The Lost Love

The Lost Love
Love Is True



Tenda terpasang sempurna. Alex dan Mia hanya perlu menikmatinya saja setelah tenda terpasang.


Asha tampak bengong. "Apa tendanya hanya satu?" Tanyanya sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan tenda yang lain.


"Emp, hanya satu." Lengkap dengan anggukan kepalanya, Mia menjawab pertanyaan Asha dengan santai.


"Lalu bagaimana kita bisa tidur?" Asha sedikit panik.


"Tentu saja telentang." Sahut Alex, yang akhirnya hanya mengundang gelak tawa dari Mia. Dan membuat Hayat terkekeh.


"Aku akan mencari kayu bakar." Imbuh Hayat kemudian, setelahnya langsung bergegas meninggalkan ketiganya.


"Alex aku serius, bagaimana mungkin kita berempat tidur di satu tenda yang sama." Protes Asha.


"Asha ayolah, lagi pula kita hanya tidur setidaknya beberapa jam saja. Selebihnya bukankah kita harus menikmati keindahan ini."


"Tapi, Mi."


"Apa kau takut Syafiq marah? Tenang saja, ia tak akan tau kau tidur satu tenda dengan pria lain. Lagi pula ada aku bukan. Tak akan ada yang berani mengganggumu didalam tenda, aku yang akan menjagamu." Mia bersikeras.


Asha hanya bisa menghela nafas dalam. Tanpa bisa membantah lagi, pun percuma saja protes ketika tenda itu tidak akan juga berubah menjadi dua sekeras apapun Asha memintanya.


Hayat kembali dengan beberapa kayu bakar di tangannya.


Alex langsung membantu Hayat membuat api unggun, untuk menghangatkan tubuh mereka. Semakin tengah malam, semakin udara menjadi dingin.


Asha menarik selimut yang dilingkari di bahunya semakin erat, untuk menepis rasa dingin yang seakan menusuk tulangnya.


Asha dan Mia duduk, mengelilingi api unggun bersama Alex dan juga Hayat. Sambil menunggu kedua pria itu selesai membakar seekor ayam utuh yang memang telah mereka persiapkan.


"Sebentar, aku melupakan sesuatu." Alex bangkit dari duduknya, berjalan menuju mobilnya. Sesaat kemudian kembali dengan membawa gitar. Mia langsung bersorak ketika Alex mulai memetik senar gitar.


"Aku ingin bernyanyi.." Asha semakin mendekatkan kursinya kesamping Alex yang duduk di tengah tengah antara dirinya dan Mia.


"Baiklah, lagu apa?"


"Hemmmm..." Asha berfikir cukup lama.


"Ah kelamaan, aku duluan." Sela Mia.


"Miaaaa, aku lebih dulu!" Protes Asha.


Akhirnya, keduanya pun tak ada yang mau mengalah.


"Cukup!" Alex ikut bersuara. "Adilnya kalian bernyanyi bersama saja." Lanjut Alex.


"Ide bagus." Celoteh Mia.


"Setuju.."


Alex kembali memetik senar gitar setelah keduanya sepakat menyanyikan lagu 'Say Yes'


🎵Mia


Ni nunape wassjanha


Aku di depanmu


naega yeogi issjanha


Aku disini


neoui ipsullo mareul haejwo


Katakan padaku dengan bibirmu


say yes say yes


Katakan ya katakan ya


🎵Asha


nado moreuge neoege gago issnabwa


Tanpa kusadari aku datang kepadamu


buneun barame nae mam jeonhallae


Aku ingin memberitahumu hatiku dengan angin yang bertiup


love is true


Cinta itu nyata


nae eokkae wie ne soni pook gamssa aneumyeon


Jika tanganmu membalut pundakku


naui yaegie nega ppanhi nal bogo isseumyeon


Jika kamu menatapku dalam ceritaku


Musimku adalah musim semi di jantung yang berdebar kencang


🎵Mia


oneuldo nan gobaek daesin geunyang dokbaek


Hari ini, saya hanya monolog, bukan pengakuan


neoneun naega eottae? neoramyeon nan okei


Bagaimana denganmu? Jika aku jadi kamu, aku akan katakan, oke


"Mia, pengucapan katamu salah." Asha menyela di tengah tengah penghayatan Mia.


"Ashaaaaa ..." Kesal Mia.


Sedangkan Alex hanya bisa menepuk jidat, dan Hayat menggeleng gelengkan kepalanya dengan kedua sudut bibirnya terangkat ketika kedua gadis itu mulai berdebat lagi.


*


Mau tidak mau, akhirnya Asha ikut tidur juga bersama yang lain didalam satu tenda.


