The Rose That Blooms In North

The Rose That Blooms In North
Chapter 5 : La Pluie et Le Tonnerre



Setelah sepakat untuk melawan tentara Nordhalbinsel dan membantu membebaskan para budak, Anna memberitahukan rencananya pada para penduduk desa.


"Mereka yang dapat menggunakan senjata akan ikut dengan Leon untuk melawan para tentara. Aku tidak ingin ada korban dan pertumpahan darah. Jadi kuharap kalian hanya melawan jika mereka membahayakan nyawa kalian. Aku percayakan hal itu pada Leon." Anna menoleh pada Leon yang sejak tadi hanya berdiri diam di sampingnya, menyimak dengan serius. "Leon, kau memimpin mereka."


Leon mengangguk. Jika saja mereka tidak sedang menyembunyikan identitas Anna, Leon tentu sudah berlutut di hadapannya dan berkata 'Saya siap melaksanakan tugas, Yang Mulia'. Kenyataannya, Leon memang hampir berlutut. Dia segera menahan diri begitu ingat bahwa identitas Anna sebagai Putri Schiereiland harus tetap dirahasiakan.


Beberapa penduduk desa yang ada di sana turut mendengarkan arahan dari Anna dengan seksama. Beberapa di antara mereka berbisik-bisik penasaran siapa Anna sebenarnya hingga menyebut Sang Jenderal hanya dengan namanya saja.


Setelah memastikan pada penduduk desa memahami arahannya, dia melanjutkan kata-katanya, "Para wanita akan ikut denganku untuk menyelamatkan para budak dan mengobati mereka. Mereka semua terluka cukup parah karena dicambuk dan disiksa." Anna terdiam sebentar. Mengingat kembali apa yang dia lihat tadi, melihat rakyatnya disiksa oleh tentara kerajaan lain benar-benar membuatnya terluka. Perasaan itu mirip seperti seorang Ibu yang melihat anaknya dilukai oleh orang lain. Lebih dari apa pun, Anna ingin membalas perbuatan mereka yang telah berani melukai rakyatnya. Tapi jika mau melakukan pembalasan, pertama-tama mereka memerlukan pasukan. Dan bukan hanya sekedar pasukan berisi penduduk desa, melainkan pasukan prajurit terlatih. Mereka belum siap untuk perang yang sesungguhnya.


Anna mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Di hadapannya adalah sekumpulan orang yang tak terlatih memegang senjata. Mungkin beberapa memang veteran perang, mungkin beberapa pernah dan masih aktif sebagai prajurit, tapi banyak di antara mereka hanya warga sipil biasa yang hanya tahu cara bertani dan berdagang.


"Apakah di sini ada yang mengerti tentang tanaman obat?" Tanya Anna kemudian.


"Saya bisa mengobati mereka." Louis yang berdiri tak jauh darinya mengangkat tagannya. Bocah laki-laki itu dipenuhi binar semangat juang, membuat Anna tersenyum.


Mereka mungkin bukan prajurit terlatih. Tapi mereka bisa melakukan sesuatu. Apa pun itu. Dan hanya diperlukan semangat juang untuk dapat menggerakkan mereka semua.


"Baiklah, Louis." Katanya, "Kau bertugas untuk menyiapkan obat untuk mereka. Anak-anak yang lain akan membantumu dalam mengumpulkan tanaman obat. Kau bisa memimpin mereka dan memberitahu tanaman obat apa saja yang kau butuhkan, kan?"


Louis mengangguk antusias.


"Lalu bagaimana dengan bendungannya. Bagaimana cara kami agar dapat menghancurkan bendungan itu?" Pemimpin Desa akhirnya angkat bicara.


Anna berpikir sejenak. Bendungan sebesar itu tidak bisa dihancurkan dengan mudah. Tenaga mereka tidak akan cukup.


"Kita membutuhkan bahan-bahan peledak yang ledakannya cukup kuat untuk menghancurkan tembok beton, tapi tidak cukup besar sehingga ledakannya tidak akan mengenai rumah-rumah penduduk." Kata Anna, tatapannya setengah menerawang karena sedang berpikir keras. "Apakah di sini ada yang dapat membuat peledak?"


