The Lost Love

The Lost Love
Kesepakatan Menikah part II



Grrttt ....


 Asha, yang sedang menonton film kesukaannya diruang tengah mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya yang tiba tiba berdering. Asha meletakkan toples cemilannya di atas meja, lalu beralih meraih ponselnya.


"Iya, Mi." Jawab Asha, saat menerima panggilan tersebut, yang ternyata dari Mia.


"Kau sedang sibuk? Aku ingin curhat." Ujar Mia, dengan suara seraknya.


"Kau menangis? Apa ada masalah?" Asha langsung mematikan TV dan bangkit dari duduknya menuju kamarnya. Ia berniat untuk ganti pakaian dan menemui Mia. "Kau dimana sekarang?" Lanjut Asha.


"Di Bar Alex. Kau akan kesini?" Tanya Mia.


"Emp, tunggu sebentar. Aku tidak akan lama."  Imbuh Asha, setelahnya mematikan panggilan itu dan bergegas menuju Bar Alex.


"Ada apa dengannya?" Tampaknya, Hayat penasaran saat melihat Mia menangis seorang diri. Sedangkan Alex, hanya menatapnya dari kejauhan.


Alex menaikkan bahunya, "Entahlah, Mia tidak mau memberitahuku. Dan memintaku untuk meninggalkannya seorang diri." Ujar Alex, yang tampak bingung.


Hayat mengernyitkan keningnya. Lalu, melanjutkan pekerjaannya.


Tak berapa lama, Asha datang dan langsung menghampiri Mia.


"Aku harus bagaimana?" Imbuh Mia, bertanya pendapat Asha.


Masalahnya, model yang sudah tanda tangan kontrak dengan perusahaan Mia untuk pemotretan iklan membatalkan kontraknya. Sedangkan tim, tidak mau tahu. Mereka sudah menyerahkan tugas itu pada Mia, terserah apa yang mau dilakukan Mia, yang penting besok di saat pemotretan sudah harus ada model dilokasi.


"Aku sudah menghubungi beberapa Model, tapi jadwal mereka penuh dan tidak ada yang bisa untuk pemotretan besok." Lanjut Mia. Ia tampak sangat bingung, sedangkan persiapan untuk pemotretan sudah beres semuanya.


"Bagaimana, jika aku saja yang melakukannya." Imbuh Asha akhirnya.


Mia langsung terbelalak. "Kau!" Imbuhnya menggantung. "Kau yakin? Sungguh?" Mia memastikan. Karena, Asha sudah memilih vakum dari dunia itu, bahkan Asha juga menolak beberapa penawaran besar dan menggiurkan. Ia sudah berjanji untuk benar benar berhenti.


"Emp.. Aku sungguh sungguh." Asha mengangguk, sambil menunjukkan senyuman terbaiknya. Ya, akhirnya ia kembali mengkhianati Syafiq, mengkhianati janjinya dengan Syafiq. Saat itu, Asha berjanji untuk tidak lagi terjun kedunia itu. Syafiq, melarangnya karena takut berita berita yang dikeluarkan oleh media nantinya akan berpengaruh pada bisnisnya.


Maka dari itu, Syafiq menarik Asha dari mata dunia. Membuat ia perlahan dilupakan oleh media media.


Kini, Mia kembali bisa tersenyum sumbringah. "Aku akan mentraktirmu, makanlah sepuasnya." Ujar Mia semangat, lalu terkekeh.


Alex, yang masih memperhatikan, ikut tersenyum ketika melihat Mia sudah kembali ceria kini. Namun, sesaat kemudian. Tatapannya tertuju ke arah seseorang yang baru saja masuk ke dalam Bar.


"Hayat.." Panggil Alex, meminta Hayat melihat ke arah pria yang kini sedang berjalan ke arah mereka.


Ekspresi Hayat, langsung kesal ketika melihat pria kerjaannya selalu saja merusak mood Hayat.


"Untuk apa, datang kesini?" Tanya Alex, ketika Reza sudah duduk disampingnya dan tepat didepan Hayat. Alex, tahu betul hubungan antara Hayat dan Reza seperti apa. Reza selalu menjadikan Hayat sebagai target saingannya.


"Untuk mencari adikku, dan membawanya pulang." Imbuh Reza, dengan senyuman sinisnya dan menatap Hayat penuh arti.


Hayat membalas senyuman itu dengan tak kalah sinis. "Aku rasa, itu percuma dan tidak akan pernah berhasil." Balas Hayat.


"Sungguh!" Sarkas Reza, lalu terkekeh. "Kita lihat saja." Sambungnya.


