
Dengan sangat cepat, Xavier dalam wujud Naga Api Agung berhasil membawa Lucielle turun dari puncak gunung Reux. Mereka segera sampai di hutan di bawah kaki gunung. Xavier sengaja mendarat di hutan karena dia tidak ingin ada orang yang melihat Naga terbang di langit Nordhalbinsel. Dia tidak ingin membuat kehebohan seperti itu. Dia sudah melatih ini berkali-kali selama bertahun-tahun. Bagaimana cara agar dapat mengendalikan dirinya sendiri agar tidak berubah menjadi Naga di saat yang tidak tepat atau di tempat umum. Awalnya Xavier sendiri merasa kesulitan karena setiap kali emosinya meluap, api dalam dirinya akan muncul begitu saja tanpa bisa dikendalikan dan dia akan berubah menjadi Naga. Itulah sebabnya dia lebih sering menghabiskan waktu sendiri di hutan atau tempat terpencil lainnya dibandingkan di Istana. Agar jika dia suatu saat berubah menjadi Naga, tidak ada yang melihatnya. Tapi lama kelamaan dia berhasil menyesuaikan diri dan lebih bisa mengontrol emosinya. Biasanya jika ada Elias atau Eleanor di sekitarnya, mereka akan memperingatkannya jika melihat matanya mulai berubah menjadi merah sebagai pertanda awal perubahannya. Tapi jika dia sedang sendiri, dia akan berlari secepat mungkin menuju hutan atau tempat lainnya yang sepi dan tidak ada orang.
Setelah Xavier dan Lucielle sampai di hutan di bawah kaki gunung Reux, mereka harus sedikit berjalan keluar dari hutan untuk menuju desa kecil dekat pusat kota Montreux. Xavier tidak lupa memakai maskernya dan memakaikan masker kepada Lucielle karena saat itu pun kabut debu masih memenuhi Montreux. Selama perjalanan itu, sesuai janjinya, Xavier menceritakan kepada Lucielle tentang bagaimana seorang Putri dari Schiereiland menjadi pengawal pribadinya. Lucielle mendengarkannya dengan baik tanpa menginterupsi sekalipun.
"Mungkin sampai sekarang dia belum tahu bahwa aku sudah tahu tentang dirinya." Kata Xavier setelah menceritakan semuanya. "Tapi mungkin dia juga sudah mulai menduganya."
"Aku tidak mengerti, Yang Mulia. Jadi apakah Putri Anastasia sudah tahu bahwa Yang Mulia mengetahui siapa dirinya sebenarnya?"
"Entahlah, aku hanya merasa dia mulai mengetahui itu. Bahwa aku sudah tahu tentang rahasianya. Aku memang mencoba memberi sedikit petunjuk padanya tapi aku belum benar-benar siap memberitahukan segalanya padanya."
"Kau takut dia tidak dapat memaafkanmu karena ayahmu telah membunuh ayahnya. Dan dia mungkin merasa telah dijebak selama ini." Kata Lucielle, berusaha memahami apa yang dirasakan oleh Xavier.
"Tapi itu memang benar. Ayahku memang telah membunuh ayahnya. Dan aku memang telah menjebaknya demi tujuanku sendiri. Aku tahu pasti kau mengira aku sudah melakukan hal yang sangat buruk."
"Tidak, Yang Mulia. Aku tidak pernah berpikir seperti itu." Kata Lucielle. "Tapi alangkah baiknya jika kau mengatakan yang sebenarnya pada Sang Putri."
"Aku memang akan mengatakan yang sebenarnya. Dari mulai alasan kenapa ayahnya terbunuh malam itu, kenapa aku menjadikannya pengawal pribadiku, aku akan menjelaskan semuanya. Tapi tidak sekarang. Dan aku harap pembicaraan kita saat ini tetap menjadi rahasia diantara kita, Saintess."
"Baiklah, Yang Mulia. Saya mengerti."
Semakin lama mereka berjalan, semakin tebal kabut debu. Hingga jarak pandang mereka hanya satu meter. Xavier meminta Lucielle untuk tidak berjalan terlalu jauh darinya.
Saat itu sudah hampir pagi, tapi matahari masih belum muncul dan langit masih sangat gelap. Xavier dapat merasakan kehadiran beberapa orang tak jauh dari mereka meski dia sendiri tidak yakin apakah itu manusia atau orang-orang yang terkena efek debu Westeria. Samar-samar, dia juga mendengar suara langkah kaki kuda dari kejauhan. Dia meminta izin kepada Sang Saintess sebelum menggenggam tangannya agar mereka tidak terpisah satu sama lain. Lucielle yang tidak tahu kondisi Montreux pun menggenggam tangan Xavier.
