The Rose That Blooms In North

The Rose That Blooms In North
Chapter 14 : Le Masque Qui Couvre Les Mesonges



Anna menahan diri untuk tidak mengatakan apa pun. Jauh di dalam hatinya dia masih merasa kecewa karena Duke Francis tidak pernah berkata jujur kepadanya. Dia juga merasa telah ditipu. Tapi Anna tidak dapat melakukan apa pun. Dia tidak boleh melakukan apa pun terlebih di depan salah satu penyihir paling berbakat sekaligus Sang Putri Mahkota Nordhalbinsel.


"Anna, kau di sini rupanya."


Anna menoleh dan melihat Putra Mahkota Xavier memasuki taman buatan itu dengan terburu-buru.


Serentak Anna dan Eleanor berdiri dan membungkuk memberi salam hormat kepada Putra Mahkota yang hanya mengarahkan tatapannya pada Anna. Anna dapat langsung tahu dari tatapan itu bahwa suasana hatinya sedang tidak baik.


"Kenapa kau tidak segera datang ke ruanganku?" Tanya Xavier.


"Sa-saya pikir..."


"Ini kesalahan saya, Yang Mulia. Saya mengundangnya untuk minum teh bersama dan bermaksud segera memberitahukannya pada Anda, tapi Anda sedang sangat sibuk tadi dan saya tidak mau mengganggu. Mohon maafkan kesalahan saya." Eleanor segera menyela.


Sesaat Anna dapat melihat Xavier menatap Anna seperti akan marah, tapi sorot matanya itu langsung berubah dalam sekejap dan kembali melembut saat menatap Eleanor.


"Maafkan aku. Seharusnya aku yang menemanimu minum teh. Ini kesalahanku. Aku berjanji akan segera meluangkan waktu untukmu." Kata Xavier kepada Eleanor.


"Saya menantikan itu, Yang Mulia." Kata Eleanor sambil tersenyum lembut.


"Anna, Aku membutuhkanmu sekarang. Ada banyak pekerjaan yang harus kita lakukan. Cepat pergi ke Ruang Kerjaku di ujung lorong lantai ke tiga dan temui Pangeran Jeffrey di sana." Kata Xavier pada Anna.


"Baik, Yang Mulia."


Anna membungkuk kepada Xavier dan Eleanor kemudian bergegas pergi menuju lantai ke tiga.


"Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" Tanya Xavier pada Eleanor saat mereka hanya berdua saja di taman itu.


"Tidak ada. Aku hanya melakukan sedikit perbincangan dengan pengawal pribadimu sebagai sesama wanita. Tidak ada yang istimewa." Jawab Eleanor santai sambil sesekali menyesap teh bunga mawarnya.


"Kau mencurigainya." Kata Xavier, yang lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.


"Tentu saja." Eleanor tidak mengelaknya. "Biar bagaimana pun dia berasal dari Schiereiland. Aku tidak bisa memercayai siapa pun yang berasal dari sana."


"Dia hanya seorang gadis biasa, Elle." Xavier menghela napas, "Berhenti mencurigainya. Dan jangan ganggu dia."


"Selena juga awalnya hanya seorang gadis biasa yang tiba-tiba muncul di hadapan Raja dan kini menguasai Raja dan seluruh Kerajaan. Dia juga yang telah melukaimu bahkan hampir membunuhmu!"


"Elle, tenanglah. Dia bukan penyihir. Aku sudah memastikannya."


"Tapi dia bisa saja membunuhmu kapan pun!" Eleanor meninggikan suaranya. Matanya menyorotkan kekhawatirannya. Air matanya berlinang. "Aku... Aku tidak mau kau mati seperti kata ramalan itu."


Xavier segera memeluknya untuk menenangkannya. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun membunuhku. Kau harus mempercayaiku."


Eleanor mengangguk dan berusaha menyingkirkan air matanya sebelum benar-benar mengalir.


Xavier membawa Eleanor untuk duduk bersama dan menuangkan teh untuknya setelah Eleanor menjadi lebih tenang. Untuk beberapa menit mereka hanya duduk bersama dan minum teh. Meski sebenarnya ada banyak pekerjaan yang menanti Xavier, tapi dia tahu Eleanor sedang membutuhkan seorang teman saat ini. Meski terlihat sangat samar, dia melihat ada lingkaran hitam di bawah matanya. Orang lain pasti tak akan memperhatikannya karena terlalu terpaku pada kemilau kecantikan Eleanor secara keseluruhan. Tapi Xavier bisa melihatnya. Dia tahu bahwa gadis itu sedang memiliki banyak hal yang dipikirkan sama sepertinya.


