
Asha keluar dari kamar Hayat, lalu duduk merenung di balkon. Memandangi langit tanpa bintang.
Mengapa hidup sekonyol ini? Mereka berdua harus mengorbankan perasaan masing-masing dan hidup dengan orang asing.
Haruskah cinta itu di biarkan begitu saja? Tanpa di perjuangkan?
Haruskah, demi sebuah nyawa mereka melangkah sejauh ini. Lalu, bagaimana mereka bisa hidup setelah ini. Tanpa rasa, tanpa bahagia!
Asha menghela nafas dalam, menekuk dan memeluk lututnya. Tiba tiba saja ia juga merindukan Syafiq, entah bagaimana kabarnya sekarang, entah seperti apa ia melewati hidupnya kini.
"Syafiq, aku merindukanmu. Aku belum siap kehilangan kamu, aku belum siap jauh dari kamu." Lirih Asha, menatap sendu langit mendung. Seakan langit ikut bersedih melihat Asha yang tampak terpuruk di malamnya yang panjang. Tiba tiba saja salju turun, entah karna langit ikut menangis atau ingin menghibur. Mungkin langit tahu, Asha begitu suka melihat salju. Bibir Asha tersenyum, melihat langit yang tiba tiba saja menurunkan gumpalan titik air yang membeku itu.
Asha, menghirup dalam dalam udara dingin. Berharap, hatinya bisa sedikit tenang setelah ini.
Walaupun tubuhnya semakin kedinginan, Asha tetap saja tak masuk. Ia masih betah berada di balkon. Menatap salju yang semakin lebat.
Angin berhembur, hawa dingin menembus hingga tulang dan membuat Asha sedikit menggigil. Asha, menggigit bibir bawahnya, namun tetap bertahan untuk berada disana. Ia semakin memeluk kedua kakinya dengan erat.
*
Pagi kembali menyongsong, tapi di luar sana salju semakin lebat. Hayat terbangun dari tidurnya, duduk di atas tempat tidur sambil memijat kepalanya yang terasa sakit. Mungkin efek mabuk semalam, Hayat bangkit dari duduknya, lalu keluar dari kamarnya.
Mulutnya menganga ketika melihat botol Bir yang berantakan di atas meja ruang tengah. Ia tak menyangka menghabiskan Bir sebanyak itu. Pantas saja, kepalanya terasa begitu sakit saat bangun tadi. Hayat menoleh ke arah kamar Asha, "Semoga saja dia tidak melihat ini." Gumam Hayat. Setelahnya bergegas mengambil kantong plastik lalu membersihkan botol botol Bir yang berserakan itu.
Hayat, kembali melirik ke arah kamar Asha, tapi Asha masih juga belum keluar dari kamarnya. Padahal Hayat sudah selesai membereskan rumah bahkan sudah selesai menyiapkan sarapan.
Hayat, merogoh kantong celananya ketika terasa getaran dari ponselnya.
"Iya, Lex.." Jawab Hayat, menerima panggilan yang ternyata dari Alex. "Emp, baiklah.." Lanjut Hayat, setelahnya mematikan panggilan itu.
Hayat, melirik ke arah jam dinding. Lalu menoleh ke arah luar jendela. Ia sempat membaca berita, kalau hari ini akan ada badai salju.
"Huftt ..." Hayat menghela nafas, tampaknya ia harus menebeng dengan Asha untuk pergi kerja hari ini.
Hayat mengambil langkah, berdiri tepat di depan pintu kamar Asha. Namun, ia justru ragu ragu untuk mengetuk pintu setelahnya.
Lagi dan lagi, Hayat menarik nafas dalam. Sebenarnya, ia tak ingin merepotkan Asha. Namun, hari ini ia harus datang ke Bar, karena ada hal penting yang harus ia lakukan disana.
Tok!Tok!
Pintu kamar Asha, berhasil di ketuk. "Asha.. Kau sudah bangun?" Tanya Hayat, namun tak ada jawaban.
"Aku sudah buatkan sarapan, Ayo kita sarapan." Imbuh Hayat. Namun, tetap saja terasa sunyi didalam sana.