"Saya dapat membuatnya." Kata salah seorang pemuda yang merupakan mantan pasukan tentara Schiereiland. "Saya tahu bahan-bahan yang tepat. Tapi Duke Francis menyita bahan-bahan peledak karena dianggap dapat membahayakan."


Anna mengangguk. "Kediaman Duke Francis tidak jauh dari desa ini. Jika berkuda sekarang, kurasa malam ini kita bisa sampai di kediamannya. Aku akan pergi ke sana dan mengambilnya. Maaf, boleh kutahu siapa namamu Tuan?" Tanya Anna.


"Bernard, Nona. Bernard Blanc. Saya adalah kakak dari Louis."


"Baiklah, Bernard, kuharap kau bisa ikut bersamaku karena aku kurang mengerti bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan."


"Baik, Nona."


Leon, yang masih belum beranjak dari sisi Anna, tampak resah saat mendengar bahwa mereka akan berpisah. Terlebih lagi Anna akan pergi ke kediaman Duke Francis tanpanya. Sesuatu bisa saja terjadi padanya dalam perjalanan.


"Yang Mul—Anna, kau yakin?"


"Aku yakin." jawab Anna langsung, penuh kesungguhan.


"Aku akan ikut denganmu."


"Tidak, Leon." Tolaknya dengan lembut. "Kau akan berada di sini melindungi mereka. Dan kalian semua harus siap saat aku dan Bernard datang membawa peledaknya. Kalian harus memperingatkan semua orang untuk mengosongkan desa, untuk berjaga-jaga apabila hal buruk terjadi. Dan sebisa mungkin mengevakuasi para budak agar mereka tidak terkena ledakan. Kemudian, mengenai aliran tambahan yang sudah kupikirkan sejak tadi..."


Anna melihat sekitarnya. Mata pencaharian sebagian besar penduduk desa ini adalah petani. Itu artinya mereka sudah terbiasa membuat aliran air untuk lahan pertanian mereka. Namun apa yang sedang dia rencanakan ini adalah sesuatu yang hampir mustahil.


Tapi tak ada yang mustahil selama mereka bersama-sama mengerjakannya.


"Aku harap para petani dapat membuat sebuah aliran air tambahan untuk mencegah aliran sungai membanjiri desa setelah bendungan berhasil dihancurkan. Ini akan mirip seperti membuat aliran air untuk lahan pertanian kalian, tapi buatlah sepuluh, tidak, dua puluh kali lipat lebih besar."


"Kami mungkin akan memerlukan tenaga lebih banyak dan waktu yang lebih banyak, Nona. Kebanyakan di antara kami sudah terlalu tua." Sahut salah satu petani.


Anna mengangguk-angguk mengerti. "Baiklah. Aku akan mencari bantuan dari desa lain selama perjalanan menuju kediaman Duke. Dan bagi siapa saja yang dapat membantu, aku meminta agar kalian semua ikut membuat aliran sungai tambahan ini. Ini tidak akan mudah, tapi aku percaya kita dapat melakukan ini bersama."


Anna mengacungkan pedangnya ke depan, "Untuk Schiereiland. Untuk kita semua."


Leon turut melakukan hal yang sama menggunakan pedangnya, mengacungkannya di atas pedang Anna, "Untuk Schiereiland."


Lalu satu-persatu mereka semua turut mengacungkan berbagai senjata yang mereka pegang. Para veteran perang dengan pedang mereka. Para pedagang dengan pisau, tongkat pemukul, dan tombak. Para pengrajin dengan palu mereka. Dan para petani dengan cangkul mereka. Semua berseru dengan lantang,


"Untuk Schiereiland!"


***


Setelah membagikan tugas dan memastikan semua sudah siap serta mengerti dengan tugas masing-masing, Anna dan Bernard pergi menunggangi kuda yang dipinjamkan oleh Tuan Blanc menuju kediaman Duke Francis di pusat kota.


Kediaman Duke Francis, mantan tunangan Anna, terletak di Kota terdekat dari Desa Kleinesdorf, Kota Grotestadt. Berjarak sekitar delapan puluh kilometer dari Desa Kleinesdorf, kota itu merupakan bagian dari Duchy Francis yang telah dikuasai oleh keluarga Francis secara turun temurun sejak awal didirikannya Schiereiland. Anna pernah beberapa kali pergi ke Kota itu sewaktu dirinya masih kecil untuk bertemu dengan Duke Francis sebelumnya. Tapi setelah pesta debutante, Anna tidak pernah lagi pergi ke sana. Terlebih setelah pertunangannya dengan Duke Nicholas Francis, dia tidak pernah pergi ke kediamannya lagi karena Sang Duke sendiri lah yang selalu mengunjunginya di Istana.


