The Lost Love

The Lost Love
part 2



Sedangkan ditempat lain sang ayah hanya diam termenung didepan jendela ruang kantornya, pikirannya melayang entah kemana sampai suara ketukan pintu terdengar menyadarkan Deon dari lamunannya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar dari luar, setelah suara dari dalam menyuruh orang itu "masuk" akhirnya pintu terbuka menampilkan seorang perempuan anggun berjalan mengahampiri atasannya.


"pak sudah waktunya makan siang, apakah bapak mau dipesankan makan siang?" tanya perempuan yang menjabat sebagai sekrtarisnya mengingatkan sudah waktunya makan siang.


"tidak perlu Rin, saya ingin pulang lebih awal setelah makan siang, tolong handle semua pekerjaan saya" ucap Deon pada Arin sekretarisnya.


"baik pak, kalau begitu saya permisi dulu" lalu berjalan meninggalkan atasannya.


"hah" helaan nafas terdengar dari mulutnya tanda ia sangat frustasi, " bagaimana keadaan anak itu sekarang? Bahkan aku sampai tidak mengingat wajahnya. Kalau tidak salah terakhir kali aku menemuinya saat anak itu masih berumur satu tahun" gumamnya lirih.


"aku harus pulang melihat keadaannya sekarang" dengan cepat ia meraih kunci mobil dan meninggalkan gedung kantornya.


Sedangkan Mikhayla dirumah sedang menatap kosong ke depan, pandangan matanya lurus dan ia terus bergumam lirih namun tidak ada yang memperhatikan sikap nona muda dirumah itu.


"mama aku mau ikut mama, papa tidak pernah sayang padaku. Aku bolehkan ikut mama?" gumaman itu terdengar sangat lirih sampai sebuah suara menyadarkan Mikhayla kedunia nyata.


"apa yang sedang kau lakukan?" suara yang terdengar dingin membuat tubuh kecilnya tanpa sadar bergetar. Mata bulatnya berkaca-kaca mendongak menatap seorang pria dewasa yang menatapnya tajam. Dan tanpa sadar air mata mengalir deras dari kedua mata gadis kecil itu.


Hiks hiks hiks


"papa" meskipun lirih namun Deon dapat mendengarnya.


"kenapa menangis,hm?" tanyanya lembut. Namun yang ditanya malah semakin tersedu-sedu.


"papa aku boleh tidak ikut mama? Katanya mama ingin aku ikut dengannya" masih dengan menangis gadis kecil itu menatap penuh harap pada sang ayah.


Deg


Jantung Deon berdetak dengan cepat, ia lalu membungkuk menyamakan tinggi sang putri lalu memeluknya dengan erat.


"tapi selama ini aku hanya bersama mama, papa".


"mama sudah pergi sayang, hanya Ila yang papa punya, kamu sayang papa kan?" menatap mata sang putri yang menatap kosong kedepan.


"papa bohong, buktinya selama ini mama selalu nemenin aku. Karena papa datang mama jadi pergi" masih dengan tatapan lurus kedepan. Deon yang mendengarnya semakin mengeratkan pelukan pada Mikhayla. Ia benar-benar takut sang anak akan meninggalkannya.


"maafkan papa Mikhayla, sekarang papa akan terus memperhatikanmu" katanya lirih.


Sejak saat Mikhayla ingin ikut dengan ibunya, Deon selalu dihampiri pikiran negative.


Dan sejak saat itu pula ia menyaksikan sikap putrinya yang berbeda dengan anak seusianya, ia pernah memergoki Mikhayla sedang berbicara seorang diri dengan pandangan kosong. Melihat hal itu, Deon sampai mendatangkan psikolog professional untuk putrinya.


"apa yang terjadi pada putriku, Lita?" tanyanya pada dokter sekaligus sahabat baiknya.


"saat ini keadaan Mikhayla harus selalu diperhatikan, Deon. Keadaan lingkungan yang sunyi dan tekanan yang dialami Mikhayla, membuatnya putus asa hingga ia menciptakan sosok ibu yang selama ini diinginkan hadir dalam hidupnya." Dokter Lita menjelaskan dengan raut wajah sedihnya.


"lalu apa yang harus aku lakukan agar bisa membuat Mikhayla melupakan sosok ibunya, Lit?" Deon bertanya dengan nada frustasi dan sedihnya.


"luangkan waktu untuknya, jangan biarkan Mikhayla sendirian dirumah dan kalau bisa selalu mengajaknya untuk bersenang-senang" balas dokter Lita.


"baiklah akan aku usahakan untuk selalu ada setiap hari untuknya, kamu tau sendirikan hanya Ila yang aku punya. Aku selalu merasa bersalah padanya." katanya dengan nada sedih diakhir kalimat.


"kalau begitu terus pantau keadaannya, Deon. Sekali ia tertekan aku takut pikirannya akan terpengaruh dan melakukan hal nekat saat itu juga. Aku pamit Deon, kamu harus selalu kuat untuk Mikhayla." Lita menepuk pundak Deon dan berlalu meninggalkan sahabatnya.


Sedangkan Deon masih sibuk dengan pikirannya, saat Lita mengatakan hal yang sangat ia takuti menjadi kenyataan.


"papa akan selalu ada untuk Ila, tetap bertahan sayang karena hanya Ila yang papa punya." kata Deon lirih menatap lurus kedepan.


Tbc