The Lost Love

The Lost Love
Mood Yang Berantakan



Wanita dengan pakaian super sexy itu, berlenggang keluar dari kamar hotel, dengan senyuman yang merekah di bibirnya. Tampaknya, bayarannya kali ini cukup memuaskannya.


Selepas kepergian wanita itu, Syafiq, merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menghela nafas dalam, rasa sakit masih menggrogoti hatinya. "Asha, aku merindukanmu!" Lirih Syafiq setelahnya.


Sudah lama Syafiq memendam rasa rindunya, keinginannya untuk menemui Asha begitu menyiksanya selama ini. Namun, lagi dan lagi... Apa yang dilakukan Asha membuat Syafiq enggan untuk memaafkannya.


"S****" Syafiq bangkit dari tidurnya\, berjalan menuju kamar mandi\, dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Berharap itu bisa mengembalikan kesadarannya.


*


Sedangkan Asha, kini sedang duduk tepat didepan Anya. Ya, gadis itu menghubungi Asha, dan memintanya untuk bertemu.


Anya harus mencari cara lain agar Hayat bisa kembali menjadi miliknya, sekalipun itu harus memohon pada Asha sekali pun.


"Aku minta maaf." Lirih Asha, sembari menunduk. Rasanya ia tak memiliki keberanian untuk mendongakkan wajahnya, menghadap ke arah Anya gadis yang kekasihnya telah direbut tampa sengaja oleh Asha.


"Kau pikir, cukup hanya dengan kata maaf?" Anya menyeringai sinis. Menatap tajam ke arah gadis yang begitu lancang merebut Hayat darinya. Rasanya ia ingin mencabik cabik wanita yang kini sedang duduk dihadapannya itu.


"Tidak, sama sekali tidak cukup. Aku tahu itu!" Asha mulai memberanikan diri untuk menatap Anya. Dapat dilihat dengan jelas, betapa marahnya Anya.


"Ceraikan Hayat, itu yang seharusnya kau lakukan." Pungkas Anya kemudian, ia tak ingin berbasa basi. Membuat percakapan itu semakin panjang.


Asha terdiam, tak ada jawaban. Seaat kemudian, ia menurunkan tatapannya. "Aku tidak bisa melakukan itu." Jawab Asha setelah beberapa saat.


Anya dibuat semakin marah dengan jawaban Asha. "Berapa yang kau inginkan? Aku akan berikan apapun agar kau mau melepaskan Hayat. Kau dan dia, sama sekali tidak ditakdirkan bersama. Jangan jadikan bayi itu sebagai perusak kehidupan orang lain." Imbuh Anya, lengkap dengan amarahnya.


Kalimat itu berhasil membuat bola mata Asha membulat sempurna, kedua netra Asha kembali menatap dalam netra Anya. Namun, bibirnya kelu untuk bersuara.


"Bukankah kau hanya ingin menjebaknya, lalu jadikan kehamilanmu sebagai alasan untuk menikah dengan Hayat. Aku sudah begitu paham dengan wanita wanita picik seperti kamu. Apa uang yang diberikan tunanganmu itu tak cukup, sehingga membuatmu mencari mangsa lain yang lebih darinya?" Anya masih belum puas melampiaskan amarahnya. Kini ia sedang begitu bergebu-gebu memaki Asha.


Asha terkekeh pelan, lalu mengalihkan pandangannya. Harga dirinya sedang di injak-injak kini.


"Sedang apa kalian disini?" Suara itu membuat Anya menoleh dengan cepat, namun berbeda hal nya dengan Asha. Alih alih menoleh ke arah sumber suara, Asha justru meraih tasnya dikursi samping dan memilih pergi dari sana.


"Asha.."


"Hayat.." Anya langsung menahan Hayat agar tak mengejar Asha.


"Kau yang mengajaknya untuk bertemu?" Selidik Hayat.


"A-aku hanya.."


"Kau tak perlu sejauh ini Anya, kau tahu, aku paling tidak suka kau berbuat begini." Sela Hayat.


"Lalu menurutmu, aku harus diam saja. Dan merelakan hubungan kita berakhir begitu saja? Tidak Hayat, aku tidak akan pernah membiarkan hubungan kita berakhir, terlebih hanya karena wanita itu!" Pekik Anya. Air matanya mengalir, pertengkaran itu cukup menarik perhatian beberapa orang yang berada disana.