Hayat di barisan pertama, Alex, Mia dan selanjutnya Asha.


Asha awalnya tidur dengan pulas, namun tiba-tiba saja tubuhnya menggigil kedinginan.


Membuat Hayat ikut terbangun karena rintihan Asha, saat menoleh kesamping, dua sosok manusia ditengah tengah mereka justru menghilang entah kemana.


Asha semakin merintih dan menekuk tubuhnya, sedang wajahnya bercucuran keringat dingin.


Hayat sempat kebingungan, tak tahu apa yang harus di perbuat ketika meraba kening Asha terlampau panas. Sampai akhirnya, ia memilih untuk mendekat dan berbaring disamping Asha, lalu memeluk Asha. Berharap, paling tidak itu bisa sedikit membantu.


Asha terbangun di pagi hari dalam pelukan Hayat.


Spontan ia langsung mendorong tubuh Hayat agar menjauh.


"Apa yang kau lakukan!" Asha langsung duduk.


Hayat, yang masih mengantuk hanya membuka sedikit matanya. Melihat ke arah Asha yang tampak kaget, "Tak perlu sekaget itu, kita bahkan sudah melakukan lebih dari sekedar pelukan." Ujar Hayat, lalu memilih kembali tidur.


Asha hanya menganga tanpa bisa berkata-kata lagi.


Grrttt...


Ponselnya bergetar, Asha langsung mencari keberadaan ponselnya.


Asha langsung bergegas keluar dari tenda setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Hallo sayang.." Jawab Asha, gugup.


"Kau baru bangun?" Tanya Syafiq dengan suara agak berat.


"Emp.. Kau sendiri?" Asha balik bertanya.


"Aku belum tidur sama sekali, dan merasa sangat ngantuk sekarang. Tapi aku tidak bisa tidur sebelum mendengar suaramu." Imbuh Syafiq, dengan suara yang semakin berat.


"Kau lembur lagi?"


"Ya, masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum akhir minggu ini." Tampaknya, Syafiq berbicara sambil memejamkan matanya, dan ia benar sedang sangat mengantuk. Buktinya apa yang ia ucapkan terakhir tak terlalu jelas di pendengaran Asha.


"Apa? Aku tidak terlalu jelas mendengarnya." Ucap Asha, namun tak ada jawaban.


Asha melihat ke arah layar ponselnya, memastikan panggilan itu. Namun panggilan itu belum berakhir.


"Apa dia sudah tidur?" Gumam Asha. "Hallo, sayang.." Panggil Asha untuk memastikan. Namun tetap saja tak ada jawaban. Akhirnya Asha memilih untuk mengakhiri panggilan itu.


Rencana camping selama 2 hari gagal, setelah Mia di hubungi oleh rekan kerjanya dan diminta untuk masuk kantor besok.


Dengan terpaksa, mereka harus segera kembali.


Sedangkan Asha, terus saja menunjukkan wajah juteknya pada Hayat. Merasa tak terima karena Hayat memeluknya tanpa izin. Tanpa ia sadari, apa yang dilakukan Hayat semata mata hanya untuk membantu menurunkan demamnya dan membuatnya terhindar dari rasa dingin.


Keduanya, Hayat dan Asha. Menyibukkan diri dengan ponsel masing masing.


Asha sibuk mengotak atik ponselnya, hingga ia menemukan sesuatu di ponselnya. Seketika, tangannya langsung lemas, bahkan tak berdaya untuk mengangkat ponselnya lagi. Pikirannya terus melayang entah kemana. Pikiran demi pikiran terus bergonta ganti di kepalanya. Asha terus saja menepis kemungkinan buruk yang mungkin saja benar benar terjadi.


Sesampainya di apartemen, Asha dengan tergesa turun dari mobil Alex. Dan langsung masuk kedalam apartemen setelah Alex mengeluarkan tasnya dari bagasi mobil.


Asha bahkan lupa mengucapkan kata 'Terimakasih'.


Setelah sampai di dalam apartemen, Asha melepar tasnya ke sembarang tempat. Meraih kunci mobilnya lalu keluar lagi dari apartemen.


Beberapa menit kemudian, Asha kembali. Sedangkan dadanya sudah kembang kempis menerka nerka.


15 menit kemudian, mata Asha terbelalak, sebelah tangannya menutup mulutnya yang menganga. Ketika mendapati hasil testpack dengan dua garis.


"Tidak! Aku tidak mungkin hamil." Asha menggeleng pelan. Lalu meraih testpack lainnya. Menyobek kotaknya dengan kasar dan tes untuk kedua kalinya. Hasilnya tetap sama, bahkan ketika Asha sudah menggunakan beberapa testpack.


Next ✔️