
"Jadi, kalian menemui Om Efendi?" Imbuh Alex, dengan bola mata yang hampir keluar dari tempatnya, saat mengetahui kemana perginya Asha dan Hayat dengan pakaian formal itu.
Asha dan Hayat mengangguk lemas dan serempak.
"Lalu, apa yang terjadi." Sambung Mia, yang tak kalah penasarannya.
"Mereka bersikeras untuk tetap menikahkan Hayat dan kekasihnya." Imbuh Asha santai.
"Hukss hukss..." Mia tersedak dengan spaghetti nya.
"Jadi mereka akan tetap menikah?" Tanya Mia, pada Asha. Seharusnya ia bertanya langsung ke orang yang saat ini sedang duduk tepat disamping Asha.
"Entahlah.." Asha menaikkan bahunya.
"Sebentar sebentar..." Alex menengah. "Kalau Hayat menikah dengan Anya, apa kau mengizinkannya?" Tanya Alex pada Asha dengan antusias.
Asha tak langsung menjawab, justru mengalihkan pandangannya ke arah Hayat yang hanya diam saja sedari tadi.
"May be.." Imbuh Asha akhirnya.
Hayat sontak langsung menoleh ke arah Asha, masih dengan wajah datarnya. Sedangkan Asha, justru nyengir dan menunjukkan gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Aku ke toilet dulu." Hayat bangkit dari duduknya, dan beranjak menuju toilet.
"Aku juga.." Alex menyusul.
"Kau benar benar akan mengizinkan Hayat menikah dengan Anya?" Mia kembali memastikan.
"Emp, lagi pula. Sejak awal Hayat memang miliknya." Imbuh Asha, lalu mengaduk aduk spaghetti nya dengan tatapan kosong.
"Lalu, bagaimana denganmu dan anak kalian." Sambung Mia, menurut Mia itu bukan keputusan yang baik.
"Entahlah.. Aku hanya berfikir, seandainya saja aku tidak gegabah pada saat itu, mengungkapkan kehamilan ku. Mungkin keadaannya tidak akan seperti ini." Sesal Asha.
Mia menepuk nepuk pelan punggung Asha. "Kau tidak mungkin merawat bayi mu seorang diri." Imbuh Mia.
Asha menoleh ke arah Mia. "Bukankah masih ada kau, kau dan Alex bisa menjadi orang tua angkatnya." Lagi lagi Asha menyengir.
"Bisa bisanya kau masih bisa tersenyum dalam keadaan seperti ini." Mia menghela nafas, mungkin gadis lain akan menangis di pojokan sambil meratapi nasibnya.
Bercinta dengan pria asing sampai hamil, ditinggalkan tunangan yang begitu ia cintai, terpaksa menikah, dan kini suaminya justru mau dinikahkan dengan wanita lain.
Mia hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya sambil menghela nafas dalam saat melihat Asha .
Sedangkan didalam toilet, kedua pria itu, Hayat dan Alex justru mengobrol disana setelah buang air kecil.
"Jadi, bagaimana keputusan mu?" Alex begitu ingin tahu.
"Aku tetap akan menolak pernikahan itu." Ujar Hayat, begitu yakin.
"Kenapa? Apa kau tak lagi mencintainya?" Alex semakin penasaran.
"Karena aku sangat mencintainya, makanya berbuat begitu."
Alex justru bingung dengan jawaban Hayat. "Aku tak mengerti."
"Anya, gadis yang hebat. Ia nyaris sempurna, apa lagi dengan semua gelar dan status keluarganya. Mana mungkin aku merusak itu semua? Menikah denganku setelah aku menyandang status suami orang dan menjadikan Anya istri kedua, berarti sama dengan Anya akan masuk kedalam jurang yang akan menenggelamkannya. Ia tidak akan bisa bersinar, seperti yang selalu ia impikan. Orang orang akan membicarakannya. Bukankah sebaiknya aku lepaskan saja, agar ia bisa menemukan orang yang lebih tepat." Jelas Hayat panjang lebar.
Alex menganga, Hayat berfikir sejauh itu.
"Aku salut," Alex menepuk pundak Hayat. "Kau rela mengorbankan dirimu sendiri demi orang yang kau cintai." Lanjut Alex kagum dengan keputusan bijak Hayat.
Hayat hanya tersenyum tipis, "Ayo..." Ujar Hayat, lalu berjalan mendahului.
"Kau maukan, menjadi orang tua angkat dari anakku." Tanya Asha, kembali memastikan jawaban Mia, yang belum sempat di jawabnya tadi.
Pertanyaan itu di ajukan Asha, ketika tanpa ia sadari Hayat sudah berada tepat di belakang mereka.
