The Lost Love

The Lost Love
part 5



Deon cemas dengan keadaan putrinya. saat ini tubuhnya tidak berhenti bergetar, tatapan matanya terlihat putus asa. beberapa saat kemudian seorang dokter keluar dari pintu ruang gawat darurat. dengan cepat ia berdiri menghampiri dokter itu.


"bagaimana keadaan putri saya dokter? apa keadaan baik-baik saja?" tanyanya pada dokter bernama Rey.


"saat ini keadaan anak tuan baik-baik saja, hanya saja psikisnya sedikit terganggu. lebih baik tuan segera membawa anak tuan jauh dari sini, karena masalah psikis sangat beresiko pada perkembangan mental anak tuan." jelas dokter Rey pada Deon.


"baiklah, jika itu yang terbaik saya akan membawa Mikhayla pergi dari sini." ucap Deon pada dokter Rey.


setelah menjelaskan dokter Rey pamit pada Deon, setelah mendapat jawaban ia berlalu dari hadapan Deon.


"Arin segera siapkan penerbangan ke negara A, saya akan bawa Mikhayla untuk menjalani pengobatan disana" Deon menelpon Arin untuk mempersiapkan segala keperluan untuk ia dan putrinya, mungkin ia akan menetap dinegara tersebut untuk waktu yang lama.


ia tidak ingin anaknya mengalami hal serupa kembali terulang, lebih baik membawa Mikhayla pergi jauh dari negera ini.


                                                           


...****************...


sepuluh tahun kemudian...


waktu berlalu dengan sangat cepat. tidak terasa sudah sepuluh tahun sejak kejadian itu berlalu.


Mikhayla tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, meskipun terkadang sikapnya terasa dingin namun Deon sangat menyayangi putri kecilnya.


"sayang dua hari lagi kita akan kembali ke negara kelahiranmu, papa harap kamu siap.." ucap Deon pada sang putri.


saat ini keduanya sedang melakukan makan siang dirumah, mereka terbiasa makan bersama disela kesibukan masing-masing.


Mikhayla yang mendengarnya berhenti sejenak, ia terlihat terkejut mendengar ucapan sang papa.


"iya papa." jawabnya patuh.


kemudian hanya keheningan yang tercipta diantara keduanya.


setelah percakapan terakhir diantara ayah dan anak itu, dua hari pun berlalu. Deon dan Mikhayla akhirnya tiba dibandara negara I, selama dua puluh jam diperjalanan membuat Mikhayla jetlag.


Deon yang melihat putrinya kelelahan merasa khawatir hingga menyuruhnya untuk istirahat sejenak di hotel.


"kita istirahat dihotel dulu ya princess, papa takut princess papa kelelahan." untuk kesekian kalinya Deon menyarankan menginap namun anaknya kekeh dengan menolak ucapan sang papa.


"aku tidak apa-apa,papa. rumah kita juga tidak terlalu jauh aku masih sanggup. lagi pula aku bisa tidur dimobil."


"tapi tetap saja kamu akan kelelahan" Deon tetap kekeh menawarkan putrinya menginap.


"yang harus dikhawatirkan itu papa, papa terlihat sangat lelah. aku masih muda dan kuat. sedangkan papa sudah tua. apa papa saja yang menginap ya?" jawaban yang keluar dari mulut putrinya membuatnya melotot, enak saja sudah tua, dia masih muda tau. usianya saja baru 38 tahun.


dengan gemas ia menyentil dahi putrinya, dihadiahi dengan tatapan menggemaskan putrinya.


"aduh papa sakit, nanti kalau aku jadi bodoh karena disentil papa bagaimana?" Mikhayla memanyunkan bibirkan, membuatnya terlihat sangat menggemaskan.


mendengar ucapan sang anak membuat Deon terkekeh pelan, sejak kapan dsentil dahinya membuatnya jadi bodoh.


"mana ada jadi bodoh, yang ada makin gemas lihat wajah imut anak papa" mencubit pipi Mikhayla, Deon tertawa pelan.


tiga puluh menit kemudian mereka tiba dirumah masa kecil Mikhayla, meskipun sudah sepuluh tahun berlalu rumah itu terlihat sama ketika mereka meninggalkan negara I.


Dengan disambut pelayan, keduanya berjalan melewati pintu utama.


"selamat datang kembali tuan Deon, nona Ila." pelayan menunduk menyambut kedua majikannya. mereka senang akhirnya tuan besar dan nona muda mereka kembali.


"terima kasih telah menyambut kami, saya dan Mikhayla akan langsung istirahat kalian lanjutkan pekerjaan kalian." ucap Deon pada para pelayannya.


"oh jangan lupa bawa koper saya kekamar." tidak lupa memerintakan pelayan untuk membawa koper mereka.


saat mereka tiba dikamar Mikhayla, ayah dan anak itu langsung merebahkan badan keatas kasur, keduanya tertidur lelap karena terlalu lelah hingga tidak memperdulikan tubuh yang belum dibersihkan.


keesokan harinya..


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Deon yang mendengarnya akhirnya bangun dan berjalan kearah pintu.


"tuan sudah pagi, apakah tuan masih mau istirahat atau langsung pergi kekantor?" tanya pelayan yang bernama Ana terdengar ditelinganya.


" saya masih mau istirahat, kamu siapakan sarapan untuk saya dan Mikhayla. Saya akan membangunkannya terlebih dahulu."


setelah pelayan itu meninggalkan Deon, ia berbalik menuju ranjang sang anak dan membangunkannya.


"sayang bangun sudah pagi, kamu belum makan dari semalam"


Mikhayla yang masih tertidur merasa ada yang mengusap pipinya, ia langsung membuka kelopak matanya.


"em, iya papa. Aku mau mandi dulu" dengan cepat ia melangkahkan kakinya kearah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"dasar Mikhayla sudah besar kenapa tingkahnya masih membuatku gemas. Apa aku kurung saja ya agar ia terus disampingku?" pikiran gila merasuki Deon. namun dengan cepat ia tepis.


"tidak. Aku ingin putriku merasakan masa remaja, setelah sekian lama akhirnya aku bisa melihatnya tersenyum lagi"


berdiri dari tempat duduknya, Deon melangkahkan kaki menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


setelah mereka siap akhirnya sarapan dengan suasana hening. Karena masih belum ada kegiatan, setelah sarapan keduanya duduk diruang keluarga.


"princess kamu sudah papa daftarkan disekolah Athnena High School, papa harap kamu suka dengan pilihan papa." ucap Deon pada Mikhayla.


"iya pa, aku suka apa yang pilih. Aku harap sekolahnya menyenangkan." Mikhayla tidak membantah perkataan papanya, ia bahagia asal papanya juga bahagia.


"kamu memang anak kebanggaan papa, papa sayang kamu Mikhayla." memeluk putrinya dari samping, Deon senang karena putrinya tidak pernah membantahnya.


Keduanya pun larut dalam serial yang ditayangkan salah satu stasiun televisi.


"pa, aku mau ke kamar dulu. Papa istirahat ya!" Mikhayla pamit pada papanya, setelah mengecup pipi sang papa ia berlalu meninggalkan Deon.


"anak kita sudah besar Leoni, aku harap bisa terus bersamanya sampai tua. Dan aku juga berharap dia tidak tau hal itu." setelah puas menatap punggung yang menghilang dibalik pintu, Deon bangkit menuju kamarnya. Ia akan merebahkan diri disana.


... -to be continued-...