
Suara petir terdengar sangat keras hingga rasanya sanggup membelah langit. Saat itu, Anna dan Bernard sedang dalam perjalanan kembali usai berhasil mengambil bahan-bahan peledak dari rumah Duke Francis. Mereka berada di tengah hutan, hanya beberapa menit perjalanan sebelum sampai di rumah Kepala Desa. Anna berhenti dan turun dari kudanya. Bernard, yang berada tak jauh darinya, turut melakukan hal yang sama.
"Nona, ada apa?" Tanya Bernard.
Tapi Anna tidak menjawabnya. Dia berjalan terseok-seok menjauhi Bernard menuju sebatang pohon oak tak jauh dari tempatnya meninggalkan kuda. Anna berlutut, memejamkan matanya dan menutup telinganya. Mencoba memblokir ingatan tentang malam itu. Dia kesulitan bernapas dan dadanya terasa sesak. Saat membuka matanya kembali, pandangannya kabur. Dunia menjadi semerah darah dan sekelam malam. Sementara udara menjadi sangat dingin mencekam baginya hingga membuatnya menggigil.
Hujan mulai turun dan suara petir yang lebih keras lagi terdengar, membuat Anna menjerit histeris. Bayangan kejadian malam itu terlihat jelas di depan matanya. Saat hujan turun dan petir menggelegar di atas langit, Anna kembali ke tragedi malam itu.
Dia kembali ke Istana yang dipenuhi mayat, dengan darah membanjiri lantai. Dia kembali mendengar suara tangisan dan raungan Ratu Isabella dari kamarnya. Dia mendengar langkah kaki orang-orang, para prajurit Nordhalbinsel yang dengan cepat menghabisi orang-orang di Istana yang masih hidup. Dia dapat melihat beberapa ruangan di Istana terbakar, dan apinya mulai menjalari lorong tempatnya berdiri. Anna berusaha berlari menjauhi api, tapi kakinya terasa sulit untuk digerakkan jadi dia terjatuh. Dia tak bisa pergi ke mana pun dan merasa sangat tak berdaya.
"Tidak! Tidak!" Anna terus menjerit dan menangis, mengalahkan derasnya hujan yang membasahinya.
Bernard yang panik dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi kepada Anna, mencoba untuk menenangkannya, "Yang Mulia, Apa yang terjadi? Yang Mulia, mohon tenangkan diri Anda."
Bernard berusaha menyentuh Anna yang tampak ketakutan, tapi Anna langsung menepis tangannya. “Jangan menyentuhku! Pergi!”
“Maafkan hamba, Yang Mulia. Tapi Anda bisa sakit jika kehujanan.” Kata Bernard. Dia melihat sekitarnya untuk mencari tahu apakah dia dapat meminta bantuan seseorang. Mereka memang berada tak jauh dari Desa Kleinesdorf, tapi tidak ada siapa pun di hutan itu.
Hingga akhirnya, dari kejauhan terdengar suara seorang pria, "Anna, Bernard! Di mana kalian?"
Bernard mengenali suara itu. Suara berat yang sering didengarnya bertahun-tahun yang lalu di medan perang. Suara Leon.
"Tuan! Kami di sebelah sini!" Sahut Bernard, merasa lega begitu mendengar suara tersebut.
Tak lama kemudian, Leon muncul dengan sebuah lentera di tangannya. Dia berlari menuju Anna yang masih menangis dan menjerit histeris. "Yang Mulia Putri, ini aku. Kau tidak apa-apa.” Leon mendekap Anna dan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut, menenangkannya.
Cara itu berhasil membuatnya berhenti menjerit, tapi dia masih belum berhenti meneteskan air matanya. Dia tak bisa melihat dengan baik, pandangannya buram oleh air mata.
"Leon? Itu kau?”
“Ya, Yang Mulia. Ini aku. Sudah tidak apa-apa. Kau aman bersamaku. Tenanglah, Yang Mulia."
“Kenapa kau meninggalkanku? Aku membutuhkanmu. Jangan pernah meninggalkanku lagi.” Ucap Anna, di sela tangisnya yang mulai mereda bersamaan dengan hujan yang telah berhenti.
***
"Aku akan sangat berterima kasih kalau kau bersedia tidak menceritakan tentang kondisi Putri Anastasia pada siapa pun." Ucap Leon pada Bernard Blanc saat mereka sudah kembali ke rumah Kepala Desa bersama dua kuda yang memuat bahan-bahan peledak. Saat itu, Anna sudah kembali stabil dan sedang menghangatkan diri di depan perapian sambil menyantap sup hangat dan membaca sebuah buku yang dipinjamkan oleh Bernard. Buku petunjuk pembuatan alat peledak.
