The Lost Love

The Lost Love
Menghilang ...



Perjalanan Hayat dan Alex di cegat oleh sebuah mobil. Tampaknya, Hayat mengenal mobil itu. Dan benar saja, orang yang akhirnya keluar dari mobil itu sontak membuat Alex langsung menoleh ke arah Hayat.


"Apa lagi kali ini!" Imbuh Alex yang seakan sudah memiliki feeling tak enak.


Dengan sangat terpaksa, Hayat turun dari mobil.


"Tuan, kami diminta untuk menjemput Anda." Ujar pria dengan badan kekar dan bertampang bringas itu, yang tak lain adalah anak buah Om Efendi, ketika ia dan beberapa orang lainnya sudah berdiri tepat di hadapan Hayat.


Hayat menghela nafas pelan, "Aku sedang sibuk sekarang. Katakan padanya, aku tidak bisa menghadiri pertemuan itu." Pungkas Hayat, lalu berniat berbalik untuk kembali masuk ke mobil.


Namun, yang kemudian terjadi adalah. Beberapa orang yang berbadan kekar itu membawa Hayat untuk masuk kedalam mobil mereka secara paksa. Alex, yang turun dari mobilnya pun tak bisa berbuat apa apa. Mobil itu sudah berhasil membawa Hayat pergi dari sana.


"****!" Kutuk Alex geram.


*


Asha, berulang kali melirik ke arah jam di pergelangan tangannya. Menunggu Hayat yang tak kunjung kembali.


"Kau tampak gelisah." Mia, menghampiri Asha. Lalu duduk di kursinya semula, setelah selesai menyanyikan hampir satu album lagu.


"Aku hanya bosan menunggu." Sarkas Asha, dan lagi lagi kembali melirik ke arah jam arlojinya.


"Benar, kau paling tak suka hal itu." Mia terkekeh sambil mengangguk anggukan kepalanya. Ia tahu betul, Asha paling tak suka menunggu, sejak dulu itu adalah hal yang paling di bencinya. Tapi, mengapa tadi ia menyetujuinya? Ketika Hayat memintanya untuk menunggu! Mia meraih ponselnya dan berniat menghubungi Alex untuk memastikan posisi kedua pria itu kini. Belum sempat lagi Mia menghubungi Alex, sosoknya sudah kembali.


"Panjang umur." Imbuh Mia, setelahnya kembali mematikan panggilannya.


Asha, ikut menoleh ke arah Alex yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Dimana Hayat?" Pertanyaan yang di ajukan Asha, ketika tak melihat sosok Hayat disana.


Alex, belum menjawab pertanyaan itu. Ia duduk sambil menghela nafas. Menatap silih berganti antara Asha dan Mia.


*


Hayat turun dari mobil, sedari tadi ia sudah berdengus kesal. Langkahnya, walaupun dengan terpaksa tetap saja harus ia ayunkan menuju kedua keluarga yang sudah menunggunya.


"Hayat.." Lirih Anya, dengan senyuman lebar menyambut kedatangan Hayat.


Hayat, duduk di kursi yang tampaknya memang sudah di persiapkan untuk dirinya.


"Akhirnya kau datang juga." Imbuh Om Edwin.


"Sebaiknya, kita pesan makanannya sekarang." Tante Haidar mencoba mencairkan suasana yang tampak menegangkan itu.


"Om, Tante.. Aku izin untuk bicara berdua dengan Anya." Imbuh Hayat akhirnya.


"Bicara saja disini." Pungkas Om Efendi.


"Ini privasi antara aku dan Anya." Tegas Hayat.


"Jangan terlalu lama, makanannya hampir dihidangkan." Om Edwin memberi izin.


Hayat dan Anya bangkit dari tempat duduk mereka, dan berjalan ke luar dari restauran.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Anya, yang sudah tak sabar ingin mendengar apa yang akan di katakan Hayat kali ini.


"Aku sudah menikah." Hayat, mencoba menegaskan hal itu, barang kali Anya mengangap kali itu ia hanya bercanda dengan ucapannya.


"Aku tidak perduli." Jawab Anya, walau tadinya sempat terdiam beberapa saat.


Hayat, menghela nafas kasar.


"Anya, aku mohon jangan keras kepala. Anggap saja kita memang tak berjodoh. Kau berhak bahagia, dengan orang yang tepat." Hayat, mencoba membujuk.


"Dan orang itu kau, Hayat!" Anya bersikeras.


Next >>>