The Rose That Blooms In North

The Rose That Blooms In North
Chapter 17 : Dans les Bois



Perjalanan Anna dan Elias untuk menyeberangi sungai Forettire—sungai yang memisahkan antara Montreux dengan Fiore yang merupakan bagian dari Westeria—berjalan dengan baik. Para prajurit bekerja sama untuk menarik perhatian orang-orang yang terinfeksi itu agar tidak menyerang pintu belakang. Sehingga saat pintu belakang dibuka, Anna dan Elias dapat menunggangi kuda mereka dengan lancar hingga menyeberangi jembatan sungai Forettire.


Kabut debu di hadapan mereka semakin tebal dan mereka berkuda semakin jauh dari kastil menuju Fiore yang merupakan kota kecil Westeria yang berbatasan langsung dengan Nordhalbinsel. Fiore merupakan wilayah yang terdiri dari delapan puluh persen hutan sehingga Anna dan Elias harus sangat berhati-hati dalam memacu kuda mereka agar tidak menabrak pohon. Hutan Fiore terasa sangat sepi mencekam malam itu. Tidak terdengar suara apa pun selain suara hewan-hewan liar. Anna menduga para manusia yang terinfeksi sudah seluruhnya pergi ke arah Montreux sehingga tidak tersisa satu pun di hutan ini, tapi mereka tetap harus berjaga-jaga dan sebisa mungkin tidak membuat suara yang menarik perhatian.


"Saya tidak tahu bahwa Jenderal ikut dalam perjalanan ini. Saya benar-benar tidak menyadari keberadaan Anda sebelumnya" Anna membuka pembicaraan dengan suara yang mirip seperti bisikan.


"Aku baru saja tiba saat kabut debu tiba-tiba mulai muncul."


"Begitu rupanya."


Tapi berbagai pikiran memenuhi kepala Anna saat dia mengatakannya. Karena jika memang Elias sejak awal tidak mengikuti perjalanan itu, kenapa dia tiba di hari yang sama dengan kedatangan Putra Mahkota dan hanya berbeda beberapa jam saja. Anna tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh Xavier karena memang Anna sendiri juga memerhatikan bahwa Xavier berkali-kali melihat keluar jendela saat mereka berdua ada di ruang kerja Kastil Montreux. Dan beberapa hari berada di Nordhalbinsel membuatnya mulai berpikir bahwa semua yang terjadi di Negara ini berkaitan dengan kekuatan sihir. Pikiran liar Anna membuka beragam kemungkinan tentang Elias yang tiba tak lama setelah kedatangan kelompok Putra Mahkota di Montreux. Anna awalnya berpikir mungkin Elias memang mengikuti Kelompok Putra Mahkota sejak awal tapi suatu sihir membuat keberadaannya menjadi samar. Dan kemungkinan kedua adalah Elias memang baru saja tiba, tapi dia sampai di Montreux sangat cepat dengan bantuan sihir. Dan kemungkinan terakhir yang Anna sendiri sebenarnya tidak akan memikirkan kemungkinan ini, tapi cerita tentang Keluarga Winterthur yang Anna ketahui dari Leon tiba-tiba membuatnya mulai memikirkan kemungkinan tersebut. Beberapa waktu yang lalu—yang bagi Anna sendiri rasanya terjadi sudah sangat lama—saat Anna menanyakan apakah Leon mengenal Elias Winterthur, Leon pernah memberitahu Anna bahwa dia pernah mendengar mitos tentang ikatan tertentu atau sebuah perjanjian di masa lampau yang terjadi antara pihak Keluarga Kerajaan dengan pihak Keluarga Winterthur. Dan itu sepertinya menyebabkan kapan pun anggota keluarga kerajaan membutuhkan bantuan, saat itu lah anggota keluarga Winterthur akan datang. Mungkin saat itu Xavier sangat membutuhkan Elias sehingga Sang Jenderal Muda itu segera datang menggunakan sihir. Dan Anna memikirkan kemungkinan ketiga itu yang paling memungkinkan jika saja apa yang diceritakan Leon memang benar.