"Bagaimana Anda bisa mengetahui alamat kediaman Duke Francis, Nona?" Tanya Bernard saat mereka sedang beristirahat sejenak di bawah pohon rindang setelah berkuda selama dua jam tanpa henti.


Anna menenggak air minum dari wadahnya yang dia ambil dari sungai Scheine pagi itu sebelum pergi ke pasar. Nafasnya yang terengah akibat kelelahan sudah kembali normal. Tapi peluh keringat masih membasahi gaunnya yang memang sudah kotor dan lusuh.


"Aku pernah pergi ke sana sewaktu aku masih kecil." Jawab Anna, kemudian menyadari bahwa rakyat biasa tidak akan pergi ke kediaman Duke. Dia buru-buru menambahkan, "Salah satu kerabatku bekerja di sana sebagai pelayan."


Bernard mengangguk, memahami.


"Apa kau cukup dekat dengan Leon?" Anna balik bertanya kepada Bernard.


"Tidak." Dia tersenyum tipis, "Jenderal memiliki ratusan orang sebagai pasukannya. Beliau tidak mungkin dekat denganku yang hanya anak dari seorang rakyat biasa."


"Oh, begitu rupanya. Apa dia tidak punya banyak teman di kamp prajurit?"


"Beliau adalah seorang Jenderal yang sangat baik dan terampil. Terlalu bijaksana untuk usianya. Tapi beliau berada di posisi yang sulit. Bisa dibayangkan sendiri, jika beliau dekat dengan salah satu dari rakyat jelata, para rekan-rekannya dari kalangan bangsawan akan membicarakannya. Terlebih karena beliau adalah putra angkat Raja. Dan jika beliau dekat dengan para bangsawan..."


Anna mengangguk mengerti tanpa perlu dilanjutkan. Leon tidak berasal dari kedua kalangan itu, dia berada di antara mereka. Keberadaannya akan membuka urusan politik. Jenderal yang memimpin pasukan Schiereiland, Putra angkat Raja, tapi juga tidak diketahui siapa orang tua kandungnya. Sejak dulu para putra-putra bangsawan berusaha untuk dekat dengannya. Dekat dengan Leon sama saja dengan dekat dengan Putra Raja, begitulah yang mereka pikirkan.


Bernard melanjutkan, "Jadi untuk menghindari konflik internal yang mungkin terjadi, beliau lebih memilih untuk tidak berteman dengan siapa pun. Tapi kudengar beliau cukup akrab dengan Putri dan Pangeran di Istana. Dan kurasa beliau juga cukup dekat dengan Anda." Bernard berhenti sejenak, berdehem, tampak ragu-ragu untuk melanjutkan perkataannya. Tapi akhirnya dia bertanya, "Kalau boleh tahu, apa benar Anda adalah istrinya?"


Anna tersedak air minum begitu mendengarnya. "Siapa yang mengatakan hal aneh seperti itu?"


Meski berkata seperti itu, wajahnya yang merona merah dan jantungnya yang tiba-tiba berdebar tak karuan tak dapat membohongi siapa pun. Dia justru senang ada yang menganggapnya begitu.


"Semua ibu-ibu di Desa kami bilang begitu." Jawab Bernard apa adanya.


"Maaf?"


"Apa kami terlihat seperti itu?" Anna menggigit bibir, menahan senyuman, "Apa kami terlihat seperti pasangan?"


"Tentu saja." Jawabnya langsung. "Jenderal Leon tidak mudah dekat dengan orang lain selain keluarga kerajaan. Jadi jika beliau dekat dengan seorang wanita, hanya ada dua kemungkinan. Wanita itu adalah wanita yang beliau cintai, atau wanita itu adalah Putri Anastasia."


