The Lost Love

The Lost Love
Keputusan Yang Sulit



Hayat mengikuti langkah Asha, dan keduanya berakhir di ruang tamu.


"Seharusnya tidak perlu kembali, jika kau sudah memutuskan untuk pergi." Sarkas Asha dengan tatapan tajamnya.


"Aku tidak berniat pergi, aku hanya ingin menenangkan pikiran." Jawab Hayat, juga dengan tatapan menatap dalam netra Asha.


Hayat pergi untuk menghindari pertikaian yang hampir selalu terjadi di antara dirinya dan juga Asha. Terlebih, Asha selalu meminta agar Hayat menceraikan dirinya. Permintaan yang kerap kali keluar dari mulut Asha dan itu membuat Hayat muak.


"Ch!" Asha mengalihkan pandangannya, sudut bibirnya sedikit terangkat. Sesaat kemudian, tatapannya berubah menjadi kosong. "Jika kau berfikir, kau yang paling tersakiti didalam hubungan ini, kau salah!" Ujar Asha akhirnya.


"Aku tahu..." Jawab Hayat, lalu menunduk. "Bisa kita mulai semuanya dari awal?" Pertanyaan yang akhirnya di ajukan Hayat, setelah sempat terdiam beberapa saat.


Tepat dikalimat terakhir Hayat, suara bel berbunyi. Membuat Asha mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Asha bangkit dari duduknya, ketika bel kembali berbunyi untuk yang sekian kalinya lalu melangkah berjalan ke arah pintu. "Apa kau meninggalkan sesuatu, No...na." Kalimat Asha terbata di akhir. Ketika sosok yang berada di balik pintu tak sesuai dengan yang dia pikirkan.


"Hai.." Sapa si tamu, diiringi dengan senyumannya.


"Sya...fiq..." Asha jelas terkejut dengan kedatangan Syafiq. Hal, yang tidak terbayangkan sama sekali olehnya.


Sedangkan didalam sana, Hayat ikut bangkit dari duduknya dan mengecek siapa yang bertamu, setelah mendengar samar - samar percakapan di pintu sana.


Hayat mengernyitkan keningnya, ketika melihat sosok Syafiq. Lalu berjalan lebih dekat.


Syafiq mengalihkan pandangannya ke arah Hayat yang kini berdiri tak jauh di belakang Asha. Tatapan dan ekspresi wajahnya langsung berubah. Jelas, amarah begitu tergambar di raut wajah mantan kekasih Asha itu.


"Apa, kau tak berniat untuk mempersilahkan aku masuk, Asha." Sambil kembali mengalihkan pandangannya ke arah Asha, Syafiq bertanya dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.


"Emm.. Tentu, silahkan masuk." Asha mempersilahkan Syafiq untuk masuk sambil memberi akses agar pria itu bisa berjalan masuk kedalam apartemen.


Syafiq mengambil langkah, berjalan melewati Hayat dengan tatapan sinisnya.


Sedangkan Asha, ia masih kebingungan.


Asha menarik nafas dalam lalu menutup pintu apartemen.


Saat berbalik, tatapan Asha langsung menangkap sosok Hayat yang masih berdiri disana tak bergeming. Tatapan matanya seakan sedang bertanya pada Asha. Namun, Asha sendiripun tak dapat memberikan jawaban apapun.


Hayat meraih tangan Asha, "Apa kau masih berhubungan dengannya?" Selidik Hayat.


"Apa kau gila!" Asha menepis tangan Hayat. Lalu melanjutkan langkahnya. Berjalan menuju ruang tamu, untuk menemui Syafiq.


Asha tersenyum tipis, lalu ikut duduk di sofa. "Kau datang, karena itu?" Tanya Asha. Tatapannya teduh menatap Syafiq, betapa ia merindukan pria itu. Pria yang seharusnya menjadi suaminya kini.


"Aku ingin menawarkan bantuan." Lanjut Syafiq.


Sesaat kemudian, Hayat datang sambil meletakkan dua botol minuman kaleng di atas meja, lalu duduk tepat disamping Asha.


"Maksudmu?" Asha kembali bertanya, ia tidak mengerti, bantuan seperti apa yang dimaksud Syafiq.


"Kita lakukan koferensi pers. Katakan, kalau hubungan kita masih baik-baik saja. Kau tahu, berita-berita buruk itu juga merugikanku." Jelas Syafiq.


"Aku tidak setuju." Sahut Hayat cepat.


Syafiq mengalihkan pandangannya ke arah Hayat. "Apa aku meminta persetujuanmu?"


"Aku akan membereskan semuanya, tampa harus ada ikut campur tanganmu!" Tegas Hayat.


Sedangkan Asha, hanya terdiam. Ia sedang berfikir keras. Atas keputusan apa yang seharusnya ia ambil saat ini.


Berita-berita itu memang lebih menjurus ke arah perselingkuhannya, didalam berita itu, tertulis kalau Asha telah berselingkuh dan mengkhianati Syafiq, hingga dirinya Hamil dengan pria lain.


Didalam berita - berita yang beredar, hanya nama Asha dan Syafiq yang disebut - sebut, tak pernah tersebutkan siapa sosok pria yang menjadi selingkuhan Asha. Berita - berita itu berdampak pada pekerjaan Asha, banyak pekerjaan yang dibatalkan setelah berita tentang perselingkuhan Asha tersebut beredar.


Nama baiknya benar - benar tercoreng kini, nama baik yang telah di bangun selama hampir 12 tahun. Namun, tak ada yang bisa Asha lakukan, semua yang diberitakan benar adanya.


"Apa kau, akan biarkan semuanya hancur begitu saja? Aku tahu dengan jelas, seperti apa perjuanganmu." Syafiq kembali membujuk.


Kini, Hayat tak lagi menyahut. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Asha. Menunggu jawaban apa yang akan diberikan Asha. Karena, jawaban darinya tak akan berpengaruh pada Syafiq.


"Aku akan memikirkannya." Ucap Asha akhirnya.


Hayat mengernyitkan keningnya, setelah mendengar jawaban dari Asha. Berbeda halnya dengan Syafiq, yang sedikit tersenyum dengan jawaban Asha tersebut. Akan ada kemungkinan untuk Asha menyetujuinya.


"Baik, aku akan menunggu jawaban darimu." Imbuh Syafiq semangat.


Next >>>