
Anya berbalik menghadap ke arah Hayat. "Jadi, wanita seperti itu yang kau cintai?" Sarkas Anya, masih dalam keadaan emosi. Perdebatan keduanya kembali berlanjut. "Sejak kapan? Kau menyukai wanita sepertinya. Bukankah kau paling tidak suka melihat wanita dengan pakaian terbuka seperti itu!" Bentak Anya murka.
Awalnya, Anya datang menemui Hayat di Bar, untuk memintanya membatalkan pernikahan antara Hayat dan Asha. Namun, Hayat menolaknya. Anya emosi lalu berniat meninggalkan Bar. Hayat mengejarnya, hingga tanpa sengaja justru berpas pasan dengan Asha di pintu masuk Bar.
"Aku tidak pernah berkata mencintainya." Pungkas Hayat datar.
"Lantas? Kau juga tidak berniat membatalkan pernikahan itu bukan!" Anya tersenyum sinis.
"Semua itu hanya karena bayi yang sedang ia kandung, aku harus bertanggung jawab." Imbuh Hayat.
"Lalu? Seperti apa kau akan bertanggung jawab padaku? Setelah mengkhianati dan menghancurkan hatiku, apa menurutmu kau tak perlu tanggung jawab." Anya sedikit terkekeh, ia mengucapkan kalimat itu penuh penekanan.
Hayat terdiam, tatapannya tajam tertuju ke arah netra Anya. Sesungguhnya ia sangat menyesal dengan apa yang telah terjadi. Namun, tak ada yang dapat dilakukannya.
Ada trauma yang mendalam, yang di alami Hayat. Hingga membuat ia, memutuskan untuk tidak akan menyia nyiakan bayi yang berada didalam kandungan Asha kini. Apapun yang akan terjadi, ia akan memperjuangkan bayi itu.
Hayat, terlahir dari hubungan terlarang antar Ayah dan ibunya. Ayahnya yang pada saat itu berstatus sebagai seorang suami dan Ayah dari seorang putra, berselingkuh dengan ibunya Hayat. Hingga hubungan terlarang itu diketahui oleh istri sah Ayahnya.
Hubungan terlarang itu harus berakhir, dan ibu Hayat yang pada saat itu sedang mengandung sama sekali tidak diperdulikan oleh Ayahnya Hayat dan hidup menderita. Ketika Hayat berusia 8 tahun, ibunya Hayat memutuskan untuk tidak lagi merawat Hayat karena desakan ekonomi dan mengirim Hayat pada Ayahnya.
Pada saat itu, Ayah Hayat tak dapat menolak. Ia yang sedang berada di puncak karier sebagai seorang hakim harus menjaga nama baiknya, atau ibu Hayat akan menyebarkan berita tentang anak haramnya.
Hayat, hidup menderita ditengah tengah orang yang tak satupun mengharapkannya.
Beranjak dewasa, Ayah Hayat begitu memaksa kehendaknya, mengatur hidup Hayat sebegitunya. Ia sangat ingin Hayat menjadi seorang Hakim, atau paling tidak pengacara.
Hayat yang ingin hidup bebas, jelas menolaknya hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari istana ayahnya dan hidup mandiri, tanpa iming iming nama besar Ayahnya. Terlebih, hubungannya dengan saudara tirinya pun tak pernah akur.
"Kenapa diam? Kau tidak bisa menjawabnya?" Desak Anya, membuyarkan lamunan Hayat.
"Sebaiknya kau pulang dan beristirahatlah, kita akan bicara lagi ketika pikiranmu tenang." Imbuh Hayat akhirnya, lalu kembali masuk kedalam Bar.
Anya yang ditinggalkan begitu saja, semakin kesal dibuatnya. Bukankah tadi Hayat berniat mengejarnya. Tapi mengapa sekarang ketika ada Asha didalam sana, Hayat justru meminta Anya untuk pulang.
"Arggg..." Kesal Anya, sambil meremas geram tangannya.
Anya memilih pergi dari sana, dengan kesal berjalan menuju mobilnya dan meninggalkan perkarangan Bar.
Sedangkan didalam sana, Hayat melempar jaketnya ke arah Asha. "Tutupi perutmu." Sambil terus berjalan menuju meja Bar.
Sedangkan Asha dan Mia yang tadinya sedang begitu menikmati obrolan mereka hanya menatap bengong ke arah Hayat.
"Apa maksudnya?" Tanya Asha pada Mia, sambil mengambil jaket Hayat yang kini berada di atas dadanya.
