
Saat Anna terbangun dua jam setelah Xavier tersadar, hal pertama yang dilihatnya adalah sepasang mata emerald sedang menatapnya. Anna terlonjak kaget dan segera membenarkan posisi duduknya.
"A-Anda sudah bangun, Yang Mulia? Sejak kapan? Kenapa Anda tidak membangunkan saya? Maafkan saya karena—“
"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin membangunkanmu. Itu bukan perbuatan yang sopan membangunkan seorang wanita yang sedang tertidur pulas. Aku sebenarnya sudah bangun sekitar dua jam yang lalu."
"Astaga! Saya sudah tertidur selama itu? Anda pasti merasa sangat haus." Anna sibuk mengambil gelas kosong, teko air dan botol obat di meja yang ada di dekatnya. "Dokter bilang efek dari racun itu akan membuat tenggorokan Anda terasa seperti terbakar jadi Dokter meminta saya untuk segera memberikan Anda obat ini begitu Anda terbangun." Anna segera menuangkan air dan memasukkan cairan obat ke dalam air itu lalu memberikannya kepada Xavier.
Xavier segera meminumnya hingga habis. Kini dia merasa jauh lebih baik, seolah dia tidak pernah tertusuk panah beracun semalam. Xavier baru akan bangkit berdiri saat Anna mencegahnya.
"Anda harus beristirahat penuh hari ini. Jangan bergerak sedikit pun. Jika ada sesuatu yang Anda butuhkan, katakan saja pada saya, Yang Mulia."
"Tapi aku baik-baik saja. Aku bahkan bisa langsung berkuda tanpa istirahat menuju Istana sekarang juga. Aku sangat sehat."
"Itu tidak mungkin, Yang Mulia. Anda terkena panah beracun yang efeknya dapat mematikan. Anda sangat beruntung bahwa Anda memiliki kekebalan terhadap racun sehingga racun itu tidak membuat Anda mati semalam."
"Tapi bahkan bekas luka yang ditinggalkan anak panah itu sudah mengering sekarang. Kalau tidak percaya, lihat saja." Kata Xavier sambil mulai membuka kancing pakaiannya untuk memperlihatkan bekas luka itu pada Anna.
"Yang Mulia, Anda mungkin tidak merasakannya tapi luka Anda sangat parah, jangan terlalu banyak bergerak nanti bekas jahitannya rusak dan luka Anda akan semakin parah."
Tapi Xavier tidak mendengarkan Anna. Dia tetap melepas pakaiannya dan mendapati tubuhnya ditutupi perban. Xavier berusaha membuka perban itu sendiri, tapi kesulitan meraih lilitan perban di balik punggungnya. Anna menghela napas. Xavier tidak akan mendengarkannya bagaimana pun dia melarangnya. Mau tak mau Anna membantu Xavier membuka lilitan perban itu. Anna yakin luka itu masih belum kering karena dia sendiri melihatnya semalam luka bekas tusukan anak panah itu cukup dalam. Tidak mungkin Xavier sembuh hanya dalam waktu satu malam. Tapi Anna tetap membantu melepas perban Xavier karena Anna memang harus melepas perban itu dan menggantinya dengan yang baru. Dokter sudah mengajarinya semalam untuk selalu rajin mengganti perbannya hingga lukanya mengering.
Anna masih belum terbiasa melihat tubuh seorang pria tanpa pakaian. Di Schiereiland, dayang dan pelayan yang membantu anggota keluarga kerajaan berganti pakaian, tidak boleh lawan jenis. Tapi hal itu berbeda dengan Nordhalbinsel. Di Nordhalbinsel, semua anggota keluarga kerajaan, baik laki-laki atau perempuan, yang akan berganti pakaian dibantu oleh dayang dan pelayan wanita. Jadi mungkin Xavier merasa biasa saja, tapi jantung Anna berdebar kencang secara otomatis dan pipinya memerah. Untungnya saat ini dia berada di belakang Xavier sehingga Xavier tidak dapat melihatnya merona malu. Anna mulai melepas perban itu perlahan, takut jika dia tidak melakukannya dengan benar Xavier akan merasa sakit.