"Untuk apa?" Tanya Hayat, yang sudah kembali duduk di kursi nya semula. "Aku bisa merawat anakku dengan baik, jika kau tak menginginkannya." Sarkas Hayat, dengan ekspresi marahnya. Tampaknya ia salah paham, terlebih Asha tak menanggapi omongan, dan justru mengalihkan pembicaraan ketika Alex juga sudah kembali bergabung dengan mereka.
Bahkan, hingga sampai ke apartemen.
Asha merebahkan tubuhnya ke atas sofa panjang yang berada di ruang tengah.
"Apa, kau benar benar tak menginginkan bayi itu?" Hayat kembali memastikan.
"Apa yang sedang kau bicarakan, Hayat. Jika tidak menginginkannya, aku tidak mungkin mempertahankannya hingga kini." Sahut Asha dengan mata terpejam, tampaknya ia sedang mengantuk.
Hayat ikut duduk di sofa. "Lalu, mengapa kau meminta Mia untuk menjadi orang tua angkatnya?" Hayat kembali bertanya.
"Aku hanya bercanda." Ujar Asha dengan suara berat, dan sepersekian detik kemudian. Ia benar benar terlelap. Terbukti dengan pertanyaan selanjutnya dari Hayat tak lagi di jawabnya.
"Asha! Kau tidur?" Hayat memastikan, namun tetap tak ada jawaban.
Hayat menggeleng pelan, setelahnya bangkit dari duduknya dan membopong tubuh Asha ke kamarnya.
Perlahan merebahkan tubuh Asha ke atas ranjangnya, sekaligus menyelimuti wanita itu.
Hayat, beberapa saat memperhatikan wajah Asha yang sedang terlelap. Wajahnya tampak sedih, padahal seharian ini ia terus saja tertawa.
"Entah seperti apa keadaan hatimu kini, Asha." Imbuh Hayat, lalu memilih keluar dari kamar Asha.
Ia duduk merenung di ruang tengah, dengan beberapa bir tersusun di atas meja.
Suasana hatinya pun kini sedang tak baik baik saja.
Pikirannya terus saja tertuju pada Anya. Hayat, masih bimbang, untuk menghadiri pertemuan keluarga itu atau tidak.
Otak dan hatinya benar benar tak sinkron. Otaknya melarang Hayat untuk pergi. Namun hatinya, justru memaksanya untuk menghadiri pertemuan itu. Terlepas dari apa yang terjadi disana.
Hayat, juga begitu merindukan Anya, kekasihnya.
Setelah menahan rindu 2 tahun lamanya. Kini disaat gadis itu kembali, mereka justru harus terpisah lagi dengan cara yang menyakitkan.
Hayat, meneguk lagi dan lagi bir yang berada di hadapannya. Mengosongkan setiap kalengnya, Hayat berharap hatinya akan tenang setelah mabuk nanti.
Dan tampaknya itu berhasil, setelah mabuk. Ia terlelap di tempat duduknya sambil bersandar di sandaran kursi.
Asha terbangun di tengah malam, karena pakaian yang ia kenakan membuat ia risih.
Setelah berganti pakaian ke piyama, Asha keluar dari kamar, berniat ke dapur untuk minum. Lalu, justru melihat Hayat yang masih berada di ruang tengah dengan mata terlelap dalam posisi duduk dan bersandar di sandaran kursi.
Asha mendekat, melihat beberapa botol bir yang berserakan.
"Hayat, bangun.. Sebaiknya kau tidur dikamar." Asha berniat membangunkan Hayat.
Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya Hayat perlahan membuka mata, lalu sedikit menyengir.
"Apa kau ingin tidur denganku?" Tanya Hayat, nyeleneh.
"Apa kau gila!" Bentak Asha. Lalu meraih lengan Hayat, menuntunnya bangun lalu memapah tubuh Hayat menuju ke kamar Hayat.
Asha merebahkan tubuh Hayat yang setengah sadar itu ke atas ranjang. Namun saat akan berbalik, Hayat dengan cepat meraih tangan Asha, menariknya hingga jatuh ke atas tubuh Hayat.
Asha berniat bangkit, namun Hayat sudah menguncinya dengan pelukan yang erat.
Perlawanan Asha sia sia, sesaat kemudian. Hayat justru mencium dengan lembut bibir Asha. Membuat bola mata Asha membulat sempurna.
Hanya sesaat, Hayat kembali melepaskan ciuman itu. "Aku mencintaimu, Anya." Lirih Hayat,
Deg!
Jantung Asha berdetak, setelah mencium nya namun justru nama Anya yang disebut.
Setelahnya, Hayat terlelap dan tangannya terkulai lemas jatuh ke atas ranjang. Melepaskan Asha dari pelukannya.
Next ✔️