Mia menaikkan kedua bahunya. "Mungkin ia tidak suka melihat pakaianmu yang sangat terbuka." Ujar Mia, lalu menoleh ke belakang ke arah Hayat, yang kini sudah kembali berada di balik meja Bar dan sibuk membuat minuman pesanan pelanggan.
Asha terkekeh, "Apa hubungannya dengannya." Asha melempar jaket itu ke atas meja, tanpa mengubris perkataan Hayat sama sekali. Meraih minumannya, lalu meneguk minuman itu sambil bersandar.
Hayat melirik ke arah Asha, memastikan minuman yang sedang ia minum. Lalu menghela nafas, lega karena itu bukan minuman berakohol.
"Huh.. Aku kesal sekali tak dapat minum!" Keluh Asha. Padahal, biasanya ia selalu menjadikan alkohol sebagai obat untuk melupakan semua masalahnya.
"Kalimat itu lebih terdengar seperti ejekan." Sarkas Asha, lalu kembali menghela nafas dalam.
Sekilas, ingatan tentang Syafiq kembali terngiang di ingatannya. Disaat seperti itu, rasanya ia ingin menangis, berteriak dan memaki keadaan saat ini. Memaki jarak yang kini memisahkan mereka! Asha ingin meluapkan emosinya, namun pada siapa?
Raut wajah Hayat tampak emosi, ketika mendapati Asha tak memperdulikan kalimatnya. Tatapannya tertuju ke arah bagian tubuh Asha yang terbuka, lalu beralih ke arah jaketnya yang tergeletak di atas meja. Setelahnya, Hayat mengalihkan tatapannya ke arah beberapa lelaki yang sedang menatap Asha sambil berbisik dengan teman temannya.
Asha memang salah kostum, seharusnya ia tak pergi ke tempat itu dengan pakaian seperti itu. Membuat para laki laki menjadi untung bisa melihat lekuk tubuhnya secara cuma cuma.
Hayat, semakin panas dan tak dapat lagi menahannya. "Lanjutkan ini." Imbuhnya pada bartender yang lain. Setelahnya ia melangkah menuju ke arah Asha. Meraih jaketnya, lalu meraih pergelangan Asha. "Kita pulang sekarang." Ujar Hayat.
"Tidak, aku masih mau disini." Imbuh Asha, tidak mau pulang.
"Huh? Pulang? Secepat ini?" Tanya Mia, yang sudah setengah mabuk.
Hayat, mengeratkan giginya. "Asha, dengarkan aku. Ikut pulang denganku sekarang." Ucap Hayat penuh penekanan.
"Tidak!" Jawab Asha tegas.
Tampaknya tak ada pilihan lain. Hayat harus sedikit keras memaksanya. Hayat meraih tas Asha, lalu menarik tangan Asha dan membawanya keluar dari Bar.
"Hayat, kau menyakiti tanganku." Rengek Asha, namun Hayat tak memperdulikannya.
*
Anya, pulang dan langsung menemui ayahnya.
"Sayang, ada apa? Mengapa kau tampak begitu marah?" Tanya Om Darwis, Papanya Anya.
"Pa, aku ingin segera menikah dengan Hayat." Imbuh Anya, dan sontak membuat Tante Haidar yang pada saat itu sedang duduk disamping Papanya tersedak.
"Anya.." Ujar, Tante Haidar. Ia bangkit dari duduknya, lalu membawa Anya ke kamarnya.
"Apa yang kau katakan, bukankah katamu Hayat sudah menikah dengan wanita lain." Tante Haidar, tampak tak setuju dengan apa yang Anya katakan pada Papanya.
"Anya tak perduli, Ma. Hayat harus jadi milik Anya. Apapun yang terjadi." Anya mulai terisak, hatinya terasa sesak sekali.
"Apa yang terjadi?" Tanya Om Darwis, yang memilih untuk menyusul keduanya ke kamar Anya.
Tante Haidar mulai terbata, "Hayat, Pa.." Ucapnya menggantung.
"Ada apa dengan Hayat." Om Darwis semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
"Hayat tidak sengaja menghamili seorang wanita, dan harus menikahi wanita itu." Ucap Anya lugas.
"Apa katamu!" Sontak saja, Om Darwis sama terkejutnya seperti Tante Haidar saat pertama kali mengetahui hal itu.
Namun, Anya tetap bersikeras untuk membuat Hayat menikahinya. Tak perduli, walaupun Hayat sudah memiliki istri dan akan segera mempunyai anak.
Next >>>