Tiba-tiba datang suara yang terdengar mirip seperti suara monster dari arah belakang mereka. Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Tangan kanan Xavier sudah bersiap memegang pedangnya, tapi orang lain yang baru saja datang dengan menaiki kuda berhasil melumpuhkan makhluk itu terlebih dahulu. Xavier melihatnya terjatuh tepat di hadapannya. Itu adalah salah satu penduduk Montreux yang terkena efek debu. Dia masih terlihat seperti manusia, tapi kulitnya pucat hampir membiru.
Lucielle di belakang Xavier, segera maju ke depan dan mengecek kondisi orang itu. “Dia masih hidup, tapi napasnya tidak teratur. Denyut nadinya juga tidak teratur.”
"Yang Mulia! Syukurlah Anda kembali dengan selamat." Seseorang yang menaiki kuda yang baru saja menyelamatkan Xavier dan Lucielle dari serangan makhluk itu adalah Anna. Anna segera turun dari kudanya dan menghampiri Xavier. “Jangan khawatir, saya mengingat perintah Anda untuk tidak membunuh mereka. Jadi saya menyarungkan pedang saya saat melawannya tadi.”
“Terima kasih banyak, Anna.” Xavier bergeser sedikit agar Anna dan Lucielle dapat saling melihat satu sama lain “Lucielle, perkenalkan, dia Anna pengawal pribadiku. Anna, Lady ini adalah Ahli Herba Montreux yang dulu bekerja untuk Raja, Lady Lucielle.”
Anna melihat Lady di hadapannya yang tampak seumuran dengannya. Kulitnya putih bersinar seperti ada cahaya matahari di bawah permukaan kulitnya, tidak seperti kulit putih salju orang-orang Nordhalbinsel. Rambutnya yang tergerai panjang berwarna emas dan terlihat berkilau di bawah cahaya bulan. Lucielle mengenakan masker, jadi senyuman ramah di bibirnya tidak terlihat, tapi Anna dapat melihat senyuman itu dari matanya yang berwarna kuning terang. Lady itu, Lucielle, menunduk singkat untuk memberi salam. Entah kenapa, air mata Anna mengalir begitu saja saat melihat Lucielle. Dia merasa seolah telah bertemu dengan seseorang yang sangat dia rindukan padahal Anna baru pertama kali bertemu dengan Lucielle.
“Anna? Kau tidak apa-apa?” Tanya Xavier langsung saat melihat Anna menangis tanpa sebab. Sebagian dari dirinya merasakan rasa sakit seperti ditusuk ribuan anak panah ketika melihat air mata itu mengalir di pipi Anna. Tapi Xavier berhasil menyembunyikan rasa sakit itu dengan menahan napas dan menggigit lidahnya sendiri agar tidak berteriak kesakitan. Xavier belum pernah merasakan hal itu karena itu pertama kalinya dia melihat air mata Anna mengalir tepat di hadapannya. Dia mengingat-ingat untuk tidak membiarkan hal itu terjadi lagi kedepannya.
Anna yang tersadar buru-buru menghapus air matanya. “Astaga, kenapa saya seperti ini? Maafkan ketidaksopanan saya, Lady Lucielle. Senang bertemu dengan Anda.” Kata Anna sambil menunduk memberi salam. Dia beralih kembali pada Xavier. “Yang Mulia, kabut debunya semakin parah. Sekarang sebagian penduduk desa yang tidak mematuhi perintah Anda untuk tidak keluar telah berubah menjadi makhluk yang sejenis tapi lebih ganas dan berbahaya dari sebelumnya. Dalam perjalanan ke sini, saya sudah menghadapi sekitar sepuluh orang. Saya tidak tahu ada berapa banyak lagi yang harus kita hadapi. Kita harus segera kembali menuju Kastil.” Kata Anna.
"Baiklah. Tapi aku harus segera mengambil kudaku terlebih dahulu."
"Saya membawanya, Yang Mulia. Kuda Anda sangat penurut, jadi dia tidak ragu untuk mengikuti saya dalam perjalanan ke sini."