"Kau tidak tidur dengan baik belakangan ini." Kata Xavier, mengalihkan topik.


"Aku hanya sedang banyak pekerjaan. Ditambah lagi tugas mulia darimu untuk membuat ramuan itu. Tapi aku juga tahu kau juga sedang banyak pekerjaan dan kesulitan tidur belakangan ini, jadi aku tidak akan menyalahkanmu." Kata Eleanor sambil menyesap teh bunga mawarnya yang masih hangat.


“Oh, benar! Ramuan itu. Kau sudah mengirimkan ramuan itu ke Westeria?” Tanya Xavier.


“Berapa kali harus kukatakan? Aku membuatnya setiap minggu dan mengirimkannya langsung melalui pengawalku yang kuminta untuk tidak kembali sampai benar-benar memastikan bahwa Sang Ratu sudah meminumnya. Aku sangat sibuk dengan semua pekerjaan yang ayahku dan kau berikan padaku dan aku masih menyempatkan diri untuk membuat ramuan yang sangat sulit untuk dibuat itu untuk Ratu dari Negara lain. Kau bahkan tidak mau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi dengan Ratu Elizabeth hingga aku harus membuat ramuan itu.”


“Dia pasti baik-baik saja, bukan?”


“Tentu saja. Dia pasti sangat sehat. Jika meminum ramuan itu secara rutin setiap minggu, tidak akan ada racun apa pun yang berfungsi pada tubuhnya. Kenapa kau khawatir sekali?”


“Putri Eugene sudah lama tidak mengirimiku surat." Jawabnya, murung. "Sesuatu mungkin sedang terjadi di Westeria. Dan mungkin juga berkaitan dengan kondisi kesehatan Ratu Elizabeth, meski ini baru asumsiku saja. Kapan terakhir kali kau mengirimkan ramuan itu?”


“Enam hari yang lalu. Dan pengawalku bilang Ratu tampak sangat sehat. Besok aku akan mengirimnya lagi sambil memeriksa kondisi Ratu Elizabeth secara langsung." Eleanor memperhatikan Xavier sebelum melanjutkan, "Jangan terlalu khawatir seperti itu, Xavier. Orang yang melihatmu sekarang akan mengira tunanganmu adalah Putri Eugene bukan aku.”


Xavier tertawa mendengarnya. “Wah, kau benar-benar terdengar seperti seorang wanita yang cemburu, Elle. Peran seperti itu tidak pantas untukmu.”


“Senang bisa melihatmu tertawa lagi.” Kata Eleanor sambil tersenyum. "Kau tahu kan, kau bebas menyukai wanita lain, siapa pun itu, dan aku sudah berjanji untuk tidak mempermasalahkan hal itu." Ucap Eleanor. Tidak ada sedikit pun kecemburuan dalam nada suaranya saat mengatakan hal tersebut pada tunangannya.


"Tidak ada apa pun antara aku dan Putri Eugene. Aku hanya menjaga hubungan politik yang baik antara Nordhalbinsel dan Westeria. Kau tahu kan, dia akan menjadi Ratu Westeria suatu saat nanti."


"Aku tahu." Kata Eleanor. Eleanor terdiam agak lama sebelum melanjutkan, "Xavier, jangan terlalu setia padaku. Itu membuatku merasa sangat berdosa. Aku merasa seperti wanita jahat yang mengkhianati kesetiaanmu."


"Aku hanya tidak bisa membayangkan wanita lain yang lebih pantas menjadi Ratu Nordhalbinsel di masa depan selain dirimu. Kau pintar dan dapat diandalkan. Partner yang baik dan mungkin akan menjadi Ratu yang baik juga. Ini bukan jenis kesetiaan seperti yang kau bayangkan, Elle. Tenanglah. Perasaanku terhadapmu masih sama, aku masih tidak bisa mencintaimu. Tak perlu merasa bersalah hanya karena kau punya kekasih simpanan. Sudah kubilang aku mengizinkanmu."


Eleanor terdiam mendengar kata-kata itu. Dalam hati masih merasa bersalah karena telah berselingkuh dengan pria lain di saat dirinya masih berstatus sebagai tunangan Xavier.


Xavier pun berdiri, bersiap pergi. “Aku pergi dulu, kalau begitu. Ada banyak pekerjaan yang menunggu.” Kata Xavier sambil berjalan menuju pintu, kemudian berbalik untuk menatap tunangannya lagi sebelum benar-benar pergi. “Terima kasih banyak, Elle. Terima kasih atas segalanya.”


