
"Benarkah, kau baik baik saja?" Hayat kembali memastikan. Kini, keduanya sedang menikmati sarapan mereka yang tetunda.
"Emp, aku baik baik saja." Jawab Asha, walaupun tampak canggung ia sebisa mungkin tetap bersikap normal. Dan bisa bisanya kini ia justru tersenyum lebar. Apa nggak buat Hayat bingung, baru tadi ia menangis sesenggukan, dan sekarang seakan ia... Benar tampak baik baik saja!
"Aku sudah selesai, tunggu sebentar!" Ujar Asha, lalu bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar.
Selang beberapa saat, Asha keluar dan sudah siap dengan setelan jubah bulu dan sarung tangan untuk menghangatkan tubuhnya.
"Ayo, aku sudah siap." Asha, berjalan menuju pintu apartemen.
Sedangkan Hayat, masih saja menatapnya bingung.
"Ayo cepat, bukankah kau buru buru ingin ke Bar!" Lanjut Asha, setelahnya keluar dari apartemen.
Hayat, bangkit dari duduknya. Lalu menyusul Asha, yang ternyata masih menunggunya di depan pintu lift.
"Maaf, karena harus merepotkan mu." Lirih Hayat, merasa tidak enak.
"Santai saja." Balas Asha, lengkap dengan senyuman terbaiknya. Setelahnya, ia melangkah masuk kedalam lift saat pintu lift terbuka.
"Ehemm..." Asha berdehem, saat suana didalam ruang sempit itu terasa begitu canggung.
Tampaknya, mereka masih memikirkan kejadian tak terduga tadi pagi.
Ting..
Pintu lift terbuka, Asha langsung mengambil langkah keluar dari sana.
Pun dengan Hayat, yang mengikutinya dari belakang.
"Hati hati..." Hayat, dengan cepat menahan tubuh Asha yang terpleset karena jalanan licin.
Asha, menghela nafas lega. "Terimakasih.." Ucapnya, tanpa berani menatap mata Hayat.
Hayat menuntun Asha untuk kembali berdiri tegak, setelahnya menggenggam tangan Asha.
"Begini lebih aman." Ujar Hayat, setelahnya berjalan sambil menggandeng tangan Asha.
Asha, memandang punggung Hayat yang kini sedang berjalan tepat di hadapannya.
Ia sangat persis seperti salju. Sama sama dingin!
Saat sampai di depan mobil, Hayat menengadahkan tangannya ke arah Asha.
"Biar aku saja yang bawa mobil." Ujar Hayat.
"Empp.." Asha mengangguk, lalu meletakkan kunci mobil di tangan Hayat.
Hayat membuka pintu mobil untuk Asha, setelahnya ikut masuk di bagian kemudi.
Hayat benar benar irit bicara, tanpa aba aba ia langsung menepuk pelan puncak kepala Asha, juga bagian pundak Asha untuk membersihkan salju.
"Terimakasih.." Ucap Asha lagi dan lagi. Suasana di antara keduanya benar benar sangat canggung. Seperti orang asing yang baru bertemu.
"Emp.." Jawab Hayat singkat, setelahnya melajukan mobil menuju Bar.
Sepanjang perjalanan hanya hening yang tercipta, hari itu benar benar badai salju. Hayat harus mengemudi dengan ekstra hati hati. Jalanan bahkan sampai tertutup dengan salju. Perjalanan mereka sempat terhenti karena menunggu mobil pembersih salju, membersihkan jalanan agar mudah dilalui kendaraan.
Hayat, berulang kali memeriksa jam arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Sedangkan Asha, hanya bisa melirik ke arah Hayat sesekali.
Lalu, mengusap usap kedua tangannya untuk menepis rasa dingin.
Hayat yang menyadari Asha kedinginan, menaikkan volume penghangat.
"Apa seperti ini, cukup!" Hayat memastikan.
"Cukup.." Jawab Asha, diiringi dengan anggukan kepalanya.
Sedangkan mobil mereka, masih stay di tempat tampa bergerak satu inci pun. Tampaknya, macet itu akan berlangsung lama.
"Hemm Hayat..." Imbuh Asha akhirnya, untuk memecahkan keheningan tampaknya Asha harus mencari pembahasan.
"Iya.." Jawab Hayat, lalu menoleh ke arah Asha.
"Kenapa kau tak mengikuti keinginan Papa mu untuk menjadi pengacara. Bukankah profesi itu sangat menjanjikan." Setelah mengajukan pertanyaan itu, Asha menggigit bibir bawahnya. "Seharusnya aku tak mengajukan pertanyaan itu!" Batin Asha.
