
"Apa kau harus semarah itu?" Hayat duduk disamping Asha.
Asha berbalik dengan kesal menghadap Hayat. Sambil menyipitkan matanya, melihat Hayat yang bahkan tak menoleh ke arahnya. "Ch! Lantas menurutmu, aku harus bahagia setelah harga diriku di injak injak oleh kekasihmu, begitukah?" Asha semakin kesal, mendapati Hayat justru membela Anya.
"Apa yang dikatakannya?" Selidik Hayat akhirnya.
"Tanyakan saja padanya." Asha kembali memposisikan duduknya ke arah depan.
"Huftt.. Sebaiknya kita pulang sekarang, jangan buat keributan di rumah Mia, dia pasti ingin istirahat sekarang." Hayat bangkit dari duduknya, menyodorkan tangannya ke arah Asha, mengajak gadis yang sedang merajuk itu untuk ikut pulang bersamanya.
"Aku tidak mau, jika kau ingin, pulang saja sendiri." Ketus Asha.
"Asha..." Panggilan itu terdengar begitu lembut.
Asha perlahan mendongakkan wajahnya ke arah Hayat yang sedang berdiri di hadapannya. Raut wajahnya tampak lelah, ia tampak seperti sedang tak bersemangat.
"Apa ada masalah?" Selidik Asha akhirnya.
Hayat hanya menghela nafas dalam, "Ayo kita pulang, aku lelah dan sedang tak ingin berdebat." Kalimat datar itu, membuat Asha bangkit dari duduknya. Entah mengapa ia tiba-tiba saja menjadi begitu patuh.
"Aku, akan beritahu Mia dulu kalau kita akan pulang." Ujar Asha sedikit terbata.
"Aku tunggu didepan." Hayat langsung mengambil langkah.
"Huftt, kenapa aku tak bisa marah padanya." Keluh Asha, kemudian berjalan menuju kamar Mia.
*
Asha dan Hayat kembali ke apartemen sambil berjalan kaki. Keduanya saling terdiam, Hayat sedang sibuk dengan pikirannya, sedangkan Asha hanya bisa mengikuti keheningan itu sambil sesekali menoleh ke arah Hayat.
"Apa, kau tak berniat bercerita padaku?" Asha mulai memberanikan diri untuk bertanya.
"Tentang apa?" Hayat balik bertanya.
"Tentang hal yang sedang kau pikirkan." Ucap Asha asal.
Sudut bibir Hayat sedikit menyeringai. "Hanya masalah kecil." Ujar Hayat, sambil mengalihkan pandangannya ke arah yang berlawanan dari Asha.
"Tetap saja aku ingin tahu, sekecil apapun masalahmu." Asha tiba tiba menjadi begitu serius. Ia menarik lengan kemeja Hayat, membuat langkah Hayat terhenti. Lalu berbalik menghadapnya. "Bukankah, kita keluarga sekarang." Lanjut Asha, sungguh-sungguh.
Netra keduanya beradu, tatapan lembut yang dimiliki Asha seakan menenangkan Hayat.
"Ada masalah di Bar." Ucap Hayat akhirnya, setelah sempat terdiam beberapa saat. "Tampaknya Bar harus ditutup." Lanjut Hayat.
"Mengapa?" Asha penasaran.
"Hufttt..." Lagi dan lagi, Hayat kembali menghela nafas dengan berat.
"Sebaiknya kita bicarakan di rumah saja, ini sudah begitu larut." Hayat kembali mengambil langkah, sambil meraih tangan Asha dan menggandengnya.
"Apa, ada kaitannya dengan hubungan kita?" Asha kembali mengajukan pertanyaan, entah mengapa ia merasa masalah yang dihadapi Hayat kini ada sangkut pautnya dengan status hubungan mereka kini.
"Ch! Kau terlalu banyak berfikir." Elak Hayat.
Sesampainya di apartemen tak ada lagi pembahasan lanjutan. Tampaknya, Hayat sedang tak ingin bercerita lebih jauh tentang masalah yang sedang ia hadapi. Hayat langsung berbaring di tempat tidur, bahkan sebelum membersihkan dirinya terlebih dulu.
Asha yang terus memperhatikan keanehan sikap yang ditunjukkan Hayat, hanya bisa mengurungkan niatnya untuk bertanya.
*
"Ya, kau tak salah dengar. Bar itu sepenuhnya milik Hayat." Ungkap Alex.
"Tapi, kenapa..." Kalimat Asha menggantung.
"Kami mengarang cerita, kalau itu milikku?" Tebak Alex, untuk kalimat Asha yang menggantung.
Asha mengangguk membenarkan.