"Bagaimana caranya kita dapat menemukan Jenderal Arianne?" Anna berbisik kembali, berusaha mengalihkan topik dari pembicaraan sebelumnya.


"Kurasa kita bisa menemukan kudanya terlebih dahulu." Elias baru akan meniupkan peluit untuk memanggil kuda, tapi Anna segera mencegahnya.


"Tidakkah kita sebaiknya tidak membuat suara yang menarik perhatian? Kita tidak bisa tahu ada apa saja di sini. Bisa saja ada hewan buas maupun orang-orang yang terinfeksi."


"Jangan khawatir. Peluit ini hanya akan didengar oleh kuda. Tidak menimbulkan suara yang dapat menarik perhatian seperti yang kau katakan." Kata Elias.


Anna membiarkan Elias meniup peluit itu. Dan benar saja, peluit itu tidak memunculkan bunyi apa pun selain berupa tiupan angin. Atau setidaknya begitu lah yang Anna dengar. Lalu Anna teringat bahwa Elias merupakan saudara kembar Eleanor, yang artinya dia juga anak dari Lilithier Grimoire. Anna menduga peluit itu salah satu harta Grimoire yang memiliki sihir.


Tapi setelah berkali-kali meniup peluit tersebut, mereka tidak juga mendengar suara langkah kaki kuda lain selain langkah kaki kuda mereka sendiri. Anna mengusulkan agar mereka masuk semakin dalam menuju ujung Fiore yang mungkin tidak tertutup kabut debu. Elias menyetujui usul itu meski ragu mereka akan bisa melalui hutan itu dengan cepat.


"Kita mungkin tidak dapat menyelesaikan tugas ini dengan cepat." Kata Elias.


"Saya tahu itu, tapi kita tidak punya pilihan lain. Mungkin juga kita bisa bertemu dengan penduduk Fiore dan menanyakan apakah mereka melihat Jenderal Arianne."


"Tapi menurut Xavier seluruh penduduk Fiore sudah dievakuasi semenjak tersebar berita bahwa ada wabah di daerah Montreux." Lalu melirik ke arah Anna sebentar sebelum melanjutkan, "Omong-omong, Nona. Kau tidak perlu berbicara formal padaku. Berbeda dengan saudari kembarku yang merupakan seorang Putri Mahkota dan sudah dilatih untuk menjadi Ratu sejak hari dia dilahirkan, aku tidak terbiasa berbicara formal. Dan kalau kau tidak takut pada hutan yang sepi ini, tentu saja kita bisa terus melanjutkan perjalanan sampai ujung Fiore."


"Saya—maksudku" Anna segera memperbaiki cara bicaranya, memutuskan untuk menyetujui Elias dan mulai berbicara dengan bahasa yang lebih informal, "Aku hanya takut gagal melakukan pencarian ini dan gagal melindungi Yang Mulia Putra Mahkota." Sanggah Anna. Meski sebenarnya dia memang sedikit takut pada hutan itu.


"Xavier? Oh, kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Aku sendiri merasa seperti pengawal pribadi yang paling tidak berguna saat masih berada di posisi itu. Aku lebih sering diutus pergi jauh darinya alih-alih pergi bersamanya untuk melindunginya. Dia tak perlu perlindungan dari siapa pun. Tidak ada yang bisa melukainya. Jika orang-orang menyebutku seperti Serigala, maka Xavier itu seperti Naga."


"Naga?"


"Maksudku... Itu karena dia sangat kuat dan tidak mudah dilukai jadi dia seperti Naga. Bukan berarti dia Naga sungguhan. Memangnya masih ada Naga di zaman sekarang?" Lalu Elias tertawa canggung yang Anna curigai karena perkataannya seolah justru menyatakan sebaliknya.


"Masih ada." Jawab Anna akhirnya.


"Apa? Apa maksudmu?"


