
Hayat, membawa Asha masuk kedalam rumah. Berjalan menuju ruang utama, menemui Papanya yang memang sudah menunggu. Sebelumnya, Hayat sudah mengirim pesan pada asisten Om Efendi, dan memberitahukannya kalau Hayat akan pulang dan menemui Papanya.
Tatapan ketiga orang yang ada disana langsung tertuju ke arah Hayat dan Asha.
Kompak sekali, mereka bertiga menunggu Hayat pulang bersamaan.
Saat melihat Asha, Reza langsung tersenyum tipis, dugaannya benar. Pasti ada sesuatu antara Hayat dan gadis itu.
Hayat dan Asha duduk di sofa, bergabung dengan ketiganya.
"Hayat, siapa gadis ini? Mengapa kau membawanya kesini?" Tanya Tante Elvi basa basi.
Sebelum Hayat sempat menjawab, Om Efendi berdehem dan menyela. "Untuk apa? Itu tidak penting. Yang penting sekarang, Hayat sudah pulang! Dan pernikahannya dengan Anya akan segera dilakukan." Imbuh Om Efendi, sesungguhnya ia tak perduli, apapun hubungan Hayat dan gadis disampingnya. Ia akan tetap menikahkan Hayat dengan Anya, sekilas ia sudah tahu dari Reza, kalau Hayat tampaknya memiliki kekasih. Wajar saja, hubungannya dengan Anya sudah lama LDR. Tidak menutup kemungkinan kalau Hayat berpaling.
"Pa, kenalkan. Ini Asha, istri Hayat." Ujar Hayat akhirnya.
"Apa! Istri!" Sahut Reza, tercengang. Pun begitu dengan Om Efendi dan Tante Elvi.
"Apa kau tak salah, Hayat. Sejak kapan kalian menikah? Dan mengapa tak beritahu kami." Tanya Tante Elvi, mewakili Om Efendi.
Sedangkan Om Efendi, hanya memasang wajah penuh amarahnya.
"Om, Tante.. Maaf aku baru datang sekarang untuk menyapa. Aku dan Hayat menikah dua minggu yang lalu. Dan-"
"Jangan lupa hadiri pertemuan keluarga besok, Reza akan mengirimkan alamatnya padamu." Sela Om Efendi, memangkas kalimat Asha.
Asha terkekeh pelan, lalu mengalihkan pandangannya.
"Pa, tolong batalkan pernikahan itu. Aku dan Anya, tidak mungkin menikah!" Desak Hayat.
"Mengapa? Hanya karena kau sudah menikah?" Sarkas Om Efendi. "Tidak pernah ada larangannya lelaki memiliki lebih dari satu istri." Lanjut Om Efendi tetap kekeh.
Asha, menoleh ke arah Hayat, memperhatikan wajahnya yang tampak kesal. Hayat, benar benar menentang pernikahan dengan Anya.
Mengapa?
"Tidak, tanpa izin istri pertama." Sahut Asha kemudian. Dan mengalihkan pandangannya ke arah Om Efendi. "Aku rasa Om juga pasti tahu tentang hukum itu di negara kita."
Om Efendi, melirik sinis ke arah Asha. "Ch! Tidak perlu bicara tentang hukum denganku." Imbuh Om Efendi lengkap dengan seringainya.
"Dia seorang Hakim." Bisik Hayat, pada Asha. Dan berhasil membuat Asha tersedak pelan.
Hayat kembali ke posisi duduknya setelah mendekatkan wajahnya ke dekat telinga Asha.
"Aku yang akan bicara langsung pada orang tua Anya." Hayat, masih menolak dengan keras rencana pernikahan itu.
"Jangan sekali kali kau berani melakukan itu!" Murka Om Efendi.
"Sudahlah Hayat, menurut saja. Pernikahan itu tidak mungkin di batalkan, lagi pula kau dan Anya sudah berhubungan lama. Kasihan Anya, dia juga tampaknya sangat tulus padamu." Tante Elvi, kembali bersuara.
"Sudah! Pembahasan ini, sampai disini saja. Besok jangan sampai terlambat." Pungkas Om Efendi, lalu bangkit dari duduknya. Setelahnya, Tante Elvi juga bangkit dari duduknya. Ia pun mengikuti suaminya berlenggang dari ruangan itu.
"Kau, bukankah model itu. Alesha Ghaury!" Ujar Reza, yang tampak tertarik.
Hayat langsung bangkit dari duduknya, sambil meraih pergelangan Asha.
"Ayo kita pulang." Imbuh Hayat.