Kalimat terakhir itu merubah rona merah di wajah Anna menjadi pucat pasi. Jantungnya yang awalnya berdebar-debar kini hampir berhenti total. Terlalu terkejut pada ucapan itu, Anna sampai tak mampu mengatakan apa pun. Padahal dia harus mengatakan sesuatu, tertawa atau semacamnya agar Bernard tidak mencurigainya.


Bernard pun memperhatikan Anna yang kesulitan menjawab, jadi dia buru-buru melanjutkan, "Tentu saja Anda tidak harus memberi tahu saya semuanya. Saya sudah tidak sopan. Maafkan saya."


***


Leon berdiri di ambang pintu rumah kepala Desa Kleinesdorf, markas sementara mereka. Keningnya berkerut, matanya terpaku pada titik terjauh yang dapat dilihatnya. Beberapa jam yang lalu, sekelompok pemuda dari desa-desa lain yang berada tak jauh dari Desa Kleinesdorf datang untuk membantu mereka membuat aliran sungai tambahan. Mereka mengatakan telah bertemu dengan Anna yang mengaku sebagai utusan dari Jenderal Leon, jadi mereka buru-buru datang ke Desa Kleinesdorf untuk memastikannya. Begitu bertemu dengan Leon, mereka semua segera mengambil posisi bersama para petani lainnya untuk membuat aliran sungai tambahan. Seiring bertambah larutnya malam, semakin banyak warga yang datang untuk membantu. Beberapa bahkan berasal dari keluarga Baron dan beberapa lagi merupakan mantan tentara Schiereiland. Tapi hingga larut malam, masih belum terlihat tanda-tanda kepulangan Anna dan Bernard.


"Ini sudah sangat larut, kenapa mereka masih belum kembali?"


"Mereka akan segera kembali, Tuan." Jawab Louis yang sejak tadi memperhatikan Leon berjalan mondar-mandir keluar masuk rumah itu.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu?"


"Kakak saya pasti akan melakukan apa pun untuk melindungi Yang Mulia Putri." Louis berusaha menenangkan Leon. Memelankan nada suaranya karena dia masih menjaga rahasia identitas Sang Putri.


"Aku pasti sudah gila. Kenapa aku setuju untuk membiarkannya pergi hingga larut malam bersama orang yang baru saja kami kenal?" Leon menghela napas panjang, memijat-mijat pelipisnya, "Tidak bisa begini. Aku harus menyusulnya sekarang juga. Louis, siapkan kuda—“


"Tidak ada kuda yang tersisa. Kami hanya punya dua kuda." Louis menyerahkan segelas air minum pada Leon yang langsung menenggaknya. "Anda harus tenang, Tuan. Kakak saya adalah orang yang dapat diandalkan. Dia adalah prajurit Schiereiland."


Leon berusaha mengingat-ingat nama Bernard Blanc dalam daftar ratusan pasukannya. Nama keluarga Blanc tidak terlalu familier baginya. Dia bahkan tidak tahu apakah benar-benar ada seorang Blanc di antara pasukannya.


Leon sangat khawatir, tapi di saat yang sama dia harus fokus pada tugas yang diberikan oleh Anna. Dia tidak boleh lengah dan harus selalu waspada jika tiba-tiba tentara Nordhalbinsel mengetahui rencana mereka dan menyerang terlebih dahulu. Dia juga masih harus mengarahkan pasukan kecilnya untuk penyerangan nanti. Anna mempercayakan tugas ini padanya dan dia ingin melakukannya dengan baik. Memimpin satu pasukan warga desa ternyata jauh lebih sulit daripada memimpin pasukan terlatih.


Mungkin bukan karena itu. Mungkin ini menjadi lebih sulit bagi Leon karena di saat yang sama dia terus mengkhawatirkan Anna. Biasanya selama perang, meski dia harus pergi jauh dari Anna selama berbulan-bulan atau mungkin selama bertahun-tahun, dia bisa lebih fokus pada perang di depan mata karena tahu bahwa Sang Putri berada di tempat yang paling aman, di kamar indahnya di Istana yang dijaga oleh ratusan pengawal Istana.


