
"Usia kehamilannya sudah 8 minggu." Imbuh Dokter kandungan yang sedang memeriksa Asha.
Syafiq, tersenyum smirk. Antara percaya dan tidak percaya bahwa Asha benar benar hamil.
Asha menelan salivanya, keraguannya terjawab. Ia benar benar hamil. Keputusannya dan Hayat untuk menikah entah hal yang benar atau tidak. Asha bangun dari ranjang pasien, setelah di USG. Ia kembali berjalan ke arah meja kerja sang Dokter, lalu duduk kembali di samping Syafiq. Pun begitu juga dengan Dokter, yang kembali duduk di balik meja kerjanya.
Dokter tersebut menulis catatan di selembar kertas, "Apa ini anak pertama kalian?" Tanya Dokter itu tanpa menoleh. Namun, justru tak ada jawaban dari keduanya.
"Bagaimana jika, kandungannya di aborsi." Imbuh Syafiq akhirnya. Membuat tangan Dokter wanita itu berhenti menulis.
"Syafiq.." Lirih Asha pelan. Tentu saja ia tak sependapat dengan Syafiq.
Dokter itu perlahan mendongakkan wajahnya ke arah Asha. Memperhatikan dengan jelas mata Asha yang sembab karena menangis. Setelahnya, Dokter itu mengalihkan pandangannya ke arah Syafiq.
"Itu ilegal, dan kami tidak bisa melakukannya." Jawab Dokter tersebut tegas.
Syafiq, mengeratkan giginya.
"Baik, terimakasih." Ujar Syafiq dengan ekspresi marah, lalu menarik pergelangan Asha dan membawanya keluar dari ruangan Dokter Kandungan itu tanpa permisi.
Syafiq kembali membawa Asha masuk kedalam mobil.
"Aku tidak akan menggugurkan bayi ini." Asha, memberanikan diri untuk membatah keinginan Syafiq.
Syafiq memukul stir mobil dengan keras saking marahnya, membuat Asha terperanjat kaget.
*
"Dimana Hayat?" Tanya Mia pada Alex, ia langsung bergegas ke bar setelah tau Asha keluar bersama Hayat, dari Alex.
"Di mess." Ujar Alex, lalu meraih lengan Mia. "Dia sedang ingin menyediri." Lanjut Alex.
"Aku tidak perduli," Mia melepaskan genggaman Alex. Lalu berjalan menuju mess, Mia ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mia masih belum bisa menghubungi Asha hingga sekarang padahal itu sudah hampir tengah malam. Dan tidak biasanya Asha seperti itu.
Mia langsung masuk kedalam mess yang pintunya tak tekunci, mendapati Hayat dengan sebotol vodka ditangannya. Tampaknya, ia sedang mabuk sekarang.
"Dimana Asha?" Tanya Mia.
Hayat, menarik nafas dalam. Ketika nama itu disebut. "Bukankah dia di apartemennya." Jawab Hayat datar.
"Dia tidak ada di apartemennya dan ponselnya tidak aktif. Bukankah tadi sore Asha bersamamu!" Ujar Mia, yang sedang berdiri di hadapan Hayat.
Hayat meletakkan botol Vodka di atas meja, lalu duduk bersandar dengan tatapan kosong menatap kebawah.
"Iya, kami hanya keluar sebentar dan setelah itu berpisah." Jawab Hayat, lagi lagi dengan nada datarnya.
"Memangnya kemana perginya kalian tadi? Mengapa tiba tiba Asha menjadi sangat sulit untuk dihubungi." Mia penasaran, apa yang sebenarnya terjadi.
"Kami," Ucap Hayat menggantung. "Pergi mendaftarkan pernikahan." Lanjut Hayat.
"Pernikahan? Pernikahan siapa?" Tanya Mia dengan kening berkerut, penyataan Hayat terasa ambigu baginya.
"Aku dan Asha!"
"A-apa? Kau.. dan Asha?" Mia terbata. "Menikah?" Lanjut Mia shock.
Tak lagi menjawab, Hayat mengeluarkan buku nikahnya dari saku jaketnya. Lalu menunjukkannya pada Mia. Mia langsung meraih buku itu dengan cepat dan memeriksa dengan pasti. Dan benar saja, ia langsung menganga tak percaya.
"Ke-kenapa ini bisa terjadi?" Masih dalam ke adaan syock nya. Mia lagi lagi terbata.