Eleanor tersenyum tipis padanya, “Kehormatan bagi saya dapat membantu Yang Mulia.”


***


"Menurutku itu bukan wabah penyakit." Kata Putra Mahkota setelah mendengar penjelasan dari Pangeran Jeffrey tentang tugas mereka di Montreux.


"Saya juga berpendapat demikian, Yang Mulia. Saya belum pernah mendengar penyakit seperti ini sebelumnya." Kata Pangeran Jeffrey.


"Yang Mulia, Jenderal Arianne baru saja memberi kabar bahwa sebagian pasukannya tiba-tiba menghilang saat sedang melakukan tugas malam. Beliau sangat khawatir jika hal yang sama akan terjadi pada pasukan kita. Jenderal Arianne meminta Putra Mahkota dan Pangeran Jeffrey untuk tidak ikut serta dalam perjalanan ini karena akan sangat berbahaya." Ujar salah satu Ketua grup pasukan.


"Tidak. Aku harus datang. Ini adalah perintah dari Raja. Tapi adikku tidak perlu meneruskan perjalanan karena sebenarnya hanya aku yang ditugaskan." Kata Xavier.


"Dengan segala hormat, Yang Mulia. Jika Yang Mulia akan tetap pergi, maka demikian juga saya. Karena saya sudah berjanji untuk ikut serta dalam tugas ini." Kata Pangeran Jeffrey.


"Baiklah. Jika kau bersikeras untuk tetap ikut, aku tidak punya pilihan lain. Kita hanya bisa berharap agar badai salju ini cepat selesai." Kata Xavier. "Anna, kau sudah menyiapkan apa yang kuminta?" Tanya Xavier.


"Semua sudah saya siapkan, Yang Mulia." jawab Anna.


Sebelum Xavier sampai di ruang kerja, Anna menemui Pangeran Jeffrey. Pangeran Jeffrey menjelaskan tentang situasi yang ada di Montreux dan menyampaikan pesan dari Xavier kepada Anna. Anna diminta untuk memerintahkan kepada seluruh pelayan agar membuatkan masker yang menutupi hidung dan mulut sebanyak mungkin. Anna mengambil sampel dari masker yang sudah selesai dibuat oleh para pelayan dan memberikannya kepada Putra Mahkota.


"Para pelayan masih membuat sisanya. Saya hanya mengambil beberapa yang sudah jadi." Kata Anna sambil menyerahkan masker itu kepada Xavier.


"Masker?" tanya salah satu ketua grup pasukan.


"Begitu rupanya. Saya tidak sampai memikirkan hal ini sebelumnya. Tapi sekarang saya mengerti, Yang Mulia. Dengan memakai masker ini, setidaknya kita dapat melindungi diri kita sendiri selama di Montreux" Kata Pangeran Jeffrey saat melihat masker tersebut.


"Aku senang kau sudah mengerti apa yang kumaksud tanpa perlu aku jelaskan, Pangeran Jeffrey. Benar kata para guru di Istana bahwa Pangeran adalah Putra Raja yang memiliki daya tangkap yang sangat baik." Puji Xavier pada adiknya.


"Pujian Anda berlebihan, Yang Mulia. Saya masih berada jauh di bawah Anda dalam hal kecerdasan."


"Mohon maafkan hamba yang sangat rendah ini, Yang Mulia. Hamba masih tidak mengerti kenapa kita membutuhkan masker." Ucap ketua grup pasukan lainnya.


"Akan kujelaskan nanti." Kata Xavier.


***


Setelah badai yang berlangsung selama seharian penuh, keesokan paginya, mereka memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Eleanor membantu menyingkirkan salju tebal dari jalanan yang akan dilalui pasukan dengan sihirnya sehingga mereka tidak mengalami kendala apa pun saat tiba waktunya untuk meninggalkan Villa keluarga Winterthur. Eleanor tampak berat hati saat menyampaikan salam perpisahannya kepada Xavier. Anna dapat melihat sorot mata Sang Putri Mahkota penuh kekhawatiran dan kegelisahan. Sorot mata yang juga pernah Anna lihat di mata Leon saat dirinya akan berangkat menuju Istana Nordhalbinsel di hari Tahap Kedua tes bertahan hidup dilaksanakan.


"Mereka pasangan yang serasi, bukan?" bisik salah satu prajurit.