Di sisi lain, sebenarnya Xavier merasakan hal yang sama. Dirinya sendiri tidak yakin apakah itu memang karena Anna atau karena jantung Naga Api yang berdebar hebat atau memang karena pergabungan keduanya.
Punggung Xavier penuh dengan bekas luka. Anna selalu teringat pada Naga yang ditemuinya saat itu setiap kali melihat bekas luka Xavier. Tapi dari keseluruhan bekas luka itu, semuanya adalah bekas luka yang telah mengering, seolah sudah bertahun-tahun lamanya. Tidak ada bekas luka baru. Tidak ada bekas anak panah yang menusuk Xavier semalam. Semua bekas luka itu terlihat sama lamanya sekarang.
"Mustahil... Bagaimana mungkin—“
"Xavier! Syukurlah kau belum mati...” Seseorang langsung menerobos pintu kamar saat itu sehingga membuat Anna dan Xavier terlalu terkejut untuk menyadari situasi saat itu yang bisa membuat siapa pun salah paham. Itu adalah Elias. "Apakah aku akan dianggap tidak sopan jika bertanya apa yang sedang kalian lakukan sekarang? Kenapa kau tidak mengenakan pakaian?" Tanya Elias dengan nada penuh curiga.
"Aku sudah mengatakannya bukan? Bekas lukanya sudah mengering." Kata Xavier pada Anna sambil segera mengambil pakaiannya dan memakainya sendiri. "Apa kau sebegitu senangnya mengetahui aku belum mati sampai-sampai kau lupa mengetuk pintu, Jenderal Elias? Di mana sopan santunmu?"
"Kau tidak tahu ya? Eleanor sangat khawatir sampai-sampai dia tidak tidur semalaman dan memohon padaku sambil menangis untuk segera datang ke sini. Tentu saja aku sangat senang saat tahu kau baik-baik saja. Kudengar itu racun Siarine dari daerah Orient, racun paling mematikan. Tidak ada manusia yang kebal terhadap racun Siarine. Makanya aku pikir kau bisa saja mati karena racun itu."
"Tunggu... Elle sudah tahu? Bagaimana bisa—“ Lalu Xavier menoleh ke arah Anna di belakangnya yang hanya berdiri diam. "Apa kau memberitahu orang-orang di Istana?"
"Tidak, Yang Mulia. Saya hanya mengirimkan surat kepada Lady Eleanor semalam karena beliau mungkin bisa mengirimkan obat atau pun dokter yang dapat dipercaya. Ternyata elang pos Anda dapat mengirimkan surat itu dengan sangat cepat sehingga saya langsung mendapatkan balasannya bahwa dokter kepercayaan keluarga kerajaan tinggal di kota dekat Kastil ini."
"Syukurlah kalau begitu. Kedepannya pun, jika sesuatu terjadi padaku, jangan beritahu pada orang-orang di Istana. Cukup informasikan pada Jenderal Elias atau Lady Eleanor. Burung elang itu tahu alamat keduanya."
"Baik, Yang Mulia. Saya akan mengingatnya." Kata Anna. Dia bersyukur dia tidak mengirimkan surat kepada pihak Istana semalam. Entah kenapa Anna sendiri merasa Xavier tidak mempercayai keluarganya di Istana. Biar bagaimana pun, Anna tahu bahwa orang yang telah membuat luka sebanyak itu pada tubuh Xavier sejak dirinya masih kecil adalah Permaisuri Selena, dan saat itu tidak ada satu pun orang di Istana yang menolongnya. Jadi wajar saja jika Xavier tidak mempercayai mereka.
"Apa kau sudah benar-benar sehat?" Tanya Elias menunjukkan wajah khawatir yang persis seperti Eleanor.
"Tentu saja." Jawab Xavier. "Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Terlalu berbahaya. Sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan ke Istana. Sudah terlalu banyak waktu yang terbuang. Ah, aku hampir saja lupa. Bagaimana dengan para pemanah itu? Apa kalian berhasil menangkap mereka?" Tanya Xavier pada Anna.
"Tidak, Yang Mulia. Mereka langsung bunuh diri saat para prajurit hampir menangkap mereka."
"Bunuh diri? Kalau begitu, mungkinkah Selena yang—“ Elias baru akan mengeluarkan asumsinya terkait dalang dibalik perencanaan pembunuhan itu, tapi Xavier mengisyaratkannya untuk tetap diam.