"Naga. Maksudku, masih ada Naga bahkan di zaman sekarang. Aku juga awalnya tidak percaya karena di Schiereiland tidak banyak bahkan hampir tidak ada buku yang menceritakan soal Naga. Tapi aku pernah melihatnya langsung." Kata Anna.


"Benarkah? Seperti apa Naga itu?" Tanya Elias. Kini kudanya berjalan semakin pelan.


Anna turut memelankan langkah kudanya sambil mengingat kembali tentang Naga yang ditemuinya di dekat sungai Scheine. Itu tidak lah sulit, karena bahkan hingga saat ini—setelah banyak sekali hal yang terjadi dalam hidupnya—ingatannya tentang sosok Naga yang ditemuinya masih sangat jelas. Anna bahkan merasa dapat melukiskannya jika seseorang memintanya. "Dia sangat besar. Mungkin sama besarnya dengan Kastil Montreux. Sosoknya sangat mengerikan dengan kulit bersisik tebal berwarna merah lava dan cakar yang sangat besar dan tajam. Sepasang sayap membentang lebar di samping kanan dan kiri tubuhnya, aku melihat ada luka goresan panjang di antara kedua sayap itu—juga ada luka lainnya di tubuhnya tapi luka goresan panjang itu adalah luka yang paling besar. Dan dari keseluruhan penampilan mengerikannya itu, dia memiliki sepasang mata yang sangat indah bahkan tampak sangat manusiawi berwarna merah menyala. Aku benar-benar tidak bisa melupakan tatapan naga itu saat itu."


"Dia tidak menyerangmu atau melukaimu?" Tanya Elias.


"Tidak. Dia justru menyembuhkan lukaku. Saat itu aku sedang terluka parah. Naga itu menyelamatkanku dan menyembuhkanku. Tapi sejak itu aku tidak pernah melihatnya lagi."


"Itu aneh sekali. Biasanya dia dalam wujud naga akan menyerang apa pun atau siapa pun yang ada di hadapannya apalagi tanpa sihir Elle, dia tidak akan bisa mengendalikan dirinya sendiri tapi kenapa—“


"Apa?"


Anna mengangguk setuju.


Anna dan Elias kembali diam satu sama lain dan memacu kuda mereka menjadi lebih cepat sambil terus berusaha menghindari pepohonan di hutan itu. Tapi Anna terus memikirkan Naga itu dan luka di tubuhnya. Awalnya dia merasa sangat asing saat baru pertama kali melihatnya. Tapi pola luka yang ada di tubuh Naga itu, kini setelah dia mengingatnya kembali, sangat mirip dengan bekas luka yang ada di tubuh Xavier. Anna tidak mau memikirkan hal itu karena rasanya sangat aneh memikirkan seekor Naga yang sebesar kastil memiliki bekas luka yang sama dengan Putra Mahkota Xavier. Akhirnya dia berusaha menepiskan pikiran itu jauh-jauh dengan memacu kudanya menjadi lebih cepat lagi.


Elias tertinggal jauh di belakang Anna. Sang Jenderal Muda turut memacu kudanya untuk bisa menyusulnya tapi Anna berada semakin jauh hingga keberadaannya benar-benar tak terlihat karena kabut debu di sekitar mereka.


Anna tidak menyadari betapa dia sudah terpisah sangat jauh dari Elias dan masih terus memacu kudanya dengan cepat. Menghindari setiap pohon yang hampir ditabraknya. Dia tidak memikirkan apa pun selain cara agar kudanya dapat berpacu cepat tanpa menabrak pohon. Bahkan suara Elias yang memanggilnya dari kejauhan pun tak terdengar olehnya karena terlalu fokus. Hingga akhirnya Anna merasa sangat lelah setelah satu jam lebih memacu kudanya dengan sangat cepat seperti orang yang sedang ikut lomba pacuan kuda.


Saat melihat ke belakang, akhirnya dia menyadari bahwa Elias tidak ada di sekitarnya. Anna ingin berteriak memanggil Sang Jenderal Muda, tapi dia tahu itu tidak boleh dilakukan karena dia tidak tahu apa saja yang ada di hutan tersebut.


