The Lost Love

The Lost Love
Itu Anakku!



Ketiganya, berakhir di ruang mess. Dengan testpack yang tergeletak di atas meja, sedangkan ketiganya duduk mengelilingi meja yang berbentuk bundar itu.


Beberapa menit berlalu, hanya hening yang tercipta.


Anya, berulangkali menatap lekat ke arah Hayat dan Asha secara bergantian. Beda halnya dengan tatapan yang ditunjukkan Hayat. Ada sesuatu yang tersirat disana. Sedang Asha, hanya bisa menunduk dalam dengan air mata tak henti menetes.


Dunianya benar benar hancur sekarang. Rasanya, sudah tak ada artinya lagi ia hidup.


"Aku," Asha mulai bersuara. Dan memberanikan diri untuk menyampaikan keinginannya. "Akan menggugurkannya." Lanjut Asha.


"Tidak! Tanpa izinku." Tegas Hayat.


Anya, masih hanya memperhatikan. Tanpa berkomentar, sedang hatinya terasa hancur berkeping keping kini. Setelah mengetahui kenyataan Hayat menghamili seorang gadis, walau nyatanya itu terjadi tanpa disengaja. Namun, tetap saja. Siapa yang bisa terima?


"Keputusan ku sudah bulat, kau tak punya hak untuk menghentikannya." Asha kembali bersuara, walau terdengar agak serak.


"Itu anakku! Jelas aku punya hak!" Sarkas Hayat.


Sudut bibir Anya terangkat, dengan perasaan yang kembali remuk. Senyum sinisnya menggambarkan kekesalannya. Sedang pikirannya sedang ikut berfikir keras sekarang.


Asha mendongakkan wajahnya, menatap Hayat dengan tatapan pilunya. "Tak ada yang bisa kita lakukan sekarang Hayat! Kecuali menggugurkannya! Tak ada yang menginginkan bayi ini." Sambil mengalihkan tatapannya ke arah testpack, yang setiap kali ia melihatnya, rasanya ingin sekali menjerit sekuat kuatnya untuk meluapkan amarahnya.


"Kita akan menikah." Sarkas Hayat begitu saja.


"Apa kau gila? Lalu bagaimana dengan aku?" Emosi Anya langsung memuncak ketika mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan Hayat.


Hayat mengalihkan pandangannya ke arah Anya. Bisa dilihat dengan jelas ekspresi marah yang tergambar di wajah Anya, kekasihnya.


"Anya, aku minta maaf. Tapi anak itu-"


"Aku tidak perduli!" Sela Anya cepat. "Aku tidak akan membiarkan kau menikahi gadis ini hanya karena dia hamil anakmu. Lagi pula, itu tanpa disengaja bukan!" Lanjut Anya.


"Tetap saja, kami harus bertanggung jawab atas kesalahan itu. Bukan dengan cara menghilangkan nyawa bayi yang tak berdosa itu, Anya."


"Tidak! aku tidak mau dengar apapun alasannya." Anya menggeleng, dengan air mata yang mulai mengalir dari pelupuk matanya.


"Tak ada yang bisa mengubah keputusanku." Sambil mengalihkan pandangannya, tampaknya Hayat juga telah memutuskan. Untuk bertanggung jawab dan memikul masalah itu bersama-sama dengan Asha.


"Kau kejam sekali, Hayat!" Lirih Anya, lalu bangkit dari duduknya. Anya beranjak dari sana, meninggalkan Hayat dan Asha. Dengan perasaan yang tak bisa di ungkapkan, selama ini ia sudah setia dan hanya mencintai Hayat seorang. Namun, tega sekali Hayat justru mengkhianatinya.


Anya terus melangkah, dan sesekali menyeka air matanya dengan kasar. Saat turun dari tangga, Alex melihatnya, dan ikut bertanya tanya apa yang sedang terjadi di antara mereka bertiga.


Pasalnya, siapapun telah dilarang untuk naik ke mess termasuk dirinya, sebelum mereka bertiga turun.


Alex sebenarnya sangat penasaran, namun tetap memilih untuk menghargai privasi mereka.


"Ikut aku." Hayat bangkit dari duduknya, meraih testpack itu dan juga pergelangan tangan Asha.


Asha hanya menurut, tanpa bertanya kemana Hayat akan membawa dirinya. Hayat juga tak lupa meraih kunci mobil Alex, yang diletakkan di tempat penyimpanan kunci.


"Aku pinjam." Imbuh Hayat sambil mengangkat kunci mobil dan menunjukkannya pada Alex, ketika berjalan melewati Alex.


Alex hanya mengangguk, dengan tatapan herannya dan penuh tanda tanya.


Hayat membuka pintu mobil untuk Asha, kini pun Asha masih menurut saja. Ia masuk dan duduk dengan patuh. Tatapannya terus saja tertuju ke arah Hayat, yang justru menunjukkan ekspresi datar dan dingin. Membuat Asha sulit menerka apa yang sebenarnya sedang ia rasakan. Marahkah? Kesalkah? Atau apa?