Reza ikut bangkit dari duduknya. "Apa kau tidak berniat, memperkenalkan aku pada adik ipar." Ujar Reza.
*
"Ada apa dengan kalian? Kenapa tampak kesal begitu?" Tanya Alex, ketika mendapati Asha dan Hayat kembali ke Bar dalam keadaan lesu dan kesal.
Hayat tak menjawab, duduk bersandar sambil menyilang tangannya di dada.
Sesaat kemudian, Alex tertawa terbahak. "Ada apa dengan pakaian mu? Kenapa rapi sekali." Imbuh Alex, yang baru menyadari ada yang berbeda dengan penampilan Hayat kali ini.
"Ashaaa...." Panggil Mia, memecahkan suasana. Ia berlari menghampiri dan langsung memeluk Asha dengan heboh. "Kau tahu, aku di puji habis habisan oleh maneger ku! Bla bla bla...." Mia bercerita dengan heboh dan begitu bersemangat. Tampaknya, Mia begitu bahagia. "Ini, bayaranmu untuk pemotretan hari ini." Mia mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya.
Asha, ikut tersenyum melihat Asha yang begitu bahagia hari ini. Setelah semalam hampir saja kehilangan pekerjaannya.
Asha menerima amplop itu, lalu kembali meraih tangan Mia, dan meletakkan amplop itu di tangan Mia. "Aku hadiahkan untukmu." Ujar Asha.
Mia terbelalak. "Kau bercanda?" Ujar Mia, tak percaya Asha menghadiahkan amplop itu padanya. "Jumlahnya tidak sedikit, manager ku menambahkan nominalnya karena ia tahu bayaran mu tinggi."
"Aku serius, untukmu saja.." Asha terkekeh, melihat ekspresi Mia yang tampak tak percaya, namun juga excited.
"Jika Asha sudah berkata begitu, berarti ia serius." Sambung Alex, lalu duduk disamping Mia. Meraih amplop itu dan membukanya untuk melihat isinya.
"O ow.." Imbuh Alex, "Ini benar benar banyak." Lanjutnya.
"Benarkan! Sudah aku katakan! Manager ku tampaknya sengaja menambah nominalnya untuk menarik perhatian Asha agar nanti mau jika di tawarkan menjadi model lagi." Mia, walaupun senang tapi agak berat untuk menerima amplop itu.
Sedangkan Hayat, hanya memperhatikan dalam diamnya. Ternyata, Asha sebaik itu. Senyumnya pun kini begitu tulus. Asha, sama sekali tak tampak keberatan memberikan amplop itu untuk Mia walaupun sudah tahu nominalnya tinggi.
"Sudah sudah, hentikan percakapan tentang itu. Begini saja, bagaimana jika hari ini kau yang traktir kami." Ujar Asha kemudian.
"Tentu!" Mia mengangguk semangat.
Hayat tersenyum, lalu menggeleng pelan. Melihat tingkah Mia yang sama kocaknya seperti Alex.
"Kalian benar benar berjodoh." Imbuh Hayat, lalu bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana?" Tanya Asha, bak tak ingin jauh jauh dari Hayat.
"Mau ganti pakaian." Sahut Hayat, sambil terus berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.
*
Sedangkan di kediaman Om Efendi, kini Reza dan Mamanya sedang merayakan perseteruan antara Hayat dan Papanya. Ya, mereka berdua orang yang paling senang jika Hayat dan Papanya sedang dalam suasana tak baik.
"Dasar, anak itu tak pernah henti hentinya membuat masalah." Imbuh Tante Elvi, diiringi dengan senyumannya.
"Tapi kali ini, ia cukup hebat. Dia bisa menikahi seorang model besar seperti wanita itu." Ucap Reza, lalu meneguk minumannya.
"Model besar?" Tanya Tante Elvi penasaran.
"Emp, dia Alesha Ghaury. Model yang dua tahun lalu mengumumkan berhenti dari dunia entertaint." Jelas Reza. "Tapi seingat ku, gadis itu sudah bertunangan dengan pengusaha." Lanjut Reza dengan raut wajah bingungnya.
"Jadi begitu.." Ucap Tante Elvi ambigu. Ia tersenyum penuh arti. Entah apa yang kini sedang ada dalam pikirannya. Entah rencana licik apa yang akan ia lakukan.
Ya, ia akan selalu berbuat sesuatu untuk membuat Om Efendi semakin membenci Hayat. Ia akan melakukan apapun sampai Hayat di coret dati hak ahli waris.
Next ✔️