Hayat kembali mengetuk pintu kamar Asha, untuk kesekian kalinya. Namun, tetap saja tak ada jawaban.
Asha, si paling suka salju. Namun juga yang paling tak bisa menahan dingin.
"Asha..." Hayat menghampiri Asha, memegang pipinya. Suhu tubuhnya sangat dingin, Asha seakan membeku. Seketika Hayat menjadi panik, tak tahu harus berbuat apa. Pertama, ia harus menaikkan suhu ruangan agar menjadi lebih panas, lalu mengambil selimut lebih tebal lagi dan menyelimuti Asha. Namun, Asha masih juga tetap menggigil.
Asha tak merespon sama sekali omongan Hayat, matanya masih saja terpejam.
Entah dapat ide dari mana, Hayat membuka bajunya. Lalu naik ke atas ranjang Asha, masuk kedalam selimut dan memeluk Asha erat. Yang Hayat tahu, suhu tubuh manusia bisa bertukar.
Kini, wajah keduanya hampir tak berjarak. Hayat, terus memperhatikan wajah cantik Asha. Menurunkan pandangannya dari mata, hidung lalu berhenti di bibir ranum Asha. Bibir itu begitu menggoda, membuat Hayat tak tahan untuk tidak mengecupnya.
Bukankah tak salah, mengecup bibir istri sendiri! Begitulah kira kira yang ada didalam pikiran Hayat.
Namun setelahnya, ia merasa tak cukup hanya dengan mengecup. Perlahan, Hayat kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Asha. Melu*matnya dengan lembut, namun semakin lama Hayat semakin bergairah.
Asha yang tersadar, perlahan membuka matanya. Hayat, langsung melepaskan ciuman itu.
"Maaf.." Imbuh Hayat, namun tangannya masih memeluk Asha tanpa mengendurkannya.
Asha hanya terdiam, memperhatikan Hayat dengan tatapan sendunya.
"Kau membeku, aku pikir dengan begini bisa membuat suhu tubuh mu kembali menghangat." Lirih Hayat, menjelaskan maksud dari keberadaannya kini.
Ekspresi Asha masih saja tetap datar, tak keluar sepatah kata pun dari bibir Asha yang kini tertutup rapat.
Namun yang terjadi selanjutnya, justru di luar dugaan Hayat. Asha memejamkan matanya, lalu melu*mat bibir Hayat. Tangannya juga membalas pelukan Hayat.
Karena tak ada respon dari luma*tan itu, Asha justru menggigit pelan bibir Hayat. Membuat sudut bibir Hayat sedikit terangkat. Kemudian, Hayat memberi respon lebih dari ekspetasi Asha.
Tampaknya benar seperti yang dipikirkan Hayat, suhu tubuh Asha langsung berubah. Seiring dengan gairahnya yang semakin memuncak. Asha, bahkan membuka kancing bajunya sendiri tanpa di minta Hayat.
Hayat, langsung mencegahnya. Dengan memegang tangan Asha. "Kau, yakin ingin melakukannya?" Tanya Hayat memastikan.
Alih alih menjawabnya, Asha justru kembali membungkan bibir Hayat dengan ciu*man. Tampaknya itu bisa untuk menjadi jawaban dari pertanyaan Hayat.
Keduanya, berakhir dengan erangan pelan yang lolos keluar dari mulut masing masing. Dengan nafas yang terpenggal penggal dan rasa lelah yang menghampiri setelah tempuran panjang.
Asha, berbalik membelakangi Hayat. Lalu menangis, ada rasa sesal di lubuk hatinya setelah melakukan itu.
"Asha, ada apa?" Tanya Hayat, yang justru di buat bingung. "Apa, aku terlalu kasar? Dan membuatmu sakit?" Pertanyaan konyol yang akhirnya di ajukan Hayat. Namun Asha tak menjawab, tangisnya semakin histeris. Hayat semakin serba salah di buatnya. Ia benar benar bingung dan hanya bisa menggaruk garuk kepalanya dan tak tahu harus berbuat apa.
Next ^^