
Kedua pria itu, berakhir di kantor polisi. Setelah Mia menghubungi polisi karena tidak bisa melerai Syafiq yang begitu emosi. Jika tidak, mungkin Hayat akan mati di tangan Syafiq malam itu.
"Syafiq, apa yang kau lakukan?" Imbuh Asha, yang baru tiba di kantor polisi. Ia langsung bergegas menuju kantor polisi setelah mendapatkan kabar dari Mia melalui pesan teks.
Syafiq langsung menoleh ke arah Mia, "Kau yang memberitahu Asha." Tampaknya, Syafiq tak ingin kejadian ini di ketahui oleh Asha.
Mia hanya mengangguk pelan.
*
"Ayo masuk." Imbuh Asha, setelah membuka pintu apartemen dan mempersilahkan Hayat untuk masuk. "Tunggu sebentar, aku akan ambilkan kotak p3k." Lanjut Asha, setelah itu berlalu dari sana. Hayat duduk di sofa ruang tamu, matanya langsung tertuju ke arah beberapa foto Asha dan Syafiq yang di pajang di atas meja.
Asha yang kembali dengan kotak p3k ditangannya, duduk disamping Hayat. Raut wajahnya tampak kesal, ia mengolesi obat diwajah Hayat dengan kasar.
"Aw.." Pekik Hayat pelan, karena kesakitan ketika Asha menekan lukanya.
"Apa kau tak bisa melawan? Apa kau hanya bisa diam saja?" Ujar Asha akhirnya.
"Apa kau berharap aku menghajar kekasihmu? Bukankah disini aku yang salah!" Sahut Hayat.
"Paling tidak bela dirimu sendiri." Ketus Asha, entah mengapa ia justru mengkhatirkan Hayat.
Hayat tersenyum smirk, lalu bersandar di sandaran sofa sambil menghela nafas. "Seharusnya aku dihajar lebih dari ini." Imbuh Hayat, entah apa yang membuat ia tampak begitu menyesali sesuatu.
Asha kembali mengobati luka diwajah Hayat, namun kini lebih perlahan. Setelah selesai, Asha bangkit dari duduknya berlalu ke arah dapur.
Hayat merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di atas sofa. Lalu memejamkan matanya, pikirannya melayang memikirkan Anya kekasihnya. Pun begitu dengan Asha, ia hanya berdiri termenung sambil menatap layar ponselnya, sebenarnya ia ingin sekali menghubungi Syafiq. Namun nuraninya tak sanggup, ia merasa tak pantas lagi menggangu kehidupan Syafiq. Setelah kata putus itu ia ucapkan, bukankah seharusnya ia benar benar menghilang dalam kehidupan Syafiq. Syafiq, pantas mendapatkan gadis yang lebih baik darinya. Begitulah pikir Asha, kemudian kembali mengunci layar ponselnya dan meletakkannya di atas meja.
Asha kembali menemui Hayat di ruang tamu, Asha memperhatikan Hayat yang sedang terlelap disana. Memandang Hayat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia tak menyangka akhirnya harus menjalani hidup dengan pria asing itu. Pria yang sama sekali tak dicintainya, pun sebaliknya. Entah bagaimana nantinya kehidupan pernikahan itu.
Asha mendekati Hayat, lalu mengangkat baju Hayat perlahan ke atas. Hayat yang menyadarinya langsung memegang pergelangan Asha dan menghentikannya. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Hayat, dengan tatapan kaget tertuju ke arah Asha.
"Aku hanya ingin mengompres memarmu." Asha melirik ke arah bagian dada Hayat.
Hayat berdehem canggung, lalu perlahan mengendurkan genggamannya. Dan membiarkan Asha melanjutkan apa yang akan dilakukannya.
"Apa sebaiknya kau kerumah sakit saja?" Ujar Asha ketika melihat memar di bagian dada dan perut Hayat cukup parah.
"Tidak perlu!" Hayat kembali memejamkan matanya, lalu meletakkan lengannya di atas kening.
"Kau benar benar pria yang keras kepala." Asha menghela nafas. Lalu perlahan mengompres memar Hayat.
*
Syafiq melakukan penerbangan pertama keesokan paginya, ia merasa harus pergi agar bisa melupakan Asha. Hatinya terlapau sakit kalau harus tetap berada di negara yang sama dan harus melihat Asha hidup dengan pria lain dan memiliki anak. Syafiq, tak sanggup menyaksikan itu semua, pergi dan menghapus semua tentang Asha sebenarnya bukan hal yang mudah, namun mau tidak mau Syafiq harus melakukannya.