"Sangat serasi. Aku belum pernah melihat pasangan mana pun yang tampak seperti takdir lebih dari pasangan Putra Mahkota dan Putri Mahkota." bisik prajurit lainnya.


Anna terus mendengarkan bisikan-bisikan di sekitar para prajurit tanpa turut berkomentar apa pun. Karena nyatanya, mendengarkan gosip di kalangan para prajurit sekarang menjadi salah satu hiburan baginya sekaligus sebagai salah satu cara untuk mengetahui berbagai hal yang terjadi di kalangan keluarga kerajaan Nordhalbinsel yang belum diketahuinya.


"Hubungan keduanya juga sangat baik. Mereka tidak seperti pasangan kerajaan yang menikah hanya karena urusan politik. Mereka pasti saling mencintai satu sama lain."


"Tapi kenapa mereka belum juga menikah?"


"Itu kan karena Permaisuri Selena."


"Sssttt. Kau tidak boleh berbicara sembarangan tentang Permaisuri."


"Kudengar setiap kali Putra Mahkota akan mengumumkan tanggal pernikahannya, Permaisuri Selena akan meminta Raja Vlad untuk mengutus Putra Mahkota mengurus pekerjaan yang mengharuskannya pergi jauh dari Istana selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan."


"Benar. Beberapa minggu yang lalu aku mendengar para pelayan Istana berbisik-bisik bahwa Putra Mahkota berencana untuk segera mengumumkan tanggal pernikahannya dengan Putri Mahkota. Dan lihat lah sekarang, Putra Mahkota benar-benar diutus untuk melakukan tugas yang sangat berbahaya di wilayah perbatasan."


"Pasti Permaisuri Selena tidak mau Putra Mahkota segera menikah terlebih lagi karena Putri Mahkota berasal dari keluarga Winterthur yang memiliki pengaruh besar. Permaisuri Selena selalu takut pada keberadaan anggota keluarga Winterthur."


"Hentikan. Kita akan segera berangkat."


***


Putra Mahkota Xavier mengatakan bahwa perjalanan menuju Montreux akan berlangsung lebih lambat dari yang diperkirakannya karena badai salju kemarin membuat jalanan mereka terhalang oleh salju-salju tebal serta pohon-pohon yang tumbang. Anna berusaha keras untuk tidak mengeluh karena sebenarnya yang dia inginkan adalah cepat-cepat kembali ke Istana Nordhalbinsel untuk mencari tempat Ibu dan adiknya ditawan. Tapi semakin lama dirinya semakin sibuk sehingga terkadang dia lupa apa tujuan sebenarnya menjadi pengawal pribadi Sang Putra Mahkota.


Perjalanan itu ternyata memakan waktu lima hari. Selama perjalanan, mereka beberapa kali berhenti di sebuah pondok kecil di sebuah desa atau mendirikan tenda di sebuah hutan atau menempati bangunan reruntuhan kastil yang sudah tua namun cukup bagus untuk bermalam. Terkadang mereka kehabisan bahan makanan sehingga harus pergi melewati kota kecil untuk membeli bahan makanan dan rumput untuk para kuda. Terkadang saat melewati daerah terpencil akan datang para bandit—tapi bukan bandit dari kelompok Black Mamba yang sangat berbahaya dan ditakuti—yang berusaha merampok perlengkapan dan persediaan makanan mereka. Tapi para prajurit Nordhalbinsel sangat terampil dalam berpedang sehingga tidak satu kali pun mereka kalah oleh para bandit itu. Di saat-saat seperti itu, tugas Anna hanya satu; melindungi Putra Mahkota dari berbagai macam serangan yang mungkin datang. Perjalanan itu berimbas positif pada kemampuan berpedang Anna yang kini menjadi jauh lebih baik karena lebih sering digunakan untuk melawan musuh dan bukan hanya sekedar berlatih pedang.


Sepanjang perjalanan itu Anna dapat melihat mengapa para Prajurit dan bahkan Pangeran Jeffrey sangat menghormati Putra Mahkota. Meski terkadang—atau sering kali—Sang Putra Mahkota marah apabila ada sesuatu yang tidak berjalan dengan baik—atau jika suasana hatinya sedang buruk, tapi di saat yang sama, Putra Mahkota juga merupakan pemimpin yang baik. Dia akan menunjukkan pada seluruh bawahannya bagaimana cara melakukan ini dan itu dengan benar. Dia juga tidak akan ragu untuk turut mengotori tangannya untuk pekerjaan lapangan yang biasanya tidak dilakukan oleh kaum bangsawan apalagi keluarga kerajaan. Beberapa kali saat jalanan mereka terhalang oleh batang pohon besar yang tumbang, Putra Mahkota akan turun dari kereta kuda dan bersama para prajurit mengangkat batang pohon tersebut untuk disingkirkan dari jalan. Terkadang dia juga ikut berburu rusa di hutan untuk makan malam mereka. Saat kereta tiba-tiba mogok di jalan, Putra Mahkota akan memperbaikinya dengan dibantu oleh para prajurit.