Berbagai pikiran buruk kembali menghantuinya. Bagaimana jika mereka tertangkap? Bagaimana jika Duke Francis mengetahui rencana mereka? Hubungan Anna dengan mantan tunangannya itu tidak terlalu baik. Meski Sang Duke bukan orang yang jahat, tapi beliau juga bukan orang yang dapat dipercaya. Duke Francis memang sangat pintar, tapi dari yang Leon ketahui, dia dapat melakukan hal yang licik untuk menjatuhkan orang yang tidak disukainya. Bagaimana jika sesuatu yang buruk menimpa mereka? Bagaimana jika Bernard melakukan hal yang buruk pada Anna? Bagaimana kalau ternyata ini semua sudah direncanakan dan Blanc ternyata adalah mata-mata Nordhalbinsel?


"Tuan, ada sesuatu yang belum saya katakan pada Anda." Louis membuyarkan pikiran-pikiran negatif itu dari benak Leon.


Leon buru-buru menoleh padanya. "Apa itu? Cepat katakan." Perasaannya kian memburuk.


"Sebenarnya, Kakak saya sudah tahu bahwa Anna adalah Yang Mulia Putri Anastasia."


Itu bukan sesuatu yang buruk. Tapi dia tetap saja terkejut mendengarnya. "Bagaimana bisa? Kau memberitahunya?"


"T-Tidak, Tuan." Jawab Louis. Dia tergagap semata-mata karena kini Leon menatap tajam padanya seperti sedang mencurigainya. "Sebenarnya saat di pasar, Kakak saya lah yang pertama melihat simbol itu di pedang yang dibawa oleh Yang Mulia Putri dan beliau memberitahukannya pada saya. Oleh karena itu, Tuan tidak perlu terlalu khawatir. Kakak saya pasti akan mengorbankan nyawanya terlebih dahulu jika sesuatu terjadi pada Yang Mulia Putri."


Nyatanya penjelasan Louis sama sekali tidak meredakan kekhawatiran Leon. Hal itu justru membuatnya semakin gelisah. Karena semakin banyak yang mengetahui identitas Anna, semakin besar juga bahaya yang menghadangnya.


"Maafkan saya karena tidak memberitahukan ini sejak awal, Tuan." kata Louis yang kini merasa semakin bersalah.


"Tidak apa-apa, Louis." Dia menepuk-nepuk pundak Louis, menenangkannya. "Ini sudah larut. Kau boleh tidur dulu." Kata Leon sambil memperhatikan warga desa yang lain sedang tidur. Sebagian dari mereka berjaga dan akan saling bergantian untuk tidur jika yang lain sudah bangun.


"Anda juga lebih baik segera tidur, Tuan."


"Aku tidak bisa tidur." Jawabnya, "Tidak sebelum Sang Putri kembali."


Tiba-tiba terdengar suara gemuruh petir. Hujan pun turun.


Dua hal itu saja langsung membuat Leon teringat bagaimana Anna begitu trauma pada suara petir hingga beberapa hari yang lalu. Kematian sang Raja terjadi saat hujan dan petir. Jadi setiap kali hujan turun disertai gemuruh petir, Anna akan kembali teringat pada kejadian itu. Tanpa pikir panjang, Leon segera mengambil lentera yang tergantung di depan rumah kepala desa dan berlari menerobos hujan menuju hutan gelap di depannya.


***


Malam itu sudah sangat larut dan hujan mengguyur seluruh Duchy Francis. Duke Francis berada di ruang kerjanya sedang meminum teh sambil mendengarkan musik klasik dari piringan hitam. Tumpukkan kertas pekerjaan di hadapannya seperti tak ada habisnya. Terlebih setelah pengambilalihan kekuasaan kerajaan Schiereiland oleh Raja Vlad dari Nordhalbinsel, pekerjaannya menjadi semakin banyak. Tapi dia masih merasa jauh lebih beruntung daripada Duke lainnya yang diambil gelar bangsawannya, diusir dari rumah, dan diberhentikan dari tugas politiknya. Duke Francis tahu bahwa berteman dengan seorang Putra Mahkota dari negara lain pasti akan ada manfaatnya suatu saat nanti. Meski rasa bersalah karena dirinya seolah sedang mengkhianati negerinya sendiri tetap tak bisa hilang dari beban pikirannya.


Suasana begitu menenangkan dengan suara hujan dan musik klasik hingga akhirnya terdengar suara ribut-ribut dari balik pintu ruang kerjanya.


