
Asha terduduk lemas di atas closed. Menggenggam erat testpack yang berada di tangannya. Berfikir keras, dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Air matanya tiba tiba mengalir jatuh, sedangkan bibirnya bergetar.
Pikiran Asha benar benar buntu, dadanya kembang kempis karena takut sekaligus tak menyangka.
Kenapa bisa? Padahal ia hanya melakukannya sekali saja!
Asha meraih ponselnya yang diletakkan disamping wastafel. Dengan tangan bergetar mencari kontak Mia. Tampaknya, Asha tak akan bisa memikirkan jalan keluarnya seorang diri. Ia butuh bantuan Mia untuk berfikir.
Tiitttt tiitttt tiitttt....
Asha berulang kali menghela nafas dalam sambil menunggu panggilan itu tersambung, namun sepertinya Mia sedang sibuk. Hingga beberapa kali menelpon tetap saja tak ada jawaban.
"Mia.. Ayo angkat teleponnya." Gumam Asha sambil terisak. Jelas saja Asha panik, apa lagi ketika ingatan tentang bagaimana Syafiq telah merancang kehidupan mereka setelah menikah nanti.Asha dan Syafiq, telah memilih untuk childfree. Mereka telah memutuskan untuk tidak memiliki anak.
Asha menunduk, lalu meremas kasar rambutnya.
Asha tau betul, Syafiq pasti tidak akan pernah bisa menerima keadaannya yang seperti ini. Apa lagi keluarga Syafiq, pasti akan menolak dengan keras setelah tahu Asha hamil dengan pria lain.
Namun, Asha juga tak punya keberanian untuk menggugurkan kandungannya. Asha, si paling takut dengan jarum suntik. Mana punya keberanian untuk masuk kedalam ruang operasi.
"Persetan dengan semuanya," Asha bangkit dari duduknya, lalu keluar dari kamar mandi dan meraih kunci mobil. Setelahnya ia berjalan dengan tergesa menuju mobilnya. Asha mengemudi sambil terus menangis, pikirannya kini di penuhi dengan berbagai kemungkinan dan ancang-ancang.
Sepertinya, setelah berfikir panjang. Asha telah memutuskan sesuatu.
*
Tiba tiba saja, di benak Hayat terlintas sosok Asha.
"Mengapa tiba tiba aku justru memikirkan wanita itu!" Hayat mengernyitkan keningnya, lalu tersenyum sendiri. Setelahnya, ia kembali memeriksa penampilannya sekali lagi di depan cermin lalu turun dari kamar mess di lantai dua Bar.
"Hayat, ada yang mencarimu." Ujar salah seorang karyawan Bar.
"Siapa?" Tanya Hayat penasaran.
"Tidak tahu, dia menunggumu di meja 20."
"Empp.." Hayat mengangguk, lalu merubah haluannya menuju meja 20.
*
Saat keluar dari ruang rapat, Mia memeriksa ponselnya dan sedikit kaget dengan jumlah panggilan dari Asha. Mia dengan cepat kembali menghubungi Asha namun nomornya justru tak aktif.
"Ada apa dengan anak itu?" Gumam Mia, menjadi khawatir. Namun untuk saat ini ia tak bisa keluar dari perusahaan dan mengecek keadaan Asha.
Mia memutar otak, lalu memilih menghubungi Syafiq.
"Hallo.." Imbuh Mia ketika panggilan itu di terima oleh Syafiq setelah menunggu beberapa saat.
"Iya, Mia. Ada apa?" Tanya Syafiq,
"Apa Asha, ada menghubungimu?" Pertanyaan yang akhirnya juga menimbulkan tanda tanya di benak Syafiq.
"Tidak ada, apa yang terjadi?" Syafiq jadi penasaran.
"Hemm, tidak ada. Hanya saja ada beberapa panggilan tak terjawab darinya di ponselku. Dan aku khawatir, karena ponselnya sudah tak aktif." Jelas Mia.
"Aku akan ke apartemennya sekarang." Ujar Syafiq, dan langsung bangkit dari duduknya. Syafiq mematikan panggilan dari Mia, "Batalkan rapat hari ini." Ucap Syafiq saat melewati meja sekretarisnya.
Seketika sekretaris Syafiq langsung bangkit dari duduknya. "Tapi, Pak!" Kalimatnya tak berarti, ketika Syafiq tak memperdulikannya dan langsung bergegas menuju ke arah lift.
