The Lost Love

The Lost Love
Tak Bersalah



Kini, sosok Asha kembali terpampang di berbagai majalah.


Kembalinya Asha kedunia entertain menghebohkan publik, termasuk Syafiq.


Syafiq tersenyum geram memandangi foto Asha yang sedang berpose mengenakan piyama sutra dan terlampau seksi. "Apa kau sebegitu kekurangan uang, Asha!" Geram Syafiq.


Jelas bukan hanya itu saja yang membuat Syafiq geram, juga tentang berita - berita simpang siur yang di tujukan pada Asha. Banyak gosip buruk tentangnya yang membuat Syafiq panas membacanya.


*


"Apa kau tak berniat, mengklarifikasi semuanya?" Tanya Mia, menghampiri Asha yang sedang termenung di balkon apartemen, sambil menyodorkan segelas jus untuk Asha.


Asha menerima jus alpukat pemberian Mia, lalu meneguknya sebelum memberi jawaban untuk pertanyaan Mia barusan. "Tidak, biarkan saja. Mereka akan berhenti jika sudah bosan." Sahut Asha, walaupun ia tampak tak begitu perduli dengan gosip itu, tapi tetap saja nyatanya ia cukup terganggu dengan berita -berita tersebut.


"Apa Hayat tahu?" Mia terus saja menatap Asha, sebenarnya ia juga merasa tidak enak. Kembalinya Asha ke dua entertain sepenuhnya karena dirinya.


"Entahlah, sepertinya tidak." Asha menoleh sekilas ke arah Mia, "Ch!" Asha terkekeh pelan, lalu kembali menatap ke arah depan. "Jangan menatapku dengan tatapan iba itu." Ujar Asha, setelahnya kembali meneguk jus yang masih di genggamnya, setelahnya menghela nafas dalam.


"Apa kau benar baik - baik saja?" Mia memastikan sekali lagi.


"Tentu saja! Aku akan baik - baik saja." Jawab Asha lugas, dan tak lupa menunjukkan senyuman terbaiknya.


Sedangkan kini, ia harus terkurung didalam apartemen karena diluar sana, para wartawan sedang mengejar-ngejar dirinya untuk meminta klarifikasi atas berita - berita tersebut.


Sedangkan Hayat, entah kemana perginya. Sudah satu minggu ia tak pulang ke apartemen.


Saat Asha kembali dari pemotretan, Hayat sudah tak berada lagi di apartemen, pergi tampa pesan atau panggilan telpon.


Awalnya, Asha berniat ingin menghubunginya, namun kemudian ia mengurungkan niatnya itu. Dan membiarkan Hayat pergi. Kalaupun Hayat pada akhirnya kembali pada Anya, Asha akan merelakannya.


*


"Tampaknya, kau sudah harus kembali ke apartemen Asha." Ujar Alex, yang sengaja datang untuk menemui Hayat di hotel tempat Hayat menginap selama satu minggu ini.


Tak ada jawaban, Hayat hanya menyeringai tipis. Kemudian melanjutkan permainannya di play station.


"Apa kau tahu tentang ini?" Alex, langsung menunjukkan berita tentang Asha, jika tak begitu, tampaknya Hayat tak akan menggubris ucapannya barusan.


Setelahnya, Hayat langsung bangkit dari duduknya, meraih jeket dan kunci mobil, lalu bergegas kembali ke apartemen. Meninggalkan alex disana seorang diri.


"Huftt .." Alex menghela nafas dalam, sambil terus menatap punggung Hayat yang sedang bergegas pergi dari ruangan itu.


Dalam perjalan menuju apartemen, Hayat kembali memlihat berita - berita tentang Asha. Dan komentar - komentar para natizen yang sungguh sangat kejam. Membuat Hayat semakin geram dan juga ikut sakit hati, sekaligus merasa bersalah. Sebagai seorang suami, ia bisa - bisanya justru bersikap egois dan merasa paling tersakiti. Membiarkan Asha menanggung semuanya seorang diri.


Hayat melempar ponselnya ke jok samping dan menginjak pedal gas lebih dalam.


Sesampainya di apartemen, bisa langsung dilihat para wartawan yang sudah memenuhi halaman apartemen. Namun, karena sistem penjagaan apartemen itu yang sangat ketat membuat mereka tak bisa masuk. Mereka hanya bisa menunggu di luar apartemen dan berharap bisa mendapatkan berita sesuai dengan keinginan mereka.


Mobil Hayat melewati para wartawan, menuju basement. Setelah memarkirkan mobilnya, Hayat langsung kembali bergegas menuju apartemen.


Ting...


Pintu lift terbuka, namun langkah Hayat terhenti ketika akan melangkah.


"Hayat..." Ujar Mia, yang pada saat itu berada tepat di depan lift dan hendak masuk kedalam sana setelah pintu lift itu terbuka.


Alih - alih menjawab sapaan Mia, tatapan Hayat justru tak dapat beralih dari sosok Asha yang sedang berdiri disamping Mia.


"Ehemm.." Mia berdehem, untuk memecahkan keheningan. Setelahnya mengambil langkah masuk kedalam lift. Pun begitu dengan Hayat, yang kemudian ikut mengambil langkah, dan keluar dari lift. "Bye.." Mia melambaikan tangannya ke arah Asha.


"Bye.." Balas Asha, ikut melambaikan tangan ke arah Mia.


Pintu lift kembali tertutup.


"Maaf.." Ucap Hayat akhirnya.


"Untuk apa?" Tanya Asha, karena benar - benar tidak mengerti, kata maaf itu ditujukan untuk apa.


"Untuk semuanya."


"Kau tidak bersalah, jadi tidak perlu minta maaf." Asha berlenggang masuk ke dalam apartemen.


Next >>>