"Asha hamil,"
"What!" Mia langsung menoleh ke arah Hayat dengan cepat.
Hayat tak lagi menjawab, ia meraih botol Vodka, lalu meneguknya sampai habis.
*
Hari yang panjang dan melelahkan, Asha kembali ke apartemen setelah bertikai hebat dengan Syafiq.
Terduduk seorang diri dikamarnya, dengan pandangan kosong dan pikiran melayang. Andai saja punya keberanian, mungkin saja Asha sudah mengakhiri hidupnya detik itu juga.
Asha berbaring, menarik selimut. Menekuk tubuhnya, lalu terlelap dalam isakan tangisnya.
*
Grtttt ...
Mia yang masih berada di Bar, dikagetkan dengan panggilan telpon dari Syafiq. Ia hanya menatap gelisah ke arah layar ponselnya.
"Siapa?" Tanya Alex, ketika melihat Mia tak kunjung menerima panggilan itu.
Mia mengarahkan layar ponselnya ke arah Alex.
"Angkat saja, mungkin ia sedang bersama Asha sekarang." Ujar Alex, yang akhirnya membuat Mia menerima panggilan itu setelah panggilan keempat kalinya dari Syafiq.
"Hallo.." Jawab Mia.
"Kau tau, Asha hamil." Imbuh Syafiq.
"Jadi kau juga sudah tau tentang itu." Mia menarik nafas, ia punya perasaan buruk tentang ini. Apa lagi di dengar dari nadanya, Syafiq sangat marah.
"Kau dimana?" Pertanyaan yang justru membuat Mia mengernyitkan keningnya.
"Di bar Alex" Jawab Mia, dan setelah itu Syafiq mengakhiri panggilan itu.
Syafiq, langsung bergegas, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju bar Alex. Syafiq tak lagi memperdulikan rambu rambu lalu lintas, ia menerobos lampu merah bahkan hampir tertabrak. Namun ia tetap tak perduli dan menginjak pedal gas lebih dalam. Rasanya ingin cepat cepat menemui Mia dan mencari tau siapa lelaki yang berani sekali menyentuh Asha.
Dan sesuai dugaan Mia, saat Syafiq menghampirinya di bar. Pertanyaan pertama yang diajukan Syafiq adalah.. "Siapa yang menghamili Asha?"
Mia berfikir sesaat, jika Syafiq tau Asha hamil, berarti ia mengetahuinya langsung dari Asha. Dan jika Syafiq kini bertanya padanya tentang siapa pria itu, berarti Asha memilih merahasiakannya.
"Aku juga tidak tau," Jawab Mia akhirnya.
"Jangan berbohong, Mia. Kau pasti tau." Sarkas Syafiq dengan wajah merah padam.
"Aku benar benar tidak tau, sungguh!" Mia masih berdalih.
Sedangkan Alex, yang duduk di meja berbeda dengan mereka hanya bisa memperhatikan. Sedangkan bar sudah sepi, tak ada lagi pengunjung karena itu sudah jam nya bar tutup.
Diruangan itu, hanya ada mereka bertiga. Mia, Syafiq dan Alex.
Syafiq tak menyerah begitu saja, ia terus saja memaksa agar Mia berkata jujur. Hinga....
"Aku orangnya." Suara itu langsung membuat Syafiq mengalihkan pandangannya.
"Kau!" Imbuh Syafiq dengan kening berkerut.
Sedangkan Alex, hanya dapat mengusap kasar wajahnya dan menarik nafas dalam.
Syafiq bangkit dari duduknya, "Jadi kau orangnya!" Ia terkekeh, sambil berjalan ke arah Hayat. Ia seakan tak percaya, Hayat, bahkan pria yang sama sekali tak terfikirkan oleh Syafiq. Seketika, pukulan melayang diwajah tampan Hayat, hingga membuat sudut bibirnya berdarah. Rasanya masih belum puas, Syafiq kembali menghajar Hayat dengan penuh amarah. Ia meluapkan rasa sakit hatinya karena Hayat berani sekali menyentuh wanitanya, bagaimana tidak, Syafiq bahkan menjaga Asha bak ratu. Ia tak berani meminta lebih dari sekedar pelukan dan ciuman. Syafiq sangat menjaga kehormatan Asha.
Hayat, hanya menerima pukulan demi pukulan tanpa melawan. Mia dan Alex langsung berdiri dari duduknya, dan melerai.
Next ✔️