Syafiq sampai ke apartemen Asha setelah beberapa menit kemudian, namun langkahnya tercegat ketika satpam apartemen memberitahukannya kalau Asha baru saja keluar.
Masih dalam keadaan bertanya tanya, Syafiq kembali ke mobilnya. Berfikir keras kemana kemungkinan Asha bisa pergi.
*
Asha masuk kedalam Bar, dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Hayat. Sambil terus menyeka air matanya dengan kasar.
Dan ketika indra penglihatannya menangkap sosok yang ia cari, Asha kembali melangkah.
"Asha.." Imbuh Hayat, sedikit terkejut ketika melihat mata sembab Asha dan ia masih dalam keadaan menangis.
"Ayo, kita menikah." Kalimat itu keluar di tengah tengah isakan tangis Asha. Membuat mata Hayat membulat sempurna, dan terdiam seribu bahasa.
"Hayat, siapa dia?" Suara itu perlahan mengalihkan pandangan Asha.
Seorang gadis, cukup cantik dengan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai.
Sedangkan Hayat, masih terdiam. Terbujur kaku dengan dua gelas minuman di tangannya. Sedang matanya tak dapat di alihkan dari sosok Asha.
"K-kau?" Tanya Asha terbata pada gadis itu.
"Aku pacar Hayat." Jawab gadis itu, masih dengan ekspresi terkejutnya. Jelas saja, pulang pulang dari luar negri setelah menyelesaikan S2 nya, dan berniat untuk menemui sang kekasih yang sudah lama terpisah oleh jarak, tiba tiba saja justru muncul gadis yang mengajak kekasihnya menikah. Bagaimana ia tak terkejut?
Mendengar apa yang dikatakan gadis itu, justru membuat Asha terkekeh pelan lalu menunduk. "Sial sekali!" Batin Asha.
"Lalu kau?" Anya, kembali bertanya.
"Dia sahabat, pacarnya Alex." Hayat, bantu menjawab pertanyaan Anya.
Kini, Asha bahkan tak berani mendongakkan wajahnya.
Ia memilih untuk melangkah dan meninggalkan kedua orang yang sedang menatapnya heran di hadapannya itu.
Hayat, meletakkan gelas minuman yang masih ditangannya itu di atas meja. "Sebentar.." Imbuh Hayat pada Anya, setelahnya menyusul Asha.
Saat keluar dari Bar, sepertinya Asha masih harus di buat kesal saat melihat mobilnya baru saja di derek karena parkir sembarangan.
"Shi*t" Kutuk Asha, kesal.
"Apa yang terjadi?" Tanya Hayat, ketika sudah berhasil menyusul Asha. Dan berdiri tepat di belakangnya.
"Tidak ada! Anggap saja kau tak mendengar apa yang aku ucapkan tadi." Kesal Asha, tanpa menoleh. Asha berniat kembali melangkah, tanpa tujuan yang pasti.
Hayat langsung mencegatnya, menarik pergelangan Asha hingga membuat testpack yang tadinya berada dalam genggamannya terpental, dan jatuh tepat di hadapan Anya.
Ketika Hayat memintanya untuk menunggu, sedangkan dirinya justru mengejar gadis lain. Bagaimana bisa itu tetap dituruti oleh Anya. Rasa penasarannya memaksa Anya untuk keluar dan memastikan sendiri apa yang terjadi di antara keduanya, Hayat dan Asha.
"Kau hamil!" Ujar Anya, setelah memungut testpack itu.
Hayat yang tadinya juga menoleh ke arah testpack itu, seketika langsung kembali menoleh ke arah Asha.
"Kau, benar hamil?" Tanya Hayat, dengan ekspresi terkejut berkali kali lipat.
Asha tak menjawab, ia hanya mencoa melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Hayat.
"Jawab aku, Asha." Bentak Hayat.
Asha, menatap Hayat penuh nanar. "Apa pentingnya itu? Aku bisa mengurusnya sendiri." Balas Asha dengan nada tak kalah tinggi.
Jika begitu, mengapa tadi Asha justru meminta Hayat untuk menikah dengannya? Tampaknya, Asha tak ingin menanggung itu seorang diri, ia ingin Hayat juga ikut dalam penderitaannya.
Namun, setelah mendapatkan kenyataan dimana ternyata Hayat punya kekasih. Asha kembali mengurungkan niatnya. Asha tak sekejam itu!
"Ada yang bisa jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" Ujar Anya, dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Next ✔️