"Apakah..." Bernard ragu-ragu ingin bertanya. "Apakah Yang Mulia seperti itu karena—“
"Jangan bertanya." Potong Leon. Kondisi mental Anna harus tetap menjadi rahasia. "Jangan menanyakan apa pun. Kau hanya perlu menjaga rahasia itu."
"Saya bersumpah atas nama keluarga saya bahwa rahasia itu akan aman selamanya, Jenderal." ucap Bernard, seperti seorang pemuda yang sedang mengucap sumpah ksatria.
Leon menepuk-nepuk pundak Bernard sebagai ucapan terima kasih kemudian meninggalkannya untuk menghampiri Anna yang masih melihat-lihat buku petunjuk pembuatan alat peledak yang ditulis sendiri oleh Bernard. Anna terlalu tenggelam dalam bacaannya hingga hampir tak menyadari kedatangan Leon.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Leon.
Anna menoleh, "Ya. Terima kasih." ucapnya dengan malu-malu.
Leon tahu bahwa Sang Putri hanya baik-baik saja untuk sementara waktu. Nyatanya, kejadian traumatis itu masih bertahan di benaknya dan mengganggu kestabilan mentalnya di saat-saat tertentu. Anna belum sepenuhnya baik-baik saja. Dan hanya waktu yang dapat menjawab apakah dia akan bisa sembuh dari traumanya.
Karena tahu bahwa Anna tidak ingin membahas kejadian tadi lebih lanjut, tahu bahwa Anna merasa malu bahwa dirinya masih belum stabil, Leon pun memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.
"Apa kau bertemu dengan Duke Francis?"
"Tidak." Jawab Anna dengan cepat sehingga terdengar sangat jelas bahwa dia berbohong.
"Kau tahu, kau tidak dapat berbohong."
"Kami tidak bertemu." Ucapnya, pelan. "Tapi aku yakin dia melihatku dan mengenaliku meski dari kejauhan. Itulah sebabnya dia membiarkan gerbangnya terbuka lebar saat aku dan Bernard akan pergi membawa bahan-bahan peledak itu. Dia sudah tahu aku masih hidup."
"Tidak apa-apa, yang penting kau sudah kembali dengan selamat." Kata-kata Leon menenangkan Anna. "Yang penting kau selamat." ucapnya lagi.
Anna segera menghabiskan sup hangat buatan istri Kepala Desa sebelum kembali menjalankan rencana mereka. Para warga sedikit tenang karena hujan yang turun mengisi kembali sumur-sumur kering mereka. Tapi hujan tidak akan berlangsung selamanya. Sedangkan mereka tak bisa terus menerus mengandalkan hujan yang tak pasti kapan datangnya untuk bertahan hidup.
Setelah memastikan semuanya siap dengan rencana mereka, Anna dan Leon memimpin pasukan warga desa menuju bendungan.
Matahari masih belum terbit dan hari masih sangat gelap, tapi mereka semua dapat melihat dengan jelas bendungan besar di hadapan mereka tak jauh dari tempat mereka berdiri. Bendungan itu masih belum sempurna, tapi cukup untuk menahan air sungai sehingga sudah tidak ada lagi air yang mengalir keluar dari bendungan. Saat melihat bendungan besar yang kokoh itu, hati Anna merasa perih karena tahu bendungan yang digunakan oleh orang-orang utara untuk mengambil air sungai mereka justru dibangun menggunakan darah dan keringat rakyatnya. Kemakmuran untuk tanah mereka dibentuk dari penderitaan rakyatnya.
Mengingat hal itu, semakin menyulut api kemarahan di hati Anna. Tapi dia tahu bahwa menjalankan rencana dengan benar sesuai dengan yang sudah dia susun jauh lebih penting dari pada menuntaskan dendamnya. Jangan sampai amarah dan dendamnya justru membahayakan nyawa para penduduk desa yang ingin dia tolong.
Mereka pun mulai menjalankan rencana yang sudah Anna susun sebelum matahari benar-benar terbit. Anna dan kelompoknya diam-diam membawa pergi para budak tanpa diketahui oleh para tentara Nordhalbinsel dan mengiringi para budak itu ke Desa untuk diobati oleh Louis dan teman-temannya. Saat jumlah budak yang bekerja di bendungan semakin berkurang hingga dapat dihitung dengan jari, tentara Nordhalbinsel pun mulai menyadarinya.