"Sebaiknya kau pulang sekarang, tenangkan dirimu." Bujuk Hayat. Sambil menyodorkan tas milik Anya yang baru diraihnya dari kursi tempat Anya duduk. Bukan tampa sebab Hayat memita Anya untuk buru-buru pulang, karena dari dinding kaca tempat itu, Hayat melihat sosok yang akan ia temui sudah sampai disana.


*


"Kau dimana? Pemotretannya sudah hampir dimulai." Mia tampak gelisah, setelah berulang kali gagal menghubungi Asha, akhirnya kini ia berhasil juga membuat Asha menerima panggilannya yang entah sudah ke berapa kali.


"Aku sedang menuju kesana." Jawab Asha, setelahnya langsung mematikan panggilan itu. Tatapannya kosong, ia masih memikirkan perkataan Anya tadi. Itu cukup mengganggunya. Haruskah ia menuruti kemauan Anya?


"Mengapa kau lama sekali? Apa terjadi sesuatu?" Selidik Mia, memastikan jika Asha baik baik saja kini.


"Aku menemui kekasih Hayat tadi." Jawab Asha, lalu bangkit dari duduknya. Make up nya sudah selesai.


"Apa! Untuk apa?" Mia mengikuti langkah Anya, sambil memapah gaun Asha yang menjuntai ke lantai.


"Nanti aku ceritakan," Bisik Asha.


Pemotretan dimulai, Asha harus mengkesampingkan segala perasaan pribadinya yang sedang mengaduk-aduk emosinya. Dan bersikap profesional di depan kamera.


*


Pulang ke apartemen hampir larut malam, Hayat justru kesulitan menemukan Asha disana. Ia sudah mencari ke berbagai ruangan namun Asha tetap tak ada.


Hayat dengan cepat langsung merogoh ponsel dari dalam saku celananya, dan menghubungi Asha.


"Apa dia marah?" Gumam Hayat, ketika panggilannya berulang kali di reject dengan sengaja oleh Asha.


Sekali lagi, Hayat mencoba menghubungi Asha. Namun, tetap saja tak berhasil membuat Asha menerima panggilan itu.


"Kenapa tak mengangkat panggilannya, dia pasti khawatir." Imbuh Mia, yang sedari tadi hanya memperhatikan Asha yang dengan kesal sengaja menolak panggilan Hayat.


Keduanya kini sedang berada dikediaman Mia, Asha merasa enggan untuk pulang dan bertemu dengan Hayat.


"Bukan Hayat yang bersalah, dia bahkan tak tahu apa apa, 'kan." Lanjut Mia, "Jangan lampiaskan amarahmu padanya." Mia mencoba membujuk, dan semoga saja itu berhasil.


Tatapan kedua wanita itu beralih ke layar ponsel Mia yang sedang tergeletak di atas meja, ada panggilan masuk dari Hayat.


Asha langsung menghela nafas kasar. Baru saja hendak meraih ponsel Mia untuk menolak panggilan itu. Mia sudah terlebih dulu meraihnya dan menerima panggilan dari Hayat.


"Asha sedang dirumahku sekarang." Jawab Mia, "Emp, baiklah." Lanjut Mia, setelahnya mematikan panggilan itu.


Sedangkan Asha, sedang menatap Mia dengan tajam kini. "Kenapa kau lakukan itu." Rengek Asha, mengajukan protes pada Mia atas apa yang baru saja dilakukannya.


"Asha.. Kau sudah dewasa sekarang, bahkan sebentar lagi akan menjadi ibu. Jangan terus menghindari masalah. Kau harus menghadapinya agar masalah itu cepat terselesaikan." Ujar Mia.


Asha hanya terdiam, lalu menelan salivanya. Tak ada lagi protes, ia hanya bersandar disandaran sofa sambil menghela nafas kasar.


Setelah beberapa saat, bel berbunyi. Tandanya Hayat sudah sampai. Tak perlu menempuh perjalanan yang jauh, karena apartemen mereka hanya bersebelahan jalan.


Mia bangkit dari duduknya. "Utarakan saja semuanya pada Hayat, jangan sembunyikan apapun dari pasanganmu." Ujar Mia, setelahnya berlenggang menuju pintu.


Hayat masuk setelah di persilahkan oleh Mia, "Moodnya sedang berantakan." Ungkap Mia pada Hayat, setelahnya memilih untuk masuk kedalam kamar. Memberi ruang untuk Asha dan Hayat mengobrol di ruang tengah.


Hayat berjalan menuju ruang tengah, mendapati Asha yang sedang pura pura sibuk dengan ponselnya.


"Kau datang untuk mewakili kekasihmu minta maaf?" Imbuh Asha menyambut kedatangan Hayat.


Next >>>