Hayat, kembali mengalihkan pandangannya kedepan.
Sedikit sudut bibirnya terangkat. "Aku tak ingin dia menang, karena berhasil mengatur hidup ku." Pungkas Hayat akhirnya. Sedangkan ekspresinya tampak datar dengan pandangan kosong kedepan.
"Lalu, kau sendiri? Mengapa mengorbankan karier mu demi seorang pria!" Hayat balik bertanya.
Asha menoleh dengan cepat ke arah Hayat.
"Karena... Aku ingin buktikan bahwa dia lebih dari segalanya untuk ku." Jawab Asha, setelahnya kembali menunduk.
Hayat, sedikit melirik ke arah Asha. Tiba tiba rasa bersalah melandanya.
Apakah ia sudah begitu berperan menghancurkan hidup dan masa depan Asha.
Asha, tampak begitu menyedihkan dan menyesali apa yang terjadi.
*
Asha dan Hayat masuk kedalam Bar, setelah menempuh perjalanan macet cukup lama.
"Asha..." Panggil Mia.
Asha melambaikan tangannya ke arah Mia, lalu berbalik menghadap ke arah Hayat yang sedang berbicara dengannya.
"Aku akan menemui Alex dulu." Ujar Hayat.
"Emp, aku akan menunggu dengan Mia disana." Jawab Asha, dan tak lupa menunjukkan senyuman terbaiknya.
Hayat membuka jubah kulitnya, dan memakaikannya di pundak Asha. "Pakai ini agar kau tak kedinginan." Imbuhnya, setelahnya berlalu pergi.
Asha, juga mengambil langkah menuju meja Mia.
"Kau disini.." Asha ikut duduk bersama Mia, yang sedari tadi terus memperhatikan Asha.
"Emp, aku libur hari ini. Apa kau datang untuk menemani suami mu bekerja." Goda Mia, dengan senyuman penuh artinya.
Asha terkekeh pelan, alih alih menjawab pertanyaan Mia ia justru menghela nafas dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kau tahu, kalian tampak seperti pasangan suami istri yang serasi." Ungkap Mia.
"Kau berlebihan.." Pungkas Asha.
"Ehemmm ehemm..." Mia berdehem sambil senyum-senyum melihat Hayat berjalan ke arah meja mereka.
"Minum ini, untuk menghangatkan tubuh mu." Ujar Hayat, meletakkan segelas coklat hangat di depan Asha. Setelahnya kembali beranjak dari sana.
"Dan kau masih berkata aku berlebihan!" Sarkas Mia.
Asha hanya melempar senyumnya tampa membalas godaan Mia itu.
*
Hayat begitu sibuk membahas sesuatu dengan Alex di meja yang berbeda.
Asha, sesekali menoleh ke arah Hayat. Mencuri curi pandang memperhatikan Hayat yang tampak begitu serius. Entah apa yang sedang mereka bahas disana.
Sedangkan Mia, memilih bernyanyi di panggung untuk mengisi waktunya menunggu Alex selesai bekerja.
Sesekali, Asha tersenyum ke arah Mia yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Apa kau bosan?" Tanya Hayat, yang tiba tiba saja sudah duduk di samping Asha.
Asha menoleh dengan cepat. "Tidak!" Jawab Asha spontan.
"Jika kau mau, kau boleh beristirahat di mess." Tawar Hayat.
"Tidak apa-apa, aku tunggu disini saja." Tolak Asha.
"Tapi mungkin aku agak sedikit lama. Aku harus keluar bersama Alex sebentar." Sambung Hayat.
"Atau aku pulang saja." Ujar Asha.
"Tidak! Terlalu berbahaya mengemudi sendiri." Bantah Hayat cepat. "Begini saja, kau tunggu sebentar lagi. Aku akan langsung kembali setelah pekerjaannya selesai." Lanjut Hayat.
"Baiklah.. Tak masalah, lagi pula ada Mia disini." Asha mengangguk patuh.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Asha, Hayat bangkit dari duduknya, pun dengan Alex yang ikut bangkit dan mengikuti Hayat yang sudah terlebih dulu keluar dari Bar.
Entah pekerjaan apa yang Hayat maksud, bukankah ia bekerja di Bar? Lalu, apa yang mereka lakukan di luar? Entahlah, Asha juga tak ingin mengambil pusing dengan hal yang menurutnya tak terlalu penting.
Next ✔️