
Kini, Asha sedikitnya tahu. Bagaimana kehidupan Hayat! Seperti apa ia diremehkan oleh saudara dan ibu tirinya. Bagaimana ia selalu di acuhkan oleh Papanya sendiri . Dan harus kehilangan Ibunya juga. Pantas saja ia selalu menarik diri. Tak mudah bergaul dan irit bicara.
Asha, terus saja menatap ke arah Hayat yang sedang sibuk di balik meja Bar. Memperhatikan pria itu dengan baik baik.
*
Pagi pagi sekali, Asha sudah bersiap untuk melakukan pemotretan. Ia keluar dari kamarnya, namun langkahnya yang akan menuju pintu apartemen tiba tiba saja terhenti. Asha berbalik, menuju kamar Hayat.
Entah mengapa ia ingin memastikannya.
"Dia benar benar tidak pulang." Imbuh Asha ketika melihat kamar itu kosong tak berpenghuni, lalu menghela nafas pelan. Setelahnya kembali melangkah untuk keluar dari apartemen.
Asha sampai ke lokasi pemotretan 20 menit kemudian.
Semuanya justru di hebohkan dengan kedatangan Asha. Ya, karna Mia tak memberitahu, jika model yang akan melakukan pemotretan itu adalah seorang Alesha Ghaury, model papan atas yang sangat sulit bisa mendapatkan kontrak kerja sama dengannya.
"Bukankah, katanya ia sudah vakum." Imbuh manager Mia, yang ikut melongo. Mia hanya menunjukkan senyumannya.
"Maaf, saya terlambat." Imbuh Asha sambil menjulurkan tangannya ke arah pak manager.
"Ti-tidak apa apa, ayo silahkan. Saya akan menjelaskan beberapa poin pemotretannya." Imbuh pak manager, agak terbata.
Asha tersenyu ramah, lalu mengangguk.
Asha, begitu profesional dalam pekerjaan. Ia bahkan bisa menyelesaikan pemotretan itu dalam waktu singkat. Semua hasil fotonya benar benar memuaskan.
Semua orang tampak bersemangat, dan Mia mendapatkan pujian besar dari managernya.
"Kau akan segera pergi?" Imbuh Mia, setelah Asha selesai ganti pakaian dan sudah bersiap untuk meninggalkan lokasi pemotretan.
"Iya, aku ada pekerjaan lain." Imbuh Asha, diiringi dengan senyuman penuh arti.
"Pekerjaan? Pekerjaan apa?" Tanya Mia bingung.
Namun, Asha tak menjawab. Ia hanya terkekeh, "Aku duluan." Imbuh Asha, menepuk bahu Mia pelan lalu bergegas dengan tergesa-gesa.
Mia hanya menatap Asha bingung, entah mengapa hari ini Asha tampak begitu bersemangat. Entah apa yang sedang memengaruhinya.
"Mia, kau diminta pak manager untuk menemuinya." Imbuh salah seorang karyawan, membuyarkan lamunan Mia.
"Emp, Iya." Mia langsung bergegas menemui managernya.
*
Asha, mengemudi dengan cepat. Seakan sedang berburu dengan waktu. Ia berulang kali melirik ke arah jam yang melingkar manis dipergelangan tangannya.
Setelahnya, kembali menginjak pedal gas lebih dalam.
Tampaknya, ia sampai di tempat tujuannya tepat waktu. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan Hayat. Yang baru saja keluar dari Bar.
Asha menurunkan kaca mobil, "Apa aku terlambat?" Tanya Asha, lalu tersenyum lebar.
Hayat mengernyitkan keningnya. "Sepertinya tidak!" Jawab Hayat.
"Ayo, cepat masuk. Bukankah kau ingin mengajakku ke suatu tempat." Tebak Asha asal.
Hayat masuk kedalam mobil.
"Kau tahu dari mana, kalau aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Hayat tampak bingung, padahal ia tak pernah mengatakan pada Asha, kalau ia berniat mengajak Asha ke suatu tempat. Ia hanya bertanya, apa Asha sibuk, besok?
"Aku hanya menebaknya." Ujar Asha. "Memangnya, kau ingin mengajakku kemana?" Lanjut Asha.
"Untuk menemui keluargaku." Jawab Hayat.