“Hei, kau! Mau kau bawa ke mana orang-orang itu?” Tanya salah satu tentara saat melihat Anna menuntun seorang kakek tua yang penuh luka cambuk untuk keluar dari barisan budak pekerja bendungan. Pria itu mengeluarkan pedangnya dan bersiap mengayunkan pedangnya ke arah Anna saat tiba-tiba Leon datang di antara mereka, menangkis serangannya.
“Bukan urusanmu!” Leon mengayunkan pedangnya dengan cepat dan melawan orang tersebut. “Anna, cepat pergi dari sini. Kita jalankan tahap kedua dari rencana.”
Anna mengangguk mengerti dan segera membawa pergi kakek itu menuju tempat aman.
“Siapa kau?” Tanya tentara itu sambil terengah, berusaha melawan serangan bertubi-tubi dari Leon. Dia berusaha melihat wajah orang yang ada di hadapannya tapi bahkan untuk menyeimbangkan langkahnya saja dia merasa kesulitan.
Saat sinar kemerahan fajar mulai menyinari langit dan memberikan sedikit warna pada dunia yang kelabu, dia dapat melihat sosok di depannya dengan lebih jelas. Tangannya langsung gemetaran hingga pedangnya terjatuh. Matanya terbelalak terkejut melihat siapa yang menjadi lawannya. “Singa dari Selatan!"
***
Setelah mengantar para budak untuk diobati oleh Louis di balai pengobatan, Anna kembali ke markas tempat Bernard sedang meracik alat peledak yang akan mereka gunakan untuk menghancurkan bendungan. Sementara itu, para penduduk sudah dievakuasi ke tengah hutan, menjauh dari desa itu untuk berjaga-jaga jika terjadi hal yang tak diinginkan.
“Sudah hampir selesai Yang Mulia. Mohon percayakan ini pada Saya.” Kata Bernard saat dari sudut matanya dia melihat Anna memasuki markas mereka.
“Di mana para petani?” Tanya Anna kemudian setelah memastikan bahwa Bernard benar-benar tak membutuhkan bantuannya untuk merakit alat peledak.
“Mereka masih membuat aliran sungai tambahan, Yang Mulia.”
Anna mengernyit, “Masih belum selesai?”
“Belum, Yang Mulia.”
Anna pun menoleh ke arah matahari terbit. Mereka tidak punya banyak waktu. Langit sudah sewarna rambutnya. Beberapa menit lagi sebelum dunia diterangi matahari dan para prajurit Nordhalbinsel yang ditugaskan berjaga di bendungan terbangun dari kelalaian tugas mereka.
“Kalau begitu, aku akan mempercayakan alat peledaknya padamu, Bernard. Aku harus pergi membantu para petani.” Kata Anna sambil pergi membawa sekop untuk turut menggali berama yang lainnya.
***
Saat semua rencana mereka sudah tampak berjalan dengan sempurna, saat semuanya sudah menyelesaikan tugas mereka masing-masing sesuai rencana, alat peledak pun siap untuk diaktifkan. Bernard membawa alat peledak itu menuju bendungan dengan dibantu oleh kelompok veteran perang dan para pemuda yang dipimpin oleh Leon. Para tentara Nordhalbinsel yang melihat Leon dan alat peledak itu segera berlari menjauh dari bendungan tanpa harus diperingatkan.
"Di mana Anna?" tanya Leon saat melihat Bernard datang seorang diri.
"Kurasa Yang Mul—maksudku, Nona bersama kelompok para warga lain saat ini. Dia tadi berkata akan membantu para petani."
Tapi tak lama kemudian, para warga dan petani yang bertugas membuat aliran sungai tambahan datang ke tempat itu.
"Tuan, kami semua sudah menyelesaikan tugas kami." ucap salah satu petani.
"Terima kasih banyak atas kerja keras kalian semua. Sekarang, pergilah ke tempat evakuasi bersama warga lainnya." Ucap Leon, sementara matanya sibuk mencari-cari sosok Anna diantara kumpulan para warga. "Di mana Anna?" dia mengulang pertanyaan yang sama pada para petani.
"Maksud Anda, Nona berambut merah itu, Tuan?"
"Ya. Di mana dia?"