Anna menjadi kurang tidur saat harus terus berjaga malam. Tapi karena terus berjaga malam, dia tahu bahwa Putra Mahkota selalu kesulitan tidur. Dan saat prajurit yang sedang tidak berjaga mulai tidur, Anna sering melihat Putra Mahkota di tendanya sedang membaca buku atau menuliskan sesuatu di buku catatannya hingga fajar tiba. Anna mengingat perkataan Xavier di hari pertama perjalanan mereka saat mereka menyaksikan Cahaya Utara bahwa Xavier mengalami kesulitan tidur karena terganggu dengan perasaan bersalah yang kemudian Anna yakini karena kematian Raja Edward diakibatkan oleh Raja Vlad. Meski merasa benar-benar marah dan tidak dapat memaafkan siapa pun yang telah membunuh ayahnya, tapi Anna merasa Putra Mahkota tidak benar-benar melakukan kesalahan apa pun. Di mata Anna, satu-satunya kesalahannya adalah terlahir sebagai anak seorang pembunuh.


Pagi berikutnya di hari keenam, mereka sudah sampai di Kastil Montreux yang terletak di dekat perbatasan antara Montreux dengan Kerajaan Westeria. Atas perintah Putra Mahkota, semua orang diminta mengenakan masker yang menutupi hidung dan mulut yang sudah dipersiapkan oleh para pelayan keluarga Winterthur. Masker itu tidak terbuat dari kain biasa melainkan terbuat dari kain dengan bahan yang dapat menghalau partikel kecil seukuran debu halus.


Putra Mahkota sudah menjelaskan hasil penelitiannya setelah membaca semua surat dari Jenderal Arianne yang menceritakan situasi terkini di Montreux. Beliau menyimpulkan bahwa yang menyerang daerah Montreux bukan lah wabah penyakit melainkan efek dari debu halus yang datang dari kerajaan Westeria. Debu halus itu hanya ada saat malam hari karena terbawa oleh angin malam yang bertiup ke arah Montreux. Dan Putra Mahkota menduga debu halus itu mengandung semacam zat berbahaya yang merusak saraf manusia dan merubah sifat manusia menjadi agresif seperti hewan liar.


Xavier juga menjelaskan bahwa dirinya telah beberapa kali berbalas surat dengan Putri Eugene dari kerajaan Westeria selama beberapa bulan belakangan ini. Karena hubungan baik keduanya, Putri Eugene menceritakan bahwa Westeria sedang membuat sebuah obat yang kelak akan menjadi penguat stamina untuk para prajurit Westeria dan berniat menjual dengan harga yang lebih bersahabat kepada Nordhalbinsel. Tapi karena alasan tertentu yang tidak diceritakannya, sekitar dua minggu yang lalu proyek besar itu ditutup begitu saja dan surat-surat dari Putri Eugene berhenti datang padanya. Dari jangka waktunya, penutupan proyek tersebut hampir bersamaan dengan mulai munculnya surat pertama dari Jenderal Arianne terkait wabah di Montreux.


Xavier menduga jika debu halus tersebut merupakan hasil percobaan Westeria yang tadinya akan dijadikan bahan obat penguat stamina. Debu halus tersebut akan masuk melalui saluran pernafasan dan merusak saraf-saraf manusia. Itulah sebabnya Xavier meminta Anna untuk memperkerjakan para pelayan Winterthur agar membuat sebanyak mungkin masker yang bisa menyaring debu halus agar mereka tetap dapat bernafas tanpa harus menghirup debu halus.


Begitu tiba di Kastil Montreux pada siang hari, pasukan kerajaan disambut oleh puluhan prajurit Montreux dan Jenderal Arianne sendiri. Sang Jenderal memberikan salam hormat kepada Putra Mahkota Xavier dan Pangeran Jeffrey diikuti dengan seluruh prajurit.


"Salam hormat saya kepada Yang Mulia Putra Mahkota Xavier dan Yang Mulia Pangeran Jeffrey." ucap Jenderal Arianne.


***