"A-apa!" Asha terbata. Itu diluar perkiraannya. Asha pikir, Hayat akan mengajaknya untuk bersenang senang ke suatu tempat. Untuk menghilangkan stress!
"Aku ingin memberitahu mereka yang sebenarnya, dengan begitu mereka tidak perlu repot-repot mengurus pernikahan ku dengan Anya. Setelah itu, aku juga akan menemui keluarga Anya. Dan ingin meminta maaf pada mereka."
Asha hanya terbelalak, mulutnya menganga.
"Aku akan ikut denganmu!" Ucap Asha, yakin.
Asha melajukan mobilnya, "Tapi sebelum itu, kau harus ikut denganku dulu ke suatu tempat."
"Kemana?" Tanya Hayat penasaran.
"Kau akan tahu nanti." Ucap Asha penuh rahasia.
Mereka pun berakhir di sebuah salon.
"Untuk apa kita datang kesini?" Hayat semakin bingung di buatnya.
"Menurut saja.." Asha turun dari mobil, lalu masuk kedalam salon.
Pun begitu dengan Hayat, yang tak punya pilihan selain mengikuti kemauan Asha untuk kali ini.
Didalam sana, Asha tampak sedang berbicara dengan salah seorang pegawai salon.
"Silahkan, lewat sini." Imbuh si pegawai, mempersilahkan.
Asha, meraih pergelangan Hayat yang baru saja berdiri disampingnya. Lalu berjalan mengikuti si pegawai ke ruangan yang menyediakan beberapa pakaian untuk disewakan.
Asha, memilih pakaian yang cocok untuk dikenakan oleh mereka berdua.
"Asha, aku rasa ini tidak perlu." Hayat memberi pendapat.
"Ssttt... kau menurut saja." Lagi lagi, Hayat hanya bisa diam.
Hingga akhirnya mereka selesai dengan pakaian formal dan riasan mendukung.
"Apa harus berpenampilan seperti ini?" Tanya Hayat, ketika mereka sudah kembali masuk ke mobil.
"Tentu saja! Kau harus menunjukkan pada mereka kalau kau hidup dengan baik. Dan buat Papa mu untuk berhenti meremehkan jalan hidup yang kau pilih." Ucap Asha dengan lugas.
"Alex yang memberitahu mu?" Tebak Hayat. Tantang, bagaimana akhirnya Asha bisa tahu tentang masalah hidupnya.
Asha mengangguk pelan. "Jangan marah pada Alex, aku yang memaksanya untuk cerita." Imbuh Asha.
Hayat tak menjawab, hanya mengalihkan pandangannya ke depan.
"Apa kita bisa jalan sekarang?" Tanya Asha hati hati, barang kali saja Hayat sedang marah sekarang.
"Emp!" Jawab Hayat singkat dan dingin.
Asha mulai melajukan mobilnya, ke alamat yang sudah di beritahu oleh Hayat.
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya terdiam dan hening. Tampak sibuk dengan pemikiran masing masing. Terlebih Hayat, yang tampak sedikit gugup. Ia tahu betul, Papanya pasti akan marah besar. Ia sudah bisa membayangkan seperti apa wajah merah padam Papanya ketika nanti mengetahui kalau diam diam Hayat sudah menikah, dan terlebih karena wanita itu telah hamil duluan.
Hayat menghela nafas dalam. Ia mencoba menetralkan perasaan.
Asha menoleh, melihat wajah tegang Hayat justru membuat ia tersenyum tipis.
Asha meraih tangan Hayat, menggenggam nya lembut.
"Tenang saja, ada aku. Tak perlu segugup itu." Ucap Asha, yang justru membuat Hayat terkekeh pelan.
"Ya, kau bisa berucap seperti itu karena belum tahu seperti apa sifat Papaku!" Sahut Hayat, bibirnya tersenyum. Tampaknya Asha sedikit membantu Hayat untuk menepis rasa gugupnya.
Asha ikut terkekeh, lalu kembali fokus mengemudi.
Hayat menoleh, menatap ke arah Asha. Gadis itu cukup berbeda, padahal ia sendiri sedang dalam suasana hati yang tak senang. Namun terus saja memberikan energi positif untuk orang-orang di sekitarnya.
Asha, selalu tampak ceria di hadapan orang orang. Namun, Hayat kerap kali mendengar Asha menangis seorang diri didalam kamarnya, ketika Hayat terbangun di tengah malam.
Next ✔️