"Sejak tadi kami tidak melihatnya, Tuan. Kami pikir—“
Tanpa menunggu petani itu menyelesaikan kalimatnya, Leon segera berlari menuju aliran sungai buatan para warga itu untuk mencari tahu keberadaan Anna. Firasatnya tidak baik.
"Tuan! Peledaknya akan segera aktif dalam waktu lima menit!" Bernard berusaha mengingatkan Leon, tapi Sang Jenderal sudah berlari terlalu jauh untuk dapat mendengarnya.
***
Di tempat aliran sungai tambahan, Anna masih sibuk menggali. Aliran sungai yang dibuat oleh warga dirasa belum cukup lebar jadi dia terus menggali bahkan meski dia tahu tidak banyak waktu yang tersisa.
"Kau di sini rupanya."
Anna menoleh, mencari sumber suara. Hatinya menantikan kedatangan Leon untuk membantunya.
Tapi yang datang bukan Leon.
Beberapa pria berjalan mendekat ke arahnya. Tangan mereka diletakkan di belakang, seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi Anna tahu bahwa mereka sedang bersiap menyerangnya. Di punggung mereka terdapat pedang yang akan segera mereka tarik dalam satu gerakan singkat. Dan dengan satu gerakan singkat itu saja, nyawanya akan berakhir.
"Siapa kalian?" Tanya Anna, berusaha mengenali wajah orang-orang yang sedang menghampirinya. Mereka mengenakan pakaian biasa layaknya rakyat biasa. Tapi Anna tahu, mereka bukan warga desa yang tadi ditemuinya. Kulit putih pucat mereka seolah menjadi ciri utama bahwa mereka bahkan bukan orang-orang Schiereiland. Mereka berasal dari Utara. Mereka orang-orang Nordhalbinsel.
Salah satu pria terkekeh geli mendengar suara Anna yang bergetar. "Tenang. Kami tidak akan berbuat kasar pada Putri dari Negeri Terjajah, Yang Mulia."
Mereka mengetahui identitasnya. Anna tidak mengerti bagaimana mereka bisa mengetahuinya, tapi insting Anna mengatakan mereka tidak berniat baik. Mereka mungkin diutus untuk membunuhnya.
"Aku tidak mengerti apa maksud kalian. Kalian salah orang." Anna kini sudah melepaskan cangkulnya dan menghunuskan pedangnya ke arah mereka. "Pergi dari sini! Bendungan akan segera diledakkan dan tempat ini akan segera dibanjiri air sungai." Anna memperingatkan mereka.
"Kami sudah tahu semuanya. Beberapa warga menyebutkan bahwa kau adalah Putri Anastasia." Salah satu pria menyeringai keji. Dia tak selangkah pun mundur dari tempatnya berdiri, bahkan meski Anna sudah bersenjata. Dia hanya melihat seorang Putri yang tak berdaya. Putri tanpa mahkota dan kerajaan. Bukan seorang wanita yang dilatih langsung oleh Sang Singa dari Selatan.
Pria lainnya mendekat ke arah Anna dengan senjata terhunus. Saat dia mengeluarkan pedangnya, pria lainnya turut melakukan hal yang sama. Anna dapat menarik kesimpulan bahwa pria ini lah pemimpinnya.
"Putra Mahkota Xavier memerintahkan kami untuk menangkap Anda tanpa terluka sedikit pun." Kata si pemimpin. "Tapi jika Anda menodongkan senjata pada kami seperti ini, maka jangan salahkan jika kami juga melakukan hal yang sama."
Anna tak percaya pada apa yang didengarnya. Putra Mahkota Xavier mengetahui tentangnya dan bahkan menyuruh orang-orang ini untuk menangkapnya? Mereka bahkan belum pernah bertemu sebelumnya.
Salah satu di antara mereka maju menyerangnya tanpa peringatan. Tapi Anna berhasil menghindar dengan cepat dan memberikan serangan balik dengan pedangnya. Ada sekitar tujuh orang pria di hadapannya dan mereka semua sudah mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Anna memperhatikan mereka semua memiliki tato yang sama di bagian wajah dan tangan. Tato itulah yang membuat Anna menyadari bahwa mereka bukan para prajurit atau orang suruhan kerajaan Nordhalbinsel.