"Hayat hanya tak ingin bisnisnya kali ini kembali diusik oleh Papanya. Karena sebelumnya, itu pernah terjadi. Papa Hayat begitu ingin Hayat mengikuti jejaknya, tapi kau tahu sendirikan, Hayat begitu keras kepala dan terus saja menentang keinginan Papanya. Begitupun dengan Papanya, yang tidak pernah menyerah mengusik kehidupan Hayat. Kami pikir kami sudah berhasil mengelabuinya selama ini, ternyata kami salah. Entah dari mana ia bisa mengetahui kalau Bar itu sepenuhnya milik Hayat." Lanjut Alex, tampaknya ia juga kecewa dengan apa yang telah dilakukan Om Efendi.
"Apa menurutmu, ada yang bisa aku bantu untuk menyelamatkan bisnis Hayat?" Tanya Asha, ia benar benar - benar ingin membantu Hayat, sungguh!
"Entahlah..." Alex bersandar lalu menghela nafas dalam.
*
"Kau dari mana?" Pertanyaan yang langsung diajukan Hayat, ketika Asha kembali ke apartemen.
"Berbelanja.." Asha berbohong. Ia terus berjalan menuju kitchen set untuk meletakkan barang - barang belanjaannya.
Setelahnya kembali menoleh ke arah Hayat, yang ternyata sudah merebahkan tubuhnya di sofa sambil menonton televisi.
Hari - hari mereka jalani didalam apartemen tampa interaksi yang berarti. Hayat bagai mayat hidup yang sama sekali tak bersemangat menjalani hidupnya. Membuat Asha semakin terenyuh melihat kondisi Hayat yang begitu merana.
Tidak! Asha tidak bisa hanya berdiam diri. Melihat Hayat seperti itu! Ia harus melakukan sesuatu, entah apa yang ada dalam pikiran Asha dan entah bantuan seperti apa yang akan ia perbuat untuk Hayat. Yang jelas kini, ia sedang berada di kediaman Om Efendi. Datang untuk menemui Ayah mertuanya itu. Walaupun dengan jelas dan secara keras keluarga itu menolaknya.
Seringai Om Efendi langsung bisa menunjukkan rasa tidak sukanya pada Asha. Namun itu tak menyurutkan keberanian Asha. Ia bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan Om Efendi yang akhirnya menemuinya juga setelah membuat Asha menunggu hampir dua jam di ruangan itu.
"Langsung saja, aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu." Sarkas Om Efendi, dengan suara beratnya.
"Jangan lagi usik hidup Hayat, biarkan ia menjalani hidupnya." Asha begitu lantang, membuat Om Efendi sedikit tertegun dengan keberanian Asha.
"Apa kau tak sadar, yang ia dapatkan kini semua karena ulahmu! Seandainya saja kau tidak mengacaukan pernikahannya dengan Anya, semua ini tidak akan pernah terjadi, dan dia bisa mejalani bisnisnya tanpa gangguan."
Asha terdiam, sesuai dugaannya. Asha menghela nafas dalam. Tampaknya ia mengerti maksud dari kalimat lelaki paruh baya yang kini sedang dihadapannya.
"Andai... aku berpisah dengannya, apa kau bisa memastikan tak akan pernah lagi mengusik kehidupannya?" Tantang Asha.
Om Efendi tertawa menggelegar, "Berani sekali kau menantangku." Ujar Om Efendi kemudian.
"Aku anggap itu persetujuan darimu." Asha bangkit dari duduknya. "Aku permisi!" Lanjut Asha, setelahnya berlenggang pergi dari kediaman itu. Tepat di depan pintu utama, langkah Asha terhenti ketika sosok Hayat tiba - tiba saja muncul di hdapannya.
"Ha-hayat.. Kenapa kau disini?" Tanya Asha, terbata.
"Bukankah seharusnya, aku yang mengajukan pertanyaan itu. Untuk apa kau kesini?" Hayat berbalik mengajukan pertanyaan yang serupa.
"A-aku..." Apa yang harus Asha jelaskan?
Tak lagi mengajukan pertanyaan, Hayat menarik pergelangan Asha dan bermaksud membawanya pergi dari kediaman itu. Namun, Asha menepisnya, membuat pergelangannya terlepas dari genggaman Hayat.
"Ayo kita bercerai!" Ucap Asha akhirnya, membuat Hayat yang sedang membelakanginya menjadi terkekeh tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Hayat perlahan berbalik, kembali menghadap ke arah Asha yang justru hanya menunduk tanpa berani menatap netra Hayat.
"Jadi, itu hasil negosiasimu, dengan pemilik rumah ini. Itukah maksud kedatanganmu kesini?"
Next >>>