Xavier melihat kuda lain di belakang kuda cokelat yang Anna tunggangi tadi. Kuda putih betina yang merupakan hadiah ulang tahun dari ayahnya ketika usianya masih sepuluh tahun yang dia beri nama Iris. Ayahnya mengatakan Iris adalah putri terakhir dari Kuda betina yang merupakan kuda perang milik ibunya, Ratu Irene, saat beliau masih menjadi seorang Jenderal di Schiereiland dulu. Xavier telah mengenal Iris cukup lama sehingga dia tahu bahwa Iris bukan lah kuda penurut. Iris hanya menjadi kuda penurut untuk Xavier, dan menjadi kuda yang cukup menyulitkan untuk orang lain apa lagi untuk orang yang baru dikenalnya.
"Iris mengikutimu? Bukan kau menarik tali kekangnya tapi dia sendiri mengikutimu di belakang?" Xavier memastikan.
"Benar, Yang Mulia. Jadi namanya adalah Iris? Nama yang sangat indah untuk kuda yang cantik, kuat dan anggun." Kata Anna sambil mengelus leher Iris. Kuda itu meringkik kecil, tampak sangat senang saat Anna melakukannya.
"Sulit dipercaya."
"Maaf? Anda mengatakan sesuatu Yang Mulia?"
***
Sesampainya di Kastil Montreux, Xavier segera menghampiri Jenderal Arianne yang masih terbaring di kamarnya. Dalam perjalanan tadi Anna menceritakan kepada Xavier bagaimana dia menemukan Sang Jenderal yang terluka kemudian memberikannya pertolongan pertama seadanya dengan tanaman yang dia temukan di hutan Fiore. Kemudian dia menyerahkan Jenderal Arianne kepada Elias untuk dibawa segera menuju Kastil sementara dirinya menyusul Xavier menuju Gunung Reux. Anna tidak menceritakan keseluruhan kejadian sebenarnya bahwa yang mengobati Sang Jenderal adalah Louis.
Lucielle segera memeriksa kondisi Jenderal Arianne yang penuh dengan luka namun tidak serius. Lucielle menenangkan Xavier dengan mengatakan bahwa kondisinya tidak parah berkat pertolongan pertama itu. Xavier merasa sangat berterima kasih pada Anna.
Lucielle kemudian membuat ramuan untuk Jenderal Arianne dengan tanaman obat yang dibawanya. Sementara itu, Xavier menarik seluruh pasukan yang berjaga di depan Kastil agar segera berkumpul di dalam Kastil.
Saat itu matahari sudah hampir terbit dan perlahan kabut debu mulai menipis sebelum akhirnya benar-benar menghilang karena angin malam sudah mulai berhenti berhembus dari Fiore menuju Montreux. Beberapa orang yang sudah terkena efek Alderiostonin, yaitu mereka yang terkena 'wabah', perlahan satu persatu mulai menjauh dari Kastil Montreux menuju kedalaman hutan Fiore. Xavier mengamati bahwa mereka tidak menyukai cahaya matahari dan bersembunyi di tempat-tempat gelap seperti hutan.
Hingga akhirnya matahari sudah benar-benar terbit, menyinari Montreux dengan sinar harapan hari yang baru. Para prajurit yang lelah karena tidak beristirahat semalaman diizinkan untuk bergantian tidur. Sementara itu, Xavier beserta Pangeran Jeffrey, Anna dan Lucielle berkumpul di ruang kerja. Mereka mencatat satu persatu perilaku orang-orang yang terkena efek Alderiostonin.
Di kertasnya, Xavier menuliskan ciri-ciri mereka seperti perubahan warna kulit, perubahan perilaku dan menuliskan di paling akhir 'tidak menyukai cahaya matahari'. Xavier kemudian menyebut mereka sebagai 'pasien'.
Xavier sebelumnya sudah meminta para prajurit untuk membawa masuk 'pasien' yang pingsan atau tidak sadarkan diri di luar Kastil. Mereka sepenuhnya pingsan sehingga tidak akan menyerang begitu saja. Lalu Lucielle mengamati para 'pasien' itu.
"Aku bisa membuatkan ramuan yang bisa menghilangkan efek Alderiostonin dari tubuh mereka. Tapi aku masih membutuhkan Bloody Berry, Yang Mulia." Kata Lucielle.
"Aku akan segera mengutus beberapa prajurit untuk mulai mencarinya di wilayah Fiore di Westeria. Wilayah itu paling dekat dari sini sehingga iklimnya masih sama dengan Nordhalbinsel meski tidak sedingin Nordhalbinsel. Jika tidak menemukannya di sana, maka aku akan meminta Jenderal Orthion untuk mengutus pasukannya mencari Bloody Berry di Schiereiland." Kata Xavier.
