The Lost Love

The Lost Love
part 4



setelah mengantar Mikhayla Deon bergegas menuju kantornya, ia akan menyelesaikan semua pekerjaan yang belum selesai dikerjakannya. Deon berencana mengajak putrinya berlibur.


"Arin saya akan pergi selama seminggu, kamu kosongkan jadwal saya untuk seminggu kedepan." perintahnya pada sekretarisnya.


"baik pak".


"satu lagi jangan ganggu selama saya pergi"


sekretaris Arin mengangguk dan membungkuk, lalu meninggalkan ruangan atasannya.


sedangkan Deon melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Saat jam makan siang Arin mengetuk pintu ruangan atasannya, setelah dipersilahkan masuk ia mengingatkan sudah waktunya istirahat.


"pak sudah jam makan siang, bapak ingin dipesankan makan siang?"


" tidak usah Rin, saya akan menjemput Mikhayla dan makan luar. hubungi saya jika ada urusan mendesak." sambil merapikan berkas diatas meja, kemudian mengambil kunci mobil dan bergegas menjemput putrinya.


"baik pak".


dengan langkah tergesa-gesa Deon menuju basement tempat ia memarkirkan mobil dan mengendarainya. perasaannya sungguh tidak tenang sejak tadi.


Sesampainya di sekolah Mikhayla, Deon melihat kerumunan didepan pintu masuk. Dengan cepat ia menghampiri kerumunan melihat apa yang sedang terjadi disana.


Alangkah terkejutnya saat melihat putrinya terduduk ditanah dengan tatapan mata kosongnya. Matanya melebar dengan jantung berdegup kencang.


"apa yang kalian lakukan pada putriku" ia berteriak marah pada orang-orang itu.


"aku bukan orang gila, kalian jahat." Mikhayla terus bergumam pelan.


"princess ini papa sayang, sadar nak. Mikhayla kenapa?"


"aku punya mama, mama sayang aku. Kalian jahat." gumaman itu terus terucap dari bibir gadis kecilnya.


"papa mereka jahat, aku mau ketemu mama" kata itu kembali keluar dari mulut Mikhayla.


Deon memeluk erat putri kecilnya, memberikan kehangatan pada tubuh putri kecilnya.


"sayang dengar papa, Mikhayla kuat. Sadar princess kamu menyakiti hati papa" perlahan air mata mengalir dari kedua sudut mata Deon. pria itu sangat terpukul melihat keadaan anaknya.


"cari tahu apa yang terjadi pada putriku, secepatnya Leo" memerintahkan kaki tangan tersembunyinya. meninggalkan kerumunan orang yang bergetar karena menyinggung seorang pengusaha sukses di seluruh negeri.


"bagaimana ini, tamatlah kita. Aku hanya menuruti perintahmu saja. kamu harus bertanggung jawab" tunjuk salah satu orang dikerumunan pada seorang wanita yang berpenampilan mewah.


"aku tidak pernah mengatakan apapun padamu, kenapa juga kamu menghina seorang anak kecil di tempat umum. Apakah kamu tidak punya pikiran?" dengan nada sinis.


"kamu-" dengan wajah menahan amarah wanita itu sampai tidak bisa berkata-kata.


Siapa tadi yang menghina gadis kecil itu? Ia hanya ikut-ikutan memberi pelajaran pada gadis kecil tadi. Siapa yang tau ternyata ayahnya adalah seorang pengusaha sukses negeri ini.


...----------------...


Sedangkan diperjalanan Deon terus memeluk tubuh Mikhayla erat. sebelum membawa putrinya ia menghubungi salah satu pengawal yang berada tidak jauh darinya untuk mengendarai mobilnya.


Deon hanya takut ia tidak terkendali dalam berkendara yang akan menyebabkan keduanya celaka.


Tidak merasakan pergerakan, Deon menunduk kearah Mikhayla. Ia panik saat melihat putrinya pingsan dalam pelukannya.


"bisa cepat membawa mobilnya? Putriku sudah tidak sadarkan diri sekarang" Deon berteriak pada bawahannya membuat anak buahnya terkejut.


"ini sudah kecepatan maksimal tuan, saya takut kita bisa celaka nanti". bawahannya berusaha tetap tenang walaupun hatinya bergetar.


"aku tidak peduli,kita harus sampai secepatnya aku tidak ingin sesuatu terjadi pada putriku" dengan nada bergetar Deon tidak henti berdoa dalam hati agar putrinya baik-baik saja.


beberapa saat kemudian mobilnya memasuki rumah sakit.


Tanpa menunggu waktu lama seorang perawat menghampirinya dengan sebuah brankar didepannya.


dengan cepat ia meletakkan tubuh Mikhayla diatas brankar tersebut.


Secepat kilat perawat tersebut membawa tubuh Mikhayla kearah ruang gawat darurat. Sedangkan Deon terus berada disisi putrinya.


"papa mohon bertahan princess"


-to be continued-