Bagi Syafiq, apa yang dilakukan Asha adalah pengkhianatan yang paling kejam. Terlepas dari sengaja atau tidak!
Syafiq butuh waktu untuk menenangkan diri, lebih bagus lagi jika ia bisa melupakan Asha.
*
"Kau tau, Syafiq pindah ke luar negri." Ujar Mia, ketika menghampiri Asha di apartemennya.
"Pindah?" Dengan kening yang berkerut, Asha tak tau sama sekali tentang itu.
"Emp.." Mia mengangguk, lalu meraih ponselnya. Ia tampak me-scrol layar ponselnya dan mencari sesuatu. "Lihat ini." Mia menunjukkan, foto Syafiq yang tampak menikmati dunia barunya.
"Syukurlah, dia baik baik saja." Lirih Asha sambil mengalihkan pandangannya. Lalu menghela nafas dalam.
Mia kembali mengunci layar ponselnya, sedangkan tangan yang sebelahnya mengusap punggung Asha lembut.
"Kau juga harus baik baik saja," Ujar Mia, menatap pilu ke arah Asha yang tampak sangat berbeda kini.
"Tentu.." Asha menoleh sekilas ke arah Mia, ia mencoba tersenyum. Walau tampak, sedikit dipaksakan.
"Kau ingin bersenang senang?" Tawar Mia akhirnya.
Asha langsung menoleh, lalu mengernyitkan keningnya.
"Tampaknya aku juga harus sedikit menenangkan diri." Lanjut Mia, sambil tersenyum penuh arti.
"Katakan saja kau merindukan pacarmu!" Asha melempar bantal sofa ke arah Mia, membuat wanita itu terkekeh.
"Cepat ganti pakaianmu, aku akan menggantikanmu minum sampai mabuk." Ujar Mia semangat.
Asha menyetujuinya, ia juga sudah merasa sangat bosan hanya menghabiskan waktu dirumah.
"Well, please wait." Asha bangkit dari duduknya, lalu beranjak menuju kamar.
Asha sempat terhenti beberapa saat di dalam kamar, "Ya, kau juga harus menjalani hidupmu seperti biasa, Asha. Dunia tak berhenti disini!" Asha menghela nafas dalam. Lalu kembali melangkah menuju lemari. Ia bingung, dengan baju apa yang harus dikenakan.
"Asha, apa kau tertidur disana?" Teriak Mia dari ruang tengah.
"Iyaa iya, sebentar!" Balas Asha tak kalah berteriak.
20 menit berlalu, Asha keluar dan kembali menemui Mia di ruang tamu.
"Kau tau, aku sudah berbuih menunggu mu!" Keluh Mia,
"I'm so sorry.." Asha menyengir. "Let's go!" Asha melangkah lebih dulu menuju pintu, setelahnya di ikuti Mia.
"Kau yakin, akan mengenakan baju itu?" Tanya Mia, setelah keduanya masuk kedalam lift.
"Apa ada yang salah? Bukankah ini sempurna!" Ujar Asha, sambil memeriksa penampilannya di dinding lift.
"Ya, ya! Saking sempurnanya akan membuat mata lelaki yang melihatmu keluar dari tempatnya." Sambil menarik kebawah baju Asha yang terlampau pendek dan membuat perut rampingnya terpampang jelas. Ditambah dengan rok flared skirt di atas lutut. Betis mulusnya begitu menggoda, entah apa yang sebenarnya ingin di tunjukkan Asha dengan berpakaian super mini seperti itu. Bak ingin melampiaskan sesuatu, Asha berpakaian tak seperti biasanya.
*
Benar saja, baru saja turun dari mobil. Tatapan nakal para lelaki langsung tertuju ke arah Asha. Namun, justru Mia yang dibuat risih.
Mia langsung berjalan menutupi Asha agar terhindar dari tatapan para lelaki itu.
Saat akan masuk kedalam Bar, langkah Asha terhenti. Ketika berpapasan dengan Anya, dan beberapa langkah dibelakang Anya, ada Hayat yang tampak nya sedang mengikuti Anya.
"Asha, kau disini." Imbuh Hayat, yang juga ikut berhenti disana.
"Emp, aku yang memintanya untuk menemaniku." Sahut Mia, lalu berdiri disamping Asha.
"Ayo, Mia. Kita masuk." Imbuh Asha, dengan tatapan masih tertuju ke arah Hayat. Ia pun mengambil langkah, masuk kedalam Bar.
Next ✔️