"Anna, di mana mayat mereka sekarang?"
***
Tidak ada mayat. Anna memang tidak melihatnya secara langsung semalam saat para pemanah itu bunuh diri sebelum ditangkap oleh para prajurit karena saat itu Anna sedang bersama Xavier. Tapi semua prajurit yang ada di lokasi kejadian saat itu mengatakan bahwa para pemanah itu hilang begitu saja setelah menancapkan anak panah mereka sendiri pada jantung mereka. Mereka semua hilang bagaikan debu. Jika Anna mendengar tentang hal seperti ini paling tidak setahun yang lalu, mungkin dia tidak akan percaya dan akan menganggap semua prajurit telah berbohong dan merencanakan pengkhianatan terhadap kerajaan dengan menyembunyikan pembunuh. Tapi sekarang Anna mempercayai perkataan mereka. Bukan hanya karena mereka adalah para prajurit yang setia pada Putra Mahkota, tapi juga karena di Nordhalbinsel, hal seperti itu adalah hal yang biasa. Sihir, Naga, dan hal-hal lainnya yang awalnya hanya Anna baca di buku dongeng, kini dia hadapi semuanya secara langsung di Nordhalbinsel.
"Mereka adalah pembunuh bayangan. Mereka bukan manusia. Mereka memang tampak seperti manusia, tapi mereka terbuat dari sihir dan akan menuruti semua perkataan pembuatnya." Kata Xavier saat mendengar penjelasan dari para prajurit.
"Kalau mereka adalah pembunuh bayangan, berarti seseorang telah membuat mereka bukan?" Tanya Elias.
"Benar. Seseorang telah menggunakan salah satu sihir hitam yang dilarang di Nordhalbinsel. Dan siapa pun orang itu, jika kita dapat menemukannya, dia tidak akan terhindar dari hukuman mati untuknya sendiri dan seluruh keluarganya serta keturunannya. Karena orang itu bukan hanya menggunakan sihir hitam terlarang, tapi juga menggunakannya untuk membunuhku. Dan dia juga sudah melakukan impor terhadap barang Orient secara ilegal. Juga karena penggunaan racun Siarine yang dilarang Nordhalbinsel." Jelas Xavier.
"Ini pasti karena Putra Mahkota mengumumkan akan segera menikahi Lady Eleanor seminggu setelah kita sampai di Istana."
"Mungkin Permaisuri sudah kehabisan cara untuk mengusir Putra Mahkota dari Istana."
"Tapi Permaisuri tidak pernah berani menyentuh Lady Eleanor karena Yang Mulia Putri Mahkota memiliki darah Grimoire. Jika para tetua Grimoire yang hidup jauh di Istana Utara di Gunung Es tahu bahwa Permaisuri mengusik kehidupan salah satu keturunan mereka, Permaisuri Selena pasti sudah langsung dimusnahkan."
Anna memang sempat menduga hal yang sama bahwa Permaisuri Selena adalah dalang dibalik semua ini. Tapi Anna mengingat bahwa anak panah itu seharusnya mengenai dirinya. Kalau memang benar Permaisuri Selena yang mengirimkan Pembunuh Bayangan itu, apa alasan Sang Permaisuri membunuh Anna? Anna bahkan belum pernah bertemu dengan Permaisuri Selena dan Anna yakin Sang Permaisuri belum pernah melihatnya. Mereka tidak saling mengenal tapi kenapa Permaisuri Selena ingin membunuhnya juga? Berbagai pertanyaan menumpuk di pikiran Anna.
"Jangan katakan apa pun tentang kejadian hari ini. Jika aku mengetahui informasi mengenai hal ini diketahui oleh orang lain selain mereka yang ada di sini, aku akan mencari penyebar informasi itu dan memberinya hukuman yang pantas karena sudah membocorkan rahasia terkait kondisiku." Kata Xavier.
"Baik, Yang Mulia." ucap semua orang, serempak.
