Jantung Naga bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Empat Jantung Naga bisa membuat hidup abadi. Saya pernah membacanya. Katakan, berapa banyak yang Anda butuhkan? Saya bisa mendapatkan keempatnya jika Anda mau." Kata Alexis.
"Bagaimana kau bisa sangat percaya diri bisa mendapatkannya? Bahkan Penyihir terhebat di Nordhalbinsel tidak mengetahui siapa pemilik Jantung Naga."
"Anda melihat mata milik saya ini?" Kata Alexis sambil mendekat ke arah Raja, memperlihatkan matanya yang berwarna merah terang. Mata itu tampak berkilat sesaat. "Ini adalah Mata Naga. Tidak semua keturunan Raja memiliki mata ini, bahkan mendiang Raja tidak memilikinya, tapi saya memilikinya. Sama seperti yang dimiliki oleh Ratu Agung Zhera. Mata yang bisa mengetahui keberadaan Naga. Jika Baginda menginginkannya, Saya akan menjadi Mata Anda."
Raja tertawa. Gema tawanya memenuhi ruangan itu, lebih kencang dari suara hujan di luar. Dia tak menyangka di saat dirinya hampir menyerah, seseorang datang menawarkan apa yang dicarinya selama ini.
"Baiklah. Lakukan apa yang kau mau. Jika kau berhasil, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan." Kata Raja.
"Tapi ada satu syarat yang harus Anda penuhi terlebih dahulu. Anda harus memastikan Ibu saya tetap aman terjaga di dalam Istana Ratu sampai saya kembali membawakan Jantung Naga untuk Anda. Tidak ada yang boleh menyakiti Ratu Isabella."
"Aku akan menjaganya." Janji Sang Raja.
Alexis tersenyum puas. Negosiasinya dengan Raja berjalan dengan lancar seperti yang diharapkannya.
"Satu hal lagi. Saat ini saya masih belum tahu, tapi, jika ternyata salah satu anggota keluarga Anda adalah Naga yang Anda cari, apa saya boleh membunuhnya juga untuk mendapatkan Jantung Naga?" Tanya Alexis.
"Apakah salah satu putraku atau salah satu selirku adalah Naga?"
"Saya masih belum tahu. Tapi bagaimana jika benar begitu?"
Raja terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab, "Aku memberikan izinku. Lakukan apa pun untuk mendapatkan Jantung Naga itu, siapa pun orangnya."
Alexis berlutut di hadapan Sang Raja. "Saya akan melaksanakan perintah Baginda."
...****************...
...-The End-...