Anna yang mendengar nama buah itu disebut segera teringat pada beberapa Bloody Berry yang dibawanya. "Yang Mulia, maaf menginterupsi, saat saya mencari Jenderal Arianne, saya menemukan ini." Kata Anna sambil memperlihatkan buah itu dari sakunya.
Lucielle yang pertama tampak sangat terkejut melihat buah merah itu. "Ini dia. Ini yang kita butuhkan, Yang Mulia."
"Bagus sekali Anna. Dimana kau menemukannya?"
***
Berkat Bloody Berry yang ditemukan Anna, Lucielle dapat segera membuat ramuan untuk menyembuhkan para pasien. Ramuan itu diberikan kepada para pasien yang sedang tidak sadarkan diri. Sambil menunggu mereka membaik, Anna membantu Lucielle untuk mengobati para prajurit yang terluka dan merawat luka Jenderal Arianne. Anna juga turut merawat Honey yang masih tidak sadarkan diri akibat luka tusuk yang membuatnya kehilangan banyak darah. Anna memang belum lama mengenal Honey, tapi entah bagaimana dia merasa sangat sedih melihat teman pertamanya di Nordhalbinsel terbaring tak berdaya seperti itu. Tanpa dia sadari, Anna meneteskan air mata. Lucielle yang melihat hal itu segera menghampirinya.
"Jangan bersedih, dia akan baik-baik saja. Memang saat ini kondisinya sangat kritis karena dia kehilangan banyak sekali darah dan perlengkapan pengobatan di Kastil ini tidak lengkap. Tapi aku bisa menyembuhkannya. Kita hanya bisa menunggu." Kata Lucielle.
"Maaf membuat Anda khawatir. Dia adalah teman dekat saya. Dia orang yang sangat baik dan ceria jadi saya merasa sedih melihatnya seperti ini." Kata Anna sambil menghapus air mata di pipinya.
"Beristirahatlah. Kau pasti sangat lelah. Ini, ambil lah beberapa Bloody Berry dan makan itu jika kau kesulitan tidur. Terkadang jika hati dan tubuhmu sangat lelah kau akan kesulitan tidur." Kata Lucielle sambil menyerahkan beberapa Bloody Berry untuk Anna.
"Terima kasih." Anna menerimanya dan pergi dari ruangan yang dijadikan tempat pengobatan itu menuju kamarnya.
Beberapa waktu yang lalu saat Anna mengetahui efek yang ditimbulkan oleh Bloody Berry, Anna meminta Louis dan Leon untuk mengambil sebanyak mungkin Bloody Berry yang dapat ditampungnya di tas yang dia bawa di kudanya. Leon sempat menanyakan alasan Anna melakukan hal itu.
"Mereka memang bukan rakyatku, tapi mereka terluka. Dan jika aku dapat membantu Xavier menyelesaikan masalah di sini secepatnya, maka kami akan semakin cepat kembali ke Istana dan itu artinya semakin cepat untuk bisa menyelamatkan Ibu dan Adikku." Jawab Anna saat itu.
Akhirnya Anna meminta Leon dan Louis untuk mengambil beberapa buah Bloody Berry untuk mereka sendiri untuk kemudian dijual di pasar-pasar Nordhalbinsel. Anna menduga kedepannya Kerajaan akan membutuhkan pasokan buah Bloody Berry dalam jumlah besar, jadi Anna juga meminta Leon dan Louis untuk menanamnya di daerah Cleteland di Schiereiland yang berbatasan dengan Nordhalbinsel dimana Bloody Berry dapat tumbuh karena iklim dinginnya.
Kemudian Leon meminta izin pada Anna untuk menemui kembali Putri Eugene dan memastikan Sang Putri benar-benar dalam kondisi aman karena dirinya sudah berjanji pada Sang Putri. Tapi Anna tidak mengizinkannya karena Xavier sendiri pasti akan langsung mengirimkan pasukannya ke kediaman Putri Eugene jika Xavier sudah mengetahui kondisi dan keberadaan Sang Putri. Dan jika saat itu Leon sedang ada di sisi Putri Eugene, mungkin Leon lah yang akan berada dalam bahaya. Jadi Anna meminta Leon untuk tidak menemui Putri Eugene dan tidak melewati Westeria. Leon dan Louis pun segera pergi menuju Cleteland di Schiereiland dan menjauh dari Westeria.
***