"Pakai safety belt, mu." Ujar Hayat, setelah itu melajukan mobil itu ke suatu tempat.


*


"Asha, apa yang sebenarnya terjadi? Dimana kau?" Gumam Syafiq sambil mengemudi dan memperhatikan kesekeliling.


*


Asha dan Hayat, hanya terdiam sepanjang perjalanan. Sibuk dengan pemikiran masing masing, sedang Asha tak lagi menangis kini. Rasanya ia pasrah, apapun yang terjadi.


Hayat menghentikan mobil di depan kantor pencatatan sipil.


"Kau yakin, ingin melakukannya?" Tanya Asha sekali lagi untu memastikannya. Namun sepertinya, pertanyaan itu lebih cocok di ajukan padanya. Karena hatinya lebih ragu dari pada Hayat.


"Cepat turun, sebentar lagi kantornya akan tutup." Sarkas Hayat, dingin.


Keduanya masuk kedalam kantor pencatatan sipil, pada pusat pelayanan mereka memilih pendaftaran pernikahan. Setelah menunggu beberapa antrian, nomor antrian mereka pun di panggil.


"Ini form yang harus di isi untuk pendaftaran pernikahan." Sambil menyerahkan dua lembar form untuk masing masing mereka.


Hayat langsung menerima form itu dan mengisinya tanpa ragu, sedang Asha, sempat terdiam beberapa saat. Menghela nafas dalam, setelahnya juga ikut mengisi form itu. Setelah selesai, mereka kembali menyerahkan form yang telah di isi itu.


"Boleh saya minta kartu identitasnya?" Pinta petugas.


Asha menoleh ke arah Hayat yang sedang mengeluarkan kartu identitasnya dari dalam dompetnya. "Aku meninggalkannya didalam mobil." Imbuh Asha dengan suara pelan.


Namun sepertinya si petugas bisa mendengarnya dengan jelas, "Tidak apa, Anda bisa mengirimkannya dalam bentuk pdf di nomor ini." Sambil mencatat sebuah nomor di selembar sticky notes. Lalu menyerahkannya pada Asha.


"Silahkan masuk kedalam ruangan itu, untuk difoto." Sambil menunjuk ke arah bagian kiri.


Asha dan Hayat mengikuti perkataan si petugas, mereka berdua masuk kedalam ruangan itu.


"Silahkan duduk disina." Pinta si petugas bagian foto, menunjuk ke arah kursi yang telah disediakan dengan latar berwarna biru. Asha dan Hayat, mengikut saja. Duduk disana dengan ekspresi tegang. "Senyum.." Imbuh pria yang akan memotret mereka berdua.


Setelah di foto, Asha dan Hayat keluar dari ruangan itu dan kembali duduk ditempat semula.


"Tunggu sebentar." Lanjut si petugas. Lalu beranjak dari balik meja kerjanya dan masuk ke sebuah ruangan. Lagi lagi, Asha dan Hayat hanya terdiam tampa berani menoleh. Setelah beberapa menit kemudian, si petugas kembali ke balik meja kerjanya. "Buku nikah kalian sudah selesai." Ujarnya dengan senyuman ramah sambil menyodorkan dua buku nikah ke arah Asha dan Hayat.


Detik itu, mereka resmi menjadi sepasang suami istri yang sah.


"Terimakasih," Imbuh Hayat setelah menerima buku nikah itu.


Asha mengikuti Hayat yang telah beranjak dari duduknya, dan mereka keluar dari  kantor pencatatan sipil menuju mobil.


"Ini milikmu." Ujar Hayat, saat keduanya sudah masuk ke dalam mobil. Hayat menyodorkan buku nikah milik istri pada Asha.


Asha menerima buku nikah itu, dengan mata yang kembali berkaca kaca. Asha tak pernah menyangka, ia akan menikah dengan cara yang seperti ini. Terlebih dengan orang asing yang tak memiliki hubungan apapun dengannya. Lalu Syafiq? Bagaimana caranya ia akan menjelaskannya pada Syafiq?


Hayat menghidupkan mobil, lalu ketika hendak menginjak pedal gas. Ia menoleh dengan cepat ke arah Asha. Dan mengurungkan niatnya untuk menginjak pedal gas.


"Apa hasil testpack itu akurat seratus persen? Apa kau telah memastikannya ke dokter?" Tanya Hayat, yang kembali tersadar setelah melakukan pernikahan dadakan itu.


Asha juga ikut ngeh, benar yang dikatakan Hayat. Bagaimana jika ternyata dokter mengatakan hasil yang berbeda. Mungkin saja hasil testpack itu salah.


"Lalu bagaimana? Dengan buku ini, jika ternyata aku salah." Imbuh Asha merasa tidak enak.


Next ✔️