
~happy reading~
"mama, aku mau mama.."
Gadis itu menangis hingga kelelahan tidak lama ia terlelap dilantai kamar papanya
...****************...
Deon melangkah tergesa menuju kamar putrinya, ia ingin melihat keadaan sang anak saat sekretarisnya memberi tahu bahwa ponselnya sedari tadi tersambung ke ponsel putrinya.
Ia ingin memastikan apakah anaknya mendengar pembicaraannya dengan sang mertua yang ternyata berkunjung ke kantornya.
*Flashback
Saat sedang mengangkat panggilan telepon, Deon melihat kearah pintu yang dibuka paksa dari luar.
Ia ingin tahu siapa yang sudah berani membuka pintunya dengan tidak sopan.
Brak
"Deon beritahu saya bagaimana keadaan cucu saya selama ini?" tanya sang mertua marah.
Dia baru tahu ternyata putri yang selama ini ia abaikan telah lama meninggal.
Ia sangat menyesal saat tahu apa yang selama ini terjadi, kini ia hanya bisa menyesal seumur hidup.
"apa yang anda lakukan dikantor saya? Kenapa membuat keributan disini?" tanya nya dengan penuh amarah.
"apa yang kamu lakukan pada Leoni sehingga dia memilih mengakhiri hidupnya?"
"kenapa baru sekarang anda peduli dengan istri saya setelah ia tiada? Apa anda baru menyadari mempunyai seorang putri yang anda buang kepada saya?" jawab Deon dengan datar.
"mengapa kamu menyuruhnya mengakhiri hidupnya Deon? Kenapa kamu tega membiarkannya pergi meninggalkan cucuku?" dengan mata merah dan wajah penuh emosi Galang nama mertuanya, bertanya dengan tidak sabar.
"cucu? Anda lucu sekali tuan Galang, kemana saja anda selama 15 tahun ini? Kenapa baru sekarang anda mengakui putriku sebagai cucumu?" Deon balik marah pada mertuanya.
"selama ini saya yang membesarkannya tanpa merasa lelah, karena bagi saya Mikhayla adalah satu-satunya yang saya punya."
"tapi dia juga cucuku, anak dari Leoni aku hanya ingin melihatnya. Jangan egois Deon!" balas kakek Galang.
"cih, sadar diri pak tua, lagi pula saya dan putri saya tidak butuh anda. Dan satu lagi jangan pernah temui putri saya karena dia belum tentu mau terima anda."
Tidak lama suara pintu diketuk oleh sekretarisnya.
"permisi pak, sebentar lagi jadwal meeting bapak." sambil menunduk sekretaris melirik kearah meja dimana ponsel Deon sedang menyala.
Kemudian ia memberitahu pada atasannya.
"maaf pak, itu ponsel bapak sedang tersambung ke nona Mikhayla."
Deg
Deon baru ingat, tadi ia sedang menerima panggilan putrinya.
Tanpa menghiraukan mertuanya, Deon berjalan tergesa-gesa meninggalkan mertuanya.
flashback off
...****************...
Deon membuka pintu kamar anaknya dengan perlahan, ia ingin memastikan apakah putrinya mendengar semuanya.
"princess"
Namun saat dibuka ternyata kamar anaknya kosong. Dengan tergesa Deon berlari mencari Mikhayla.
"huft.. Ternyata anak papa ada disini" ia menghela nafas lega saat melihat Mikhayla tertidur dilantai kamarnya.
Ia berjalan menghampiri putrinya. Dengan sayang Deon mengelus rambut putrinya, kemudian memindahkannya ke atas kasurnya.
Saat ia melihat kebawah ternyata buku harian istrinya ada bersama Mikhayla, putrinya pasti sudah membaca buku harian ibunya. Pikirnya.
"semoga kamu tidak benci papa, princess! Karena jika itu terjadi papa tidak tau akan jadi seperti apa hidup papa tanpa kamu." ucap Deon sendu, ia sangat takut putrinya akan membencinya.
"mama..hiks mama jangan tinggalin aku, aku mau ikut mama aja hiks" Mikhayla menangis tersedu dalam tidurnya sepertinya ia bermimpi buruk malam ini.
Deon yang tertidur disamping putrinya terbangun karena mendengar tangisan Mikhayala.
"hei princess bangun ini papa" Deon menepuk pipi Mikhayla berusaha membangunkan putrinya.
Namun sang putri semakin histeris seakan takut ditinggalkan seseorang. Tangannya menggapai udara seakan mencoba menahan sesuatu untuk pergi.
"mama.."
Deon yang melihat anaknya semakin panik, ia berusaha keras membangunkan Mikhayla.
Saat mata putrinya terbuka, Mikhayla menatap lurus kedepan seakan melihat sesuatu.
"Mikhayla bangun, jangan bikin papa takut!" ucap Deon, seakan tersadar sesuatu Mikhayla mengalihkan pandangannya menatap sang ayah.
"papa kenapa mama pergi? Aku mau ikut mama tapi tidak boleh. Apa aku nakal papa?" Mikhayla bertanya lirih seakan ia anak kecil yang berbuat salah.
"hei princess denger papa, maafin papa. Kamu jangan tinggalin papa ya! Sekarang hanya Mikhayla yang papa punya, jangan ikut mama. Tidak apa-apa kalau Mikhayla benci papa, tapi jangan tinggalin papa ya princess."
Deon menatap mata Mikhayla, ia menyelami hingga kedasar matanya. Namun hanya ada ke kosongan disana.
Saat itu juga Deon merasa hancur melihat putrinya kembali seperti dulu.
~**to be continued~
Jangan lupa like,share and komen ya bestii..
Thanks for reading**..