Akhirnya Anna memutuskan untuk turun dari kudanya dan beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon besar yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Berbeda dengan hutan-hutan Nordhalbinsel yang seluruhnya ditutupi oleh salju putih tebal dan pepohonannya tidak memiliki daun karena sangat jarang terkena sinar matahari, hutan di Fiore adalah sejenis hutan yang dipenuhi rumput liar, semak belukar, berbagai tanaman liar dengan daun yang lebar dan berbagai bunga yang bentuknya aneh dan berwarna-warni juga pepohonan dengan daun yang rindang. Jadi Anna membiarkan kudanya untuk memakan rumput yang ada di hutan itu sementara dirinya meluruskan kaki dan mengambil napas. Berkuda dengan memakai masker bukan lah hal yang mudah karena itu akan membuatnya merasa sesak seperti kehabisan napas. Tapi tentu saja Anna tidak melepas maskernya.


Anna melihat kondisi di sekitarnya. Jika sebelumnya saat di Montreux jarak pandangnya hanya sekitar satu meter, di hutan ini, jarak pandangnya semakin memanjang sekitar dua meter. Kabut debu masih ada di sekelilingnya, tapi kini kabut debu itu lebih tipis sehingga Anna bisa melihat lebih jelas. Dia bisa melihat bahwa hutan itu tidak semengerikan yang ia bayangkan. Bahkan hutan itu tampak lebih baik daripada hutan di Schiereiland tempatnya bersembunyi bersama Leon selama beberapa waktu sebelumnya. Hutan ini memang sunyi, tapi bukan sunyi yang mencekam. Samar-samar Anna dapat mendengar bunyi hewan-hewan malam yang dia duga adalah burung hantu dan kelelawar dan juga suara air terjun yang terdengar tak jauh dari tempatnya saat ini.


Anna mengikat tali kudanya pada batang pohon dan mulai berjalan menelusuri hutan itu. Karena sudah pernah hidup di dalam hutan selama beberapa hari, rasanya Anna tidak merasa takut menjelajahi hutan itu sendiri meski tanpa bantuan penerangan apa pun selain cahaya bulan di langit malam. Terlebih lagi kini kabut debu itu semakin menipis dan dia bisa melihat apa yang ada di sekitarnya. Anna berjalan mendekat ke arah datangnya suara air terjun itu.


Setelah melewati berbagai pohon-pohon besar, dan berbagai jenis tumbuhan lainnya yang tidak dikenalinya karena tumbuhan tersebut tidak tumbuh di Schiereiland, Anna sampai di depan air terjun itu. Anna kini dapat melihat segalanya lebih jelas. Air terjun di hadapannya yang jatuh ke sebuah aliran sungai yang deras dan jernih. Di sepanjang sungai itu, terdapat bebatuan berwarna abu-abu gelap yang memagari tepian sungai seperti seseorang memang sengaja membentuk pagar untuk sungai itu. Di sekitar air terjun itu, berbagai pohon tumbuh menjulang tinggi. Beberapa memiliki buah berwarna merah dan berbentuk seperti anggur, tapi Anna tahu itu bukan anggur karena pohon anggur tidak seperti itu. Beberapa buah merah itu jatuh ke tanah yang tertutup rumput-rumput liar, dan kelinci-kelinci hutan berwarna hitam dan kelabu yang kini bisa Anna lihat mengambil buah-buah yang jatuh itu. Anna bisa melihat semua itu dengan jelas karena sekarang, di sekitar air terjun tersebut, tidak ada lagi kabut debu yang menghalangi pandangannya.


Kabut debu itu seolah menghilang begitu saja saat dia mulai menapakkan kakinya sekitar lima meter dari air terjun. Bahkan saat di malam hari, kini saat kabut itu tiada, Anna dapat melihat betapa cantiknya hutan Fiore. Berbeda dengan hutan Schiereiland yang dingin, lembab dan gelap karena pepohonan yang tumbuh berdekatan menghalangi cahaya bulan, berbeda juga dengan hutan-hutan di Nordhalbinsel yang semuanya putih tertutup salju tebal dan pepohonan tanpa daun. Hutan Fiore begitu kaya dan berwarna meski di waktu malam. Bunga-bunga liar berwarna ungu dan merah muda serta biru pastel, buah-buah kecil di atas pohon berwarna merah, dan bahkan ada beberapa tanaman rambat di sekitar pohon-pohon itu memiliki warna hijau bercampur kuning dan oranye.