“Ta-tapi, Duke bilang tidak boleh ada siapa pun yang mengganggunya—“ ucap kepala pelayan dari luar pintu ruang kerjanya.


Pintu itu dibuka secara paksa dan menampilkan sosok pemuda tinggi dengan proporsi tubuh yang sempurna. Meski berpakaian layaknya rakyat biasa, tidak menutupi sedikit pun aura bangsawan yang dimilikinya. Rambutnya berwarna hitam gelap kontras dengan kulit pucatnya yang merupakan ciri khas orang-orang Utara. Secara keseluruhan, pemuda itu tampak seperti mahakarya yang dipahat dengan sempurna oleh Dewa. Matanya yang berwarna emerald menatap tajam Duke yang duduk di hadapannya. Dia tersenyum sinis pada Sang Duke. Dan tanpa dipersilahkan untuk duduk, pemuda itu sudah terlebih dahulu duduk di sofa.


“Apa yang kau lakukan di tempat kerjaku, Yang Mulia Putra Mahkota Xavier?” Tanya Duke, setelah mengisyaratkan kepala pelayan untuk pergi meninggalkan mereka dan menutup pintu.


“Kudengar kau baru saja dirampok." Katanya dengan logat khas orang utara. "Pria mana yang berani merampok kediaman seorang Duke?”


Duke tampak terkejut karena berita tersebut sudah sampai di telinga Putra Mahkota dari Nordhalbinsel itu. Padahal baru sekitar lima jam yang lalu dia membiarkan gerbangnya terbuka lebar saat melihat sosok wanita berambut merah yang dulu merupakan tunangannya itu.


Duke berhati-hati memilih kata-katanya sebelum menjawab, “Tidak ada pria yang merampok di kediamanku.” Jawab Duke Francis, tidak sepenuhnya berbohong tapi juga tidak mengatakan kebenarannya secara keseluruhan. Dia memang melihat seorang pemuda bersama Sang Putri. Tapi dia tahu Sang Putri lah yang mengambil semua bahan peledak yang dia sita dari pasar-pasar di seluruh Duchy Francis.


“Kalau begitu, wanita? Seorang wanita merampok gudang senjata di kediaman Duke yang berada di bawah perlindungan Putra Mahkota?” Xavier tergelak. Menggeleng-geleng tak percaya. “Menarik sekali. Siapa wanita itu? Kau mengenalnya?”


“Kau menaruh mata-mata di kediamanku untuk mengawasi pergerakanku? Apakah itu yang kau sebut perlindungan?” Duke tampak marah. Tapi dia tidak berani memperlihatkan amarahnya langsung pada pemuda di hadapannya itu.


“Kau tidak berniat menjawab pertanyaanku? Kalau begitu aku akan cari tahu sendiri. Perbincangan kita sangat menarik, tapi aku sedang buru-buru.” Putra Mahkota Xavier beranjak dari tempat duduknya dan bersiap pergi meninggalkan ruangan itu sebelum Duke kembali buka suara.


“Jangan mencarinya! Kuperingatkan kau jangan berani-beraninya kau menyentuhnya!” nada suaranya kian meninggi.


Putra Mahkota Xavier menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Dia menelengkan kepalanya, seperti tak percaya bahwa ada orang yang baru saja menaikkan nada bicara padanya. “Atau apa? Kau mau mengancamku?”


“Tidak.” Jawab Duke langsung, menyadari bahwa saat ini dia tidak dalam posisi yang tepat untuk mengancam Sang Putra Mahkota. Bukan hanya nyawanya sendiri yang dipertaruhkan, tapi nyawa seluruh warga di Duchy Francis. Duke menatap Xavier yang masih berdiri di ambang pintu, menunggu penjelasan darinya, “Ini permohonan dari temanmu, Xavier. Kumohon jangan lakukan apa pun padanya.”


Tapi bukan sebuah anggukan persetujuan, melainkan senyuman misterius yang menghiasi wajahnya. Membuat Sang Duke sendiri takut bahwa kata-katanya barusan mungkin malah membuat mantan tunangannya berada dalam bahaya.


“Akan kupertimbangkan permohonanmu, teman.”


Sang Putra Mahkota pun melenggang pergi dari ruangan itu, diiringi gemuruh guntur dan suara pintu yang terbanting menutup.


***