
"Aku rasa itu yang terbaik untuk kita." Asha mengambil langkah, berniat untuk meninggalkan Hayat disana. Namunlangkah Asha dengan cepat disusul Hayat.
"Aku anggap tak mendengarnya." Hayat meraih tangan Asha, lalu membawanya ke mobil.
Merasa sudah bulat dengan keputusannya, Asha kembali memulai perdebatan.
"Hayat, aku lelah. Aku tidak bisa menjalaninya denganmu. Aku dan kau, sama sekali tak punya kecocokan!" Kekeh Asha.
Hayat menyeringai sambil mengeratkan giginya, "Apa kau lupa, kita menikah bukan untuk itu, Asha!" Ucap Hayat penuh penekanan. "Mungkin kau berniat baik, ingin membantuku. Tapi asal kau tahu, itu sama sekali tidak membantu. Menikah bukan hal yang bisa kau jadikan main - main. Tolong jadilah dewasa, walaupun hanya sedikit." Lanjut Hayat, setelahnya melajukan mobil menuju apartemen.
Hening! Suasana didalam mobil itu seakan membeku, tanpa sepatah katapun yang keluar lagi dari masing - masing mereka. Asha, hanya memandang keluar jendela mobil. "Benarkah, itu sama sekali tak akan membantu?" Benak Asha.
Lantas, apa yang harus dilakukan Asha?
Sedangkan Hayat, benar-benar geram dibuatnya. Bercerai? Ch! Semudah itu Asha minta bercerai, semudah ia mengajak Hayat untuk menikah! Apa Asha menganggap itu main-main? Apa ia lupa dengan anak yang sedang dikandungnya?
Asha dan Hayat, dua orang yang sedang menanggung hukuman atas apa yang telah mereka perbuat. Takdir telah mengikat mereka dengan benang merah. Dan mereka tetap harus menjalaninya walaupun tertatih.
*
"Kau yang memberitahu Hayat, kalau gadis itu sedang disini!" Selidik Om Efendi pada Istrinya.
"Empp.." Jawab Tante Elvi singkat.
Om Efendi, hanya melototi istrinya tanpa melanjutkan lagi kalimatnya.
"Aku pikir, dengan datangnya Hayat bisa menyelesaikan hubungan mereka dengan cepat. Kau tahu, Anya tidak mungkin bisa menunggu Hayat lebih lama lagi. Kita harus segera menikahkan Hayat dengan Anya." Tante Elvi mencoba membela diri sekaligus mengalihkan pembicaraan.
Namun, entah mengapa Om Efendi justru tak menggubrisnya. Ia justru berlenggang pergi meninggalkan istrinya.
*
Hari berlalu, bisnis Hayat benar-benar di tutup pada akhirnya.
Sedangkan Asha, memilih untuk tak lagi terlalu ikut campur dengan urusan pribadi Hayat.
Asha tak ingin lagi membuat kesalahan, dan mengundang pertengkaran di antara dirinya dan Hayat. Ia memilih diam, dan terus menjalani hidup sebagai istri Hayat, dan juga ibu untuk calon anak mereka.
"Kau mau kemana?" Pertanyaan yang di ajukan Hayat, ketika melihat Asha sudah bersiap untuk keluar.
"Bertemu Mia." Jawab Asha singkat sambil terus berjalan menuju rak sepatunya.
"Sepertinya, kau terlalu sering keluar akhir-akhir ini, dan juga pulang larut malam." Protes Hayat, dengan tatapan yang terus saja menatap Asha yang bahkan sama sekali tak menggubrisnya.
"Emp, malam ini aku juga akan pulang larut. Jangan tunggu aku untuk makan malam." Imbuh Asha, setelahnya berlalu pergi. Sedangkan Hayat, hanya bisa memandang pintu yang baru saja tertutup setelah kepergian Asha.
Lagi-lagi, Hayat hanya tinggal seorang diri di dalam apartemen itu. Setelah Bar nya di tutup, Hayat hanya menghabiskan waktu didalam apartemen. Tanpa aktivitas apapun, selain tidur.
Mungkin, itu cara ia menghilangkan stres nya. Meredam pikiran kacaunya. Ketika pikiran - pikiran yang tak di inginkan berseliweran di dalam otaknya. Salah satunya, Anya!
Tentu saja, tak semudah itu ia bisa melupakan wanita itu. Apa lagi, setelah Anya menghilang bak di telan bumi. Gadis itu, tak pernah lagi menghubungi Hayat dan muncul dalam hidup Hayat.
Entah apa, yang akhirnya bisa membuat gadis itu melepaskan Hayat.
Next ✔️