"Hayat.." Imbuh Asha, yang tiba tiba saja muncul. "Buatkan aku minum." Lanjut Asha, lalu duduk di kursi yang berada disamping Reza, menunggu minumannya siap.


"Emp!" Jawab Hayat, lalu menyiapkan minuman untuk Asha.


Reza, menoleh sekilas ke arah Asha, lalu kembali menoleh ke arah Hayat. Mengapa Hayat tahu minuman yang dipesan Asha, padahal Asha tak memberitahu minuman apa yang dia pesan.


"Iya, dia baik baik saja sekarang." Sahut Asha, diiringin dengan anggukan kepalanya.


"Aku akan menemuinya." Lanjut Alex, setelahnya beranjak dari sana.


"Ini, minumanmu." Imbuh Hayat, sambil menyodorkan minuman untuk Asha.


"Terimakasih.." Disaat Asha akan beranjak dari tempat duduknya, Reza dengan sengaja juga beranjak dari duduknya. Membuat ia dan Asha beradu dan minuman Asha tumpah mengenainya.


"Maaf.. maaf.." Ujar Asha panik, kembali meletakkan gelas minuman di atas meja Bar, lalu berniat membantu Reza membersihkan pakaiannya. Namun, Hayat dengan cepat meraih tangan Asha sebelum tangan Asha sempat menyentuh Reza.


"Dia bisa membersihkannya sendiri." Imbuh Hayat, yang entah sejak kapan sudah keluar dari balik meja Bar. Hayat  melempar sapu tangan ke arah Reza, "Bersihkan sendiri." Imbuh Hayat, lalu menarik pergelangan Asha yang masih berada dalam genggamannya untuk pergi menjauh dari Reza.


"Pernikahanmu dengan Anya sudah ditentukan." Imbuh Reza akhirnya, membuat langkah Hayat terhenti. Pun dengan langkah Asha yang juga terhenti mengikuti langkah Hayat.


Sedangkan Alex dan Mia, langsung menoleh setelah kalimat itu di ucapkan Reza.


Perlahan, Hayat melepaskan genggamannya. Lalu berbalik menghadap ke arah Reza yang sudah berjarak beberapa langkah darinya.


"Apa katamu?" Hayat memastikan, kalau ia tidak salah dengar.


"Om Darwin menemui Papa, memintanya untuk segera menikahkan mu dengan Anya." Ujar Reza, setelah itu menghela nafas malas. "Dan aku, ditugaskan untuk membawamu pulang. Bukankah kau harus segera mempersiapkan pernikahanmu!" Lanjut Reza.


Sedangkan Asha, mengalihkan pandangannya ke arah Hayat. Menatap netranya yang mulai memerah. Ternyata, tebakan Asha salah. Ia pikir, Hayat adalah seorang yatim piatu. Asha, merasa bersalah atas keputusannya yang meminta Hayat bertanggung jawab atas kehamilannya. Andai saja, ia tak meminta itu.


"Aku bisa mengurusnya sendiri, tanpa harus pulang kerumah! Katakan padanya, tidak perlu repot repot untuk mengurus pernikahanku." Sarkas Hayat. Lalu, kembali meraih pergelangan tangan Asha dan membawanya menjauh dari Reza.


Keduanya berakhir di mess, Hayat menutup pintu mess dengan kesal. Melepaskan genggamannya dan duduk di sofa sambil meremas rambutnya kasar.


"Kau baik baik saja?" Tanya Asha hati hati, lalu ikut duduk disana.


Hayat tak langsung menjawabnya, ia masih menunduk.


"Hufttt.." Hayat, menghela lalu duduk bersandar sambil menatap Asha. "Apa besok kau sibuk?" Tanya Hayat kemudian.


"Emp," Asha mengangguk. "Aku berniat membantu Mia, untuk pemotretanya besok." Lanjut Asha.


Hayat kembali terdiam, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kenapa?" Tanya Asha penasaran.


"Tidak ada!" Sahut Hayat, "Aku malam ini tidur di mess, tidak perlu menungguku pulang." Lanjut Hayat, lalu beranjak dari sana.


Asha hanya menatap punggung Hayat heran dan bingung.


Setelahnya, juga ikut bangkot dari duduknya. Lalu kembali menemui Mia dan Alex yang masih ditempat semula.


Sedangkan Reza, sudah pergi meninggalkan Bar.


Dan Hayat, kembali melanjutkan pekerjaannya. Walau kini, ekspresi dari wajahnya tampak tak baik baik saja.


"Siapa pria tadi?" Tanya Asha pada Alex.


"Saudara tirinya, mereka memang tak pernah akur." Imbuh Alex, dan mulai menceritakan sedikit tentang kisah Hayat dengan keluarganya.


Next >>>