***
Sore harinya, karena Xavier mengatakan dirinya sudah benar-benar pulih dan berhasil membuktikannya dengan memenangkan duel pedang melawan semua pemimpin grup prajurit serta Jenderal Elias sekaligus, rombongan itu melanjutkan perjalanan menuju Istana. Sementara Anna lagi-lagi tidak tahu ke mana perginya Jenderal Elias setelah itu. Anna kini mulai terbiasa dengan kedatangan dan kepergian mendadak dari saudara kembar Putri Mahkota itu. Dan tidak ada satu pun yang mempertanyakan kepergian mendadak Sang Jenderal Muda.
Dua hari kemudian, setelah melakukan perjalanan tanpa istirahat, mereka sampai di Noord.
Semua orang di Noord keluar dari rumah mereka untuk memberi sambutan meriah pada seluruh pasukan dan Sang Putra Mahkota yang telah berhasil membereskan masalah wabah di Montreux. Para pemuda, anak kecil, orang dewasa hingga lansia membuat barisan memanjang dari gerbang Noord hingga Istana Nordhalbinsel untuk melihat para pahlawan itu. Seluruh jalanan di kota telah ditertibkan sehingga tidak ada kerusuhan. Sepanjang jalan dihiasi bunga-bunga beraneka warna yang tak akan bisa tumbuh di iklim Nordhalbinsel. Terdengar sorak-sorai ramai dari seluruh warga yang datang. Beberapa orang tua dan keluarga dari para prajurit tampak berlinang air mata karena terharu menyambut kedatangan ayah, suami, putra dan saudara mereka.
Xavier, yang sejak meninggalkan daerah Trivone memutuskan untuk menunggangi Iris, kuda putihnya, alih-alih menaiki kereta kuda, memimpin barisan paling depan dan tersenyum kepada seluruh warga. Semua orang tak henti-hentinya memberikan sambutan dan pujian untuk Putra Mahkota mereka. Anna menunggangi kudanya sendiri tepat di belakang Xavier. Matanya sibuk mencari wajah yang dikenalnya. Meski Anna tidak benar-benar berharap dapat melihatnya, karena dia tahu akan sangat berbahaya jika Leon terlihat di tempat yang dipenuhi prajurit Nordhalbinsel. Tapi Anna merasa sedih saat tak dapat melihat wajah Leon di antara seluruh warga yang datang menyambut mereka.
Mereka terus berkuda dengan lebih perlahan menuju Istana. Meski mereka sangat lelah setelah dua hari berturut-turut berkuda tanpa istirahat, tapi saat melihat sambutan besar itu, rasa lelah mereka seolah terlupakan. Mereka turut tenggelam dalam kebahagiaan yang dipancarkan para warga.
Sesampainya di depan gerbang Istana yang terbuka luas, Sang Raja beserta seluruh ajudan dan para petinggi negara serta seluruh Selir dan Pangeran sudah menunggu mereka di depan pintu Istana untuk menyambut Xavier dan seluruh pasukan. Xavier segera turun dari kudanya, diikuti oleh semua orang, lalu berlutut di hadapan Raja Vlad.
Anna akhirnya dapat melihat Sang Raja dari dekat. Pria itu berusia sekitar 50 tahun lebih. Rambutnya yang hitam gelap yang Anna lihat di lukisan waktu itu kini tampak mulai memutih di beberapa bagian. Kulitnya yang dahulu tampak sempurna bagai pahatan mulia para dewa kini tampak berkerut dan kehilangan sinarnya. Anna dapat melihat gambaran Xavier saat menua nanti ketika melihat Raja Vlad. Meski menua, Anna masih dapat melihat kemiripan antara Sang Raja dengan Xavier. Raja Vlad tampak seperti halnya seorang Raja di usianya, berusaha menyembunyikan kelelahannya dengan wibawa. Pria itu adalah orang yang telah membunuh ayahnya dan mencuri kehidupan damai nan bahagianya sebagai seorang Putri Kerajaan. Tapi entah mengapa, saat melihatnya, Anna tidak dapat melihat kekejian itu darinya. Anna justru merasa kasihan. Padahal selama ini Anna terus menyimpan dendam dan marah terhadap Sang Raja. Tapi ketika dirinya berhadapan langsung dengan pria itu, dia tidak merasakan amarah apa pun dalam dirinya. Anna dapat melihat dari sorot mata Sang Raja saat melihat putranya datang, sorot mata seorang Ayah yang sangat merindukan putranya yang hampir mati dalam perjalanan pulang meski Anna tak yakin Sang Raja mengetahui hal itu. Tapi Anna jelas melihat air mata yang tertahan di mata hitam gelap itu saat pria itu melihat putranya datang menghampirinya.