Anna melepas maskernya dan menghirup udara hutan yang entah bagaimana dia rindukan. Tapi udara hutan itu terasa berbeda dari udara yang dia hirup di hutan Schiereiland. Dia dapat merasakan aroma manis yang menyegarkan yang dia duga berasal dari berbagai bunga liar yang tak dikenalnya atau mungkin dari buah merah yang berjatuhan itu. Tapi tak lama Anna menikmati segarnya udara hutan Fiore, seseorang dari belakang menutup mulutnya dengan tangan yang besar namun lembut dan hangat.


"Jangan berteriak, Yang Mulia." kata orang itu.


Anna langsung berbalik dan mendapati Leon lah yang berada di belakangnya.


"Leon?"


"Maaf aku—“


Tanpa menunggu kata-kata berikutnya dari Leon, Anna langsung memeluknya dengan erat. Anna sangat merindukannya hingga dia tidak tahu harus mengatakan apa. Rasanya sudah sangat lama sejak terakhir Anna bertemu dengan Leon. Meski sebenarnya Anna sudah sering ditinggal pergi oleh Leon di masa-masa saat Schiereiland harus berperang dengan negara-negara lain, tapi Anna merasa seolah dia sudah berpisah dengan Leon lebih lama dari saat-saat itu meski sebenarnya hanya beberapa hari. Tapi dalam beberapa hari itu, banyak sekali hal yang terjadi padanya.


"Aku sangat merindukanmu." Kata Anna yang tanpa sadar air matanya mengalir. Anna buru-buru menghapus air mata itu sebelum melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Leon.


Leon jauh lebih tinggi dari Anna, meski Anna tergolong cukup tinggi untuk ukuran seorang gadis biasa. Tinggi Leon hampir mencapai dua meter, sehingga Anna harus selalu mendongakkan kepala untuk melihatnya. Anna menyadari betapa dia sangat merindukan tatapan itu dari sepasang mata Hazel milik Leon. Leon selalu menatapnya dengan penuh kasih sayang. Meski Anna tahu itu bukan tatapan seorang pria kepada wanita, melainkan tatapan seorang kakak kepada adiknya.


"Aku juga sangat merindukanmu. Kau terlihat semakin dewasa hanya dalam waktu beberapa hari." Kata Leon.


"Apa maksudmu aku semakin tua?"


"Tidak. Tentu saja tidak.” Leon buru-buru mengoreksi. “Kau terlihat semakin mempesona dengan pakaian khas prajurit Nordhalbinsel."


"Harusnya sejak dulu aku memakai pakaian ini kalau tahu tipe wanita kesukaanmu adalah prajurit wanita Nordhalbinsel."


Leon tertawa mendengarnya. "Tipeku tetap wanita Schiereiland dengan gaun, Yang Mulia. Tapi siapa pun yang memaksamu mengenakan gaun-gaun yang tidak nyaman dipakai itu, harusnya melihatmu mengenakan pakaian ini, memancarkan pesona yang benar-benar berbeda. Kau terlihat lebih... Luar biasa."


"Kau mengatakan itu karena belum pernah melihat wanita tercantik di dunia." Kata Anna yang langsung teringat pada Eleanor Winterthur. "Omong-omong, kau mendapatkan suratku? Tapi kenapa begitu cepat. Oh, tidak. Kau pasti tidak mendapat suratku. Tapi bagaimana kau bisa ada di sini? dan di mana Louis?"


"Aku akan menjelaskan semuanya jika kau mau ikut denganku terlebih dahulu, Yang Mulia. Ada seseorang yang sepertinya harus kau temui."


***