Tato itu berbentuk ular hitam yang melingkari sebilah pedang. Leon pernah menyebutkan tentang orang-orang di daerah utara yang tidak memiliki Negara akibat perebutan daerah kekuasaan Schiereiland dan Nordhalbinsel. Mereka tinggal di daerah perbatasan dan menjadi musuh paling mematikan bagi para tentara penjaga perbatasan. Mereka adalah kelompok bandit yang terkenal dan berbahaya, Black Mamba.
Anna tidak memiliki pilihan lain selain melawan tujuh orang pria bersenjata yang ada di hadapannya. Dia tak menyukai pertumpahan darah meski sudah terlatih untuk menggunakan pedangnya. Tapi saat ini, dia harus menyelamatkan nyawanya sendiri sebelum bisa menyelamatkan ibu dan adiknya. Dia melakukan ini demi rakyat dan kerajaannya. Anna mengayunkan pedangnya dengan cepat seperti yang sudah diajarkan oleh Leon. Para bandit itu memang sudah terbiasa menggunakan pedang mereka, tapi teknik mereka tidak sebagus teknik yang diajarkan oleh Leon. Mereka terlalu banyak melakukan gerakan yang seharusnya tidak perlu dilakukan. Dan alhasil Anna dapat menghindari serangan-serangan itu dengan mudah karena pergerakan mereka terlalu mudah dibaca. Anna menangkis serangan-serangan para bandit itu dengan tepat. Tapi jumlah mereka terlalu banyak dan Anna mulai merasa kelelahan terlebih setelah semalaman dia tidak tidur.
Tepat saat Anna akan mengayunkan pedangnya lagi untuk menyerang salah satu bandit di hadapannya, sebilah pisau menusuk punggungnya. Anna dapat merasakan darahnya keluar dari tubuhnya. Besi dari bilah pisau yang menancap di punggungnya itu segera dia cabut dan dilemparkannya ke orang yang sudah menusuknya, ke salah satu bandit. Saat berbalik, Anna menyadari ada lebih dari sepuluh orang bandit yang mengelilinginya.
Sambil menahan rasa sakit, Anna berusaha bangkit kembali dan melawan para bandit itu. Anna tahu, tidak banyak yang dapat dilakukannya jika berhadapan dengan orang sebanyak itu, terlebih dalam kondisi saat ini. Banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya membuatnya merasa kedinginan. Seluruh tubuhnya gemetar dan terasa sulit digerakkan. Kepalanya mulai terasa berputar. Dia berusaha untuk berteriak memanggil Leon, atau siapa pun, tapi untuk mengeluarkan suara saja terasa sangat sulit baginya.
Anna dapat mendengar suara gemuruh dari kejauhan, tapi tidak bisa yakin suara apa itu. Anna bertanya-tanya apakah Leon sudah berhasil mengusir para tentara Nordhalbinsel? Apakah Bernard sudah selesai membuat alat peledaknya? Apakah seluruh warga sudah berhasil dievakuasi? Apa rencana mereka akan berhasil?
Dari jauh, Anna dapat melihat sebuah ledakan besar. Ledakan itu menghancurkan bendungan Sungai Scheine. Para bandit yang tadi mengepungnya langsung berlari menjauh dari aliran air. Anna berusaha berlari juga, tetapi kakinya terasa sangat berat untuk digerakkan. Dia kehilangan banyak darah. Nafasnya pendek-pendek dan nyeri luar biasa terasa dari luka tusuk di punggungnya. Dalam waktu beberapa detik saja, air sungai akan membanjiri aliran buatan itu dan dia akan terhanyut di dalamnya.
Tiba-tiba, sesuatu yang sangat besar mencengkeram seluruh tubuhnya, membawanya melayang ke langit, jauh di atas air sungai yang membanjiri aliran buatan itu. Hanya dalam waktu sepersekian detik air sungai telah penuh mengisi aliran buatan itu dan menghanyutkan beberapa bandit yang tadi menyerang Anna. Sementara tubuh Anna terangkat semakin jauh dari daratan. Anna melihat ke atas, dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Seekor Naga sedang mencengkeramnya. Naga itu menyelamatkannya dari para bandit dan dari air sungai yang dapat menghanyutkannya. Sebelum air sungai memenuhi aliran buatan itu, Naga tersebut sempat mengibaskan ekornya yang kokoh, panjang dan dipenuhi sisik tajam berbentuk seperti duri. Kibasan ekor Naga itu membentuk aliran sungai tambahan yang besarnya sama seperti aliran sungai air buatan para warga desa.
Naga itu bukan hanya menyelamatkannya, tapi juga membantunya menyelamatkan desa.
***