Anna turut berlutut di hadapan Raja Vlad, mengikuti Xavier.
"Salam hormat saya kepada Baginda Raja, Sang Matahari Utara dan Keturunan dari Raja Nordlijk Putra serta Pewaris dari Ratu Agung Zhera, Utusan Sang Naga." Ucap Xavier, yang diikuti oleh seluruh barisan prajurit di belakangnya.
"Berdirilah Putraku. Berdirilah kalian semua, para pahlawan Nordhalbinsel." Ucap Raja Vlad. Suaranya dalam dan berat.
Semua orang berdiri menuruti perintah Raja.
"Astaga, aku pikir ada apa sehingga seluruh Istana ramai sekali pagi ini."
Seorang wanita datang menuruni tangga menuju lapangan tempat sambutan itu. Wanita itu tidak tampak jauh lebih tua dari Anna. Kulitnya tampak kencang dan halus sehingga tidak akan ada orang yang dapat menebak usianya. Dia memiliki kecantikan yang dapat membuat pria paling berkuasa di sebuah negeri bertekuk lutut padanya. Sang Permaisuri mengenakan gaun berwarna merah yang tampak sangat anggun, senada dengan warna bibirnya. Rambut pirangnya hampir menyerupai warna salju, tapi tampak bercahaya terkena pantulan cahaya matahari pagi. Sepasang mata berwarna ungu miliknya menatap semua orang dengan angkuh. Dia menunjukkan wajah manis dan tersenyum hangat saat menatap Raja Vlad dan Xavier.
"Rupanya putra kebanggaan kami sudah pulang dengan selamat. Aku sangat menantikan hari ini sehingga aku tidak bisa keluar dari ruanganku selama berhari-hari untuk berdoa demi keselamatanmu, Putra Mahkota." Ucapnya dengan nada suara semanis madu sehingga semua orang tahu itu hanya dibuat-buat.
"Permaisuri Selena, apa yang kau lakukan di sini?" Sang Raja meninggikan suaranya, tampak tak dapat menahan amarahnya.
"Tentu saja aku juga ingin menyambut Putra Mahkota, Baginda. Putra Anda adalah putraku juga. Rasa sayangku kepada Putra Mahkota sama besarnya seperti rasa sayangku kepada Pangeran Ludwig, Wilhelm dan Heinrich, dan juga sembilan belas putra Raja lainnya." Kata Selena sambil menunjukkan senyumannya kembali kepada Xavier saat mengatakan itu.
Anna dapat melihat dari sudut matanya, Xavier sedang menahan amarahnya. Tangannya terkepal, menahan dirinya sendiri untuk tidak segera menghunuskan pedangnya pada Sang Permaisuri.
"Terima kasih banyak atas seluruh perhatian dan kasih sayang Anda yang berharga, Permaisuri Selena." Ucap Xavier setenang mungkin.
"Putra Mahkota benar-benar mewarisi sifat lembut dan penuh sopan santun seperti mendiang Ratu. Bagaimana kabarmu, Putra Mahkota? Apa kau terluka? Kau tampak kelelahan. Jangan ragu untuk meminta bantuan para penyihir di Menara jika ada obat-obatan yang kau perlukan."
"Saya sangat sehat berkat doa-doa Anda, Permaisuri Selena. Saya baik-baik saja. Tidak terluka sedikit pun."
Anna bertanya-tanya bagaimana Xavier masih bisa berbicara setenang itu pada Permaisuri Selena saat mengetahui bahwa wanita itu telah berkali-kali melukainya bahkan berencana membunuhnya. Hingga akhirnya mata Selena bertemu dengan matanya. Untuk sesaat Anna yakin melihat Selena tampak terkejut saat melihatnya. Tapi kemudian Selena buru-buru mengatur ekspresinya dan kembali tersenyum.
"Aku akan meminta para koki untuk menyiapkan hidangan yang sangat mewah untuk makan siang nanti. Saya mohon undur diri, Baginda Raja dan Putra Mahkota." Selena menunduk dengan anggun dan melangkah masuk kembali ke dalam Istana.
***